Menyatukan Dua Keluarga Lebih Pusing daripada Main Candy Crush

Pernikahan memang menyatukan dua keluarga. Secara teori, hal itu gampang diingat dan diiyakan. Tapi, secara praktik untuk diterapkan? Belum tentu mudah. Apalagi kalau kamu adalah tipe yang segan basa-basi atau kumpul ramai-ramai. Saya terkadang berkumpul sama keluarga sendiri saja butuh mikir-mikir, apalagi sama keluarga suami yang notabene sebuah kelompok baru dalam hidup saya. Meski memang, secara hukum, mereka sudah jadi keluarga saya juga.

Bukannya saya tidak percaya kalau keluarga itu segalanya, harta yang paling berharga adalah keluarga, atau saat susah hanyalah keluarga yang selalu hadir. Bukan. Sejak dulu, mungkin di antara anggota keluarga yang lain, saya sepertinya jadi orang yang paling ‘malas’ larut dalam kegiatan haha hihi keluarga, kecuali kakak-kakak langsung. Bisa jadi karena saya juga orangnya ‘nggak enakan’. Kalau di rumah sendiri, bersama kakak-kakak sendiri, atau sama suami saja, saya punya otoritas untuk melakukan apa saja seenak jidat: tidur gelempangan di lantai, santai kayak di pantai berjam-jam, ngupil, serdawa, liat medsos sambil mentertawakan status orang, main game di ponsel sampai asyik, dll. Di rumah orang lain, saya tidak enak jika harus menganggap itu sebagai ‘rumah saya sendiri’. Seolah saya terpaksa bertata karma atau belaku manis hanya untuk mendapatkan respect dan ucapan “lain kali main ke sini lagi, ya”. No.

Mungkin itu hanya soal pembiasaan. Buktinya teman-teman saya yang sudah menikah dan tinggal dengan mertua akhirnya nyaman-nyaman saja dan merasa itu rumah sendiri. Kayaknya. Tapi, jenis orang seperti saya tampaknya harus memiliki waktu lebih lama untuk adaptasi ini. Hahaha …

Makanya, balik lagi saya bilang pada praktiknya menyatukan dua keluarga itu belum tentu mudah, meski tidak mustahil. Saya termasuk beruntung mendapat keluarga dari pihak suami yang ‘welcome’. Kasarnya, kami tidak memiliki masalah. Belum lagi mertua yang baik yang kerap menanyakan kabar via telepon/Whatsapp, bahkan lebih sering dari keluarga saya sendiri (yang memang tipikal cuek-cuek, tapi sayang). Saya sadar tidak semua orang memiliki kemewahan ini, bukan hanya melihat dari sinetron, tapi hal-hal nyata yang kerap saya dengar dan lihat langsung.  Sungguh salut kepada mereka yang bisa menjalani hidup pernikahan dengan masalah hubungan komunikasi dengan keluarga istri/suami. Meski pada akhirnya, sebaik apa pun keluarga barumu, orang tua barumu, tidak akan pernah bisa mengganti posisi keluarga dan orang tuamu langsung.

*Dibuat saat galau ketika harus memilih ikut suami kondangan bareng teman-teman kantor atau ditinggal bareng keluarga suami yang sedang kumpul.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s