Media Sosial dan Karakter Orang di Sana

pexels-photo-433617

*spoiler alert: tulisan lumayan panjang*

Mungkin saya adalah orang yang mudah terdistrak oleh postingan orang lain yang membuat saya tidak nyaman di media sosial. Pembaruan apa pun yang tidak pas dalam ukuran saya, membuat saya gerah. Beberapa orang mungkin cuek dan tetap menikmati linimasa mereka. Kata orang saya ‘baper’.

Untungnya, saya ingat prinsip my social media, my rule. Apalagi, banyak juga teman di media sosial juga pernah mengatakan kalau memang postingan seseorang terlihat tidak nyaman, ya, diabaikan saja. Diabaikan di sini bisa dengan di-unfriend, di-unfollow, di-block, apa saja. Rasa tidak enak karena mereka teman sendiri/teman lama tentu saja ada.

Baru-baru ini saya baru saja meng-unfollow salah satu teman lama di Facebook. Bukan untuk pertama kali, sebelumnya saya sudah meng-unfollow beberapa orang sejak ramainya kasus politik yang membuat panas situasi beberapa waktu lalu. Cemen, ya, cuma unfollow. Ya, itu, alasannya karena tidak enak. Beberapa bahkan merupakan teman dekat hingga sekarang.

Teman terakhir yang saya unfollow agar saya tidak perlu membaca pembaruan statusnya melulu adalah karena ia terlalu sering mengumbar masalah rumah tangganya dengan pasangannya. Yep! Saya tahu ini tidak asing. Rumah tangga tentu kompleks. Tidak manis-manis saja. Semua orang memiliki peluang untuk mengalami masalah serupa, meski siapa, sih, yang ingin?

Tapi . . . sungguh rasanya tidak nyaman. Apalagi, beliau kerap menyinggung dan me-mention langsung akun sang suami. Artikel-artikel terkait masalah rumah tangga, called that dimadu bla-bla-bla, dst, di-carbon copy ke suaminya. Hahahaha. Im sorry for laughing, bukan karena meremehkan, but . . . I think it was too . . . awkward. It was too confusing for me. Bukan cuma dia, sih, orang yang mengumbar masalah personal ke ranah sosial, bahkan yang bertengkar dengan pasangan. I know. Tapi, it just too bother my mind. Mungkin karena saya mengenalnya cukup dekat dulu. Saya tidak akan membahas bagaimana dia dulu, namun lebih ke bagaimana semoga kita dapat bersikap di media sosial.

Dia, saya, kita semua pasti pernah dengar jangan terlalu mengumbar masalah personal ke media sosial. Tapi, saya nggak tahu detail apa yang membuat dia cuek dan terbiasa melakukan hal tersebut. Ada salah satu alasan yang pernah teman saya beri tahu kenapa si perempuan ini begitu vokal soal masalah dengan suaminya di media sosial. Hambatan untuk berbicara secara langsung sehari-hari tentunya.

Andai saya teman dekatnya, mungkin saya bisa menegurnya soal ini lebih giat lagi. Saya pernah sekali menegurnya ketika berkomunikasi via Whatsapp, tapi jawaban yang dia berikan adalah dia dan suami bahkan keluarga suaminya sudah sama-sama tahu. Okey. So, just thinking again about this case. Mungkin akan ada yang mengatakan pada saya bahwa rumah tangga memang menyeramkan, dan bisa saja saya merasakan roller coaster itu nanti. Saat ini, memang saya sedang merasakan aman-aman saja karena pernikahan saya baru berumur hampir 2 bulan.

Saya ulang lagi, siapa juga, ya, yang mau hubungan dengan pasangannya, baik itu menikah atau pacaran, gonjang-ganjing? Kelakuakn teman saya ini antara membuat saya kesal, gemas, bahkan cemas. Kesal karena mengapa orang ini, sekali lagi, tidak bisa menjaga privasi untuk dia, pasangan, atau lebih jauh lagi keluarga dan teman dekatnya saja dalam bentuk omongan verbal sehari-hari. Bicarakan, bukan diposting. Jika tidak mempan lakukan mediasi, libatkan orang terdekat. Dalam tahap yang lebih parah lagi, datangi konsultan pernikahan atau . . . psikolog maybe? Baiklah, saya nggak tahu separah apa latar belakang masalahnya. Ini sekadar saran jika di lihat dari permukaan. But, what can I say more as an advice?

Sekesal-kesalnya saya adalah ketika saya berpikir “mendingan lau mengakhiri hidup diam-diam kalau udah nggak kuat, tapi setidaknya jangan tampilkan masalah lau di medsos. Liatin yang hepi-hepi aja, Sist”, sementara teman-teman saya yang lain suggest tentang perpisahan (cerai). Tenang, saya tahu bunuh diri itu bukan pilihan baik. Hanya lagi kesal memuncak aja. Karena, pembaruan seperti itu secara tidak sadar juga membuat orang lain risih, paling bagus merasa kasihan. Tapi, sebanyak apa yang akan peduli? Mungkin ada, tapi tidak banyak. They just scrolling their timeline again, find another interesting things for them.

Kenapa pembaruan orang ini membuat saya cemas? Karena saya juga orang yang sudah menikah! Saya sampai berpikir, benarkan rumah tangga itu separah ini? Atau hanya mbak ini saja yang membesar-besarkan? So, I decided to unfollow her account. Terpaksa. But, I don’t have to say a sorry. Saya mengenal orang-orang yang menyarankan pernikahan, tapi juga mengenal orang-orang yang belum menikah karena beberapa alasan. Bukan hanya sekadar karena jodohnya belum datang, ada juga yang memutuskan karier dulu, atau berprinsip. Kelakuan seseorang yang terus memposting soal keburukan rumah tangga saya khawatirkan akan membuat orang lain menjadi skeptis soal berumah tangga.

Di sini, saya merasa kasihan juga sama teman saya ini. Oleh karena itu, saya doakan semoga suatu hari beliau menemukan ujung permasalahan. Menemukan pemecahan yang tidak merugikan dia, sang suami, terutama anaknya yang masih kecil. Jikapun harus, semoga semuanya ikhlas dan kembali bangkit. Saya doakan juga semua pasangan bisa menjaga hubungan satu sama lain. Terkadang, dalam kehadiran orang ketiga, kita tidak bisa menyalahkan pelaku saja. Coba tilik sang korban. Coba tilik hubungan yang mereka jalin sebagai suami-istri, atau pasangan berpacaran juga. Ini juga menjadi catatan buat saya, kok. Saya juga mendoakan rumah tangga saya tetap kuat, meski tidak selalu mulus. Tetap saling menjaga kepercayaan, saling menghidupi, saling sayang dan mendukung, juga segala hal baik lainnya. Amin.

Dalam titik ini, saya jadi menyukai orang-orang yang ‘memamerkan’ kemesraan dengan pasangan, apalagi dengan cara yang menyenangkan buat saya, dibandingkan mereka yang mengumbar masalah melulu. Saya juga jadi lebih nyaman melihat teman-teman yang disibukkan dengan kegilaan terhadap idola (fangirl/fanboy) atau justru mempromosikan bisnisnya. Ingat, deh, jenis manusia seperti apa pun Anda, introver, ekstrover, ambiver, dll, mem-posting soal masalah personal bukan hanya membuat orang bosan dan risih, tapi pada tahap lanjut membuat mereka kesal dan cemas. Dan ingat, berapa banyak yang peduli? Go talk with people around you, find a help. Good luck with your life. Post something good, funny, and blissful about your life. Tentu yang lebih baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

pexels-photo-91950

Iklan

Ibu Desi & Jam Biologis

pexels-photo

Pagi ini, gue sadar salah satu hal to be grateful for adalah ketika di tengah semua keruwetan pagi hari yang membuat emosi lo bisa saja naik kemudian marah-marah, namun tiba-tiba justru lo malah kepengen ketawa.

Hampir sebulan menikah, gue memang belum bisa membenahi jam tidur malem-bangun pagi gue. Alias sejak dulu memang terbiasa tidur agak malam dan bangun (sebut saja) tidak sesubuh yang dianjurkan. Karena pada dasarnya memang gue membutuhkan itu yang namanya gelung-gelungan di kasur lebih lama. Alhasil, apalagi ABCD yang harus dikerjakan sebagai Ibu Desi sejak meniqa, rekor kesiangan gue naik level. Yha, memang ogut belum berhasil mengatur jam biologis sebenarnya.

Kayak pagi ini, target gue adalah nggak masak, beli jadi aja, atau bikin roti bakar buat gue dan Argo karena ada setrikaan dan cucian se-Indonesia Raya. Alhamdulillah, Argo mau bagi kerjaan dengan mencuci dan gue yang nyetrika. Gue adalah tipe yang nggak bisa ngerjain setengah dulu, sisanya nanti, gemes aja gitu, kecuali lagi capek gilak. Setrika aja semua walau banyak. Karena satu dan lain hal, gue yang harus menjemur cucian yang dicuci Argo, kemudian piring semalem belum dicuci, sampah belum dibuang, pokoknya sebelum ngantor rumah harus bersih hhhh. Argo berinisiatif membereskan pakaian yang sudah gue setrika ke dalam lemari. Di sinilah drama dimulai.

Ketika gue selesai mandi dan berpakaian… ebusettt.. Kenapa itu golongan t-shirt ada di bagian kemeja, golongan kerudung di t-shirt, underwear di bagian cardigan, dan keberantakan lainnya. Padahal udah gue kelompokin sejak disetrikaan. Mau marahhhh tapi ketawa hahahahaha~~~

Keluar kamar, Argo nanya, “Kenapa kamu ketawa?” Gue peluk aja udah. Untung gue sayang. Kalau nggak gue kiloin nih tuker bawang merah.

Begitulah. Gue pikir pengantin baru nggak selalu manis-manis melulu. Nggak tau juga ya buat yang masa pacaran singkat atau nggak melalui masa pacaran 🙂

Hampir 3 minggu menikah aja gue dan Argo sudah beberapa kali melewati momen debat kecil hingga level ‘lumayan’ dalam bahasa kami, walau setelah dipikir-dipikir alasannya lucu dan remeh juga.  Kalau diceritain juga pasti orang lain ketawa. Mungkin karena kami sudah pacaran cukup lama. Baikannya, ya, nggak usah disuruh. Nggak minta maaf juga mungkin gapapa. Kasarnya, cepat atau lambat juga interaksi di ranjang lagi. Interaksinya menurut versi masing-masing terserah kalian. Pillowtalk atau lebih. Gue juga awalnya denial. Interaksi di ranjang pale lu. Mau ngomong aja kesel. Asli.

Gue pengen bisa ngubah mood ke arah lebih baik terus, sih. Terutama pagi hari. Mood cerah. Katanya mood pagi hari bakal berimbas ke mood seharian. Apa lagi sekarang bakal ada yang gue sambut di malam hari. Juga ada yang gue lepas di pagi hari. Makanya tadi di awal tulisan, gue bilang, “satu hal to be grateful for adalah ketika di tengah semua keruwetan pagi hari yang membuat emosi lo bisa saja naik kemudian marah-marah, namun tiba-tiba justru lo malah kepengen ketawa.”

Finally, The W-Day (Part 2)

Okey, lanjut ke cerita lain soal persiapan di pernikahan gue 15 Juli lalu. Kali ini mau bahas soal undangan dan souvenir, ah. Kali aja ada yang kepo atau butuh informasi. Okey, lets start. Yok!

  1. The invitation

Gue pernah menulis singkat tentang undangan pernikahan ini di akun Instagram beberapa waktu lalu (@desimandasari.af). Undangan adalah salah satu hal yang gue dan Argo urus sendiri (tanpa melibatkan bantuan Ibu Eka) dan dari jauh-jauh hari memang ingin dibuat unik. Oleh karena itu . . . prosenya justru membuat kami cukup excited! Sebenarnya, sudah sejak entah kapan kami (khususnya gue) browsing undangan unik, misalnya di Pinterest. Mulai dari bentuk balon yang harus ditiup dulu biar informasi isi undangan bisa dibaca sampai bentuk paspor yang unch-unch.

Ada yang berprinsip undangan nggak perlu yang repot atau mahal, bener. Ada juga yang berprinsip selama mau dan mampu hajar aja, itu juga bener. I mean, kalau lo orangnya suka yang unik, pasti tau tips and trick-nya untuk ngakalin supaya apa yang lo mau tetap terwujud, tapi tetep nggak overbudget. But, pada akhirnya kalau budget-nya tetep berlebih dibanding yang nggak unik, kalian udah prepare  gitu lho bageur. Gue dan Argo juga dulu harus muter nyari digital printing, kok, salah satunya sebagai salah satu langkah agar bugdet-nya nggak over-over amat (halah). Selain jumlah tamu kami yang nggak terlalu mbludak tentunya. He he he~

Then, kami menemukan konsep yang diinginkan dan mempercayakan eksekusi desain ilustrasi ke salah satu teman gue yang memang bisa menggambar, namanya Hilda (IG: @ynthld). Lewat diskusi kita tentukan deadline, ukuran, bentuk, hingga harga. Hilda bantu mencarikan jenis kertas yang cocok secara dia pengalaman di bidang penerbitan. Kita sepakat mencetak undangan di kertas matte paper ukuran A3 yang nanti dilipat jadi ukuran A6 (dilipat jadi 9 lipatan). Untuk amplop, gue dan Argo nyari sendiri ukuran costumize di IG tapi lupa nama akunnya. Lalu, pesan stampel bertuliskan “you’re invited” di agen pembuat stampel pinggir jalan, deh, buat amplopnya.

Nyetak undangan kayak gini seperti biasa makin banyak makin mure, sih, walau gue nyetak cuma 200 eks. Tips lainnya, ya, untuk kantor per divisi gue bagi nggak per orang, tapi buat ramai-ramai, misal satu divisi gue kasih 2-3 undangan untuk bareng-bareng. He he he… malah dibilang harusnya satu undangan aja biar lebih hemat bahahaha~ Jangan lupa minta buatin undangan versi softfile buat ngirim ke teman-teman via Whatsapp atau BBM.

Beginilah penampakan undangannya. Suka!

  1. The Souvenir

Apakah gue bisa membeli sesuatu yang bernilai guna dan anti-kebanyakan di pasar souvenir? Tapi, mengingat sekarang informasi bisa diperoleh dengan mudah lewat Internet, browsing dulu kembali menjadi jawaban dibanding harus jauh-jauh datang ke Jatinegara atau semacamnya. Yak, googling “souvenir unik”. Didapatlah mulai dari bijih kopi dengan takaran sekali seduh hingga batangan cokelat. Uwuwuwuw~

Lalu, dari hasil browsing, pilihan gue dan Argo terhenti antara tanaman hidup atau pouch. Dua jenis souvenir ini nyatanya sudah banyak digunakan/dipesan oleh pasangan pengantin dalam acara pernikahan akhir-akhir ini (ngomong opo tho). Sebenarnya, gue sreg banget sama tanaman hidup. Tapi, pertimbangan  Argo adalah tamu akan sulit membawa pulang tanaman tersebut. Bisa, sih, dipesankan dengan packaging yang lebih save, tapi harganya juga lumayan tinggi. Buat kalian yang tertarik, silakan Googling, cocok buat yang suka tema go green. Waktu itu nemu agen di daerah Lembang yang juga punya cabang di daerah Depok. Tanamannya juga beragam. Kemasannya macem-macem lagi.

Akhirnya, kami memutuskan pouch sebagai souvenir pernikahan kami. Kami sempat pendekatan dengan beberapa penyedia jasa pembuatan pouch dan totebag dengan membeli sample mereka. Akhirnya pilihan jatuh (cie) ke Invistation (Instagram: @Invistation) yang menyediakan jasa desain dan memperbolehkan kita memakan desain kita sendiri. Ukuran pouch pun terdiri dari beberapa jenis. Kita bisa pilih. Harga pouch disesuaikan dengan jumlah pesanan. Berikut tampilan pouch yang kami pesan, packaging sudah include kartu ucapan terima kasih, kertas cokelat bertuliskan nama pengantin & tanggal nikah, dan plastik pembungkus.

Saran gue sih, boleh pesan souvenir yang harganya terjangkau, tapi kalau bisa tetap bernilai guna walau mungkin (kasarnya) nggak long last-long last amat. Soalnya, gue pernah datang ke acara nikah dan dapat souvenir suatu alat perawatan tubuh yang akhirnya nggak bisa dipakai (karena tumpul huaaaa~). Pas beli dese juga pasti nggak tau sih barangnya ada yang bagus ada yang gagal, alias nggak ngecek satu per satu. Mending kalau begitu pesan hiasan sekalian, misal gantungan kunci. Hanya saran biar justru nggak kebuang budget-nya.

Akhir tahun ini, beberapa kenalan dan teman (baik dari gue maupun Argo) kebetulan juga sedang bersiap menghadapi pernikahan. Sebagai yang, Alhamdulillah, sudah melewati fase itu, gue doakan semoga semua prosesnya selalu lancar dan dimudahkan dalam hal apapun tentunya. Kuat dan solid, ya, sebagai pasangan, setelah menikah nanti juga. Pesan dan doa buat gue juga yang masih belajar dan beradaptasi dalam chapter baru ini *sambil ngiris bawang dan ngoles Nutella *ngapain bu aji?

Dalam hal persiapan, sih, . . . rasakan aja pokoknya bahahaha! *lempar palu Thor* Salam peace~

DSC_0184.JPG

Finally, The W-Day

Its been two weeks after the day. Huft. Welcome to the new chapter.

I know I am not good enough to do routine writing, including about my marriage Juli 15 ago. Here, I will write about that special day again.

Sebenarnya, mood gue lagi kurang baik hari ini karena kondisi kesehatan yang juga lagi nggak stabil. Rutinitas baru sebagai istri (cie) bekerja dan tamu bulanan gue sinyalir sebagai penyebabnya, selain bolosnya gue dari mengonsumsi obat-obat dokter secara rutin. Yea, gue masih terdaftar sebagai pasien dokter saraf karena kasus migraine membandel. Semoga dengan menulis bisa meringankan sakit ini. *ea

Pernikahan gue dan Argo Alhamdulillah sudah terlaksana dengan lancar. Terima kasih untuk semua doa, dukungan, bantuan, dan tentu kehadiran keluarga, saudara, teman-teman, dan pihak-pihak siapa pun itu. Akhirnya rasa stres dua bulan persiapan sampai di garis finish dan benar, “ternyata prosesnya berlalu cepat, begitu saja”.  Pernikahan kami dilangsungkan di daerah Cilegon, bukan Jakarta, mengingat kediaman keluarga gue sekarang adalah di sana, di sebuah tempat bernama Roomvill Sari Kuring Indah, tempat yang sama di mana kakak perempuan gue menikah tahun 2014 lalu. Tamu yang kami undang memang tidak banyak. Maaf untuk siapa pun yang merasa keberatan atas hal ini. Alasannya; 1) memang sebagai calon pengantin (saat itu), gue dan Argo sama-sama ingin suasana pernikahan yang cenderung sederhana dan tidak terlalu ‘hectic’, 2) lokasi pernikahan yang cukup jauh dari pusat aktivitas kami sehari-hari membuat kami berpikir ulang untuk mengundang banyak teman yang tersebar. Jadilah acara pernikahan ini dihadiri oleh keluarga, teman kerja, teman-teman dekat, dan undangan yang dikenal keluarga (dalam hal ini kakak gue).

Ok, lets talk about all the bigs until the ‘printils’ on the wedding. Semoga info yang gue bagi bisa menjadi cerita atau sekadar inspirasi buat yang sedang merencanakan pernikahan. Yha!

 

  1. The gown and suit

Untuk pernikahan ini , gue dan Argo pakai jasa Ibu Eka sebagai seorang Wedding Organizer (WO). Beliau menyediakan semua hal yang kami butuhkan, termasuk koneksi tentunya, kecuali hal-hal yang memang ingin kami urus sendiri. Namun, seperti yang sudah gue tulis di postingan sebelumnya, gue dan Argo tetap pengen ada baju yang kami sediakan sendiri (selain satu pasang pakaian yang kami sewa dari salon yang koneksinya kami kenal dari Bu Eka juga). Baju yang kami sewa dipakai untuk akad, sedangkan baju yang kami sediakan sendiri dipakai untuk resepsi.

Dress yang gue buat berdasarkan inspirasi desain yang gue peroleh dari Internet (googling tjuy!) dengan banyak modifikasi tentunya. Penjahit yang berjasa membuat dress tersebut adalah Mas Komar dan tim dari Kiara Butik yang berlokasi di Jalan Nusantara Depok (081317192558).  Mas Komar bisa membuat dress sesuai yang gue mau dengan saran dari dia dengan tepat waktu. Plus kerudung basic dan kerudung tile penghias kepala. Padahal gue baru pertama kali jahit di sini. Harga cukup terjangkau setelah gue bandingkan dengan beberapa butik lain. You can call him If you need a help! Gue sampaikan bahwa gue pengen dress yang bisa buat gue mingle dengan tamu, yang nggak ribet, dan gue pengen pakai keds (nanti gue mention di poin berikutnya). Taraaaa~ bahkan beberapa teman yang datang ke resepsi suka dengan dress hasil Mas Komar ini. Aha!

Soal set suit yang dikenakan Argo juga sudah gue sampaikan di tulisan sebelumnya (plus harga). Suit itu kami dapatkan di Wood Bintaro XChange, sudah termasuk dasi kupu-kupu dan kemeja basic di dalamnya. Sebelumnya kami sudah muter-muter ke beberapa store dan harga set jas memang uwoh-uwoh, beruntunglah ada Woods yang saat itu sedang mengadakan diskon lumayan banget. Kata Argo, lumayan jasnya nanti bisa dipakai untuk acara gala dinner. Berasa after party Oscar, ya. Terserah mas-nya ajalah.

  1. The shoes

Ada cerita pas gue mengenakan pakaian dan sepatu akad dari salon. Di akad, gue diminta mengenakan high heels dan pakaian berupa kebaya pink-hijau sebelum akhirnya gue dibebaskan berasik-asik di resepsi dengan gaun anti-ribet dan keds. Gue waktu itu pake selop dengan heels setinggi 9 cm (cukup menjadi neraka buat gue). Selesai akad, setiap ada sesi foto dengan teman dan anggota keluarga, gue kerap harus bangun dari posisi duduk ke berdiri dan melebarkan ekor baju. Berulang kali. Buat gue yang terbiasa gerak cepat, hal ini cukup menyulitkan hahaha.. seketika mood gue memburuk dan berharap segera bisa berganti pakaian dan sepatu! Ya Allah tolong hamba!

Finally, setengah 10 gue dan Argo ganti pakaian resepsi. Dan sedikit touch up. Di sini lega banget rasanya. Sepatu keds gue dari Converse All Star warna putih dengan nuansa gold. Talinya gue ganti dengan pita rambut warna putih biar lebih girly. Tadinya, gue dan Argo sempat nyari ke store Keds, Cottonink, hingga Payless, tapi nggak ada yang cocok, mulai dari harga hingga model. Pengennya sih yang bisa kepakai lagi untuk kegiatan sehari-hari.

Argo pakai Oxford shoes yang dia beli online di Instagram. Cuma gue lupa euy apa merek atau akunnya. Sejak akad dia sudah pakai sepatu ini, nggak pake sewa-sewaan. Sekalian buat koleksi sepatu kerja, nih, masnya.

  1. The crown and boutonniere

Gue mesen flower crown costumize sekaligus boutonniere (semacam bros bunga yang ditusukkan di lidah jas) untuk Argo di Farida Crown (IG: @faridacrown). Kita bisa request warna bunga sesuai tema pernikahan kita, lho. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan hingga pengiriman kurang lebih 7-8 hari dari lokasi pengiriman di Solo. Harganya pun variatif. Packagingnya juga rapih. Senengnya di sini karena flower crownnya bisa diset-up sesuai size kepala karena dilengkapi pita pengikat di bagian belakang. Sejak awal, gue memang sudah bilang ke Bu Eka ingin menggunakan flower crown sebagai pelengkap baju resepsi.

Soal boutonniere, Argo nggak pernah request, sih. Tadinya doi malah kepikiran sapu tangan atau bunga yang diselipin ke saku. Cuma setelah gue googling-googling dan menemukan penggunaan boutonniere pada acara-acara formal di jas-jas pria (halah), gue pesenin aja langsung.

Segini dulu tulisan soal perintilan nikah gue, poinnya lainnya masih ada, yaitu soal undangan dan souvenir atau lainnya mungkin yang belum teringat. Utamanya hal-hal yang nggak dipegang sama Bu Eka, sih, yang diurus langsung sama gue dan Argo he he he . . . Tapi akan gue tuliskan di postingan berikutnya, yes. Mau kerja dulu, Bos! See ya~

PS: I have not enough pics about the things ive mentioned above. Semuanya gue simpulkan lewat 1 foto resepsi dan 1 foto akad via hape aja ya. Foto-foto dari fotografernya sudah jadi tapi belum sampai ke tangan gue ha ha ha.. Nanti diupdate, deh, fotonya (kalau inget).

 

Kunjungan Tidak Sengaja ke Toko Wood

Urusan pakaian, gue dan Argo pengennya nggak pakai sewa-menyewa alias beli atau bikin. Tentu saja harus ada pakaian untuk cowo dan cewe. Mulai dari cowonya dulu, deh. Karena kami ingin hanya menggunakan satu jenis pakaian untuk akad sekaligus resepsi; jas dan simple dress.

Berbekal pencarian di Internet, kami mendapat referensi sebuah penjahit di Pasar Baru yang menawarkan satu paket jas, celana, plus bonus dasi dan kemeja. Kebetulan harga yang ditawarkan masih cocok buat kami. Sebelumnya, kami sempat masuk ke beberapa toko di dalam mall, namun harga yang ditawarkan terlalu mahal (sempat menemukan jas dengan harga di atas 20jt muahahaha), atau kalaupun ada yang harganya cocok, Argo tetap harus memperkecil jasnya di penjahit. Makanya diputuskan untuk membuat.

Tanggal 25 Maret, kami mengunjungi salah seorang kerabat di Bintaro untuk membicarakan rencana lamaran. Sepulang dari sana, kami mampir ke mall Bintaro X Change untuk sekadar jalan-jalan. Tidak sengaja, kami melihat (dan akhirnya mampir) sebuah toko bernama Wood yang memang menjual pakaian pria. Begitu masuk, Argo langsung menemukan sebuah jas yang pas di badannya yang cenderung kurus. Sungguh kebetulan. Syukurnya, Wood juga membandrol harga yang masih terjangkau plus saat itu sedang ada sale untuk beberapa item.

Argo pun mencoba jas warna dark grey yang ia pilih, sekaligus celananya, kemaja basic warna ice blue, dan dasi kupu-kupu. Jas slim fit itu sebenarnya sangat pas di badan Argo, kecuali dia masih ingin membenahi beberapa sisi ke penjahit sekalian mengecilkan celana karena kebetulan ukuran celana yang ia pakai sedang kosong. Untuk ke-4 item yang tadi gue sebut, kami hanya perlu mengeluarkan uang 1,6 juta. Dasi kupu-kupu yang dimaksud bahkan hanya berharga Rp45.000 karena didiskon 70%. Oke, PR berikutnya adalah mencari gesper (karena gesper yang Argo punya abege banget hahaha), juga mungkin sepatu dan kaus kaki. Nanti, ya, kita cari duit lagi.

Akhirnya, satu hal lagi selesai. Setelah ini, giliran pakaian untuk cewenya dong. Di tulisan berikutnya, ya.

Long Way #2: So, This is My Ring

Penantian 10 hari, akhirnya harus menjadi 11 hari. Cincin yang harusnya jadi tanggal 28, terpaksa diambil tanggal 29 karena Kokoh Bukit Emas mengirim SMS bahwa kerangka cincin gue sudah jadi, namun tenaga yang memasang zircon nggak masuk pada hari itu. Jadi, tanggal 29 sore gue izin dari kantor untuk mengambil cincin pesanan. Baca tulisan sebelumnya terkait cincin di tautan ini.

Sampai di CGC, ternyata ada dua orang selain gue yang juga mau ngambil cincin hari itu. Semuanya belum diberi grafir (nama), jadi gue harus menunggu agak lama. Memang mau musim kawin, nih, jelang dan sesudah puasa-lebaran. Untungnya, baik si Cici maupun Kokoh selalu ramah ngajak ngobrol, bahkan sampai disediakan air mineral segala selama menunggu. Rata-rata toko di CGC tutup jam 5 sore. Itulah alasan mengapa gue harus izin keluar kantor dan menembus kemacetan ibukota jelang jam pulang kerja (halah).

Sampai di toko, kok, gue jadi mupeng sama model-model lain, ya. Hahaha . . . Apa pesan lain lagi, nih, buat akad? Meskipun tergolong toko kecil, Bukit Emas menyediakan model cincin yang lucu-lucu. Lagipula, kita bisa diskusi model, sih, menurut gue. Tadinya, gue mau ngambil ketika jam makan siang, tapi Si Kokoh via SMS bilang cincin perlu difinishin dulu, setelah diberi zircon. Ya, mungkin maksudnya finishing itu diberi grafir de el el.

“Nih, punya Desi, yang jarinya kecil banget.” Kata Si Cici begitu cincin gue kelar. Setelah gue coba, cincin tersebut kemudian dimasukin kota berbentuk hati, dan gue menyelesaikan pembayaran. Oh iya, jangan lupa surat cincinnya disimpan. Berhubung gue jarang banget beli perhiasan, mungkin kalau Si Koko nggak mengingatkan surat cincinnya kemarin ketinggalan hahaha… Padahal itu penting banget kalau cincinnya mau dijual lagi *digebuk Argo*

Begini penilaian yang mau gue kasih ke Bukit Emas: Lo bisa request mau jadi cincinnya berapa hari. Di saat  toko lain meminta 2-3 minggu di musim kawin begini, gue bisa request 10 hari, meski harus nambah juga 1 hari lagi. Selain itu, pelayanan dari Si Cici dan Koko asyik, mereka bisa kasih lo pendapat hingga ngajak bercanda. Jadi, kegiatan cari cincin nggak tegang-tegang amat. Soal harga mungkin nggak beda jauh lah, ya, sama toko lain. So, kalau gue suatu hari berminat beli perhiasan ke CGC, gue berkemungkinan akan ke Bukit Emas lagi. Kalian bisa menghubungi toko Bukit Emas di nomor ponsel: 0811144700. Selamat berburu cincin!

Begini penampakan cincin jari kecil yang gue & Argo pesan: 20170329_202622

Long Way #1: Ring, Ring, Ring

Dengan waktu yang dirasa cukup sempit, Sabtu 18 Maret kemarin, gue dan Argo mulai mencari cincin. Cincin ini akan digunakan saat lamaran sekaligus sebagai cincin kawin. Tempat yang kami datangi adalah Cikini Gold Center (CGC). Lumayan sulit untuk menemukan cincin yang cocok karena:

  1. Banyak toko di CGC tutup
  2. Ukuran jari gue yang kelewat kecil

Kami berkutat cukup lama mencoba cincin demi cincin di dua toko awal, yaitu Toko Kemenangan dan satu lagi gue lupa namanya. Jari gue ternyata berukuran 6. Iya 6! Kebanyak cincin cewek berukuran paling kecil 8 yang ready stock. Cincin bisa aja di-resize dengan menunggu satu jam, syaratnya tidak lebih dari dua nomor, misal dari 9 ke 7. Jika lebih dari itu, hiasan cincin bisa rusak.

Untung dua toko pertama itu punya pelayanan yang sangat ramah, jadi nggak keberatan ketika akhirnya kami nggak jadi beli. Sampai di titik ini, gue mulai stres. Tentu karena sebelumnya gue sudah membayangkan akan membawa pulang cincin saat itu juga. Akhirnya, setelah naik ke lantai atas lalu turun lagi, lalu muter-in ulang lantai dasar, kami diarahkan ke satu toko namanya Bukit Emas. Asiknya, di BE ini kita bisa request mau dibuatkan cincin berapa lama. Umumnya, pembuatan cincin memakan waktu 1-4 minggu tergantung load pesananan. Toko-toko sebelumnya meminta waktu 3-4 minggu, sedangkan kami butuh cincin itu sebelum tanggal 1 April. Ga sampe dua minggu.

Di Bukit Emas, Si Kokoh menyanggupi untuk membuat cincin dalam waktu 10 hari. Alhamdulillah. Setelah sreg sama satu model (dipengaruhi oleh faktor lelah juga, sih, jadi nggak pilih model yang neko-neko), kami akhirnya pesan cincin emas putih dengan hiasan batu Zicron di setengah kelilingnya. Totalnya sekitar 3,5 gram saat jadi nanti (sesuai ukuran jari manis tangan kanan gue). Per gram, BE mematok harga Rp400.000. Jika ingin ditambah berlian, waktu itu kami ditawarkan harga Rp100.000 per butirnya.

Untuk menghemat budget dan karena gue bukan tipe penggila jenis perhiasan, maka zicron tetap jadi pilihan. Biaya pembuatan adalah Rp450.000/cincin. Waktu itu, Si Kokoh meminta DP pembuatan 1 juta rupiah, sisanya dilunasi saat cincinnya selesai. Kami memang sepakat awalnya untuk nggak beli cincin buat Argo (emas memang nggak boleh, tapi bisa pakai paladium atau perak, kok) karena dia nggak nyaman pake perhiasan. Si Cici pemilik toko bilang, “Wah, itu modus biar nggak ketahuan sudah nikah, tuh!” Hahahaha sukurin! Oh iya, biaya 1 juta sekian itu sudah include grafik nama pasangan di dalam cincin.

Soal bentuk cincin yang sudah jadi, nanti Insya Allah akan gue post bareng tulisan ‘Long Way’ lainnya. Nggak sabar lihat bentuk cincin jadinya, semoga sesuai keinginan dan benar-benar cocok di jari gue. Bisa jadi, saat pengambilan cincin, gue jadi tertarik beli cincin untuk Argo :p

Oh, iya. Tadinya, kami ingin masuk ke toko emas Kenang karena toko ini direkomendasikan di Internet. Tapi, pengunjungnya lagi rame banget untuk ukuran toko sekecil itu. Saran gue, sih, coba cari-cari di toko lain. Worth it, kok. Kami juga berencana survei ke seputaran Blok M, tapi setelah berhasil menemukan Bukit Emas . . . ya nggak jadi. See you in the next post!

Someday We’ll Know

When i wrote this writing, i was listening to Someday We’ll Know. I ever wanted, someday, in my special day, this song be played because it has beautiful lyric.

Lalu, datanglah hari ini. Lagu itu masih tetap indah. Keinginan untuk memutar lagu ini di hari spesialpun masih ada. Tapi . . .

Saat kamu memegang kunci di mana semua orang mungkin berpikir kamulah yang akan memasuki pintu itu dengan semangat, tiba-tiba muncul pikiran apakah memang ini yang kamu sesungguhnya inginkan. Saat ini. Dengan seseorang yang kamu pilih.

Benarkan kamu ingin merasakan momen itu sekarang? Sekarang, saat kamu masih berada di titik nol dari memiliki apa-apa dan mencapai apa-apa. Katakanlah kamu memang ingin kamu dan dia berada di titik yang lebih aman. Kamu menginginkan dia. Sejak lama. Tapi, apakah benar-benar harus diwujudkan sekarang?

Namun, terkadang kamu juga merasakan bahwa kamu sangat inginkan tahap baru itu. Dengan dia, kamu merasa baik-baik saja.

 

 

Save Me from Myself

Bagaimana jika dalam hitungan hari hidupmu akan berubah banyak?

Bukan soal tidak bisa apa-apa lagi, tapi langkahmu mungkin saja akan memutar

Atau lebih berat karena ada beban, oh, maksudnya tanggung jawab baru

Tak lama lagi, waktu akan berjalan semakin cepat bagimu. Aku jamin.

Ada waktu untuk berubah pikiran. Konsekuensinya adalah akan ada yang dikorbankan.

Beranikah?

Jika tidak berubah pun, akan ada yang dikorbankan.

Berani?

Kamu kini butuh memeluk diri sendiri

Karena hanya dirimu yang mengerti dirimu

Dalam hitungan detik, tambahkan usahamu untuk meyakinkan diri

Bagaimanapun, ini adalah pilihan, maka jangan lemah dalam menanggung risiko