Kenapa Dilan Bukan Ibu Menyusui?

Karena Berat, Dilan Tak akan Sanggup

Suasana rumah lagi chaos. Adaptasi sejak Arsa kami asuh berdua saja. Rutinitas antar-jemput daycare dan urusan rumah tangga. Tapi penyebab paling anyar adalah virus batuk-pilek. Arsa bahkan sejak lebaran hingga kurang lebih dua minggu setelahnya belum sembuh. Awalnya virus itu dari Ibu, lalu ke Arsa sampai sempat demam dan muntah-muntah  hingga harus libur day care 2 hari, eh sekarang virusnya ke Ibu lagi.

Beberapa kali Arsa susah tidur. Tingkat terparah adalah saat dia merem doang sambil ngempeng nenen, tapi nggak tidur. Kalau dilepas nenennya, dia melek dan nangis. Kebayang capeknya setelah seharian jalanin rutinitas. Iya, Arsa pasti merasa butuh kenyamanan dan kadang kami nggak sepaham dalam hal ini. Hehe.. Anak butuh kelonan, sementara Ibu butuh rehat dan melakukan tugas rumah lainnya.

Puncaknya, ada malam di mana saya “marah” ke Arsa. Saya mencabut paksa nenen dan membuat Arsa menangis kencang. Saya lalu juga ikutan bercucuran air mata dan sambil emosi bilang, “Besok Arsa Ibu sapih!” Ada dialog penuh air mata malam itu antara saya dan Arsa. Saya jelaskan kalau saya sedang tidak enak badang dan butuh makan malam. Arsa main saja dulu kalau belum mau tidur. Arsa akhirnya mau dilepas duduk dulu ditemani Bapaknya, sementara saya makan. Arsa seolah mengerti dan tidak lagi menangis, hanya menggumam-gumam dan diam anteng.

Seorang ibu menyusui pasti mengalami hal-hal seperti ini, ya? Ada masa senang saat anak terlihat dekat dengan kita. Ada masa sedih dan lelah luar biasa ketika kedekatan itu justru jadi bumerang, membuat kita tidak bisa ngapa-ngapain, bahkan di saat butuh leha-leha sekadar main ponsel. Lah, “obat” penenang anaknya dibawa-bawa kita, kok.

Mumpung lagi “agak waras” dan ingat, saya menulis ini untuk menuliskan syukur yang kadang, boro-boro, teringat atau terucap ketika sedang lelah jadi busui.

Terima kasih, Allah, sudah mengizinkan hamba yang bertubuh mini ini (yang kadang di-underestimate) mampu memberikan ASI ke anak hamba, titipan-Mu, hingga saat ini usianya jelang 13 bulan. Semoga terpenuhi perintah-Mu untuk menyusui Arsa hingga dia berusia 2 tahun atau lebih. Mudahkanlah, jangan dipersulit. Maaf kalau Ibu Arsa ini suka mengeluh capek dan menggerutu. Semoga Engkau memahami dan membantu Ibu Arsa untuk tetap kuat.

Karena sesungguhnya menyusui itu tidak semudah yang dikatakan. Apalagi untuk yang belum merasakan. Tapi, mungkin inilah bakti hamba untuk keluarga, khususnya bakti hamba kepada-Mu. Pasti yang terbaik bagi Arsa jika itu sudah takdir-Mu, perintah-Mu. Insha Allah.

Terima kasih, Allah, Alhamdulillah, mungkin jika menjalani peran sebagai bukan-ibu-menyusui, hamba justru tidak mampu melewatinya. Jalan yang Kau beri pasti yang bisa hamba lewati. Begitu baik Engkau telah mengizinkan Ibu Arsa bisa memberi Arsa ASI.

Begitu banyak di luar sana, ibu yang tidak seberuntung hamba. Entah karena mereka memang tidak bisa menyusui atau mereka tidak mau. Hamba tidak ingin menilai karena itu pasti menyakitkan. Mohon ingatkan hamba ketika hamba mulai men-judge ibu lain dan hilangkanlah kesombongan dari diri hamba karena hamba sudah mampu memberi ASI. Berikanlah kemudahan untuk ibu-ibu lain untuk memberi ASI bagi anak-anak mereka, khususnya bagi mereka yang kesulitan karena masalah kesehatan atau support system. Kuatkan ibu-ibu yang sedang berjuang menyusui anaknya, baik para working mom ataupun full-time mom. Lindungi kami dari merasa paling benar dan menilai buruk pilihan orang lain. Bukakan juga pintu hati ibu-ibu yang kadang malas atau sungkan menyusui anaknya, termasuk hamba yang kadang ingin menyerah. Aamiin.

Semoga hamba bisa membantu ibu-ibu pejuang ASI lainnya. Menularkan semangat. Berbagi pengalaman. Karena merasa  berjuang sendiri itu tidak enak. Karena Ibu juga butuh semangat dan perhatian, bukan hanya bayi kecilnya yang juga rapuh, namun sudah terjamin mendapat serbuan kasih-sayang dari sekitarnya.

Terima kasih, Allah. Semoga apa yang hamba usahakan bersama suami untuk anak kami ini menjadi aset bagi tubuh, pikiran, dan akhlaknya agar kelak dia menjadi anak yang sehat dan sejahtera, sehingga berguna bagi dirinya sendiri dan sesama. Aamiin.

Sungguh apa yang sudah Engkau perintahkan, tidak akan bernilai nol apabila kami tunaikan. Ingatkan kami, Allah. Cukuplah rezeki ASI untuk Arsa hingga genap 2 tahun itu.

(Ditulis saat selesai pumping yang hasilnya drop ehe)

 

 

 

 

Iklan

Arsa’s Day Care

Seminggu terakhir ini, Arsa masuk day care. Pengasuh Arsa sebelumnya, yang masih saudara kami sendiri, memutuskan tidak ingin kembali ke Jakarta, dan kami juga nggak mau memaksakan dia untuk tinggal. Daripada nanti kepikiran rumah, yekan?

Sebelumnya Arsa pernah masuk day care tapi hanya untuk sehari di sebuah day care di dalam komplek perkantoran Arkadia, namun harga bulanannya lumayan pricey bagi kami. Tentu saja fasilitasnya (di sana) baik.

Day care yang kami pilih saat ini hasil searching-searching Bapak Arsa di Internet. Ada dua pilihan day care saat itu yang letaknya masih berada satu wilayah dengan rumah dan kantor kami. Kami sempat survei ke salah satu day care, yang satunya tidak karena keburu libur jelang lebaran.

Letaknya memang lumayan jauh dari rumah kami. Tapi kami memutuskan untuk mencoba dulu, meski drama capek antar-jemput itu pasti ada. Harganya lumayan terjangkau. Meski perjalanan ke sedikit lebih jauh.

Sementara ini, saya belum “ingin” membagi di mana letak atau nama day care Arsa itu. Sekadar untuk alasan keamanan karena ini pengalaman pertama saya menitipkan Arasa di “tempat umum” dan saya termasuk orang yang parno-an hehe. Mungkin untuk soal lebih detail bisa tanya-tanya japri, ya.

Rasanya pakai jasa day care? Tentu saja tiap pilihan ada baik-buruknya. Sama kayak dulu kami pakai jasa orang untuk mengasuh Arsa. Enaknya, sekarang, ya, kami bisa “menikmati” masa bertiga saja di rumah karena dulu saudara yang mengasuh Arsa memang tinggal bersama kami (bukan pengasuh yang pulang-pergi). Selain itu, kami bisa melatih Arsa berkembang, baik secara psikis, sosial, hingga motoriknya.

Kebetulan Arsa sedang mengalami masa-masa Separation Anxiety di mana dia nempel banget sama orang tuanya, khususnya Ibunya. Kalau lihat Ibu-Bapaknya pergi ya ngintil atau nangis. Ibunya ke dapur aja dia merepet merangkak nyusulin. Memang lagi masanya. Tiap pagi saat diantar ke day care pun, saat berpisah dengan kami, Arsa selalu menangis. Ketika dia sudah teralihkan atau tidak lagi melihat kedua orang tuanya, baru dia akan diam.

Beberapa kali, saya pun mendapat laporan kalau Arsa maunya nempel terus ke bunda-bunda (pengasuh/guru) di day care. Saat banyak teman-temannya (khususnya toddler) menghampiri, Arsa takut atau minta gendong. FYI, anak-anak di day care ini cenderung “kepo” atau antusias (ke arah happy) kalau ada tamu atau orang baru atau orang tua/keluarga yeng menjemput mereka.

Soal motorik, Arsa akan dilatih untuk mulai berjalan secara mandiri. Sejauh ini (di usia menuju 13 bulan), Arsa memang belum bisa jalan sendiri. Usia yang masih sangat wajar, sebenarnya. Jadi saya menulis ini bukan dalam konteks sebuah gangguan. Arsa masih “rambatan” dan jalannya hanya mau sambil dipegangi. Kadang dia sudah bisa dilepas berdiri sendiri untuk beberapa detik, tapi setelah itu nggak pede dan duduk lagi atau ngambek.

Arsa juga mulai mengalami apa itu yang namanya GTM alias sulit makan. Iya, hal yang juga sangat lumrah. Kami sebagai orang tua mengakui banyak pola asuh yang kurang tepat, khususnya dalam hal makan. Arsa masih suka kami beri gawai (ponsel/televisi) saat makan dan aktivitas lain dengan tujuan supaya dia anteng. Nah, di day care, umumnya, tim pengembang tidak memperbolehkan sama sekali anak terpapar gawai, meski di rumah pun sesekali Arsa masih kami perbolehkan nonton video lagu anak.

Kami berharap Arsa dapat diperbaiki cara makannya. Katanya, sih, dengan mengajak anak makan bersama akan memperbaiki pola makannya. Di rumah, sejak awal MPASI, memang nyaris tidak pernah kami makan bersama. Arsa ada jam makan sendiri. Sementara di day care, anak-anaknya diberi makan nyaris bersamaan, sehingga Arsa ada teman makannya.

Ibu-Bapak jadi pengen beli satu set meja makan, nih, hehehe…

Tidak enaknya atau risiko dari menitipkan anak di day care? Salah satunya adalah risiko terkena virus saat ada anak lain sakit. Selain itu, tentu saja curahan tenaga dan waktu untuk antar-jemput. Ya, kayak kita antar anak sekolah tiap hari aja. Hidup kami bertiga jadi lebih hectic, khususnya saat pagi, mulai dari nyiapin sarapan Arsa untuk dibawa ke day care, nyiapin baju Arsa, dll. Tidak jarang saya negomel-ngomel karena keribetan dan telat/kesiangan. Tugas domestik (rumah tangga) mau tidak mau kami kerjakan malam saat Arsa sudah tidur (mencuci, nyapu, ngepel, dll).

Tidak enak lainnya, ya, budget. Ini adalah hal yang harus dipertimbangkan dan dibikin perbandingan. Syukurlah, kami mendapatkan day care yang harga bulanannya tidak beda jauh dengan harga pengasuhan Arsa sebelumnya (diasuh di rumah), meski kami ada biaya lain, seperti ongkos antar-jemput Arsa (bensin atau transportasi online).

Tidak enak lainnya adalah keharusan kita untuk tega saat anak menangis. Bapaknya Arsa lebih parah, sih. Kalau Arsa nangis pas ditinggal, dia suka sedih. Pahadal, si Ibu juga pengen sedih, tapi, kan, nggak boleh keduanya baper, ya, hahaha.. Dan ini hal yang wajar. Anak merasa dijauhkan dari orang tuanya dan ketemu orang asing. Ya, kayak anak pertama sekolah aja. Solusinya selain belajar tega, yaitu sering-sering sounding ke Arsa kalau “its okay, everything gonna be alright”, semua di day care sayang Arsa kayak Ibu-Bapak, Arsa jangan rewel nanti Bapak-Ibu sedih, Arsa pasti bisa kan Arsa jagoan, dll.

Sekian dulu yang bisa diceritain dari day care Arsa. Semoga nanti bisa di-update terus, khususnya soal perkembangan Arsa setelah masuk day care. Doakan, ya, semoga Arsa betah, sehat-sehat, dan makin pinter. Semoga ini juga jadi pilihan tepat buat kami sekeluarga. Apalagi working mom suka feeling guilty, tapi masih pengen kerja hahahaha… (Ini juga sebisa mungkin dijelasin ke anaknya, yeah, meski dia belum tentu paham. But i believe he heard).

Arsa, no matter what our path journey, you are always gonna be our priority. Insha Allah.

How I Deal with Baby Blues Syndrome

Anak sudah umur 11 bulan, punya pengalaman Baby Blues, tapi baru “sempet” cerita sekarang. Hehe. Mom’s life is so complicated, sometimes, and give me a so little time to doing a pleasure things.

Jadi dulu, pascalahiran, gue sempet ngerasain yang namanya stres dan super-exhausted. Nggak pernah sampai periksa ke ahli, tapi dari menarik kesimpulan sendiri. Wah, kayaknya gue kena Baby Blues Syndrome (BBS), nih, dari ciri-ciri yang gue rasa. Apa aja, sih, simtomnya?

Namanya juga bayi baru lahir, ya. Adaptasi dari alam rahim ke dunia. Dari lingkungan yang nyaman, hangat, tenang, redup, langsung ‘blas’ ke lingkungan yang sibuk, panas/dingin, berisik, terang, dan membingungkan. Katanya 3 bulan pertama, memang kehidupan new-mom itu paling berat, sih (walau menurut gue, bulan-bulan berikutnya tetap berat karena tantangannya beda-beda). Tapi di sisi lain, pernyataan ini benar juga. Bayi yang super-cengeng dan sangat bergantung pada orang sekitarnya + ibu baru = chaos.

Bisa dibayangkan. Arsa waktu itu cuma paham bahwa zona ternyamannya adalah ketika digendong dan menyusu. Belum mengerti apa itu mainan, orang-orang terdekatnya siapa saja, belum bisa makan. Ditaroh sebentar, nangis. Nenen lama lepasnya. Malam sering terbangun karena lapar dan basah. Apalagi waktu itu dia masih pakai popok kain, bedong, gurita, dll. Jadi ketika basah, otomatis basah semua dan digantinya itu lho, ribet. Berlapis-lapis (Yha, sampai akhirnya gue putuskan untuk pakai pospak aja. Napa nggak dari awal, sih? *Ini ada alasannya hoho*).

Masuk magrib, jelang malam, gue ngerasa stres karena Arsa akan begadang. Lalu disusul: ‘Kok, gue kayak hampa, ga hepi punya bayi. Flat aja gitu’. Lalu, ada masa-masa di mana Arsa nangis, gue ikut nangis. Suatu siang, pernah gue menggendong Arsa yang sedang menangis sambil ngomong gini kira-kira: “Kamu, sih, enak. Semua orang merhatiin kamu. Sayang sama kamu. Sementara Ibu, stres sendiri”. Pernah juga gue menggebuk kasur di sebelah Arsa karena emosi, tepat di sebelah kuping dia. Marah-marah ga jelas juga pernah. Padahal Arsa ngerti juga nggak. Gue lupa poin-poin bahwa Arsa juga sedang “rapuh” karena adaptasi tadi, dan dia butuh dibuat nyaman 24 jam.

Suami masuk kerja. Gue menghabiskan masa cuti 3 bulan di rumah berdua saja sama Arsa (selama suami kerja). Makan di kasur karena Arsa nggak bisa ditinggal. Menunya pun pesan pakai aplikasi ojol. Arsa nyaris nggak pernah tidur siang (tidur pun paling sebentar). Meski keuntungannya, dia jadi tidur lebih cepat ketika malam dan lebih lama, ya bangun-bangun untuk menyusu, sih, tetap sering. Ada momen di mana gue harus menitipkan Arsa sebentar ke tetangga yang ngumpul-ngumpul depan rumah agar gue bisa mandi dan salat atau angkat jemuran. Pernah juga ada kurir ekspedisi antarkan paket, gue tinggalin Arsa seper sekian detik. Dia nangis. Sampai Mas Paketnya bilang: “Bu, itu anaknya nangis”. Dalam hati menjerit: Iya, Mz, itu, kan, gara-gara saya nyambut Mas di siniiiih… Suami pulang kerja, gue udah awut-awutan di balik daster lecek. Boro-boro dandan cantik atau minimal muka senyum. Yang ada Arsa langsung gue oper ke suami. Pernah juga Arsa nangis dan gue nggak mau gendong dia, Arsa digendong suami dan terus nangis. Suami mulai panik dan dengan nada tinggi bilang kalau mau kasih Arsa teh manis pakai dot kalau gue nggak mau nenenin. Akhirnya, sambil nangis dan marah-marah gue ambil Arsa dan nenenin dia. Bahahaha…

BBS itu pada akhirnya hilang sendiri. Mungkin sekitar 2 mingguan. Mungkin gue dan suami makin siap mengasuh anak kami. Stres sih masih. Tapi masih bisa ditanggulangi dengan berusaha membuat diri kami bahagia, misal dengan pesan makanan favorit atau ngobrol-ngobrol.

Penyebab BBS? Ya, karena si ibu kecapekan dan kaget dengan rutinitas baru. Ditambah lagi dengan lingkungan yang kadang nggak support. Misalnya, perbedaan pola asuh. Nggak hanya dari tetangga, kadang anggota keluarga pun masih beda pendapat. Apalagi gue ini kalau nggak bisa membantah suka stres. Tapi ngebantah nggak enak, takut nyinggung. Apalagi sama orang yang lebih tua, ya.

Meski pada akhirnya, ada beberapa hal yang bisa gue pertahankan (pola asuh) dan gue biarkan (orang lain melakukan dengan caranya terhadap anak gue). Gue berusaha meyakinkan kesehatan mental gue harus dipikirin. Penerapannya sebenernya susah juga. Menyayangi diri sendiri itu susah, lho, dibanding menyayangi orang lain. Apalagi kalau sudah punya pasangan dan anak. Wah. Hidup berkutat hanya untuk mereka, khususnya anak.

Setidaknya ada beberapa hal yang patut gue syukuri. Gue dikasih kesempatan untuk ngurus Arsa berdua saja sama suami (awal-awal memang dibantu mertua). Hal ini membuat kehidupan rumah tangga kami kayaknya lebih minim konflik, meski di sisi lain effort-nya juga besar dan berat. Kami diberi akses akan informasi soal pengasuhan, termasuk akses ke dokter dan para ahli. Terpujilah kehidupan modern. Kami beruntung Arsa adalah anak yang dari segi kesehatan, Alhamdulillah, riwayatnya baik, dll.

Tentu saja setelah BBS ini lewat ada banyak PR lain bagi kami sebagai orang tua. Mulai dari dunia per-ASI-an yang jalannya masih puanjanggg, MPASI, pendidikan, pengasuh anak, kesehatan anak, endebre-endebre.. *izinkan daku menghela nafas panjang sebentar*

BUT, WE TRY TO BE STRONGER EVERYDAY, YEAH!!!

Jadi Breastfeeder? Lelah Aqutu!

Ternyata, menyusui itu bukan cuma perkara buka kancing daster lalu menyodorkan payudara, ya. Bahkan, sejak awal memutuskan menjadi seorang breastfeeder, gue nggak kebayang kalau menyusui itu seberat ini.

Kalau ada yang bilang, menyusui itu lebih enak daripada kasih dot; dalam hal nggak perlu cuci-keringin botol lalu sterilkan atau beli stok susu formula tiap bulan yang butuh bajet tinggi, tentu saja statement tersebut benar sekali.

Tapi, ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi ibu menyusui. Pertama tentu saja konsistensi. Sejauh ini gue sudah beberapa kali mengeluh capek, baik direct breastfeeding maupun pumping while working. Bosan juga. Ada kalanya rindu malam-malam di mana gue bisa tidur panjang dan nyenyak tanpa sering terbangun karena anak nangis minta nenen.

Ya, pemberi botol susu pun berisiko sering bangun, sih. Tapi, kan, sesekali bisa didelegasikan ke orang lain untuk buat susu hehe (diamuk ibu-ibu pemberi botol susu). Tanpa bermaksud menganggap tugas gue paling berat atau menyinggung pilihan lain seorang ibu, ya. Pasti tiap Ibu apa pun pilihan pemberian susunya ngalamin fase capek

Apalagi kalau ingat perjalanan untuk menggenapi “keharusan” memberi ASI ke Arsa masih panjang. Arsa baru mau berusia 9 bulan. ASI seharusnya diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Berarti setahun 3 bulanan lagi, ya, journey to the west mencari keberhasilan S-3 ASI itu tercapai. Tapi, setelah dulu menargetkan lulus ASIX (6 bulan) dan Alhamdulillah berhasil, gue “hanya” menargetkan paling tidak Arsa lulus S-2 ASI dulu (1 tahun). Nanti akan gue usahain lagi, lah, sampe Arsa 2 tahun. Insya Allah.

Kadang bosan juga, sih, pumping tiap jam sekian di kantor. Rutinitas yang sudah jadi keharusan. Meski, gue bisa sambil Youtube-an sambil pumping, or Twitter-an, Instagram-an, dll. Kantor menyediakan ruang untuk pumping, meski sesekali harus rebutan sesama ASI pumper lain, sama yang punya ruangan, dll. Sesekali, demi kekonsistenan ini, gue juga harus pumping di ruang meeting ketika ketemu penulis, pumping di mobil kantor dalam perjalanan pulang dari bertemu penulis, pumping di bioskop ketika pertama kali keluar hanya berdua suami, dan berusaha pumping anywhere lainnya karena stok ASIP Arsa yang memang “nyaris kejar tayang”.

Dulu, waktu mengejar ASIX, lebih hectic, ya, gue, tuh. Sampai ASI yang netes harus ditampung segala demi ASIP Arsa besok. Alhamdulillah, sejak Arsa mulai MPASI, stok mulai sedikit aman. Tapi tetap harus konsisten. Karena rezeki ASIP gue memang bukan yang berkulkas-kulkas itu. “Cuma” cukup untuk 2 harian, lah. But it’s ok. Gue selalu berusaha menerapkan prinsip “yang penting cukup, bukan banyak-banyak”. Meski tetap aja isi freezer ASIP yang berjibun, tuh, bikin envy, ya. Kayak; enak banget sesekali bisa skip jadwal pumping atau pergi tanpa anak tanpa mikirin ganti stok ASIP yang terbatas. Hey, mungkin ini yang ngebuat gue dikasih rezeki ASIP nyaris kejar tayang, ya. Karena Allah tahu gue akan lalai pumping kalau dikasih rezeki ASIP yang buanyak.

Berusaha mengingat-ingat aja hal kayak; nggak semua orang diberi anak, nggak semua orang diberi kesempatan ngasih ASI (karena alasan apa pun), nggak semua orang punya support system yang cukup untuk memberi ASI, dll. Iya, gue pun pernah mengalami yang namanya bentrok pendapat dengan orang terdekat atau lingkungan, bahkan hingga soal MPASI sekarang. Tapi sejauh ini, masih aman dan gue masih bisa menyusui juga masak MPASI. Meski namanya juga manusia, ya, ada aja sisi kurang bersyukurnya dan masih ngeluh. Kayak gue sekarang dan (pernah) sebelum-sebelumnya. Capek. Bosan. Pengen cepat berakhir (walau nanti setelah nggak menyusui mungkin gue malah kangen).  Kangen nggak kepikiran stok ASIP. Kangen nggak kebangun terus tengah malem sampai sering migrain atau masuk angin karena kancing baju yang nggak ketutup lagi akibat gue ketiduran pas nenenin Arsa. Eh, tapi btw, kayaknya sekarang pola tidur gue sudah menyesuaikan keadaan, sih. Misalnya, tetap sering kebangun meski Arsa nggak nangis minta nenen. Hahaha.. (Gue juga kangen jalan berdua suami. Hiks. Sekarang bisa aja jalan berdua. Tapi tetap harus mikiran ASIP alias pumping dan kepikiran Arsa).

Wah, padahal gue belum mengalami drama puting berdarah segala, nih. Kalau lecet, sih, udah sering. Sekarang, Arsa lagi doyan nenen sambil (dia) tengkurap. Lumayan bikin nyeri karena ketarik-tarik.

Kalau sudah gini waktunya keluar mantra; Gue wajar, kok, ngerasa capek. Gue boleh, kok, ngeluh. Jangan terlalu merasa bersalah. Semua akan berakhir. Semua ada masanya. Dan pada akhirnya, kalau gue udah bener-bener nggak kuat, silakan berhenti menyusui kapan pun gue mau.

…. Tapi nggak kepengen dan nggak tega…

Staycation or Vacation; Anything with Arsa

Ini adalah cerita pengalaman pertama Arsa traveling, sekaligus pengalaman pertama kami traveling membawa Arsa. Dulu pernah, sih, tapi waktu Arsa masih janin 31 minggu. Memang sudah lama, sih, pengen jalan-jalan. Apalagi mengingat capeknya rutinitas jadi orang tua baru, yang bekerja, plus ngap-ngapan menggenapi ASI ekslusif beberapa bulan lalu. Tapi, selama ini masih kebanyakan mikir alias wacana doang.

Inget banget dulu pertama kali Arsa keluar rumah setelah dia berusia 40 hari itu adalah mengajak dia menginap di salah satu hotel yang masih di bilangan Jakarta. Sekalian merayakan anniversary pernikahan ortunya, ceritanya. Itupun sudah deg-degan banget bawa bayi sekecil itu. Ibaratnya di rumah aja repot. Ini pake dibawa ke hotel. Lama-lama, Bapak Ibunya sudah mulai terbiasa bawa Arsa main, hampir tiap weekend. Mulai pede untuk “direpotkan”, termasuk soal per-nenen-an yang tidak hanya melibatkan Ibu, tapi juga kesiapan Bapak untuk repot. Sampai Ibu direct breastfeeding di mana-mana. Sudah biasa. Dari foodcourt, instalasi sofa IKEA, sampat lantai ATM center sebuah mall.

Akhirnya, kami siap membawa Arsa yang saat ini berusia 8 bulan pergi agak jauh. Naik pesawat pula. Ke Bali. Perjalanan yang sebenarnya nggak begitu cukup persiapannya. Apalagi, Bapak yang lebih banyak melakukan persiapan di sini. Ibu lebih detail-oriented sebenernya, tapi agak buang body sekaligus sibuk sama urusan rumah-kerja, jadi Bapak ajalah yang atur. But, so far, Alhamdulillah semua lancar dan menyenangkan. Drama dan repot, mah, pasti ada. Bawa bayi gitu, loh.

Mulai dari makanan Arsa. Dia kan sudah mulai MPASI. Untunglah sekarang sudah ada produk-produk MPASI homemade & organik yang dijual di online shop. Jadi, kita tinggal hangatkan saja pakai air hangat atau microwave. Kalau makanan instan, kan, takutnya… si anak keenakan dengan pola makan pas liburan dan ogah lagi makan masakan emaknya. Tapi, PR-nya adalah kita harus siap menitipkan makanan ini di kulkas hotel karena bentuknya frozen dan hanya tahan di suhu ruangan maks. 24 jam. Untunglah, di kamar hotel yang kami pesan, meski hanya hotel kecil, terdapat kulkas dengan freezer (tentu saja dengan termos masak air panas untuk menghangatkan makanan). Tapi, gue juga tetap bawa makanan instan, kok. Just in case ada drama per-mamam-an. Bawa oat instan & biskuit bayi. Untuk buah, karena kasihan Arsa kalau nggak makan makanan fresh sama sekali, kami sempat beli pisang waktu mengunjungi Ubud. Oh, iya, jangan lupa bawa alat makan bertutup dan sendok-sendok.

Lalu, soal perlengkapan bayi. Arsa cuma bawa sedikit diaper untuk mengurangi beban bawaan. Kami sepakat sisanya beli aja di Bali. Eng.. ing.. eng. Di Bali nyari minimarket itu tidak segampang di Jakarta, loh. Kebetulan kami menginap di daerah Sanur. Malam pertama, kami menelpon resepsionis hotel dan menanyakan apa ada minimarket terdekat. You know what? Ditawarinnya malah koperasi. Hehehe.. Ada, sih, Circle K, tapi harus naik kendaraan dulu. Oke, popok Arsa masih cukup, kok, untuk semalam. Besoknya saja kita beli. Tapi, nggak semua daerah di Bali darurat minimarket, kok. Beberapa titik kota ada juga yang ramai dan banyak toko. Besoknya, kami mampir di Circle K dan ternyata nggak ada juga, dong, itu diaper hahaha.. Apa memang di Circle K nggak ada diaper, ya? Mampir juga ke Kimia Farma. Nggak jual diaper juga! Untungnya, di minimarket lain, lupa antara Indomaret atau Alfamart ketemu juga, tuh, popok. Sekalian beli biskuit lagi demi jaga-jaga asupan Arsa.

Oh, iya, soal pesawat. Namanya naik pesawat, kan, saluran pendengaran agak nggak nyaman, ya, karena pengaruh tekanan udara. Untungnya, waktu pergi ke Bali jam penerbangan tepat dengan jam tidur Arsa. Arsa tidur lebih dari separuh perjalanan (yang memakan waktu hampir 2 jam). Sisanya, ya, dia terbangun tapi nggak rewel. Paling cuma minta pindah-pindah posisi duduk. Pas pulang ke Jakartanya yang agak beda. Karena pesawat dari Bali jam 8 pagi dan itu jamnya Arsa bangun. Nyaris 2 jam perjalanan Arsa rewel. Ini salah, itu salah. Fix, dia nggak nyaman. Akhirnya bolak-balik nenen dan diputerin video musik favorit dia, meski tetep rewel. Hahaha.. Buat yang mau menempuh perjalanan dengan pesawat dan membawa bayi, sudah tahu, kan, ya, ada alat semacam headphone yang bisa melindungi telinga bayi gitu. Bisa beli atau sewa. Atau, kalau nggak sempet beli/sewa caranya, ya, si bayi dibuat terus menggerakkan rahangnya; lewat nenen atau ngempeng (buat ortu yang bolehin bayinya ngempeng/pacifier).

Btw, jadi bayi itu emang punya daya pikat, ya. Pramugari maskapai yang nanya usia Arsa waktu naik sampai ingat nama Arsa dan pasti jawil-jawil bocah ini pas mau turun pesawat. Kalau untuk usia 8 bulan nggak perlu pakai surat pengantar dari DSA lagi untuk terbang. Tapi, gue kurang tau usia berapa yang butuh surat tersebut.

Hari pertama sampai di Bali kan sudah sore dan kami nggak ke mana-mana. Malam blas tidur. Nggak ada, tuh, menikmati “kehidupan malam” Bali. Inget, bayi, Bro. Besoknya, kami berkunjung ke Ubud Monkey Forest. Kebetulan, gue punya seorang teman yang sudah tinggal dan bekerja di Bali selama 3 tahun. Sekalian aja ajak buat nunjukkin tempat wisata dan pinjem kamera SLR-nya hahaha (digetok orang yang terkait), meski doi juga nggak hapal-hapal amat Bali katanya. Harga tiket masuk UMF adalah 50K per orang. Lokasinya adem karena di dalam hutan, kan. Tapi hati-hati untuk interaksi sama monyetnya. Kami sempet foto-foto dan monyetnya hampir menggigit gue, gitu.

IMG_2964

Dari UMF kami ke Pasar Ubud dengan menaiki shuttle bus. Di sini nggak belanja apa-apa, sih. Cuma mampir jajan gelato dan makan siang. Sekalian beli pisang untuk Arsa dan dadakan disuapin pake mangkok & sendok “bekas” gelato. Kami harus kembali ke UMF karena mobil diparkir di sana, tapi Bapak maunya sambil jalan kaki dulu lihat-lihat jajaran toko. Nunggu bus di halte shuttle bus, kok, lama banget. Hampir sejam. Untung Arsa tidur di gendongan Bapak, jadi nggak rewel karena merasakan panasnya siang di Bali. Ternyata, busnya ada jam istirahat, dong. Jadi, kami nungguin bis & driver-nya istirahat siang hampir satu jam. Capek banget. Badan udah bau matahari. Shuttle bus akhirnya datang, kami ambil mobil di UMF dan pulang ke hotel. Macet pula wadoh. Sampai hotel sore, istirahat sebentar dan nyuapin & bersihin Arsa. Lalu, jelang magrib keluar lagi ke Kuta Beachwalk Mall.

IMG_2985

Di mall itu ngapain? Ya, makan malam aja. Arsa juga sudah bobo di perjalanan. Jadi, nongkrong aja di foodcourt sambil sebelah tangan gendong Arsa. Mall-nya seberang-seberangan sama pantai kuta. Mall-nya kece. Soalnya sebagian bangunannya outdoor non-AC gitu, eco-friendly based. Ramai tentu saja. Apalagi wilayah Kuta, kan. Malam gitu seru juga, sih, jalan-jalan sambil liat-liat keramaian orang. Tapi, tentu saja kami langsung pulang selepas makan. Ingat ada bayi, Bro.

Keseruan lain ada selama di sana. Memang kalau bawa bayi namanya staycation, bukan vacation. Orang tua juga harus menyesuaikan itinerary sama mood dan jadwal aktivitas bayi. Misal, baru bisa keluar hotel agak siang, ketika si anak sudah mandi, makan, bahkan sudah tidur. Juga harus kembali ke hotel untuk mengejar jam tidur malam bayi atau jam makan sorenya. Orang tua memang kadang suka lupa kalau ada bocah kecil yang mudah rewel dan fisiknya belum sekuat orang gede huehehe..

Waktu main ke Garuda Wisnu Kencana (GWK), yang memang nyaris tengah hari karena menunggu Arsa selesai semuanya, kami sudah bayar HTM yang lumayan pricey (80K per orang), tapi nggak sampai patung utama juga, tuh. Si bayi rewel karena cuaca terik. Mungkin badannya juga capek karena sehari sebelumnya memang sudah jalan-jalan ke Ubud sampai sore. Akhirnya, kami melipir ke sebuah coffeeshop (dalam kawasan GWK) dan berakhir di sana. Arsa makan cemilan biskuit, lalu nenen. Ortunya, ya, pesen kopi dan quiche (ketahuan, deh, coffeeshop-nya apa). Oh, iya, di GWK ini dari tempat parkir ada shuttle bus yang antar ke gerbang masuk karena jaraknya yang agak jauh. Di shuttle bus arah pulang, ada bayi bule cewek (tebakan gue sih dari Brazil) yang seumur sama Arsa dan keberisikan Arsa menarik atensi kedua orang tuanya. Tapi mana bisa ngobrol kecuali dua bayi ini dengan bahasa bayi, tentunya. Sayang si cewek kalem. Emangnya Arsa bawel! Hahaha…

IMG_3019

Dari GWK, kami memutuskan pergi ke pantai Dreamland yang letaknya cukup berdekatan dengan GWK. Dreamland ada di dalam komplek resort/perumahan, jadi kita akan masuk ke kawasan tersebut dan parkir, kemudian ada shuttle bus yang berangkat tiap 5 menit ke pintu masuk pantai. Masuknya nggak bayar, Cuma bayar parkir mobil aja. Cuaca di Bali memang masih cerah meski sudah masuk musim hujan. Ada waktu di mana hujan turun, tapi sebentar dan tiba-tiba berhenti, lalu terik lagi. Ini kali pertama Arsa bertemu pantai juga, btw. Di sana, kami memutuskan menyewa sepasang kursi santai dan payung seharga 150K. Kan, kasian, si bocah nggak bisa duduk-duduk (padahal ortunya yang gempor). Tiket sewa kursi ini juga membuat kita dapat minuman gratis di warung minuman terdekat, meski akhirnya nggak kami tukar. Jadi, nggak tahu minumannya apa. Jangan-jangan Bir Bintang hahaha.. Di pantai ini juga banyak ibu-ibu jasa tukang pijat yang getol nawarin diri, lho. Harga jasa pijatnya 50K.

Arsa takut gitu kena ombak hahaha.. Di pantai ini ombaknya memang cukup besar. Cocok buat yang mau surfing. Arsa akhirnya betah main di pasirnya. Lalu kita foto-foto, dan lihat jam sudah dekat waktu makan sore Arsa. Maka, sekitar jam 3.15 sore kami pulang. Cukup singkat. Tapi, karena kami pengen Arsa makan di hotel dengan baju yang sudah bersih, ya, sudahlah pulang saja. Memang nggak rencana bawa MPASI ke pantai. Cuma biskuitnya aja. Buat yang mau tau bagusnya pantai ini, silakan googling, ya. Bagus.

IMG_3047

Pulang ke hotel, kami bebersih dan menyuapi Arsa makan. Selepas Isya, kan, memang jam tidurnya Arsa, tadinya kami memutuskan nggak ke mana-mana lagi. Tapi, kami belum beli oleh-oleh dan kebetulan kabel charger hape Bapak rusak. Jadi aja, tuh, Arsa yang sudah bobok kami gotong pake selimut segala. Nyari toko oleh-oleh yang masih buka. Eh iya, di Bali ini, kok, banyak ngeliat Miniso, ya? Termasuk waktu ke Ubud, Bapak sempet tuh beli sandal jepit segala di Miniso. Nyari kabel charger pun ke Miniso, meski nggak dapet yang cocok.

Pulang berburu oleh-oleh (yang nggak banyak-banyak amat karena bawaan sudah banyak), kami pulang ke hotel dan lanjut packing. Karena esoknya kami harus check out pagi-pagi banget. Pesawatnya jam 8 pagi aja dong. Sebenernya, ada rencana mau reschedule pesawat, sih, tapi begitu cek harga tiketnya mahal-mahal banget. Ya sudah, jam set 6 pagi kami dijemput pemilik mobil yang kami sewa mobilnya 2 hari belakangan (lepas kunci). Bli ini, juga bekerja sebagai driver taxi online sehari-harinya. Gue dapat kontak beliau dari temen gue yang kerja di Bali itu. Sampai di airport cukup cepat karena jalanan lancar dan lewat tol. Oh, iya, yang ke Bali coba lewatin tol laut Bali-Mandara ini, deh. Bagus view-nya, apalagi kalau pas jam sunset/sunrise. Plus liat proyek reklamasi Benoa juga.

Nah, di pesawat pulang ini Arsa rewel. Karena gue sebut tadi sebelumnya. Jam pesawat bukan pas jam tidur dia. Jadi, buat yang bawa bayi bepergian dengan pesawat mungkin bisa disesuaikan dengan jam tidur bayinya. Kalau ribet, ya, siap aja bayinya dibawain mainan/video musik yang diunduh dan sering-sering nenen, ya. Di Bandara Soeta pun kami sempetin untuk nyari tempat makan biar bisa kasih Arsa sarapan. Maksudnya kami sekalian nyari kursi dan sarapan. Seduh oat instan aja dulu, deh, meski persediaan MPASI in jar Arsa masih ada sebotol. Selesai sarapan, Bapak pesan taxi online dan kami pun pulang ke rumah. Yeay, Alhamdulillah. See you on next trip. Insya Allah. (lain kali harus direncanakan lebih detail dan matang!)

 

P.S: Maafkan tote bag Ibu yang mengganggu. Kalau mau info soal biaya, japri via e-mail desimandasari24@gmail.com atau DM ke IG @desimandasari.af aja, ya. Semoga bisa bantu itung-itung.

MPASI vs Sembelit

Sembelit adalah hal yang wajar banget terjadi saat bayi mulai MPASI. Pencernaannya mulai adaptasi ke makanan padat. Sebelumnya, bayi hanya kenal cairan. Tekstur BAB-nya pun encer, sehingga mereka nggak butuh effort yang kuat untuk BAB. Bahkan, bayi full ASI punya tolerasi hingga 7 hari untuk ga BAB. Alias masih normal. Wajar. Karena ASI mudah dicerna usus, jadi nyaris nggak ada sisa yang kebuang via feses. Ini juga yang buat anak ASI lebih cepat lapar/haus hehe. Pada anak mix sufor atau full sufor tentu toleransinya beda (maaf lupa, euy, silakan cari di Google).

Nah, pas mereka mulai kenal makanan padat, otomatis saluran cerna kayak di-setting ulang. Kerja lebih berat. Bayi pun mulai butuh “ngeden” agar bisa BAB. Biasanya, nih, sampai berkeringat dan nyicil gitu keluarnya. Ya, namanya juga belajar. Makanya sembelit itu wajar. Tapi, tetep aja khawatirlah ibunya.

Salah satu kiat mengurangi risiko sembelit adalah memperhatikan kadar serat yang masuk ke MPASI. Ternyata, sistem cerna bayi itu berkebalikan dengan manusia dewasa. Jika kita butuh serat tinggi untuk pencernaan lancar, serat kelewat tinggi pada bayi justru membuat mereka sulit BAB. Karena sistem cerna yang bekerja lebih berat itu tadi. Tapi, kalau terlalu mikirin serat, bisa jadi variasi menu anak itu-itu aja. Ini pengalaman Ibu Arsa sampai saat ini. Masih agak was-was anak sembelit. Bahkan, tiap hari Ibu nanya ke yang asuh Arsa: Arsa udah pup belum? Teksturnya gimana?

Makanan berserat tinggi itu bukan cuma sayur & buah, lho. Karbohidrat dan protein nabati pun ada yang seratnya tinggi. Cuma protein hewani kayaknya yang aman. Makanya, Ibu sering cari aman: sering pakai beras putih aja & banyakin jumlah prohe-nya dibanding prona & sayur, meski kadang-kadang gatel liat koleksi bahan makanan di kulkas dan akhirnya campur-campur juga.

Tahu putih adalah prona yang rendah serat. Kalau dari sayuran, ada labu siam & sawi putih. Karbohidrat yang paling aman ya beras putih. Beras merah itu seratnya tinggi. Ibu-ibu kalau mau pakai ya nggak apa-apa, cuma usahakan jangan tiap hari dan tetap perhatikan bahan lainnya. Usahakan di-mix yang rendah serat dengan yang tinggi serat. Jangan tinggi serat semua.

Perbanyak juga cairan. Bisa dari ASI ataupun air putih. Jumlah maks konsumsi air putih per hari ini ada aturannya juga, lho. Silakan googling, yes. Kalau untuk anak full ASI rumusnya: 15 x BB anak (misal, BB anak 7 kg. Jadi konsumsi air putih maksimal per 24 jam adalah 15 x 7 = 105 ml). Kasih buah yang juga cenderung berair dibanding berserat. Misal, buah naga, apel, pir, semangka, melon, jeruk. Kalau anak nggak atau kurang suka buah-buah ini (Arsa agak susah nerima buah, btw) gak apa-apa di-mix 2-3 buah. Misal, pir & pepaya (yang tinggi serat) atau pir & naga (tinggi air keduanya), atau bisa juga dicampur biskuit buahnya.

Ibu biasanya nyatet menu harian MPASI Arsa. Jadi bisa evaluasi dia makan apa aja. Anaknya terkadang masih ngalamin jyga yang namanya susah BAB atau keluarnya dikittttt. Ga sesuai sama ngedennya yang heboh. Makanya kadang suka “uwah” sama menu-menu MPASI di IG yang suka dobel karbo atau dobel (bahkan triple) sayur dan semuanya tinggi serat. Aku iri. Tapi masih ngeri sembelit hahaha… Jadi masih berkutat sama bahan yang itu-itu saja sambil ngenalin ke Arsa bahan baru lain. Satu per satu. Pelan-pelan.

Semangat cari ilmu dan masak-masak, ibu-ibu!

Tentang Memberi yang Terbaik

Kita sering mendengar, tiap orang tua (khususnya ibu), pasti berikan yang terbaik untuk anaknya. Gue percaya, sekaligus nggak. Kayak “tiap orang tua pasti sayang anaknya”. Nyatanya, ada aja, kan, orang tua yang aniaya atau buang-buang anaknya. Ya, meski mereka juga punya motif atau alasan kuat. But, jadinya terbukti, ya, definisi “terbaik” dan “sayang” juga relatif. Mungkin bagi Ibu A memberi semua yang anaknya inginkan adalah sayang, tapi bagi Ibu B itu adalah bencana. Ternyata, menjadi orang tua itu, memang proses memberdayakan jiwa dan pikiran untuk lebih matang, sabar, kuat, dan ikhlas. Apa yang lo lakuin untuk anak lo itu memang harus atas dasar ikhlas. Mungkin saat itulah definisi “memberikan yang terbaik” baru benar-benar terwujud.

Gue bicara begini karena terkadang, atau (honestly) hampir selalu, selain gue merasa capek untuk melakukan rutinitas sebagai Ibu dalam “memberikan yang terbaik” versi gue, gue juga kerap merasa “sendiri dan diabaikan”. Bukan oleh anak atau suami. Tapi oleh sekitar. Gue boleh aja mati-matian struggle kasih ASI sampai usia anak (saat menulis ini) mencapai 7,5 bulan, nyiapin MPASI homemade (4 bintang) tiap pagi sebelum berangkat kerja, hingga cari kerja tambahan demi vaksin lengkap anak tiap bulan. Namun, saat gue liat orang lain dengan “santainya” melakukan hal yang tidak sama dengan gue dan menganggap itu lumrah, kok, mental gue jadi drop, ya.

I know. Every parents have their option. But, does it really their best option? Oh iya, suami pernah bilang, intinya begini: Ya kamu jangan menghiraukan orang-orang yang nggak satu semangat sama kamu. Misalnya soal ASI. Inget masih banyak orang tua yang masih punya semangat sama kayak kamu dan mungkin mereka butuh motivasi dari cerita kita.

My husband know my (and his) struggle of giving our son breastmilk in his first six month of life. I even ever written about it on blog and instgram. Tapi, sekali lagi, ya, gue harus menurunkan ekspektasi. Dari berharap “banyak orang yang peduli akan perjuangan kami lalu semangat menerapkan hal yang sama” ke “setidaknya kami sudah berbagi pengalaman. Hati kami tenang. Semoga ada yang terinspirasi”. Gue kerap mengingatkan diri sendiri, kalau gue masih hepi karena pujian atau sekadar likes di media sosial ketika telah berbagi soal parenting style yang gue terapin, berarti gue belum ikhlas berperan sebagai Ibu.

Karena eh karena, gue tuh bukan jenis orang yang bisa “maksain” pendapat ke orang lain. Meski gue pengen banget. Meski gue tau gue bener dan sudah berpatokan pada ilmu/sains teranyar de el el. Sifat ini yang bikin gue migren, bahkan baby blues di awal-awal jadi Ibu. Apalagi, ya, kalau perbedaan pola asuh itu lo temukan dari orang-orang terdekat lo. Misal, keluarga, temen, tetangga, kakak ipar, dst. Sampai gue pernah mikir, lebih damai deh idup lo kalau lo justru nggak tau apa-apa (bahkan bego), cuek, atau jadi orang yang nurut-nurut aja. Dijamin hidup Anda jadi lebih adem.

Jadi orang tua (khususnya Ibu) memang melatih psikis untuk lebih kuat, tapi di sisi lain gue jadi lebih “jujur” dalam mempertontonkan kelemahan dan kecengengan yang selama ini gue tutup-tutupi. So, sekali lagi gue harus berusaha ingat bahwa selama gue masih goyah karena gaya pengasuhan gue nggak diapresiasi, berarti gue belum melakukan yang terbaik untuk anak.

Kali ini Ibu Desi galau bukan karena ASI lagi. Tapi MPASI. Ini ditulis setelah gue menemukan orang-orang yang kasih anaknya makanan apa aja tanpa basic keilmuan. Juga setelah Ibu Desi dikomen kalau Arsa sekarang lagi masanya doyan makan. Suatu hari Arsa akan jadi anak “susah makan” jg. Jd mungkin maksudnya (yang gue tangkep): skrg gue rajin, tapi pasti suatu hari akan malas masak. Its like, hey people, i know. Arsa akan mengalami fase itu. But, can you just cheer me up, despite bring me down. Kita semua pernah gagal, tapi usaha setelah itu kan beda-beda. Bisa jadi gue tetap rajin, atau malas parah melebihi siapa pun. Kayak dulu waktu Arsa bingung puting, gue mau kok ke dokter laktasi. Korban bingung puting lainnya mau gak? Intinya, jangan ganggu suka cita saya, Pak, Bu :p *Ngegas*

Life with Arsa #2

Capek nggak punya bayi? Iyalah! Punya bayi atau anak itu nggak indah-indah mulu kayak cerita orang, Cuy. Atau lihat wajah sumringah orang-orang yang tengah menanti kehadiran anak mereka yang kesekian. Pasti di balik itu mereka pernah dan paham bagaimana repotnya life with a baby.

Tapi… Bayangin, deh. Tuhan menitipkan kepada kamu dan pasangan, seorang makhluk kecil, perpaduan antara wujud kamu dan pasangan. Di sana mungkin memang Dia sudah meng-install kemampuan dalam diri kita bahwa kita mampu.

Saat saya sedang menatap Arsa, kemudian dia menatap saya kembali, aduduh.. rasanya. Masya Allah pokoknya. Atau ketika dia tertawa oleh lelucon yang saya anggap nggak lucu buat ukuran manusia seusia saya. Atau ketika saya menyusui dia, meski matanya yang bulat hanya menatap ke sembarang arah,  bahagianya tidak tertandingi. Malahan pernah waktu saya menyusui Arsa dan menatap ke matanya yang teduh, polos, dan jauh dari tatapan aneh-aneh ala orang berumur (iyalah masih bayi) saya berteriak dalam hati, “Ya ampun, (ini) terbaik!!!”

Begitu baiknya Sang Mahakuasa sudah menitipkan Arsa buat saya dan suami. Kayak, “Nih, ada hadiah buat lo dan suami. Anak yang lucu dan luar biasa”. Begitu baiknya Dia kasih kado berupa seorang anak di balik dosa-dosa dan khilaf para orang tua. Saat sedang mendekap Arsa, saya kerap berdoa agar bisa menjaga titipan-Nya ini sebaik mungkin, agar diberi kekuatan, diberi kemampuan, dan segala hal yang bisa membuat Arsa bahagia dan merasa kami adalah orang tua yang cukup buat dia.

Kadang, suka merasa bersalah kalau lagi capek dan Arsa lagi rewel, tidak sekali saya mengeluh atau berkata nada tinggi kepada dia. Saya lupa, dia belum mengerti apa-apa, bahkan untuk mengungkapkan kebutuhan atas sesuatu, dia hanya bisa menangis. Saya lupa bahwa Arsa sedang beradaptasi dengan dunia sejak berpindah dari alam rahim. Adaptasi yang tidak mudah karena dia masih makhluk lemah yang sangat bergantung pada orang dewasa di sekitarnya, khususnya Ibu dan Bapaknya. Adaptasi yang pasti kerap membuatnya tidak nyaman, kaget, marah, sedih, dan tidak berdaya. Tapi, di balik semua itu, Arsa sudah mengajarkan kepada kami, orang tuanya, dan orang di sekitarnya, banyak hal baru, mulai dari teknis pengasuhan dan tetek bengeknya hingga pengendalian ego. Ah, Arsa, guru kecil. Kamu bak malaikat. Kamu surga buat Ibu dan Bapak. Jika suatu hari kamu sedih dan merasa tidak berguna, semoga kamu bisa baca tulisan ini, bahwa kamu sudah membuat dunia kami berwarna. Kamu adalah dunia buat kami. Meski Ibu dan Bapak banyak kurangnya buat kamu (pasti), kamu tahu kami mencintai kamu, Nak.

20181015_125851

Tentang MengASIhi

Sudah 4,5 bulan usia Arsa. Anak pertama kami. Hingga detik ini, puji syukur ke hadirat Allah bahwa saya masih bisa memberinya ASI (saja). Sejak awal, memang saya dan suami berniat memberikan ASI eksklusif bagi Arsa. Artinya, hingga usia 6 bulan nanti, Arsa hanya mengonsumsi ASI, tanpa campuran apa pun, baik air putih, madu, pisang, biscuit, atau susu formula. Tentu saja selama saya mampu. Insya Allah. Nanti, akan kami lanjutkan hingga usianya 2 tahun. Namun sementara ini, paling tidak 6 bulan dulu saja targetnya.

Perjuangan selama 4,5 bulan ini bisa dikatakan cukup berat. Mungkin karena sebelumnya kami tidak mencukupkan ilmu soal ASI atau laktasi. Namun di sisi lain, cukup mudah, jikalau melihat masih banyak teman-teman orang tua muda yang belum bisa memberi ASI pada anaknya, atau katakanlah belum teredukasi/belum mendapatkan akses informasi soal ASI.

Sebagai working mom, saya harus menyediakan waktu untuk pumping di kantor demi memuaskan dahaga dan lapar Arsa ketika saya tidak di rumah. Paling tidak, dua kali saya harus pumping di kantor karena siang hari saat istirahat saya bisa pulang untuk direct breastfeeding (DBF), kemudian jam 5 “teng” saya sudah bisa pulang untuk segera bertemu Arsa. Sebelumnya, saya mengejar target pumping 4 kali dalam sehari (2 kali di rumah). Namun, sejak Arsa mengalami nursing strike (bingung puting) yang membuat kami harus mengunjungi dokter laktasi, target itu diturunkan karena dokter menyarankan saya fokus pada DBF ketika di rumah.

Memang, sih, DBF itu bisa dikatakan lebih simple dibanding memberi susu formula dsb. Toh, kalau anak lapar/haus si ibu tinggal buka kancing baju lalu menyodorkan payudara. Terdengar simple, ya? Namun, para ibu yang sudah atau sedang melewati proses menyusui ini pasti akan tahu perjuangannya. Hehe.. Nursing strike hanyalah salah satu kendala. Tongue tie, lip tie, mastitis, putting lecet/luka, low milk supply/pas-pasan, dst. adalah kendala lainnya. Saya, Alhamdulillah, sudah dipercaya-Nya untuk merasakan beberapa kendala itu. Belum lagi hal-hal seperti bangun berkali-kali ketika tidur malam karena Arsa minta DBF; omongan sekitar yang berkomentar kenapa anak hanya minum ASI, jadi badannya mungil; judgement orang terdekat bahwa ASI kamu sedikit, bla-bla-bla. Kalau saya tidak punya support system, hancurlah sudah tekad saya memberi Arsa ASI eksklusif hehe.. Untunglah di sini saya dikelilingi orang-orang yang saya butuhkan sebagai support system itu. Pertama, tentu saja suami. Lalu, keluarga, teman-teman, dan kelompok pejuang ASI lain.

Terkadang, ketika saya pulang ke rumah di siang hari untuk menyusui Arsa, saya tertidur di sebelahnya. Saya harus kembali ke kantor. Dalam perjalanan, rasa kantuk yang masih tersisa membuat perjuangan ini kembali terasa berat. Berpikir: “Haduh, enak, ya, kalau bisa tidur siang aja sama anak” atau “Enak, ya, kalau tidak perlu mikirin ASI perah tiap hari” hingga keluhan terjauh adalah saya merindukan masa-masa belum punya anak. Judge me, but you will feel the way that I feel today when you stand on my feet.

Akhirnya, hanya mengingat bahwa sayalah yang ingin memulai perjuangan ini. Sayalah yang paling militan ingin memberi Arsa ASI eksklusif. Sayalah yang pernah mengancam suami “kalau sampai dia mendengarkan saran mertua untuk campur susu formula, maka saya akan minggat dari rumah”. Sayalah yang kerap membagi semangat mengASIhi di snapgram. Kalau sampai saya putus asa, kalah dari diri sendiri, dong. Mungkin hanya perlu menurunkan ekspektasi agar sewaktu-waktu perjuangan ASI 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun ini harus berhenti di tengah jalan karena alasan medis, saya tidak terlalu kecewa.

Saking bertekadnya saya memberi Arsa ASI hingga 2 tahun, ketika ada seorang teman yang ingin umroh, saya titip doa agar saya bisa mewujudkan ASI 2 tahun itu. Di balik banyaknya keinginan yang ingin saya wujudkan lewat doa orang ber-umroh, saya hanya mau menitipkan doa ini (dulu). Karena tidak sekali saya patah semangat, bosan, malas, atau pesimis hingga menangis. Ternyata, support system pertama itu bukan suami, bukan juga keluarga, tapi DIRI SENDIRI.

Kalau ditanya kenapa saya tidak percaya pada selain ASI? Pertanyaannya harus dibalik menjadi, “Kenapa kita tidak percaya pada (kebaikan) ASI dan bahwa ASI saja cukup”?

Life with Arsa #1

Good to be back here with another new chapter.

Bisa kembali memulai rutinitas menulis blog di antara kesibukan mengurus bayi dan bekerja. Wow. Iya, bayi kecil itu sudah hadir ke dunia pada 26 Mei 2018. Alhamdulillah. Saat saya menulis ini, usianya sudah masuk 3,5 bulan dan tentu saja cuti melahirkan saya sudah berakhir. Blog ini ditulis di meja kerja saya lagi.

26 Mei, 10 Ramadan. Sehari setelah cuti melahirkan saya ambil. Sejak dua hari sebelumnya, flek sudah bermunculan. Berbekal pengetahuan seadanya, saya tahu bahwa anak ini akan segera lahir. Jumat 25 Mei, saya masih bekerja hari terakhir sebelum cuti. Saat sahur, saya sempat bertukar pesan Whatsapp dengan obgyn saya, menanyakan apa yang harus saya perbuat dengan flek yang bermunculan. Kontraksi pun sudah terjadi, meski belum teratur. Katanya, sebaiknya saya menunggu kontraksi datang teratur, baru datang ke klinik. Jumat malam, kontraksi makin sering muncul, masih belum teratur dan singkat-singkat saja, meski sudah membuat saya sulit tidur. Sedikit-sedikit saya meremas lengan suami yang tertidur di sebelah saya. Akhirnya, setelah sahur, rasa sakit yang tidak karuan membuat suami mengajak saya ke bidan terdekat.

Di sana, saya dinyatakan sudah memasuki pembukaan kedua. Namun, kepala bayi masih belum turun. Tenaga kesehatan di sana menelpon rumah sakit mitra untuk meminta pendapat. Tara! Saya ditawari untuk sectio caesar pagi itu juga, jam 7. Padahal sorenya, saya ada jadwal bertemu Dr. Dini (obgyn). Tapi, apakah saya masih kuat menahan sakit kontraksi hingga sore hari? Apakah nanti Dr. Dini akan memberikan opsi lain atau berujung caesar juga? Di tengah menahan rasa sakit, saya dan suami sepakat menyambut anak kami pagi itu juga dengan perantara caesar.

Saya diantar oleh para bidan menggunakan taksi online ke rumah sakit rujukan. Suami mengiringi menggunakan motor. Di sana, setelah beberapa tes dan urusan administrasi, saya “disiapkan” untuk operasi. Hanya saya dan suami saat itu dan tanpa membawa perlengkapan melahirkan satupun yang sudah kami siapkan di rumah. Saya akhirnya menjalani operasi sekitar jam 8 pagi dengan seorang dokter yang pernah memeriksa saya pada awal-awal kehamilan. Pertemuan yang tidak sengaja karena kebetulan beliau yang bertugas operasi pagi itu. Tapi, beliau juga sudah lupa saya, sih, pasti hehe..

Bagaimana rasanya dioperasi? Wuih rasanya..

Tapi, sekarang saya kerja dulu, ya. Lagi banyak kerjaan, Cuy. Lanjut di tulisan berikutnya. Soal melahirkan, perjalanan merawat newborn, baby blues, menyusui, dan lain-lain. Huft, so little time so much to write ini namanya :p