When It Comes Not So Easy

32 weeks already.

Beberapa hari lalu saya dan suami baru saja mengajak si janin babymoon ke Jogja. Rencana yang sudah ada sejak sebulan sebelumnya. Rencana yang mungkin sebaiknya direalisasikan lebih awal, bukan di trimester ketiga. Alasannya? Karena di tahap ini badan justru lebih mudah capek dan si janin makin aktif, sehingga kerap bikin perut ibunya kencang dan seolah kontraksi. Untunglah semua berjalan lancar dan di Jogja justru saya cenderung lebih happy dan banyak makan. Cerita lebih lengkap mungkin akan saya tuliskan lain kali, ya. Ini cuma sebagai bridging hehe..

Trimester ketiga. Kurang dari dua bulan lagi Insya Allah anak ini akan lahir. Terasa cepat sekaligus lama. Jika diingat-ingat saat kehamilan 6 minggu di mana saya pertama kali dinyatakan positif hamil dan tidak sampai dua bulan lagi akan melahirkan tentu rasanya cepat. Jika diingat dan dirasa dari segala fluktuasi emosi dan perubahan kondisi fisik, masa ini lumayan terasa lama. Sudah tidak sabar sekaligus belum siap menyambut anak pertama ini.

Trimester awal kehamilan diwarnai dengan morning sickness dan moodswing, trimester kedua terasa semua lebih baik. Tidak heran jika banyak orang menyebut trimester kedua adalah kondisi terstabil dan ternyaman selama hamil. Di trimester ketiga, pengalaman lain muncul. Sulit tidur karena mencari posisi yang nyaman sudah pasti. Miring kiri, miring kanan nyeri karena si bayi mengikuti wadahnya berkembang dan gravitasi, sehingga perut saya hampir selalu berbentuk tidak rata, mencong sana mencong sini, dan itu membuat rahim mengencang dan agak nyeri. Belum lagi jika si bayi menekan perut bagian bawah dan kandung kemih. Kontraksi palsu mulai muncul membawa perasaan khawatir. Saya sering berkomunikasi dengan si bayi agar dia sabar menunggu hingga 6-8 minggu lagi saking khawatirnya dia lahir terlalu cepat.

Selain itu, morning sickness kembali saya rasakan meski tidak seintens trimester pertama. Sering kali, di pagi hari, saya mual hebat dan memuntahkan makanan atau sekadar cairan. Tubuh juga lebih cepat lelah dan nafas ngos-ngosan. Obgyn sempat bilang ini juga bisa disebabkan karena tubuh saya terlalu mungil, sedangkan berat janin tergolong besar. Gangguan lain mungkin seperti batuk-pilek dan kerongkongan yang selalu berdahak.

Memang hamil itu tidak mudah.

Pagi tadi, sebelum sama-sama berangkat ke kantor, saya sempat ngobrol dengan suami. Orang-orang yang sangat ingin hamil atau tiba-tiba saja hamil (seperti saya) apakah pernah terlintas di pikirannya bahwa hamil itu tidak akan mudah? Meski tiap ibu berbeda kasus, namun tetap saja membawa makhluk bernyawa dengan segala perubahan fisik dan emosi selama 9 bulan itu tidak bisa disepelekan. Mungkin memang kita harus merasakannya dulu baru paham. Contohnya saya, ketika kerap mengeluh saat hamil, saya kadang berusaha mengingat bahwa banyak dari wanita di luar sana berharap hamil seperti saya, jadi bersyukurlah. Mungkin ketika anak ini lahir memang semuanya akan terbayar. Perjuangan selama 9 bulan itu akan tergantikan oleh rasa yang tidak terperi. Buktinya, banyak pula wanita yang pernah mengalami kehamilan dengan masa-masa yang berat tidak kapok untuk hamil lagi.

Suami bilang: semua (keluhan) itu tidak berarti karena ada yang ditunggu (buah hati). Memang benar, sih. Tapi tetap saja, hamil bukan sekadar sebuah perjalanan akan memiliki anak. Tapi, perjuangan selama 9 bulan itu dan setelah ia lahir. Bukan hanya perjuangan oleh si calon ibu, tapi juga si calon bapak yang mendampingi. Terlebih kalau kita tinggal jauh dari keluarga. Seolah-seolah perjuangan hidup memang berawal dari sini. Bisa jadi, mereka yang menunda memiliki anak karena beragam alasan (karier, finansial, dll) akan semakin mantap menunda jika tahu rasanya pengalaman 9 bulan ini. Sebaliknya, mereka yang sudah niat penuh memiliki buah hati, pasti akan siap menjalani pengalaman ini. Seharusnya, sih, begitu.

Yah, memang saya harus merasakan melahirkan dan melihat dulu anak ini terlahir ke dunia agar rasa itu lebih lengkap. Semoga tidak ada trauma. Hehe.. Satu hal yang bisa saya simpulkan; hamil itu rasanya memang luar biasa. Nothing compares to it.

Iklan

Fetus’s Day Out: Our Movie Time

Di usia kehamilan 6 bulan, sudah beberapa kali saya mengajak si janin nonton bioskop. Kalau tidak salah hitung sekitar 4 kali; Coco, Star Wars: The Last Jedi, Dilan 1990, dan terakhir Black Panther. Saya dan suami memang suka nonton bioskop. Sejauh ini, pengalaman nonton bioskop saat hamil baik-baik saja. Saya anggap saja sekalian mengenalkan si janin kepada suara. Tapi, makin ke sini sepertinya saya yang mulai nggak betah duduk lama-lama karena badan mudah pegal dan kram.

Masuk trimester kedua, morning sickness sudah jauh berkurang. Tapi, pengalaman lain mulai muncul. Mulai dari kulit perut dan dada yang gatal minta ampun, pinggul mudah pegal, kaki mudah kram, cepat ngos-ngosan, dan mulai susah menentukan posisi tidur hohoho… Apalagi, sehari-hari (weekday) saya memang duduk dari pagi sampai sore karena bekerja di depan komputer. Kalau kaki mulai terasa kesemutan/kram, paling nggak saya berdiri dan jalan-jalan ke toilet atau pantry buat ambil air putih atau teh hangat, setelah itu lanjut kerja. Kalau sakit di pangkal paha yang sempet bikin menyeringai nyeri untungnya nggak terus-terusan. Kata obgyn itu wajar karena rahim sedang melebar.

Lalu semalam, saat menonton Black Panther saya sempat keluar teater untuk sekadar jalan-jalan ke toilet dan duduk sekitar 10 menit di sofa lorong bioskop. Biasanya saya dan suami memang menonton di jam 8 malam ke atas karena kami sama-sama menunggu pulang kerja dan sempat pulang ke rumah dulu, lalu berangkat ke bioskop terdekat dari rumah. Tiket sudah dibeli suami lewat fasilitas online. Jadi, kami tinggal cetak dan sempat makan malam dulu.

Sambil nonton Black Panther, suami berkali-kali memijat kaki kanan saya yang memang lebih sering kesemutan. Posisi duduk saya entah sudah berapa kali berubah karena merasa benar-benar nggak nyaman. Suami bahkan sempat menawarkan pulang, padahal film baru berjalan sekitar setengah jam. Akhirnya, saya pilih keluar teater, kembali setelah sekian menit, dan tidak lama malah ketiduran karena ngantuk dan memang sedang tidak fit karena flu hahaha… Setelah itu, kaki mulai terasa nyaman, namun tidak lama terasa “gremet-gremet” lagi hingga saya harus cari posisi enak lagi yang diakhiri dengan bersila di atas kursi (my bad). Fiuh, akhirnya saya berhasil melewatkan nyaris 2,5 jam durasi film. Ditambah menunggu credit title selesai karena kami terbiasa menunggu post-credit scene untuk tiap film Marvel.

Pengalaman semalam memang tidak biasanya terjadi. Sekarang mungkin jadi berpikir ulang kalau mau menonton film setelah seharian duduk bekerja. Lebih baik sekalian tunggu akhir minggu (kecuali kebelet nonton hehehe tetep). Harus sering-sering bergerak biar nggak gampang kram kesemutan, meski sekarang mudah sekali ngos-ngosan. Semalam, saat film diputar si janin juga aktif banget. Entah dia memang sedang aktif atau keberisikan suara dari film, ya? Maafkan Ibu, Nak, sering ngajak kamu main, mulai dari ke bioskop, nonton konser, atau keluar kota. Sehat-sehat terus, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi *elus-elus perut*

Tidak Pernah Ada Destinasi yang Cukup

Menikah dan memiliki anak mungkin menjadi tujuan banyak orang, sementara banyak juga yang memutuskan tidak menikah dan memiliki anak. Menikah memang bukan perkara gampang dan serba-manis. Kenyataan banyak juga yang gagal dalam menjalaninya tidak jarang membuat kini banyak pula yang skeptis akan pernikahan, meski tidak menutup fakta banyak pula yang baik-baiak saja dalam menjalaninya.

Menikah dan memiliki anak, sama seperti banyak “pencapaian” dalam hidup lainnya, bukanlah sebuah tujuan. Saya pernah membaca tulisan di blog milik Edward Suhadi yang sudah menikah selama lebih dari 10 tahun dan sekarang sedang menjalani program untuk memiliki anak bersama sang istri (baca di sini dan di sini.) Ia mengutip sebuah kalimat dari Casey Nestat, “In life, we never arrived”. Artinya, kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada sebuah destinasi. Pencapaian yang kita dapatkan hari ini adalah awal baru dari jalan yang terbuka setelahnya.

Contoh, ketika seseorang menikah, ia akan memulai hidup baru, namun perjuangan setelah itu masihlah panjang. Begitupun saat ia menjadi calon orang tua. Dimulai dari perjuangan menjaga kehamilan itu agar baik-baik saja, kemudian perjuangan melahirkan sang anak, membesarkannya, dan seterusnya. Kalian yang belum menikah pun pasti kerap ditanya “kapan menikah” dan sebelumnya mungkin pernah mengalami perjuangan mengerjakan skripsi, lulus UN SMA, dan seterusnya.

Hal itu pula yang membuat saya salut kepada orang-orang yang tengah berusaha memiliki anak sekuat tenaga. Di sisi lain, saya bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung secepat ini. Di sisi lain, saya juga khawatir. Apakah anak pertama saya sehat, terlahir sempurna, cerdas, dst. Terkadang timbul kekhawatiran sewaktu-waktu saya akan kehilangan janin saya. Ternyata, vonis hamil bukanlah puncak kebahagiaan, bukan puncak segalanya. Setelah itu, masih ada yang harus diperjuangkan.

Bukan hanya kisah Edward dan istri, saya juga sempat membaca tulisan Andra Alodita yang juga pernah menjadi pejuangan IVT (bayi tabung) di sini. Setelah membaca tulisan Andra, saya jadi berpikir, sudahkan saya bersyukur dengan cara menjaga calon anak saya sebaik mungkin? Apakah orang tua-orang tua di luar yang juga diberi momongan cepat juga sudah bersyukur sebaik mungkin? Benarkah sesuatu akan makin dihargai jika kita semakin lama menunggu? Di satu sisi saya setuju, namun saya juga tidak mau menjadi calon orang tua yang tidak menjaga anak saya sebaik mungkin sejak dini meski diberi anugerah secepat ini.

Tidak hanya mereka berdua, bahkan kakak saya pun baru saja menjalani program IVT setelah penantian sekian tahun. Mendengar perjuangannya untuk mengikuti program ini cukuplah membuat saya semakin berpikir, sekaligus ingin mengatakan padanya, “kelak ketika kita divonis positif hamil, itu bukanlah akhir dari segalanya. Masih panjang perjuangan yang harus dilalui.” Padahal, untuk sampai ke proses embrio transfer di IVT tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui sebelumnya, terlebih jika kesulitan seseorang dalam memiliki anak disebabkan karena kondisi kesehatan khusus. Kondisi tersebut harus disembuhkan terlebih dulu. Belum biaya yang diperlukan, juga tenaganya.

Terbukti, setelah hamilpun saya masih merasakan banyak gejolak. Perasaan dan pikiran yang mungkin tidak perlu. Tidak sekali saya jadi stres atau ingin menangis ketika membandingkan kondisi dengan ibu hamil lain: berat badan saya yang kurang atau perut yang lambat membuncit. Dokter sudah bilang bahwa kondisi bayi saya baik-baik saja. Namun, kalimat-kalimat seperti, “Kok, perutnya nggak kelihatan padahal udah hamil 6 bulan”, “Ayo, naikkan BB, dong, nanti bayinya kecil”, dst masih saja mengganggu. Artikel demi artikel saya baca, kunjungan ke obgyn-pun dilakukan hampir 2 minggu sekali, tapi rasa tidak percaya diri itu tetap saja muncul ketika orang lain membuat pernyataan tentang kondisi kehamilan saya (yang saya sendiri yang merasakannya). Berusaha berpikir positifpun tidak selalu mudah.

In life we never arrived. Bukan hanya soal pernikahan dan memiliki anak, namun juga dalam aspek lain. Tidak pernah ada destinasi yang benar-benar menjadi tujuan akhir. Kita akan terus berjalan, mencari sesuatu, mengalahkan kekhawatiran, menjaga apa yang ditakdirkan, kemudian kehilangan, gagal, lalu bangkit, atau menemukan penggantinya.

Pasti sulit untuk tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain yang kita pikir sudah mencapai sesuatu. Itu manusiawi. Berusaha lega atas tiap yang kita terima dan memaafkan diri sendiri memang membutuhkan ilmu tinggi yang saya pun kerap gagal dalam ujiannya. Hehehe…

Jadi, buat kalian yang sedang ditanya dengan gencar “kapan menikah” atau “kapan punya anak”, kuat-kuatlah karena setelah merasakan kedua “pencapaian” itu, masih ada perjuangan lain, juga pertanyaan yang mengusik lainnya. Mungkin seperti, “Kapan punya anak kedua” atau “Kapan punya rumah sendiri”.

Kecemasan dalam Memberi Nutrisi bagi Anak dan Kehadiran Philips Avent

Sejak dinyatakan positif hamil beberapa bulan lalu, saya mengalami campur aduk perasaan. Salah satunya karena ini adalah kehamilan pertama. Rasa cemas, khawatir, senang, dan bingung menjadi santapan keseharian. Di satu sisi saya bersyukur dan bahagia karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk merasakan kehidupan di dalam rahim saya. Namun, kecemasan dan kekhawatiran selalu menghantui: Bagaimana rasanya menjadi orang tua nanti? Siapkah saya dan suami menjalani masa-masa baru itu? Bisakah kami jadi orang tua yang cukup bagi calon anak kami kelak?

Ya, meski saya percaya beberapa hal bisa dipelajari sambil berproses, namun di dunia yang informasi dan teknologinya semakin berkembang rasanya tidak bisa juga tinggal diam. Saya mulai melakukan beberapa hal seperti membaca berbagai artikel di Internet dan mengunjungi beberapa obgyn. Saat ini, kita tahu bahwa semakin banyak situs-situs terkait kehamilan dan parenting yang dapat memberikan informasi yang kita butuh. Saya menjadi anggota situs dan mengikuti akun demi akun terkait di media sosial, salah satunya adalah The Urban Mama. Di TUM saya kerap mampir ke beragam diskusi. Dari The Urban Mama juga saya akhirnya mengetahui kontes yang diadakan dengan berkolaborasi bersama Philips Avent.

Selama ini, saya kerap membaca cerita atau status yang dibagikan teman-teman yang telah memiliki momongan. Tidak sedikit dari mereka yang merupakan pejuang ASI. Ada yang melakukan exclusive pumping (eping) hingga pumping di tempat kerja demi tercukupinya nutrisi sang ananda. Beberapa dari mereka juga sudah memasuki tahap pemberian MPASI yang membuat mereka merasa excited untuk terus menciptakan kreasi makanan bagi anaknya dalam beragam metode.

Dari semua cerita, saya dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, ASI selalu menjadi nutrisi terbaik dan terpenting yang ingin diusahakan tiap ibu. Kedua, pemberian MPASI memang kerap membingungkan, namun dengan pengetahuan dan perangkat yang memadai, semua tekanan yang dialami ibu dapat diminimalisasi. Ketiga, support system sangatlah diperlukan. Bukan hanya dari suami dan keluarga, namun dari lingkungan sekitar. Semakin banyak saya membaca, rasanya justru semakin sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa. Kecemasan tetap ada, bahkan di usia kehamilan trimester kedua ini. Meski tidak ada lagi morning sickness yang berat, tiap terbangun di pagi hari saya kerap masih tidak percaya bahwa ada kehidupan lain yang tengah berdenyut di dalam diri saya. Beberapa kali, saya bahkan menangis karena khawatir apakah si jabang bayi sehat-sehat saja dan kelak terlahir sehat sempurna.

Hal lain yang masih bercokol kuat dalam hati adalah saya ingin dapat memberikan ASI hingga hak anak saya kelak terpenuhi. Meski setelah melahirkan kelak saya kemungkinan masih akan bekerja, kebutuhan ASI anak harus terpenuhi. Bukankah katanya kita harus menyusui dengan keras kepala. Oleh karena itu, saya kerap mencari informasi soal proses menyusui dan perangkat yang sebaiknya dimiliki demi kualitas serta kuantitas ASI yang baik. Alat pompa yang mendukung salah satunya. Dengan pengetahuan yang masih sangat minim akan dunia breastfeeding, saya tertarik kepada breastpump manual dari Philips Avent. Selain karena Philips adalah merek dagang yang sudah lama keluarga saya kenal sejak dulu, dengan moto Avent Sahabat Bunda, Philips Avent memiliki pangsa pasar spesial dengan keragaman jenis produk yang menunjang keperluan tiap ibu dalam memberi nutrisi bagi anaknya. Saya berharap breastpump manual Philips Avent dapat menunjang cita-cita saya dalam memberikan ASI eksklusif.

Bukan hanya kontes yang dilakukan secara kolaboratif dengan The Urban Mama, Philips Avent juga mengadakan promo dan kontes Apresiasi Cinta Bunda. Promo adalah berupa potongan harga langsung tiap pembelian produk Philips Avent, sedangkan kontes berhadiah utama produk senilai 100 juta rupiah dan hadiah mingguan yang sangat menarik. Informasi mengenai promo dan kontes dapat diakses di http://www.philips.co.id/ACB, lho. Saling dukung dalam menjadi orang tua yang bahagia, yuk. Apa pun metode atau pendekatan yang dilakukan tiap ibu, semoga kita bisa terus memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati.

23561559_1898739623487773_5452941876636449706_n

Story: Dua Keturunan Ibu Lina

Terhitung sudah hampir 6 tahun Aldo dan Bayu tidak berkomunikasi. Sebuah anomali untuk hubungan kakak-adik. Kandung, tentu saja. Sesekali mereka hanya berkomunikasi ketika harus mengabarkan bahwa ibu mereka kambuh sakit gulanya. Itupun hanya kabar singkat, kemudian pertemuan canggung yang nyaris tidak ada basa-basi. Aldo tidak pernah berusaha memulai, begitupun Bayu.

Ibu Lina sudah tidak terhitung membujuk agar kedua anaknya berbaikan. Mengatakan bahwa sebagai kakak, Aldo harus coba mengalah, memaafkan Bayu. Ketika saran itu tidak didengar, ia meminta Bayu sebagai adik terlebih dulu mengunjungi kakak dan meminta maaf, meski Ibu Lina tahu kedua anaknya sama-sama keras hati. Buat apa mengalah, kata Aldo. Bukankah sejak awal Bayulah biang keladi pertikaian ini. Tidak perlu minta maaf, kata Bayu, keputusan yang diambil adalah hasil pemikirannya bersama sang istri, Astri. Keputusan yang dahulu memicu pertikaian. Lagipula, Astri sudah pernah memaksa Bayu meminta maaf. Karena cinta, Bayu memenuhi, meski Aldo tetap bungkam.

Tidak letih Astri dan Ibu Lina membujuk Bayu atau Aldo untuk kembali menjalin hubungan yang normal layaknya keluarga lain. Ketika hari raya, Aldo dan Bayu nyaris tidak pernah mau mendatangi rumah Ibu Lina jika tahu salah satu dari mereka sedang hadir. Beruntung keduanya tetap rutin menengok sang ibu, meski bergantian. Ibu Lina yang sudah tua dan sakit-sakitan malah tidak pernah mau diajak tinggal dengan salah satu dari mereka. Mungkin sebuah pemberontakan karena kesal kedua anak laki-lakinya tidak akur atau justru tidak mau merepotkan sama sekali. Sebelum ibu mati, tolong kalian berbaikan. Aldo dan Bayu hanya bergeming ketika suatu waktu Ibu Lina mengatakan itu.

Sungguh masalah perasaan dapat merusakan hubungan kompleks yang telah dibangun berdasarkan keturunan. Ibu Lina tidak pernah ingin menyalahkan Aldo, Bayu, bahkan si sumber pertikaian, Astri. Menantu yang sudah dinikahi anak bungsunya itu nyatanya memang mencintai Bayu sepenuh hati. Perempuan yang baik, ramah, penyayang, dan pintar mengurus suami serta anak-anaknya yang kini sudah berjumlah dua. Bisa jadi kriteria Astri itu yang dulu juga membuat Aldo mencintainya. Sebelum akhirnya hubungan dua tahun itu berakhir ketika Bayu mengenal Astri dan mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah.

Dulu, Ibu Lina sempat marah kepada Astri. Kenapa ia dengan mudah membuang Aldo dan berpaling ke Bayu. Namun, rasa marah itu tidak menggebu karena di dalam hatinya Ibu Lina tahu pada akhirnya Bayu yang akan menang. Hubungan Aldo-Astri sudah berkali-kali putus sambung. Berpuluh tahun membesarkan Aldo, Ibu Lina sifat Aldo tidak memenuhi keinginan Astri. Bukan karena Aldo tidak baik atau bajingan, namun akhirnya Ibu Lina mengakui bahwa Bayulah yang akan mendapatkan Astri. Aldo harusnya mencari wanita lain, yang meski sudah pernah dilakukannya, hubungan itu kerap tidak berujung di pernikahan, dan Aldo masih menyimpan dendam kepada Bayu. Mungkin memang belum saatnya Aldo berpasangan, pikir Ibu Lina.

Hari ini, sudah sepekan Ibu Lina terbaring di ranjang karena penyakitnya kambuh. Kedua anaknya bergantian membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit. Ajakan itu hanya dijawab dengan gelengan, bahkan meski kedua orang cucunya yang meminta. Di luar kamar sang mertua, Astri berbicara pelan kepada Bayu, memohonnya untuk mengajak Aldo berbaikan. Meminta Bayu mengalahkan ego demi sang ibu. Bayu bimbang, seperti biasa, namun kali ini perasaan itu lebih kuat. Membuatnya bingung harus memulai dari mana dengan Aldo. Apa harus menunggu Ibu pergi selamanya baru kalian mau berbaikan. Kalimat itu terngiang di telinga Bayu. Ia kembali mengingat permintaan ibunya. Ia mencari nama Aldo di daftar kontak ponselnya, mengetikkan pesan karena menelpon terlalu berat baginya.

Hari ini Aldo dan Bayu berdiri berdampingan pertama kali sejak 6 tahun. Astri bahkan berada di antara mereka. Bukan untuk memulai pertengkaran seperti dulu saat Bayu berkata akan menikahi Astri. Kedua anak Astri bersimpuh di atas tanah merah, menaburkan bunga dan menuangkan air dari dalam botol. Tidak ada tangis lagi. Kemarin malam mereka sudah meluapkan semuanya; tangis, penyesalan, rindu, dan maaf. Semua mengantarkan Ibu Lina menutup mata untuk selamanya, namun dengan senyuman yang akan diingat abadi.

 

 

Ulang Tahun Bukan seperti Tahun-Tahun Sebelumnya

Ketika kita memiliki orang tua atau kerabat berusia lanjut yang kerap lupa ulang tahunnya mungkin kita heran kenapa mereka bisa lupa hari penting itu. Selain karena pertambahan usia tentunya. Namun, tentu saja tidak semua manusia usia muda juga selalu ingat atau menganggap penting hari ulang tahun sendiri atau orang lain.

Seiring usia yang bertambah, saya tampaknya setuju jika ulang tahun bukanlah lagi hari yang sakral-sakral banget. Umur berkurang. Apalagi kalau bertambah usia tidak dibarengi pertambahan pencapaian, lebih tidak luar biasa lagi.

Dulu, saya, dan saya yakin banyak di antara kalian, yang selalu menanti hari ulang tahun sendiri: surprise dari orang terdekat, kado-kado, kue ulang tahun, bahkan menerka-nerka siapa yang akan mengucapkan pertama kali di jam 00.01. Kita mungkin menghitung jumlah ucapan yang masuk ke ponsel atau media sosial dan lain-lain. Iya, saya pernah melakukan beberapa momen itu hehe..

Tapi, sekarang kerasa kalau momen pertambahan umur lebih pas dirayakan dengan mengaminkan doa dari orang yang mengucapkan (dan ingat tentu saja) atau sekadar berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat atau teman, seperti makan-makan, sebagai ungkapan syukur sudah diberi umur sejauh ini. Tapi, saya, sih, tetap nggak nolak kalau ada yang kasih hadiah. Apalagi suami (bahkan sejak masih pacaran) suka nawarin hadiah yang akhirnya pas hari H malah lupa beliin. Akhirnya, saya yang menagih janji :p

Jadi, kalau usia 20-an atau late 20-an suka bilang “eh, ini tanggal sekian ya (hari ulang tahunnya)” ketika diucapkan selamat, sekarang saya nggak heran-heran amat, sih. Kalau tradisi minta traktir atau makan-makan, sih, akan selalu ada. Malah makin bertambah umur budget traktirnya akan lebih tinggi. Ya, kan?

24 Desember kemarin (masih belum berubah) saya berulang tahun kesekian. Sudah late 20-an. Suami sempat nanya, “Apa ulang tahun masih menjadi hari yang spesial buat kamu?”. Saya jawab ya saat itu. Karena dasarnya, suami justru lebih selow dalam menyambut dirgahayu-dirgahayu-an seperti itu, meski ulang tahunnya sendiri. Padahal usianya lebih muda dari saya. Memang sejak di keluarga, suami tidak pernah dibiasakan menganggap ‘wah’ ulang tahun, sedangkan saya, saat kecil (kalau tidak salah hingga usia 5 tahun) selalu merayakan hari ulang tahun, meski hanya di rumah dengan nasi tumpeng dan mengundang anak-anak tetangga.

Masih ingat dulu saya kerap mendapat banyak kado, salah satunya yang paling membekas dalah kaset soundtrack Kstaria Baja Hitam yang kala itu benar-benar hits. Ibu akan memakaikan dress superfeminin yang sayapun tidak nyaman memakainya karena bahannya bikin gerah dan gatal, kata saya, hahaha.. (dasar anaknya saja nggak bisa feminin). Saat dewasa, kuliah hingga bekerja, saya pun masih beberapa kali mendapatkan surprise kecil-kecilan dari teman-teman yang membawakan kue tart.

Mungkin itu sebabnya suami kerap lupa juga janjinya membelikan saya kado (alasan). Toh, sedewasa dan setua apa pun usia manusia, tidak salah merayakan hari jadi. Bukan masalah umur, kan? Hanya masalah kebiasaan dan kenyamanan. Ulang tahun kemarin saya akhirnya hanya mentraktir suami nonton bioskop dan makanannya, meski tidak ulang tahun pun hal itu biasa kami lakukan satu sama lain.

Jika mau dihitung-hitung, saya mendapat kado luar biasa di pertambahan umur tahun ini: keluarga baru, hidup baru, dan jabang bayi yang kini berusia 4 bulan di rahim saya. Kado yang belum pernah saya dapatkan seumur-umur jika hanya dibandingkan dengan barang-barang (bukan berarti saya tidak menyukai semua kado yang pernah saya terima. Terima kado, kok). Usia bertambah memang harus diimbangi dengan doa yang kian getol. Sekarang, apalagi, daftar doa saya juga bertambah. Ada suami, jabang bayi, keluarga besar, dan harapan akan keluarga kecil saya di masa depan. Semoga semua selalu sehat, baik, dan sesuai harapan. Amin.

So, (still) happy birthday to me. You are doing good so far and should be better always.

 

Menyatukan Dua Keluarga Lebih Pusing daripada Main Candy Crush

Pernikahan memang menyatukan dua keluarga. Secara teori, hal itu gampang diingat dan diiyakan. Tapi, secara praktik untuk diterapkan? Belum tentu mudah. Apalagi kalau kamu adalah tipe yang segan basa-basi atau kumpul ramai-ramai. Saya terkadang berkumpul sama keluarga sendiri saja butuh mikir-mikir, apalagi sama keluarga suami yang notabene sebuah kelompok baru dalam hidup saya. Meski memang, secara hukum, mereka sudah jadi keluarga saya juga.

Bukannya saya tidak percaya kalau keluarga itu segalanya, harta yang paling berharga adalah keluarga, atau saat susah hanyalah keluarga yang selalu hadir. Bukan. Sejak dulu, mungkin di antara anggota keluarga yang lain, saya sepertinya jadi orang yang paling ‘malas’ larut dalam kegiatan haha hihi keluarga, kecuali kakak-kakak langsung. Bisa jadi karena saya juga orangnya ‘nggak enakan’. Kalau di rumah sendiri, bersama kakak-kakak sendiri, atau sama suami saja, saya punya otoritas untuk melakukan apa saja seenak jidat: tidur gelempangan di lantai, santai kayak di pantai berjam-jam, ngupil, serdawa, liat medsos sambil mentertawakan status orang, main game di ponsel sampai asyik, dll. Di rumah orang lain, saya tidak enak jika harus menganggap itu sebagai ‘rumah saya sendiri’. Seolah saya terpaksa bertata karma atau belaku manis hanya untuk mendapatkan respect dan ucapan “lain kali main ke sini lagi, ya”. No.

Mungkin itu hanya soal pembiasaan. Buktinya teman-teman saya yang sudah menikah dan tinggal dengan mertua akhirnya nyaman-nyaman saja dan merasa itu rumah sendiri. Kayaknya. Tapi, jenis orang seperti saya tampaknya harus memiliki waktu lebih lama untuk adaptasi ini. Hahaha …

Makanya, balik lagi saya bilang pada praktiknya menyatukan dua keluarga itu belum tentu mudah, meski tidak mustahil. Saya termasuk beruntung mendapat keluarga dari pihak suami yang ‘welcome’. Kasarnya, kami tidak memiliki masalah. Belum lagi mertua yang baik yang kerap menanyakan kabar via telepon/Whatsapp, bahkan lebih sering dari keluarga saya sendiri (yang memang tipikal cuek-cuek, tapi sayang). Saya sadar tidak semua orang memiliki kemewahan ini, bukan hanya melihat dari sinetron, tapi hal-hal nyata yang kerap saya dengar dan lihat langsung.  Sungguh salut kepada mereka yang bisa menjalani hidup pernikahan dengan masalah hubungan komunikasi dengan keluarga istri/suami. Meski pada akhirnya, sebaik apa pun keluarga barumu, orang tua barumu, tidak akan pernah bisa mengganti posisi keluarga dan orang tuamu langsung.

*Dibuat saat galau ketika harus memilih ikut suami kondangan bareng teman-teman kantor atau ditinggal bareng keluarga suami yang sedang kumpul.

 

A Poet about Little One

Mengenalmu adalah sebuah suka cita sepenuhnya

Memang benar bahwa mencintai seseorang memberikan harapan dan keberanian

Mencintaimu nyatanya bukan sekadar dendang senang, namun juga luka-luka

Karena di saat itu aku mulai ingin menggenggammu sekuat mungkin

 

Kedatanganmu adalah suatu bahagia yang bahkan hatiku tidak dapat tampung

Menerka-nerka apakah kamu juga merasakan hal yang serupa

Kehilanganmu adalah suatu ketakutan yang bahkan jiwaku tidak dapat lalui

Padahal kita tidak pernah benar-benar memiliki siapa pun, bahkan diri kita sendiri

 

Namun, biarkan aku menentang keharusan demi keharusan

Mencintaimu dan memiliku seolah sudah menjadi daftar yang harus aku tunaikan

Meski kerap aku melukaimu, menyayangimu dengan penuh cela dan kekhilafan

Tapi, jangan pernah coba untuk pergi

 

Hadirlah untuk selamanya, meski abadi itu tidak pernah ada

Kelak kita akan saling mengasihi dan memberi pelajaran

Bahwa dunia itu luas, tidak ada batas bagi kita untuk berjalan dan merasa

Aku ingin mencintaimu dengan sempurna, meski kamu akan tertawa

 

Tulisan Pertama soal Kehamilan

Bismillah,

Just entered new phase after married: pregnancy.

Sekitar awal Oktober saya melakukan tes kehamilan. Saat itu, memang saya sudah terlambat datang bulan sekitar 7-8 hari. Biasanya, dari siklus 28 hari, saya jarang sekali terlambat datang bulan. Namun, berbekal informasi bahwa sebaiknya kehamilan dites setelah wanita telat datang bulan lebih lama daripada keterlambatan haid yang pernah dialami sebelumnya, saya tidak langsung tes kehamilan sudah terlambat 2 hari. Sebenarnya, sekaligus mempersiapkan diri. Saya sudah berbicara dengan suami sebelumnya; bagaimana jika positif dan bagaimana jika negatif.

Kami mencoba mempersiapkan mental. Apalagi, kami memang tidak pernah berencana menunda memiliki anak, namun tidak juga ingin stres jika tiap bulannya saya haid. Saat itu, jarak dua bulan sejak pernikahan. Haid terakhir saya adalah akhir Agustus. Akhirnya, saya membeli sebuah test pack (waktu itu masih dengan jenis yang berharga murah) sepulang bekerja. Sebenarnya test urine memang sebaiknya dilakukan pagi hari, saat bangun tidur, dan urine belum terkontaminasi makanan/minuman. Saya lupa saat itu pertama kali melakukan test malam atau pagi hari. Hasilnya positif.

Perasaan ketika perlahan muncul garis merah kedua; gemetaran. Saya menuju ke kamar tidur dan memanggil suami, “Go, gimana, nih?” | “Apaan” | “Hasilnya positif”. Kocak, ya? Tentu saja kami berdua bersyukur. Kami memutuskan untuk mengabsahkan test ini lewat keputusan obgyn. Namun, sebelum ke obgyn saya sempat mengecek ulang dengan test pack merek sama satu hari berikutnya, juga dengan test pack merek lain yang lebih bagus dua hari berikutnya. Hasilnya sama-sama positif.

Akhir minggu, kami memilih Mitra Keluarga Depok untuk bertemu obgyn pertama kali. Argo minta langsung ke Obgyn, bukan bidan. Mungkin karena anak pertama, jadi maunya detail. Padahal, bidan juga menyediakan fasilitas USG, meski tidak tiap hari karena harus menunggu dokter datang. Akhirnya, di RS saya di-USG untuk pertama kali. Kantung rahim saat itu sudah terbentuk (menebal) dan kehamilan sudah berusia 6 minggu dihitung dari HPHT (hari pertama haid terakhir).

Setelahnya, tidak ada sindrom-sindrom ibu hamil yang biasa saya dengar, lihat, baca, atau saksikan. Hingga seminggu kemudian, morning sickness dahsyat tiba hingga saya tidak bisa masuk kantor. Makanan pengganti nasi yang masuk hanyalah jagung rebus, juga teh jahe. Untunglah saya sudah curhat sebelumnya dengan teman yang saat hamil juga hanya mampu makan ubi rebus, jadi nggak panik-panik banget. Intinya, cari makanan pengganti nasi, atau apa pun yang bisa masuk ke mulut dan perut. Walau pada prakteknya, sih, boro-boro ada yang masuk.

Syukurlah, keadaan saya membaik. Argo pun bisa kembali bekerja (karena biasanya dia ikutan cuti saat saya sakit). Banyak cerita ibu-ibu hamil yang benar-benar sulit beraktivitas karena sindrom awal kehamilan, diopname karena kekurangan nutrisi/dehidrasi, dan sensitif pada ini-itu. Lama mereka mengalami ini berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing. Alhamdulillah, saya masih bisa bekerja, masih bisa makan dan minum walau tetap picky, dan masih bisa beraktivitas lain meski tidak boleh berlebihan. Mungkin jabang bayinya sadar kalau Ibu dan Bapaknya tinggal berdua merantau jadi repot kalau ada yang sakit. Hehe.

Salah satu yang cukup sulit dan membuat frutrasi adalah jika migrain saya kumat. Bertahun-tahun saya mengonsumsi obat yang cukup keras, bahkan sudah mencicipi obat dokter saraf. Saat hamil, di mana konsumsi obat, khususnya di trimester pertama harus dibatasi, ini menjadi dilema besar buat saya. Dokter hanya memperbolehkan konsumsi paracetamol tiap kepala saya sakit. Lah, biasanya paracetamol, sih, cuma geli-geli doang. Awal kehamilan migrain saya tidak pernah kambuh, walaupun pernah, hanya pada taraf mild yang akhirnya hilang sendiri.

Jelang bulan kedua menuju ketiga, entah kenapa migrainnya kembali sering kumat. Inilah di mana saya harus (terpaksa) menegak paracetamol dan muncul perasaan bersalah. Sama halnya ketika saya ngidam makan indomie padahal tahu komposisinya tidak baik bagi tubuh, apalagi saat hamil. Meski obgyn dan dokter umum yang pernah saya “curhati” mengatakan tidak apa-apa minum paracetamol, rasa galaunya tetap ada. Tapi, kalau tidak minum sakitnya luar biasa. Bahkan, saya pernah izin kerja dua hari karena sakitnya tak kunjung hilang. Suami jadi ikut stres. Jadilah saya sering minta maaf kepada janin dalam perut. Berdoa semoga dia tidak apa-apa.

Saya berusaha sedikit mencari celah untuk mengurangi kesempatan migrain untuk kambuh. Setelah bangun pagi, saya atau suami kerap berinisiatif untuk mengajak jalan pagi meski sebentar, juga menambahkan konsumsi sayur dan buah. Memang konsisten itu sulit, kok. Kalau stres, memang paling sulit ditekan. Manusia, kan, pasti cenderung berpikir yang tidak perlu, cemas, dll. Apalagi saya yang tengah mengandung anak pertama. Jangan ditanya deg-degan dan cemasnya.

Sekarang, usia kandungan saya adalah 13 minggu. Saya tengah merasakan masa di mana waktu berjalan sangat lama. Menghitung tiap hari, minggu, hingga menuju bulan. Kapan 9 bulannya, sih???? Tiap pagi bangun tidur, seakan meyakinkan diri kalau “gue sedang hamil, nih”. Apalagi, karena berat badan yang termasuk kurang ideal, perut saya tidak kunjung membesar hahaha. Memang kondisi ini berbeda-beda tiap wanita, ada banyak penyebabnya. Konon kehamilan pertama juga membuat perut ibu tidak terlalu buncit karena otot-otot perut yang masih kencang dan sederet faktor lain. Tapi, pertanyaan-pertanyaan yang muncul kayak, “Kok, perut lo belum keliatan?” dll kadang-kadang ganggu juga, sih.

Saya sibuk meyakinkan diri bahwa yang penting semuanya sehat, baik si bayi, saya, juga suami. Tidak lupa berdoa terus-menerus. Masih banyak yang harus saya pelajari sambil menunggu 9 atau 10 bulan itu datang, bahkan hingga seumur hidup selama saya menjadi orang tua kelak. Sejauh ini, masih terbatas mencari informasi dari situs-situs parenting dan bertanya sana-sini. Sisanya mungkin harus dilakukan secara praktik langsung. Doakan kami sehat semua selalu. Semangat!

Social Media Probs Again

i got a message on my Whatsapp number last night. 

Ternyata dari orang yang sama yang pernah menghubungi saya beberapa bulan lalu ketika saya sedang mempersiapkan pernikahan. Orang yang sempat saya bahas di tulisan sebelumnya ehe ehe. Memang saya belum pernah menuliskan soal pembicaraan kami beberapa bulan lalu. Begini,

I’ve ever met her husband on one of chatting online website a very long time ago, accidentally. 

WHAT? HOW COULD YOU?

Saya memang saat itu sudah cukup lama main di situs chatting itu. Awalnya hanya ingin mengobrol dengan orang-orang asing. Tujuan iseng dan melatih bahasa asing. Memang isinya banyak orang Indonesia juga. Tiba-tiba ada seseorang yang menegur saya, orang lokal. Umumnya memang peserta chat di sana bertukar kontak Line, Skype, atau Yahoo Mesengger, dll. Laki-laki ini meminta akun Skype saya. Ketika saya menerima permintaan pertemanan darinya, saya sadar saya mengenali laki-laki ini dari nama dan profile picture-nya. Because, like i said on my last writings, my friend (her wifey) often updating her Facebook status about her problems with him. THAT!

Singkat cerita, saya menjelaskan siapa saya. Kemudian ingin melaporkan “pertemuan” tidak sengaja kami di Skype kepada istrinya. Reaksinya? Ia meminta saya jangan melapor. Saya tahu, nih, kira-kira kenapa. Karena sejak lama saya mengamati status-status teman saya itu soal kelakuan sang suami. Then, i forgot this meeting, i even have uninstalled my Skype.

Tibalah bulan di mana teman saya mengirimkan pesan dan menanyakan soal perilaku suaminya ini. Saya memang pernah curhat tentang masalah ini kepada salah seorang sahabat yang kebetulan mengenal si istri. Suatu hari, ternyata sahabat saya ini menceritakan hal ini kepada sang istri dari laki-laki yang meng-add Skype saya itu (halah). Akhirnya, sih, saya menjelaskan kejadian sebenarnya. Ternyata, mereka kembali sedang bertengkar. Imbasnya itu yang merugikan saya.

IYALAH GIMANA NGGAK. SI ISTRI UPDATE STATUS FACEBOOK-NYA BAWA-BAWA NAMA SAYA. APA COBA WOY.

Meski akhirnya saya minta dia menghapus status tersebut. But, i’m not forget.

Nah, semalam dia menanyakan hal yang sama di Whatsapp. Gusti Nu Agung. Oke, saya coba berempati. Katanya, dia sempat bertemu satu orang lagi perempuan yang pernah di-chat sama si suami (entah di mana). Kemudian, si perempuan ini bilang kalau suami teman saya pernah curhat kalau dia sempat bertemu teman kuliah di istri di situs chat dan sempat ngajak jalan. Yha! Tentu saja si teman saya ini langsung mengarahkan tuduhan ke …

*duduk manis sambil mengacungkan telunjuk*

mabok

Teman saya bilang dia sudah bingung harus percaya kepada siapa. Then i answered, dengan huruf kapital semua, nggak, deng, bohong. Saya bilang saya nggak pernah jalan sama suaminya, juga nggak seberani itu jalan sama suami orang apalagi punya temen sendiri. Menahan sabar, saya coba basa-basi bertanya apakah kelakuan suaminya “kambuh”? Nggak dijawab juga, sih.

Apakah dia akan se-insecure ini selamanya? That question disturb me. Nggak enak juga jadi orang tuduhan terus. Chat cuma sekali, singkat. Bahkan saya nggak main Skype lagi. Dan kalau boleh berkata jahat, kalaupun ada rencana jalan sama “punya” orang, ya, nggak sama suami dia juga. I have some term and conditions list.

Mbaknya rajin juga, ya, bisa nemuin siapa aja yang pernah diajak ngobrol suaminya. Okay, maybe every woman will do the same if was in her position.

Mbaknya ternyata masih terlilit masalah yang sama. Buktinya masih menanyakan hal yang sama ke saya. Artinya, suaminya masih kumatan.

Sisi benarnya, Si Mbak memang tahu bahwa dalam kasus perselingkuhan, bukan hanya si perempuan yang disalahkan, dicap pelakor, dll. Buktinya dia keep updating about her husband’s attitude, over and over again. Hell yeah. Zzz.

Poor her.

Poor me.

… dan siapapun yang kena tuduh-tuduh Mbaknya. Sabar, ya, Mbak…

Saya penasaran kenapa dia nggak mencerna dulu aja cocok nggak kemasan saya jadi cewek nakal. Kan, kami pernah kuliah bareng.

Mungkin memang cocok kali menurutnya. Hhhh…

Kepada Mbaknya saya pengen bilang: Nambahin pikiran gue aja lu.

mansur