Long Way #1: Ring, Ring, Ring

Dengan waktu yang dirasa cukup sempit, Sabtu 18 Maret kemarin, gue dan Argo mulai mencari cincin. Cincin ini akan digunakan saat lamaran sekaligus sebagai cincin kawin. Tempat yang kami datangi adalah Cikini Gold Center (CGC). Lumayan sulit untuk menemukan cincin yang cocok karena:

  1. Banyak toko di CGC tutup
  2. Ukuran jari gue yang kelewat kecil

Kami berkutat cukup lama mencoba cincin demi cincin di dua toko awal, yaitu Toko Kemenangan dan satu lagi gue lupa namanya. Jari gue ternyata berukuran 6. Iya 6! Kebanyak cincin cewek berukuran paling kecil 8 yang ready stock. Cincin bisa aja di-resize dengan menunggu satu jam, syaratnya tidak lebih dari dua nomor, misal dari 9 ke 7. Jika lebih dari itu, hiasan cincin bisa rusak.

Untung dua toko pertama itu punya pelayanan yang sangat ramah, jadi nggak keberatan ketika akhirnya kami nggak jadi beli. Sampai di titik ini, gue mulai stres. Tentu karena sebelumnya gue sudah membayangkan akan membawa pulang cincin saat itu juga. Akhirnya, setelah naik ke lantai atas lalu turun lagi, lalu muter-in ulang lantai dasar, kami diarahkan ke satu toko namanya Bukit Emas. Asiknya, di BE ini kita bisa request mau dibuatkan cincin berapa lama. Umumnya, pembuatan cincin memakan waktu 1-4 minggu tergantung load pesananan. Toko-toko sebelumnya meminta waktu 3-4 minggu, sedangkan kami butuh cincin itu sebelum tanggal 1 April. Ga sampe dua minggu.

Di Bukit Emas, Si Kokoh menyanggupi untuk membuat cincin dalam waktu 10 hari. Alhamdulillah. Setelah sreg sama satu model (dipengaruhi oleh faktor lelah juga, sih, jadi nggak pilih model yang neko-neko), kami akhirnya pesan cincin emas putih dengan hiasan batu Zicron di setengah kelilingnya. Totalnya sekitar 3,5 gram saat jadi nanti (sesuai ukuran jari manis tangan kanan gue). Per gram, BE mematok harga Rp400.000. Jika ingin ditambah berlian, waktu itu kami ditawarkan harga Rp100.000 per butirnya.

Untuk menghemat budget dan karena gue bukan tipe penggila jenis perhiasan, maka zicron tetap jadi pilihan. Biaya pembuatan adalah Rp450.000/cincin. Waktu itu, Si Kokoh meminta DP pembuatan 1 juta rupiah, sisanya dilunasi saat cincinnya selesai. Kami memang sepakat awalnya untuk nggak beli cincin buat Argo (emas memang nggak boleh, tapi bisa pakai paladium atau perak, kok) karena dia nggak nyaman pake perhiasan. Si Cici pemilik toko bilang, “Wah, itu modus biar nggak ketahuan sudah nikah, tuh!” Hahahaha sukurin! Oh iya, biaya 1 juta sekian itu sudah include grafik nama pasangan di dalam cincin.

Soal bentuk cincin yang sudah jadi, nanti Insya Allah akan gue post bareng tulisan ‘Long Way’ lainnya. Nggak sabar lihat bentuk cincin jadinya, semoga sesuai keinginan dan benar-benar cocok di jari gue. Bisa jadi, saat pengambilan cincin, gue jadi tertarik beli cincin untuk Argo :p

Oh, iya. Tadinya, kami ingin masuk ke toko emas Kenang karena toko ini direkomendasikan di Internet. Tapi, pengunjungnya lagi rame banget untuk ukuran toko sekecil itu. Saran gue, sih, coba cari-cari di toko lain. Worth it, kok. Kami juga berencana survei ke seputaran Blok M, tapi setelah berhasil menemukan Bukit Emas . . . ya nggak jadi. See you in the next post!

Iklan

Satu respons untuk “Long Way #1: Ring, Ring, Ring

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s