Maju-Mundur Penyapihan Balita Arsa

Jelang Arsa berusia 2 tahun 5 bulan.

Belum ada tanda-tanda siap disapih. Hello, target berhasil sapih 2 tahun sebulan? Eh, tapi dulu juga gue punya maksimal target berhasil sapih, tuh, Arsa usia 2 tahun 6 bulan, sih. Apa jangan-jangan emang nunggu 2,5 tahun dulu, ya. Walau sejujurnya kalau dipikir dan dirasa sekarang 2,5 tahun juga belum akan tersapih.

Gue percaya menyapih itu yang paling penting adalah kesiapan orang tuanya, yaitu Ibu juga Bapak. Itu yang utama. Kalau orang tuanya masih rela pun, ya, nggak apa-apa dilanjutkan menyusui anaknya sampai semuanya siap. Orang tua siap. Anak siap.

Ada yang bilang juga pada akhirnya anak akan berhenti menyusui sendiri pada usia tertentu, rata-rata pada usia 3 tahun. Mungkin karena bosan, karena malu, atau afirmasi sekitar. Afirmasi memang penting banget. Afirmasi atau sounding juga perlu konsistensi dari orang tua. Bagaimana tiap harinya orang tua memberi tahu anak bahwa dia harus berhenti nenen. Entah alasan apa yang digunakan.

Hal penting lainnya (tentu kalau kita menempuh jalur Weaning with Love/WWL) adalah pembentukan kebiasaan baru pengganti nenen, terutama jelang tidur. Ini juga butuh konsistensi dan kerja sama orang tua, atau anggota keluarga lain kalau di rumah ada.

Jadi, gue tarik kesimpulan dulu di awal bahwa berhasilnya menyapih ini memang awalnya ditentukan oleh orang tua, khususnya Ibu, meski mungkin pada akhirnya si anak akan berhenti nenen sendiri.

Sejak masuk usia dua tahun, gue dan suami sudah mengafirmasi Arsa dengan banyak kalimat. Pembentukan kebiasaan barupun dimulai. Kalau mau tidur malam nggak pakai nenen, tapi diganti dengan digendong sambil bernyanyi dan mengaji atau didongeng-in sambil dengar lagu anak di ponsel (audio saja tentu, tanpa visual).

Kegagalan untuk konsisten dimulai dengan karena kami kerap merasa capek (atau malas) untuk menunggu Arsa benar-benar mengantuk dan bisa tidur tanpa nenen. Kalau biasanya dengan nenen dia bisa tidur pukul 21.00, kalau tunggu dia mengantuk hingga mau tidur dengan kegiatan pengalihan tadi paling tidak tunggu hingga jam 23.00, bahkan lebih.

Hal ini membuat kami agak kelabakan. Karena di sisi lain, sejak pandemi, kami mengasuh Arsa hanya berdua tanpa nanny atau siapapun. Sementara, pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah tetap harus digarap, begitupun pekerjaan rumah tangga. Sudah berusaha sebaik apa pun “kerja tim” kami dalam mengurus rumah dan anak, terkadang muncul rasa kelelahan. Ingin cepat istirahat atau ingin cepat buka laptop, tapi Arsa belum juga mengantuk.

Sebenarnya, Arsa termasuk anak yang kooperatif. Dia tidak tantrum untuk digendong atau didongeng-in jelang tidur. Tapi memang, saat mendusin di malam hari dia masih diberi nenen agar segera tidur kembali. Begitupun saat tidur siang. Rutinitas nenen Arsa, bisa dikatakan, hanya saat jelang tidur siang dan ketika mendusin saat tidur siang/malam hari.

Kenapa saat mendusin tidak digendong atau diberikan pengalihan lain saja? Lagi-lagi, karena kami butuh Arsa untuk tidur lagi. Bisa jadi karena kami harus bekerja atau ingin istirahat karena sudah lelah mengurus rumah. Di sisi lain, saat mendusin, lalu digendong, Arsa masih tantrum. Hal ini sebenarnya bisa diatasi. Lagi-lagi, kalau orang tuanya siap capek hehehe..

Dua bulan terakhir, Agustus & September juga kami sempat pulang kampung. Entah kenapa kalau bukan di rumah sendiri (let’s say) atau sedang bepergian memang rasanya lebih baik tidur lebih awal. Mungkin karena capek perjalanan atau bingung mau ngapain lagi, bukan di rumah sendiri, jadi selama tidak di rumah sendiri itu, Arsa tiap mau tidur pasti sengaja dinenenin.

Saat pulang ke rumah, akhirnya jadwal nenen Arsa makin sering. Baru beberapa hari terakhir ini Arsa kembali kami ajak memulai rutinitas pengalihan lagi; dengar lagu di Spotify, dongeng, atau digendong. Seperti biasa, Arsa cukup kooperatif, meski sering juga dia masih menarik-narik baju pertanda minta nenen, lalu lanjut gue bilang, “Sudah gede, bobonya bukan pakai nenen.” Kadang dia masih merajuk, tapi akhirnya mau juga tidur tanpa nenen. Ini juga sesekali gue tergoda banget mau kasih Arsa nenen saja supaya bisa tidur cepat.

Ada juga hari-hari di mana gue terpaksa kasih nenen semau Arsa atau sesering mungkin, yaitu kala sakit dan gue butuh istirahat (rebahan), jadi modusnya, ya, ngajak Arsa nenen sambil tiduran.

Saat ini sepertinya gue menganut pikiran, “Ya udah, nanti juga berhenti nenen sendiri.” Suami juga berpikir, toh, orang tuanya masih sama-sama nggak keberatan anaknya nenen. Ya, sudah. Kalau nanti orang tuanya sudah mulai merasa “susah” atau risih, ya, orang tuanya usaha anaknya lepas nenen. Balik ke orang tuanya dulu aja. Kami masih oke Arsa nenen, berarti sapihnya ditunda, hanya dikurangi intensitasnya. Bisa jadi maju atau malah mundur lagi tahapannya.

Sejak kami di rumah terus karena pandemi, Arsa juga semakin lengkeeetttt, terutama ke Ibunya. Bisa dibayangkan penyapihannya lumayan lebih challenging :p

Belum tau Arsa akan tersapih kapan. Entah besok atau kapan.

Ayah ASI: Benteng Ibu yang Kerap Clueless

Menyusui terdengar seperti sesuatu yang normal dan biasa, bukan istimewa. Ibu atau perempuan lumrah melakukan tugas ini, sejak dulu. Tidak ada yang spesial dari prosesnya, sampai kita merasakan sendiri bahwa menyusui bukanlah sebiasa itu dan sesederhana itu.

Ketika menjadi ibu menyusui, gue merasakan bahwa proses ini seperti sebuah roller coaster yang membawa perasaan nggak tentu: kadang senang, kadang stres, energi juga terkuras, di sisi lain menyusui menjadi obat lelah. Pikiran? Tentu saja harus di-maintain, menyusui adalah suatu usaha menjaga pikiran sejak awal bahwa seorang ibu akan mampu, meski sepanjang jalan kekhawatiran bahwa ASI tidak cukup akan ada.

Di balik itu juga, menyusui adalah proses yang amat sangat membutuhkan dukungan. Salah satu hal yang menjadi momok dalam keberhasilan dan kegagalan proses menyusui (baik itu ASIX 6 bulan atau lulus 2 tahun) adalah faktor pendukung alias support system. Keluarga, pasangan, dan lingkungan. Memang, sebagai pihdak terdekat seharusnya mereka mendukung, tapi belum tentu juga, tuh. Perbedaan persepsi, keterbatasan informasi, budaya yang diteruskan, dan lain-lain umumnya jadi penyebab. Bisa jadi, mereka bukannya nggak mau mendukung, tapi lebih karena tidak tahu atau clueless.

Kali ini, kita bahas orang yang harusnya jadi supporter utama, ya, buat ibu, yaitu pasangan atau suami. Istri milenial sebenarnya lebih bisa mencapai keberhasilan menyusui ini karena suami milenial tampaknya lebih hands on dalam mengurus anak. Mereka lebih terlibat, lebih bangga dalam menjadi bapak, dan lebih terpapar akan informasi pengasuhan. Iya, meski masih ada juga yang nggak beruntung karena suaminya cuek atau nggak peduli.

Buat gue, suami itu layaknya benteng atau garda paling depan (warning: se-hands on apa pun suami, pasti ada masa di mana dia tetap clueless atau terasa kurang terlibat buat kita yang akhirnya memicu konflik, ya, namanya juga bapak, nggak bisa disamakan dengan karakter ibu, ya). Suami buat gue seperti jadi “pelindung” dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri yang kerap menanyakan kenapa nggak susu formula, dll. Biasanya ini karena budaya, mereka terbiasa memberikan susu sambung/tambahan ke anak-anaknya dulu. Tapi, ini nggak bisa dianggap sepele, lho. Justru karena budaya ini, orang dulu justru kayak menganggap pemberian sufor tanpa alasan medis ini lumrah.

Gue juga pernah “debat” sama suami soal ASI. Karena dulu ASIP Arsa itu kejar tayang alias hasil perah hari ini buat besok atau lusa, maka gue menjaga banget stok ASIP. Kalau nggak urgent banget jangan sampai kepake. Imbasnya, ketika Arsa masih mengejar ASI eksklusif, gue (kayaknya) nggak pernah keluar rumah, selain untuk bekerja. Pertama kali keluar rumah ketika Arsa usia 7 bulan untuk nonton bioskop, tentu dengan tetap bawa alat pumping.

Di sisi lain, suami yang memang butuh banget quality time sama istrinya berdua saja (dia kerap nggak mau kalau gue suruh keluar sendiri atau ajak teman, misalnya), sering ngajak keluar (pacaran) dengan santainya. Di satu hari gue ngerasa, kok, suami gue santai banget, sih, selalu ngajak pergi tanpa mikirin gue yang harus ngontrol stok ASIP. Berdebatlah kami di situ hahahaha.. Sebagai laki-laki mungkin dia bingung, kalau nggak pernah ajak pergi dianggap nggak perhatian, giliran ngajak pergi terus dianggap nggak care juga sama stok ASIP. Di sini, memang kuncinya, ya, komunikasi.

Gue juga pernah “ngancem” suami, bilang kalau sampai dia lebih nurut kata orang rumahnya untuk oplos sufor (saat itu masih mengejar ASIX) gue bakal …. kabur dari rumah bawa Arsa. Hahahaha.. Mungkin karena gue memang mau banget Arsa lulus ASIX, bahkan ASI 2 tahun. Gue nggak menyarankan saran ancaman yang sama, lho. Toh, “treatment” tiap pasangan atau formula hubungan, kan, nggak sama. Memang mayoritas kuncinya itu komunikasi, hal paling sederhana, namun justru kadang paling susah dilakukan.

Kayak sekarang pas mau mulai proses menyapih. Gue bilang sejak dini ke suami kalau gue nggak mau pakai cara-cara jadul/mitos atau short cut. Mungkin gue juga nanti bilang ke pihak keluarga, khususnya keluarga suami kalau mulai terdengar saran-saran jadul ini, atau gue minta tolong ke suami agar dia yang memberi pengertian ke keluarganya.

Pernah juga gue lagi berantem gitu sama suami, dan membahas lagi soal peran dia sebagai ayah ASI. Di situ gue bilang, gue berusaha merasa cukup dengan bantuan dia, meski kadang gue nggak sengaja membandingkan dia dengan ayah ASI lainnya, yang bantuin istrinya nyuci pompa ASI-lah, yang bantuin istrinya pijat oksitosin-lah, yang beliin istrinya ini-itu biar jadi booster ASI-lah. Gue sampaikan kalau (gue berusaha merasa) dia sudah cukup jadi benteng gue, toh, karena gue memang pengen banget Arsa lulus ASI, gue akan tetap jalan sendiri, misalnya dia susah diajak koordinasi (gaya banget gue, padahal jelas kalau suami gue misal menentang atau memberatkan, pasti jalannya akan susah banget). Tapi, gue kayaknya akan tetap berjuang kasih ASI, entah dengan cara apa. Atau malah gue akan menyerah?

Jadi di sini, akhirnya gue menumpahkan keluh bahwa sebenarnya kadang gue ngerasa jalan sendiri, ngerasa dia nggak memiliki concern yang sama soal ASI kayak gue. Di sisi lain, gue juga berpikir kalau sebenarnya (lagi-lagi) suami gue clueless. Dia memberi gue kebebasan, untuk tetap berjuang ASI atau stop. Mungkin dia juga bingung kalau dia terlalu support malah memberatkan di saat gue ingin menyerah, tapi kalau dia hands off malah dikira nggak support. Le-la-ki.

Atau justru dia percaya bahwa gue sudah cukup kuat untuk berjuang sendiri karena tahu gue pengen banget Arsa lulus ASI, dan ada kalanya gue akan bilang kalau memang sudah mentok dan butuh bantuan dia.

Maybe he just believe in me, too much.

Weaning with Love. Bisa Nggak, Ya?

Memasuki bulan-bulan jelang Arsa disapih. Seharusnya disapih, tepatnya. Sejak dua minggu lalu, ketika Arsa memasuki usia 20 bulan, gue sudah mengurangi frekuensi pumping di kantor: dari 2 kali menjadi 1 kali sehari. Freezer sewaan sejak Arsa usia 3 bulan pun sudah dikembalikan ke pemiliknya (sebenarnya ini juga karena butuh space untuk meletakkan rak piring baru heuheu). Jadi, sisa ASIP yang masih ada berdesakan aja di freezer kulkas satu pintu, bersama bahan masakan, es batu, dan ice gel. Sejak usia Arsa 18 bulan sebenarnya dokter laktasi sudah menyarankan untuk berhenti pumping. Stop pumping dari “jauh-jauh” hari ini diharapkan supaya aliran produksi ASI perlahan turun  (Ingat prinsip produksi ASI: persediaan = permintaan) karena kalau berhentinya dadakan khawatir payudara akan membengkak. Tapi, gue juga merasa masih berat untuk berhenti pumping ini. Melepas suatu rutinitas yang sudah dilakukan berbulan-bulan, apalagi pumping sudah seperti kegiatan pelarian ketika gue suntuk di depan komputer. Nanti saat Arsa berusia 21 bulan, gue berencana benar-benar berhenti pumping.

Karena sejak awal gue berniat WWL (weaning with love), maka kekuatan yang gue andalkan adalah pendekatan “sounding”. Jalan pintas seperti memberikan shock therapy ke anak dengan cara-cara yang biasa dibudayakan orang sekitar akan menjadi cara terakhirrrrr banget buat gue (mungkin saat gue sudah putus asa banget. Jangan sampe, ya, Guys, doakan gue.), misalnya ngasih warna-warna merah ke payudara pakai lipstick atau obat merah supaya anak takut atau mengoleskan rasa-rasa pedas atau pahit supaya anak trauma ke nenen ibu, sampai bawa ke so-called-orang pinter. Kalau bisa malah jangan pernah pakai cara ini, sih. Ya, gue yakin, nanti akan banyak saran-saran seperti ini dari sekitar, terlebih kalau Arsa belum berhasil juga disapih.

Gue punya target waktu. Mungkin buat sebagian orang tua ini agak berlebihan, terutama buat penganut “ya udah tunggu anaknya berhenti sendiri aja”. Tapi, ketika gue membaca situs Ayah ASI, seorang admin menulis artikel bahwa menetapkan target waktu menyapih itu penting (setidaknya baginya). Ini balik lagi ke kenyamanan orang tua. Jadi, gue punya keinginan agar Arsa bisa disapih pada usia 25 bulan, alias setahun sejak usianya nanti genap 2 tahun. Kebetulan dua tahunnya Arsa itu berdekatan dengan hari raya Idul Fitri, jadi gue sengaja kasih jeda 1 bulan supaya nggak pas banget sama mudik yang mungkin penuh keribetan dan menyita banyak energi. Tenggat teakhir banget dari gue adalah usia Arsa 2,5 tahun. Kalau sampai 2,5 tahun Arsa belum berhasil juga disapih, gue mau mencontek cara beberapa orang (sebenarnya ahli juga melarang cara ini, sih), yaitu gue mau pergi menginap tanpa Arsa selama beberapa hari, entah keluar kota atau sekitaran Jakarta saja. Dan kalau setelah itu Arsa masih belum berhasil juga disapih… I dont know, still dont know. Mungkin gue akan tunggu aja sampai Arsa berhenti nenen dengan sendirinya, entah sampai dia berusia berapa.

Apakah gue sudah mulai sounding? Sudah, meski jarang. Efeknya malah Arsa makin super-posesif ke nenen. Kayak newborn aja. Apalagi sekarang dia masuk ke fase “mentil” alias kalau lagi direct breastfeeding (DBF) tangan satu lagi yang bebas harus sambil memegang nipple ibunya dan dia sudah bisa mengeluarkan sendiri si nenen ini dengan penuh ke-bar-bar-an. Kalau gue di rumah, baru saja sesi DBF berakhir 10 menit lalu, Arsa akan kembali merengek, menarik tangan gue ke kamar, atau merogoh baju untuk mencari payudara. Hal ini terkadang mengganggu proses makan Arsa juga, sampai pernah gue harus bersembunyi dulu ke warung di belakang rumah saat Arsa makan. Capek juga, sih, rasanya ditempelin dan dihisap terus. Hal ini yang kadang bikin mikir apa nggak usah di-sounding dulu, ya, Arsa. Tapi, sesekali gue tetap berusaha sounding, meski saat dilakukan Arsa seperti mengerti dan protes dengan rengekan.

“Arsa, kayaknya Ibu butuh makan, deh. Udahan dulu, yuk, nenennya. Ibu makan, Arsa main. Nanti boleh nenen lagi.”

“Arsa, kalaupun nanti Arsa berhenti nenen, bukan berarti kita pisah. Ibu tetap sayang Arsa, Insha Allah. Arsa cuma pindah ke minum air putih, jus, susu gelas. Kita tetap bareng-bareng.”

Dan bermacam-macam jenis kalimat lain sebisa yang gue rangkai. Arsa kadang mengerti dan melepas nenen, kadang gue yang harus memaksa melepas, meski kadang dia nangis dan gue harus kasih lagi nenennya. Sejauh ini, gue masih berusaha memberi pengertian itu. Sambil berdoa semoga nanti gue dan Arsa saling kuat dan ikhlas melepaskan. Gue juga berdoa semoga Allah memberi gue kemudahan serta support system yang mendukung gue. Pasti nanti akan berat prosesnya (sisi pesimis gue muncul), apalagi menyapih di malam hari. Pasti akan ada tangisan drama, kurang tidur, fisik dan mental yang lelah, hingga rasa tidak tega berujung stres, bahkan depresi. Iya, gue tau nggak semua anak sama. Ada yang proses sapihnya cepat, ada yang lama dan drama. Gue berpikir, kok, Arsa baru di-sounding saja sudah se-posesif ini, bagaimana nanti dekat dengan bulannya. Tapi, balik lagi, tiap anak nggak sama, bisa jadi seiring berjalannya waktu dan sounding, Arsa makin mengerti dan kelak akan melepas nenennya dengan ikhlas dan mudah. Aamiin. Mungkin saat ini Arsa sedang “puas-puasin” dulu. Nanti sepertinya gue akan menambahkan kalimat baru:

“Arsa, bukannya Ibu nggak menikmati menyusui Arsa. Ibu bahagia dan bersyukur banget bisa menyusui kamu. Tapi sepertinya Ibu butuh istirahat, Ibu kangen waktu untuk Ibu, kangen tidur lebih lelap. Lagian, Arsa sudah gede, sudah nggak butuh nenen lagi. Nenen sudah nggak cukup buat Arsa. Ibu tahu ini berat. Tapi, Arsa pasti bisa, malah Arsa yang akan bimbing Ibu untuk ikhlas karena Arsa, kan, gurunya Ibu-Bapak jadi pasti lebih pinter, lebih kuat, lebih berani.”

Dan ada kalimat pamungkas yang entah akan gue gunakan atau tidak:

“Lagian, kalau kamu berpikir mau punya adik, Ibu pikir harus ada jeda dulu dari nenenin Arsa ke punya adik.” (Hahahaha).

Insha Allah akan ada tulisan lain dalam proses menyapih ini karena sebenarnya sudah ada beberapa saran untuk WWL yang gue terima dari sekitar.

Weight Faltering, Failure to Thrive, or Obesity: Masalah Emak-Emak Sejuta Umat

Berat badan adalah masalah sejuta umat orang tua, khususnya orang tua milenial yang sedang dicekoki istilah stunting. Meski kebanyakan masalah adalah BB yang kurang, tapi ada juga masalah dengan BB berlebih. Di KMS atau kartu menuju sehat (buku panduan yang dimiliki orang tua dan wajib dibawa ketika ke dokter anak/posyandu, baik saat berobat maupun vaksin), ada kurva/grafik terkait BB, TB, dan lingkar kepala berdasarkan gender dan usia anak. Kalau mau unduh versi lengkap, baik untuk BB, TB, lingkar kepala, sampai body mass index versi WHO bisa mampir ke situs resminya. Atau Googling aja, tersedia gratis. Grafik yang di KMS juga sama saja, sih. Setau gue itu diadaptasi dari grafik WHO juga, kok. Di grafik ini, ada garis-garis berwarna hijau, jingga (oren), dan merah. Dikatakan aman, jika BB dan TB anak berada di garis hijau atau minimal oren. Dan orang tua harus mem-plot kurva/grafik ini tiap bulan untuk melihat tren BB dan TB anak. Apakah cenderung baik (tetap di garis hijau atau oren) atau stagnan/landai yang menunjuk ke weight faltering/failure to thrive atau justru terlalu naik hingga menuju obesitas?

Dua bulan lalu, usia 16 bulan, saat vaksin varisela dan MMR, Arsa dikatakan berstatus gizi baik, namun cenderung weight faltering karena BB-nya naik seret (irit) dan kurva KMS-nya landai. Plot KMS ini harus juga dilihat dari BB lahir anak. Berapa BB lahir memengaruhi status gizinya tiap bulan.

Melenceng sedikit dulu, ya. Pernah dengar istilah “trust the data” alias “data nggak akan boong”? Dalam parenting, memang insting itu penting, tapi data medis tetap harus banget dipertimbangkan. Anak yang terlihat kecil belum tentu tren KMS-nya jelek, pun sebaliknya. Baru kemarin gue baca curhatan seorang ibu-ibu di Whatsapp grup. Anaknya baru berusia 5 bulan, tapi dianjurkan DSA untuk MPASI dini karena kenaikan BB-nya tidak bagus. BB-nya berapa? 8 kg aja, dong! Wow. 8 kg itu untuk anak usia 5 bulan cenderung “gemuk”, tapi balik lagi, harus dilihat dari BB lahirnya. DSA menyarankan si anak untuk MPASI dini (harusnya kan usia 6 bulan) karena kenaikan BB anak dari bulan lalu tidak mencapai kenaikan BB minimal.

Coba diingat, minimal BB naik anak memang berubah tiap (katakanlah) semester. Anak usia 0-6 bulan, memiliki tren naik BB antara 750-1000 gram (1kg) per bulan, anak usia 6-12 bulan antara 500-750 per bulan, anak usia 12 bulan dst. baiknya naik minimal 200 gram per bulan. Memang, makin naik usia anak, batas minimal kenaikan BB makin turun. Jadi, anak usia 0-6 bulan mengalami tren kenaikan BB paling tinggi. Makin dewasa, kenaikan BB akan makin irit.

Jadi, status gizi bukan hanya dinilai dari anak tersebut tampak kecil atau tampak gemuk. Anak usia 5 bulan dengan berat 8 kg jika kenaikan BB tiap bulannya tidak mencapai jumlah minimal bisa jadi akan disarankan MPASI ini atau ditambah sufor untuk mengejar garis hijau/oren di KMS. Mulai pusing, nggak, ibu-ibu?

images

(kurva BB anak laki-laki dan perempuan. bisa diunduh lengkap di situs resmi WHO)

Contoh lain, coba mampir ke IG (at)asiku.banyak. Anaknya sempat nggak naik BB selama beberapa bulan juga, lalu kalau sampai nggak naik lagi, dokter anak menyarankan sufor. BB anaknya sekarang 10 kg di usia 9 bulan. Bahkan, Arsa yang berusia 18 bulan saja BB-nya nggak sampai 10 kg, tuh. Tapi, terakhir ke dokter untuk vaksin DPT, Alhamdulillah, dikatakan BB-nya Arsa sudah catch up sesuai usianya. Artinya, BB-nya sudah naik per bulannya sesuai batas minimal, sudah masuk garis oren di KMS, sudah sesusai dengan TB dan usianya. Ini di usia 18 bulan, ya, di mana 2 bulan lalu seperti yang gue tulis di awal, Arsa sempat didiagnosis weight faltering.

Kesimpulannya apa ibu-ibu? Status gizi tidak dapat dikatakan baik/buruk sampai diukur dengan data medis, khususnya kenaikan tiap bulan sesuai usia yang dapat kita plot sejak lahir di kurva KMS, khususnya dengan bantuan dokter (jika dibutuhkan). Anak yang gemuk bisa jadi didiagnosis gagal tumbuh, anak yang terlihat kecil bisa dikatakan sukses tumbuh, pun sebaliknya. Untuk yang dikhawatirkan gagal tumbuh, dokter akan menawarkan beberapa opsi, misal screening ADB atau pemberian susu tambahan.

Perlu bahas screening ADB, nggak, ya, nanti makin muter-muter. Bahahaha . . .

Kalau temen-temen follow akun beberapa dokter anak atau baca artikel terkait stunting, pasti nggak asing dengan ADB (Anemia Defisiensi Besi). ADB ini konon banyak dialami anak-anak di negara berkembang. WHO bahkan menganjurkan sejak usia 12 bulan anak di-screening ADB lewat cek darah. ADB menjadi salah satu pencetus di mana BB anak sulit naik. Cara lain yang dapat ditempuh adalah pemberian suplemen zat besi sejak anak berusia 4 bulan berlanjut hingga usia 2 tahun. Selain screening ADB, ada banyak lagi tes kesehatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab BB anak seret, misalnya tes mantoux (untuk penyakit TB) atau cek kultur urine (untuk penyakit saluran kemih), dan tes-tes lain yang sebenarnya harus berdasarkan rekomendasi dokter anak atau dokter anak subspesialis nutrisi.

Eh, sebentar. Buat kalian yang belum jadi ibu atau sudah jadi ibu tapi risih atau heran kenapa, sih, ribet banget ngurusin BB anak aja? Biasanya, sih, yang sudah jadi ibu lebih can relate. Tapi, kalau kalian jadi lebih sering dengar ibu-ibu concern soal BB itu karena memang Indonesia lagi gencar-gencarnya meminimalisasi angka stunting. Stunting itu secara sederhana adalah gagal tumbuh yang akhirnya akan berpengaruh ke kemampuan berpikir (perkembangan otak). Angka stunting di Indonesia konon cukup tinggi. Malah, bisa jadi kita (kita hahaha) adalah produk stunting dari masa lalu. Lebih lengkapnya baca, ya. Sekarang kita coba meminimalisasi stunting ini. Mungkin sekarang terasa mati-matian karena masih terbatasnya informasi dan perbedaan pola asuh dengan orang tua kita, tapi setidaknya nanti di masa anak-anak kita sudah dewasa dan berkeluarga, mereka sudah melek dengan pencegahan stunting karena kita (orang tua mereka) pernah memperjuangkan hal ini (cie!).

Kembali ke tes kesehatan terkait BB seret.
Kelainan atau gangguan kesehatan akan membuat tubuh bekerja ekstra melawan gangguan tersebut, sehingga nutrisi yang didapat oleh makanan menjadi tidak berdampak, kasarnya sih begitu.

Nah, bagaimana dengan Arsa? Arsa memang belum mencoba untuk screening ADB, tapi dua bulan terakhir Arsa mencoba konsumsi susu tambahan (sebenarnya lebih tepat disebut makanan cair) sesuai saran dokter anak. Alasannya, selain screening ADB lumayan mahal, gue akan lihat dulu efek si susu ini. Ada banyak merek susu nutrisi/makanan cair ini antara lain Pediasure, Nutren Junior, Nutrinikid, dan lain-lain. Kebetulan Arsa mencoba Pediasure.

Dokter menyarankan untuk memberikan susu ini 2 kali sehari dengan dosis 125 ml sekali minum, di samping itu, Arsa masih konsumsi ASIP (kalau gue di rumah, full netek langsung) dan UHT kalau dia mau. Kebetulan, Arsa sudah nggak terlalu suka UHT, mungkin bosan. Dokter bilang, nanti kalau sudah cocok dosisnya bisa dinaikkan jadi 250 ml sekali minum. Oh, iya, dokter anak ini bilang untuk kasus anak yang benar-benar status kurang gizinya akut, bisa jadi si ibu disarankan berhenti kasih ASI atau berhenti kasih sufor dan full diganti susu nutrisi/makanan cair. Kalau anaknya cenderung berlebih BB-nya gimana? Kalau anaknya sudah makan, ya, bisa jadi si anak akan diminta mengurangi dosis makan utama atau jenis makanan tertentu. Gue nggak bisa bahas mendalam karena nggak mengalami langsung hehe…

Susu macam Pediasure dan merek sejenisnya ini memang dikhususkan untuk anak yang sulit makan, berpotensi gagal tumbuh, atau sedang masa penyembuhan pasca-sakit berat. Oke, gue coba kasih Arsa susu ini. Lalu, gue beli timbangan aja untuk di rumah supaya bisa ngecek kenaikan BB-nya selama gue belum ada jadwal konsultasi ke dokter anak.

Tanggal 6 kemarin, tepat 2 bulan Arsa konsumsi Pedisure dan barengan sama jadwal vaksin DPT combo ke-4, kami (gue dan suami) balik ke dokter yang sama (dr. Arifianto). Gue ceritain kenapa belum (mau) screening ADB. Gue juga cerita Arsa sempat dua kali sakit lumayan “berat” dalam dua bulan terakhir. Pertama cacar air, kedua baru saja common cold seminggu yang ngebuat dia demam tinggi dan tentu saja ogah makan. Dari penimbangan BB dan pengukuran TB, Alhamdulillah Arsa (menurut dokter) akhirnya berhasil aman di kurva KMS alias catch up (di garis oren). Untuk anak seusia Arsa, naik 500 gr dalam waktu 2 bulan sudahlah cukup. Dokter bilang, mungkin, kalau tidak sakit, kenaikan BB-nya akan lebih bagus dari saat ini. Tapi, setidaknya susu Pediasure-nya berdampak positif.

Alhamdulillah.

Kalau soal pola makan, sih, Arsa masih standar aja. Kadang mudah, sering susah. Apalagi baru sakit. Gue juga belum ngoyo menerapkan feeding rules karena 1) fokus mengejar KMS dulu, 2) masih berusaha menemukan momen yang pas untuk mengajarkan feeding rules ke orang yang asuh Arsa di rumah.

Oh, iya, temen-temen pernah denger feeding rules ini, kan? Gue nggak usah tuliskan di sini karena nanti makin melebar dan hal ini justru berkaitannya sama support system. Kita fokus cerita soal kenaikan BB lewat susu nutrisi dulu saja, ya. Kalau penasaran, coba saja Googling “feeding rules dokter Endah Citraresmi“. Intinya adalah mengajarkan kepada anak konsep lapar lewat jeda pemberian makan dan memberikan makan tanpa distraksi. Terdengar simple, tapi menurut gue penerapannya susahhhhh sekali . . .

Saat gue tanya ke dokter, kan, Arsa sudah berhasil catch up, nih, apa dia harus tetap screening ADB? Dokter bilang sebaiknya dicoba saja tapi nggak harus dalam waktu dekat, tapi disarankan sebelum usia 2 tahun. Mungkin karena golden period itu. Gue juga belum tau, sih, kapan mau screening. Sekarang BB Arsa sudah berhasil catch up pun bukan berarti santai-santai. Kalau nggak di-maintain, ya, plot KMS bulan depan landai lagi. Bahaya. Berarti teruskan pemberian Pediasure. Dan PR buat gue sebenarnya penerapan feeding rules itu. Juga bagaimana Arsa bisa makan tanpa gawai (ponsel atau televisi). Tapi, ya, sudahlah satu-satu saja agar tidak stres.

Buat ibu-ibu pejuang KMS yang baca ini. Ingat, ya, bentuk intervensi apa pun dalam pemberian susu atau makanan tambahan, mohon dikonsultasikan dulu dengan dokter. Gue menuliskan ini untuk berbagi pengalaman, tapi jangan serta-merta langsung kasih Pediasure dll., kecuali kalian juga pernah disarankan mencoba susu nutrisi, tapi beda merek, lalu tidak cocok dan ingin pindah merek. Banyak hal yang jadi penyebab anak BB-nya seret. Bisa jadi datang dari hal yang nggak kita sadari, yaitu psikis anak yang harus dibuat tenang/bahagia dulu agar dia siap makan dan tidak trauma untuk makan (self reminder). Jadi inget kata-kata, “anak bukanlah miniatur orang dewasa”.

Pertanyaan yang mungkin mengusik kita semua:

  1. Apakah pertumbuhan anak tidak dipengaruhi oleh genetis?

Jawaban: Kalau kalian pernah baca highlight IG dokter Meta Hanindita/@metahanindita (coba mampir. buat yang nggak suka bacaan panjang, highlight-nya merangkum ragam pertanyaan terkait gizi anak, jadi nggak bosen), pertumbuhan anak ternyata tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh genetis, khususnya di 2 tahun pertama usia anak (golden period). Faktor nutrisi sangat berperan, meski faktor genetis juga ada. KMS dibuat untuk semua anak tanpa mempertimbangkan orang tuanya kurus/gemuk dan pendek/tinggi. Artinya, ada standar minimal dan maksimal kenaikan BB & TB yang dapat di-plot ke dalam grafik. Secara psikologi, faktor nurture (lingkungan) juga lebih berpengaruh kepada perkembangan daripada nature (sifat bawaan). Menurut dokter Meta, warga Jepang yang dulu dikenal pendek-pendek, sejak menggalakkan pencegahan stunting, terlihat trennya bahwa secara postur generasi mereka kini lebih tampak proporsional.

  1. Mana yang lebih penting, besar kenaikan BB (dalam gram) atau status gizi berada di garis aman pada KMS? Bagaimana misalnya bulan ini kenaikan BB anak tidak mencapai batas minimal, tapi ketika di-plot di KMS masih di garis oren?

Jawaban: Seharusnya, sih, lebih utama lihat KMS masih di garis aman, ya. Tapi, seingat gue, kalau berturut-turut dua bulan saja si anak BB-nya flat atau malah turun, ketika di-plot kurvanya akan melandai. Inilah yang menyebabkan status “gizi baik” tapi tetap berpotensi stunting. Kalau weight faltering dibiarkan saja khawatir menjadi kurang gizi, bahkan stunting.

ASI: Popular and Unpopular Opinion

  1. Jumlah ASI tidak dipengaruhi oleh ukuran payudara. Ukuran dipengaruhi oleh lemak di sekitar payudara, sedangkan ASI diproduksi oleh kelenjar susu yang ada di payudara. Jumlah ASI tetap dipengaruhi oleh faktor supply-demand.
  2. Mengapa penggunaan dot tidak dianjurkan? Karena dot bekerja dengan sistem gravitasi yang memudahkan bayi mengisap susu tanpa mengoptimalkan seluruh otot mulut, seperti saat direct-breastfeeding (DBF). Bingung puting bukan hanya meliputi keadaan di mana bayi menolak untuk DBF karena proses menyusu tidak semudah lewat dot. Ada juga anak yang tetap mau DBF, namun kemampuan menghisapnya tidak lagi kuat, sehingga pengosongan payudara tidak optimal. Imbasnya, produksi ASI berkurang yang khawatir mengurangi kesempatan untuk memberikan ASI hingga 2 tahun.
  3. Kegagalan dalam memberikan ASI sering kali disebabkan oleh kekhawatiran bahwa produksi ASI tidak cukup.
  4. Tanda kecukupan ASI bukan diukur dari anak yang rewel. Jadi, jangan langsung was-was ASI kurang saat anak menangis terus, apalagi hanya berdasarkan kata orang (bukan tenaga ahli/kesehatan). Tanda kecukupan ASI bisa diukur dengan data medis, terutama kenaikan BB bayi per bulan dan intensitas buang air kecil per hari. Jika menurut dokter si anak membutuhkan susu tambahan, mereka pasti akan meresepkan, termasuk jika ada opsi berhenti memberikan ASI.
  5. Perihal soal makanan yang dikonsumsi Ibu berpengaruh kepada ASI tidak selalu benar. Tugas ibu adalah mengevaluasi jika anak mengalami kondisi tertentu setelah ibu makan sesuatu, khususnya terkait bakat alergi. Soal rasa pedas yang menular kepada ASI hanyalah mitos.
  6. Apa pun dan berapa pun makanan yang dikonsumsi ibu, sebenarnya kualitas ASI tetaplah baik. Apa yang disarikan dalam ASI adalah yang terbaik dari tubuh ibu. Jika makanan ibu kurang bernutrisi atau jumlahnya sedikit yang tekor adalah tubuh ibu, bukan si anak. Karena nutrisinya diberikan kepada anak semua.
  7. Kualitas kandungan ASI mengikuti usia bayi. Alasan ini yang menyebabkan sebaiknya usia bayi pendonor ASI tidak terlalu jauh dari usia bayi penerima donor. Bayi baru lahir membutuhkan nutrisi yang lebih tinggi daripada bayi yang sudah mulai makan atau berusia di atas setahun. Oleh karena itu, bayi usia 6 bulan pertama mendapatkan ASI paling tinggi nutrisi. Namun, jika kondisi darurat, tidak mengapa usia bayi pendonor dan penerima berdekatan.
  8. Cara kerja ASI sekali lagi adalah berdasarkan sistem supply-demand. Jumlah produksi disesuaikan dengan jumlah permintaan. Selama kita rutin menyusui dan memompa, produksi ASI akan terjaga. Oleh karena itu, disarankan melakukan DBF/pumping maksimal 3 jam sekali. Setelah anak mulai makan (MPASI), umumnya produksi ASI ibu mulai turun karena rutinitas menyusui/pumping digantikan oleh makan, sementara ibu tidak lagi melakukan pengosongan payudara.
  9. Refleks let-down (let down reflex/LDR) adalah refleks keluarnya ASI secara lebih deras. LDR muncul beberapa kali dalam sesi menyusui/pumping dan berlangsung selama beberapa detik hingga menit. LDR dipicu oleh gerakan hisapan bayi ataupun alat pompa. Biasanya ditandai dengan sensai geli atau penuh di sekitar payudara yang diikuti ASI yang memuncar. Di luar sesi LDR, ASI tetap mengalir, namun tidak sederas saat LDR. Ibu yang memompa ASI dapat memanfaatkan LDR untuk mendapatkan jumlah ASI yang dibutuhkan. LDR dapat juga dipicu oleh trik pikiran, misal sambil memikirkan anak, makan/minum favorit, atau pijatan di area puting.
  10. Secara medis, dua hormon yang paling berperan dalam menyusui adalah prolaktin dan oksitosin. Prolaktin berperan dalam produksi ASI, sedangkan oksitosin berperan dalam mengeluarkan ASI. Oksitosin sangat dipengaruhi oleh psikologi ibu.
  11. Bayi baru lahir hanya memiliki ukuran lambung sebesar kelereng, sehingga jumlah ASI yang dibutuhkan pun hanya sedikit. Secara medis, ASI rata-rata akan keluar lancar tiga hari setelah melahirkan. Artinya, wajar jika pada jam-jam pertama setelah melahirkan ASI belum keluar atau hanya menetes. Dengan terus mencoba menyusui, produksi ASI akan bertambah.
  12. Sebenarnya, bayi baru lahir memiliki cadangan lemak tubuh yang dapat membuat mereka bertahan tanpa asupan hingga tiga hari, namun kebanyakan orang akan khawatir jika bayi tidak segera diberi asupan dalam jumlah banyak (baik ASI ataupun sufor) karena khawatir bayinya lapar yang ditandai dengan tangisan tanpa henti. Bisa jadi, tangisan tersebut adalah respons bayi terhadap dunia barunya (dari alam rahim ke dunia) di mana ia merasa tidak nyaman dan rapuh dan ia butuh didekap atau digendong, bukan karena haus/lapar saja.
  13. Keberhasilan menyusui sangat dipengaruhi oleh support system, terutama diri sendiri yang memiliki kemauan untuk konsisten dan pasangan (suami) yang menjadi benteng istri dari mitos-mitos serta tekanan sekitar untuk menyerah atau memberikan susu tambahan, padahal tidak dibutuhkan. Support system itu juga meliputi anggota keluarga (warning: mertua atau orang tua sendiri bisa jadi ujian), tenaga ahli (dokter laktasi dan dokter anak), lingkungan kantor dan pengasuh anak (jika ibu bekerja), teman-teman seperjuangan, hingga informasi dari media atau Internet.

 

Dirty Talk in a Patriarchy Culture?

Menyampaikan sesuatu lewat tulisan mirip dengan berbicara, apakah itu membuat lo “feel good”. Tapi, bukannya kita memang harus melakukan sesuatu atas dasar “it makes me feel good”? Membahas persoalan seks itu harus hati-hati sekali karena bisa menimbulkan banyak makna, apalagi di kehidupan dengan budaya Timur dst. di mana Patriarkinya juga kenceng. Bahas seks nanti disalahartikan jadi pembahasan porno, tabu, dll., apalagi kalau yang bahas cewek. Tapi, in this modern world, dengan informasi yang makin menyebar, harusnya paham-paham kolot itu sudah bisa diabaikan, ya.

Bisa iya, bisa tidak. Nyatanya, gue masih banyak sekali menghadapi dualisme pembahasan seks tadi. Buta, mau dibahas tapi malu atau tabu, sehingga auto-membatasi diri dari pembahasan seks. Ya, gue juga membahas dari sisi pribadi, dari sisi seorang amatiran, dari sisi pembelajar seumur hidup, dari sisi seorang perempuan, dari sisi seorang istri, bahkan ibu.

Bisa jadi, gue akui, gue adalah salah satu perempuan yang beruntung karena diberi kesempatan untuk mendapat informasi terkait seks, baik dari pengalaman, bacaan, Internet, cerita orang lain, dll. Ditambah gue juga punya kemauan untuk membahas itu, dengan kata lain nggak semalu perempuan lain untuk speak up, ya, karena gue penasaran atau karena gue tahu. Se-simple itu. Meski, gue juga pilih-pilih lawan bicara terkait topik ini. Kenapa? Karena pembahasan seks masih tabu, kadang kalau asal jeplak, lawan bicara lo malah bikin nggak nyaman karena arahnya dibikin jadi serba-porno atau harrasment. Semacam jokes bapak-bapak yang dilontarkan ketika liat ada working mom mau pumping.

man-signal-to-stop-3244372

Gue juga mungkin termasuk beruntung dikasih pasangan yang bisa diajak bicara soal seks, meski kehidupan seks kami, to be honest, nggak indah selalu, nggak semulus itu, nggak seahli itu. Tapi, punya pasangan sekaligus partner seks yang bisa diajak ngobrol dan belajar, apalagi pandangan yang hampir sama bahwa laki-laki nggak harus yang mendominasi itu such a gift.  Kayaknya kami memang sudah terbiasa nyaman dengan pembahasan seks sejak zaman pacaran. I dont talk that i have a thingy thing called “pacaran sehat”, but i can say we know the risk of everything that we did. Alasan mengapa kami melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Warganet zaman now nyebutnya “consent”.

Di sekitar gue, toh, masih banyak juga teman-teman yang bingung untuk bicara soal seks. Mau ngomong dan nanya aja pasti bingung harus ke mana. Giliran gue yang jawab, gue dituduh expert. Hadeh. Dan, mereka juga kayak masih sungkan memakai istilah seks secara gamblang. Ngomong making love (ML) aja pakai istilah “campur” atau HB (hubungan badan), ya, bebas, sih, daripada pakai kata kasar hahaha. Ketabuan ini juga bikin dokter atau nakes kadang hati-hati banget untuk ngobrol sama pasiennya. Pernah obgyn waktu gue hamil Arsa pakai kata “campur” ini waktu gue konsul.

Jadi penasaran, bagaimana kalau gue sampai pakai istilah ejakulasi, ereksi, masturbasi, squirting, di grup Whatsapp itu? Waktu gue bahas alat KB, khususnya kondom, aja pada heboh gitu. Tulisan ini juga terkait topik yang baru-baru ini gue baca di media sosial.

Mbak Citra Mustika, di IG dikenal dengan akun olevelove, adalah seorang konselor laktasi. Gue kebetulan follow beliau karena butuh edukasi soal ASI. Nah, doi juga suka bahas sex life after babies di feed-nya dan menghasilkan respons yang luar biasa sampai akhirnya dijadikan buku. Mbak Citra akhirnya diajak kerja sama sama sebuah e-commerce yang berbagi informasi terkait seks. Jadi, di banner situsnya dipasanglah iklan buku Mbak Citra ini yang sekaligus memasarkan suatu merek kondom. Hal ini karena di dalam bukunya, yang memang didasarkan atas pengalaman pribadinya, Mbak Citra bilang kondom adalah salah satu alat KB teraman untuk ibu menyusui, selain IUD.

Nah, iklan ini heboh ke media sosial karena ikon wanita berhijab (Mbak Citra) mengiklankan kondom dan tagline-nya (ada kata-kata wanita solehot) MUNGKIN dianggap aneh. Padalah, mengutip salah satu orang yang komen di media sosial itu, nggak ada yang salah dengan iklan kondom menggunakan ikon wanita berhijab. Safe sex adalah hak semua orang. FYI, Mbak Citra ini sering banget dapet kiriman DM curhatan follower terkait masalah kehidupan seks mereka. Untungnya, beliau termasuk orang yang pede banget, bahkan frontal kalau bahas seks. Sampai katanya ada yang nanya soal cara pakai lubrikasi dan Mbak Citra mau jawab. Hayo, siapa yang nggak tahu atau malah pernah makai cairan lubrikasi? Hehe… As a experienced newbie, LOL, i can say this item really useful. Secara pribadi, gue salut, sih, sama beliau karena keberaniannya jadi pembahas seks. Pasti sama beratnya dengan memperjuangkan pembahasan ASI di tengah masyarakat yang masih menganggap anak harus diberi campuran sufor (tanpa anjuran dari dokter).

I like to talk and learn thing about sex life, especially with my life partner. Saking terbiasanya ngomong dirty (dan gue anggap ini hal yang wajar buat semua pasangan menikah), gue kadang punya simbol-simbol khusus dengan pasangan yang bisa dikatakan ewh, jijay, dst., but its funny. We still have to learn so many things about our sexual activities, because we gonna spend our lives together for almost forever, and sometimes sexual intercourse can be a saviour when our marriage tasted bitter or boring. Tapi, seks juga akan menjadi sesuatu yang membosankan, ya. Makanya, tadi gue bilang kami masih harus belajar, seumur hidup. Agar seks tidak menjadi pemecah, namun justru penyelamat.

————————————————————————————————————————————

P.S: Sebenarnya ada lagi satu hal yang mengganggu pikiran gue dan mungkin jutaan perempuan lainnya dalam budaya patriarki. Bukan sok feminis atau apa. Dan gue bersyukur suami pun terganggu karena masalah satu ini. Artinya, dia punya pemikiran yang “nyaris” sama kayak gue.

Jadi, waktu itu tetangga gue mau menikahkan anak perempuannya. Layaknya budaya di masyarakat Muslim Indonesia, ada tradisi pengajian malam sebelum hari H. Di acara itu, suami gue juga datang. Karena tetangga sebelah rumah, gue bisa mendengar isi ceramah seorang pemuka agama yang saat itu diundang jadi pembicara.

Apa yang mengganjal sampai saat ini adalah . . . ajaran bahwa istri harus menjadi yang mengalah terkait masalah ranjang. Gaung berita marital rape belum seluas itu hingga ceramah nikahan pun masih mengajarkan agar wanita harus mau melayani suami apa pun kondisinya, kalau tidak yang dosa. Padahal, di balik ancaman dosa itu, ada ajaran lain yang harusnya lebih dulu ditanamkan dalam pikiran masing-masing bahwa ada sisi psikis, fisik, pikiran sang istri yang harus juga dipertimbangkan. Bukankah ajaran agama pun menganjurkan pasangan saling menggauli dengan cara yang baik?

I think, theres nothing wrong with talking about sex and also refuse your husband when you cant do a sexual intercourse (but in a good way and offer another option, i still learn about this). Theres nothing wrong when women ask it first or being dominant on the bed. Theres nothing wrong if we ask safe sex. Theres nothing wrong if women have a awkward fantasy about sex, even have a fetish. We have a right to take this kind of happiness.

Arsa, Vaksin Varicela, dan Kena Cacar

Oh, iya, sebelum mulai cerita tentang cacar air yang “hinggap” di Arsa, kayaknya perlu cerita sedikit soal kunjungan Arsa ke Markas Sehat untuk kedua kalinya, dan kali ini untuk vaksin.

Tanggal 4 Oktober kemarin, kan, Arsa ke Markas sehat lagi. Kebetulan dapat jatah konsul ke Dokter Arifianto (dr. Apin) yang dipesan dari seminggu sebelumnya. Niat awalnya, sih, Cuma vaksin MMR (mumps/gondongan, measles, rubela) karena memang sudah telat. MMR, kan, sebaiknya, diberikan saat usia 15 bulan, tapi memang bisa dikejar sampai usia 18 bulan. Kebetulan sebelumnya Arsa lagi nggak fit (demam) jadi terpaksa vaksin MMR-nya ditunda.

Nah, pas ketemu dr. Apin, disarankan Arsa sekalian divaksin varicela (cacar) juga. Kalau dilihat dari jadwal vaksin IDAI, vaksin ini bisa diberikan sejak anak usia 12 bulan, ya, dan bisa dikejar sampai anak mau masuk usia Sekolah Dasar. Tadinya, gue pikir nanti ajalah vaksinnya, toh, bisa ditunggu. Tapi, kata dokter sekalian saja daripada bolak-balik. Jadi, vaksinnya di masing-masing paha. Akhirnya, jadilah, tuh, varicela. FYI, di klinik macam Markas Sehat, vaksin Varicela dibandrol dengan harga 500 ribu, sedangkan MMR 400 ribu. Harga bisa berbeda tergantung tempat vaksin, tapi paling cuma beda sedikit, ya. Belum termasuk jasa dokter anak.

Ndilalah, tanggal 14 Oktober, gue dan Bapaknya Arsa “notice” ada benjolan/bintil kecil kemerahan berair di punggung Arsa. Tapi, kami tunggulah, ya. Kira-kira bintil apa ini. Lagian, kan, Arsa sudah vaksin Varicela. Masa iya masih kena? Meski masih ada kemungkinan kena, sih. Jadi, kans kena suatu penyakit setelah divaksin itu antara 0% (tidak kena sama sekali) atau memang masih bisa kena. Tapi, kemungkinan kedua ini lebih kecil/jarang persentasenya, dan lebih ringan simtomnya.  Jadi, Bapak-Ibu kalau anaknya sudah vaksin ini-itu dan masih kena penyakitnya, ya, jangan marah-marah atau bilang vaksinnya palsu, ya.

Rabu 16 Oktober itu, gue dihubungin pihak daycare kalau bintilnya Arsa makin menyebar dan kami disuruh menjemput Arsa untuk diperiksakan. Tentu saja karena khawatir virusnya menular ke anak-anak lain. Apalagi bayi dan anak, kan, daya tahan tubuhnya lebih lemah dan pasti banyak di antara mereka yang belum vaksin Varicela. Sorenya, kami jemput Arsa yang ternyata ditaruh di ruang “isolasi” sendirian bersama satu orang pengasuh hahahaha . . . Jadi, ada satu kamar yang memang sedang direnovasi untuk kamar tidur balita. Karena nggak dapat jatah konsul di dokter Markas Sehat, kami ke BWCC, tempat dulu gue periksa kehamilan dan Arsa biasa vaksin sebelum mencoba Markas Sehat.

Menurut DSA BWCC, Arsa memang positif kena cacar, namun diagnosisnya lebih ke arah KIPI (kondisi ikutan pasca-imunisasi), yaitu kondisi atau simtom setelah imunisasi. Kalau anak abis vaksin, kan, kerap demam, tuh. Nah, demam itu termasuk KIPI. Cacar ini juga, jadi karena vaksin Varicela ini adalah jenis vaksin hidup di mana yang dimasukkan ke tubuh adalah virus hidup, jadi, kata dokter, ada kemungkinan justru memancing timbulnya penyakit yang ingin dicegah itu. Tapi, memang munculnya 2 mingguan pasca-imunisasi alias ndak instan macam demam. Bukan cuma cacar, vaksin MMR pun punya kemungkinan memunculkan ruam rubela. Tapi KIPI jenis ini (memunculkan penyakit yang dicegah) memang jarang, meski wajar terjadi.

Sebelumnya, gue sempat baca-baca tulisan soal perbedaan bintil roseola, rubella, cacar air, hingga flu singapur. Memang bintil di tubuh Arsa ini lebih mengarah ke cacar. Padahal, di sekitar Arsa nggak ada penderita cacar. Justru yang tengah merebak itu flu singapur. Oh, iya, kalau flu singapur ini ruamnya cenderung timbul di sekitar tangan, kaki, dan mulut. Makanya, nama lainnya adalah hand, foot, and mouth disease. Ciri dari roseola dan rubella silakan di-Googling, ya. Takut salah. Pokoknya, yang ruamnya berair, ya, berarti mengarah ke cacar. Kalau “hanya” ruam merah-merah, bisa jadi roseola. rubela, atau flu singapur.

Kenapa dokter bilang cenderung ke KIPI, bukan infeksi saja? Karena simtomnya Alhamdulillah lebih ringan. Arsa tidak demam jelang bintilnya membanyak. Biasanya demam dulu, kan, baru muncul bintil cacar. Arsa juga tidak rewel, nafsu makannya masih oke (meski emang sehari-hari nggak banyak-banyak banget makannya). Gatal juga sepertinya nggak. Tapi, kata dokter memang harus tetap dievaluasi, paling tidak seminggu, memang KIPI atau infeksi sungguhan. Dan tidak boleh banyak interaksi dengan orang banyak. Bahkan, pihak daycare minta agar sebelum kembali ke daycare Arsa dibawakan surat keterangan dokter bahwa dia sudah benar-benar sehat. Dokter  BWCC bilang, anak-anak yang sudah masuk usia 12 bulan harap segera divaksin, ya.

Intinya, sih, entah ini infeksi atau KIPI, Arsa memang suspect cacar air. Tapi, Alhamdulillah, 3 hari saja bintilnya sudah mulai kering. Ibu sempat khawatir apakah demamnya menyusul, tapi sejauh ini aman. Mungkin memang KIPI, mungkin virus itu memang sudah ada sejak Arsa belum vaksin. Yang pasti, lewat perantara vaksin, simtomnya tidak terlalu parah. Waduh, untung awal bulan kemarin Ibu meng-iya-kan saran dokter untuk vaksin. Kepikirannya gitu aja, sih. Arsa saat ini masih dirawat di rumah. Kebetulan ada yang mengasuh di rumah sementara. Paling tidak di rumah dulu sampai 2 minggu untuk memastikan dia benar-benar sehat dan tidak menyebarkan virusnya.

 

Pengalaman ke Markas Sehat

Markas Sehat adalah klinik kesehatan yang digunakan untuk praktik dokter umum dan dokter anak. Nama klinik ini sudah lumayan terkenal di kalangan orang tua. Alamatnya sendiri ada di Jl. Taman Marga Satwa No.60, RT.12/RW.5, Jati Padang, Kec. Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan.

Jadi, Arsa, itu sudah 5 hari demam, batuk-pilek. Yang bikin panik, sih, demamnya. Secara sehari-hari Arsa, kan, di daycare. Berat dong untuk nitipin anak kalau dia lagi sakit. Khawatir kerjanya juga. Senin-Selasa, awal Arsa sakit, gue sempat cuti. Rabu-Jumat, syukurlah demamnya berangsur membaik, tapi malamnya dia selalu demam lagi. Bahkan sampai 39 derajat sekian. Ujung-ujungnya ya kasih paracetamol karena kalau demam tinggi gitu, Arsa tidurnya nggak nyenyak, kebangun terus dan rewel.

Meski gue sudah cukup yakin kalau penyebab demamnya adalah common cold, tetap saja rasa khawatir itu ada. Gue dan suami sama-sama kerja, di rumah tanpa helper, dan Arsa harus ke daycare dengan kondisi kesehatan yang nggak tentu. Okelah, Sabtu coba ke Markas Sehat.

Anyway, di Markas Sehat jadwal dokternya selalu berubah tiap bulan. Bukan orangnya, tapi harinya. Beberapa dokter malah harus dipesan beberapa hari sebelum jadwal praktik. Jadi, H-1 itu coba aja daftar dengan dokter yang kira-kira ada dan masih bisa daftar. Dapatlah nama dokter Windhi Kresnawati. Oh, iya, di Markas Sehat juga ada dr. Apin yang famous di kalangan ibu-ibu, dan dr. Endah Citraresmi yang terkenal karena subspesialis alergi. Silakan minta jadwal praktik mereka ke admin Whatsapp Markas Sehat.

Singkat cerita, Arsa dapat nomor kunjungan ke-12 dan diperkirakan masuk kamar praktik jam 11. Ya, namanya juga dokter spesialis, antrenya lamaaa. Arsa akhirnya baru masuk kamar dokter jam 1an gitu. Untungnya Markas Sehat punya ruang tunggu luas dengan maianan anak yang bikin Arsa betah.

Giliran Arsa diukur BB, TB, dan LK-nya. Seperti sudah ditebak, anaknya cranky nggak mau lepas. Akhirnya terpaksa ditimbang barengan Ibunya, lalu dikurangi dengan BB si Ibu. Cara ini akhirnya diprotes dr. Windhi hehehe..

Saat diperiksa, kan, Bapak-Ibu Arsa cerita keluhannya. Pas di bagian cerita Arsa pernah diopname karena demam tinggi berhari-hari, dr. Windhi mulai cerewet hahaha.. Intinya, si Arsa emang cuma common cold. Itu bisa sembuh sendiri. Justru orang tuanya yang harus “dibenerin”. Jangan mudah panik. Banyak baca, katanya.

Gue bilang, sih, gue dan suami sama-sama kerja, jadi kalau Arsa sakit, kita dilema. Kerja atau cuti. Siapa yang urus. Apalagi anak pertama. Jadi pilihannya ya langsung bawa ke rumah sakit atau dokter. Dimarahinlah kami di situ. Dokter Windhi ini tipe dokter yang bakal cerewet abis ke orang tua. Enak, sih. Suami juga jadi ketagihan berobat ke beliau. Dokternya bikin kita sebagai orang tua jadi nggak mudah panik.

Dokter bilang nggak apa-apa kalau pas panas tinggi kasih paracetamol atau ibuprofen, kalau memang anaknya rewel dan sulit tidur atau cengeng. Jadi nggak harus tunggu 38,5 derajat celcius banget. Tapi ini harus dikonsultasikan ke DSA, ya. Kalau batuk-pileknya ya nggak usah dikasih obat. Alhasil, pulang dari sana kami memang cuma bawa nasihat doang. Orang tua zaman dulu atau yang medical oriented pasti ndak puas hehehe.. Tapi, zaman sekarang, kan, yang dicari emang dokter Pro-RUM (rational use of medicine), ya.

Dokter Windhi malah “muji” Arsa yang ditaro di daycare. Anak daycare, mah, kuat-kuat, katanya. Mungkin bermaksud menenangkan hati gue, ya. Lagian di daycare nanti bisa ketemu teman-teman untuk sosialisasi, tambahnya. Kalau khawatir, ya, bawain aja paracetamol untuk jaga-jaga kalau demam. Emang selalu dibawain, sih. tapi, tetap aja ada guilty feeling untuk menaruh Arsa di daycare saat dia sakit. Huft.

Terus, di usia 15 bulan ini, kan, Arsa “belum mau” jalan. Doi mau jalan kalau dititah sebelah tangan. Kalau dilepas, dia bakal duduk lagi. Pas gue nanya, “Dok, perlu beli pushwalker, nggak?” Dokter bilang buat apa? Mending uangnya buat beli kuota (orang tuanya disuruh browsing biar pinter) atau makanan enak. Haiahhhh~ Nanti juga dia (Arsa) lari-lari, kok. Katanya.

Terus, Ibu-Bapak Arsa dikasih PR untuk baca minimal sejam tiap hari tentang kesehatan anak. Bahahaha. Asli, ya, kayak disidang. Padahal mau nyelak bilang kita sudah banyak baca, tapi dokternya cas-cis-cus terus yang buat kami jadi iya-iya dok. Bener juga, sih, Dok. Dokter juga bikin list di buku apa saja tanda bahaya kalau anak sedang demam. Hal-hal yang sebenarnya kita sudah baca, tapi tetap saja luntur ilmunya kalau anak sakit. Panik, Bok.

Lagin si Arsa masih aktif, kok. Itu salah satu sinyal positif katanya. Buktinya pas mau dicek telinga, Arsa cranky dan meronta-ronta. Dokter juga protes soal BB Arsa dan vaksin Arsa. Katanya BB-nya kurang tapi ini harus di-plot dari awal karena beda tempat hasilnya beda hasil timbangan. Kalau soal vaksin, kata dokter, dulu (waktu Arsa belum setahun), kenapa vaksinnya harus sebulan sekali. Bisa, lho, sekaligus 2 macam vaksin sekali kunjungan, misal di paha kiri dan paha kanan. Kalau yang ini gue belum banyak baca dan kok kayaknya nggak tega, ya, hohoho..

Ikhtisar, so far kami cukup puas dengan dr. Windhi. Selama ini kan Arsa ke DSA hanya untuk vaksin. Jadi nggak pernah dapet pengalaman dokter yang asik diajak ngobrol soal “sakit”. Terakhir, pernah konsul ke Dr. Ni Ketut Prami (Ami) di KMC. Beliau juga rekomen, lho. Tapi karena alasan ke KMC agak jauh dan lebih mahal, sekaligus mau coba layanan Markas Sehat, jadilah ke Markas Sehat.

Anyway, pengalaman, kan, subjektif. Enak di gue, cocok di gue, belum tentu sama cocok di orang lain. Tapi, setidaknya bisa ada rekomendasilah, ya, kalau Parents bingung nyari DSA yang bagus. Selamat jajan dokter. Selamat belajar, duhai Parents.

Nanti Kita Misuh tentang Hari Ini

Here it is.

Jika ada yang bertanya apakah saya tidak mengalami kesulitan dalam menyusui, mungkin tulisan ini bisa jadi jawaban. Dulu, perjalanan ASI eksklusif Arsa pernah saya tulis di IG @desimandasari.af dengan tagar #ASIX jika mau tahu bagaimana dulu saya dan Arsa berjuang untuk lulus ASIX.

Another day. Di usia Arsa menjelang 15 bulan. Masih 9 bulan lagi untuk lulus S-3 ASI. Jika memang ingin menggenapi anjuran, baik WHO hingga agama.

Saya putus asa (lagi). Hasil pompa terus merosot tiap hari. Memang masih sering hasilnya “lumayan” dalam artian Insha Allah cukup untuk kebutuhan Arsa tiap hari. Tapi, hasil yang makin sedikit pun tidak jarang. Tentu saja ada penyebabnya, meski saya nggak tahu yang paling berdampak yang mana. Mulai dari frekuensi pumping dan DBF yang sering skip antara lain karena Arsa sudah mulai makan, atau karena sayanya aja yang lalai. Menganggap Arsa sudah boleh minum UHT lah, Arsa inilah-itulah. Terus, sejak Arsa sakit sampai diopname kemarin, entah ini berhubungan atau tidak, atau karena penyebab lain, Arsa tuh sekarang sering banget begadang kalau malam hari.

Dulu, dia memang sering bangun, tapi hanya untuk nenen dan tidur lagi. Kalaupun begadang, sesekali aja, nggak hampir tiap hari kayak sekarang. Begadang dalam artian Arsa bangun untuk main, matanya seger, bisa satu jam atau lebih baru mau ditidurin lagi. Memang, saat Arsa begadang, saya lebih sering meminta Bapaknya yang menemani, nanti kalau Arsa sudah ngantuk lagi, saya lagi yang ambil alih. Tapi, tetap saja, rasanya nggak bisa tidur nyenyak dan kepikiran.

Kalaupun tidak begadang, Arsa kerap minta ngempeng. Kalau nenennya dilepas, dia akan bangun dan nangis. Dan nangisnya itu lho, ngamuk atau teriak-teriak sampai guling-guling. Drama pokoknya. Entah ada yang nggak nyaman di badannya (tumbuh gigi, dll), atau memang dia mau manja aja mengingat kedua orang tuanya bekerja seharian. I dunno. Yang jelas makin hari, gue makin gak waras (dan suamipun pasti capek).

Hari ini, paduan antara kurang tidur, galau karena menyesal sudah marah ke Arsa semalam, dan capek tiap hari antar-jemput daycare, plus makan yang sudah mulai nggak bener, hasil pumping turun. Anehnya, saat DBF pun Arsa mulai suka nggak serius. Suka dimainin aja, hanya sesekali dia menyusu dengan posisi latch on yang baik dan serius. Hal ini membuat saya yang merasa nggak pede lagi. Apa ini gara-gara ASI saya mulai turun, baik kualitas ataupun kuantitas. Meski hal ini juga tidak aneh karena di usia Arsa, kebutuhan gizi dari ASI baginya hanya 30%, sisanya dari makanan.

After pumping, keluarlah misuh-misuh saya ke Allah. Kira-kira gini, saya sudah capek beusaha. Sejak dulu Arsa mengejar ASIX, cobaannya ada terus. Mungkin sudah cukup menyusui Arsa sampai sini. Saya pengen kayak orang dulu aja yang ngomong “Nggak ASI-pun anak gue tetap hidup”. Saya selama ini sudah menyemangati diri sendiri, menyemangati orang lain, tapi nggak sadar ternyata saya sudah lelah luar biasa. Gak apa-apa deh Arsa minum UHT aja atau sufor, sekalian kasih dot kalau perlu. Saya nggak peduli. Kalau perlu Arsa dititip di kampung sama Mbahnya juga gak apa-apa. Saya pengen waras, udah capek menyusui, pumping. Pengen tidur nyenyak kalau malam. Saya rindu tidur lama. Mungkin sudah cukup usaha saya untuk menyusui Arsa sampai sini. Nggak bisa sampai dua tahun sesuai perintah Allah. Kalau memang Allah mau memudahkan, pasti akan dimudahkan. Tapi saat ini saya nggak peduli. Semua terasa capek. Kerja. Antar-jemput daycare. Nyusuin Arsa. Begadang. Urusan rumah, nyuci dll. *Sambil menangis deh ini*

Kala ini, saya sudah nggak bisa berpikir positif. Meski ingat ada banyak hal yang bisa saya syukuri. Bukankah semua ini juga akibat pilihan saya sendiri. Saya memilih bekerja keluar rumah. Saya dan suami memilih tidak menitipkan Arsa ke Mbahnya di kampung. Saya dan suami memilih tidak memakai jasa pengasuh. Saya harus bersyukur saya dan suami sepakat, tidak berdebat soal pilihan ini. Saling mendukung.  Setidaknya, saya juga merdeka untuk memilih. Saya juga merdeka untuk tidak tinggal dengan mertua.

Tapi maaf, ya Allah, saat ini lelah membuat saya ingin mengeluh dan sejenak tidak mengingat hal-hal baik itu. Mungkin orang lain melihat saya lancar-lancar saja dalam menyusui. Makanya, saya heran dengan ibu-ibu yang saling menyudutkan pilihan ibu lain atau overglorifikasi pilihannya tanpa mempertimbangkan pilihan ibu lain, entah itu working mom-full time mom, atau lainnya. Jadi ibu sudah sangat lelah, cant you all, mommies over there, just stop being a trash?