Story: Dua Keturunan Ibu Lina

Terhitung sudah hampir 6 tahun Aldo dan Bayu tidak berkomunikasi. Sebuah anomali untuk hubungan kakak-adik. Kandung, tentu saja. Sesekali mereka hanya berkomunikasi ketika harus mengabarkan bahwa ibu mereka kambuh sakit gulanya. Itupun hanya kabar singkat, kemudian pertemuan canggung yang nyaris tidak ada basa-basi. Aldo tidak pernah berusaha memulai, begitupun Bayu.

Ibu Lina sudah tidak terhitung membujuk agar kedua anaknya berbaikan. Mengatakan bahwa sebagai kakak, Aldo harus coba mengalah, memaafkan Bayu. Ketika saran itu tidak didengar, ia meminta Bayu sebagai adik terlebih dulu mengunjungi kakak dan meminta maaf, meski Ibu Lina tahu kedua anaknya sama-sama keras hati. Buat apa mengalah, kata Aldo. Bukankah sejak awal Bayulah biang keladi pertikaian ini. Tidak perlu minta maaf, kata Bayu, keputusan yang diambil adalah hasil pemikirannya bersama sang istri, Astri. Keputusan yang dahulu memicu pertikaian. Lagipula, Astri sudah pernah memaksa Bayu meminta maaf. Karena cinta, Bayu memenuhi, meski Aldo tetap bungkam.

Tidak letih Astri dan Ibu Lina membujuk Bayu atau Aldo untuk kembali menjalin hubungan yang normal layaknya keluarga lain. Ketika hari raya, Aldo dan Bayu nyaris tidak pernah mau mendatangi rumah Ibu Lina jika tahu salah satu dari mereka sedang hadir. Beruntung keduanya tetap rutin menengok sang ibu, meski bergantian. Ibu Lina yang sudah tua dan sakit-sakitan malah tidak pernah mau diajak tinggal dengan salah satu dari mereka. Mungkin sebuah pemberontakan karena kesal kedua anak laki-lakinya tidak akur atau justru tidak mau merepotkan sama sekali. Sebelum ibu mati, tolong kalian berbaikan. Aldo dan Bayu hanya bergeming ketika suatu waktu Ibu Lina mengatakan itu.

Sungguh masalah perasaan dapat merusakan hubungan kompleks yang telah dibangun berdasarkan keturunan. Ibu Lina tidak pernah ingin menyalahkan Aldo, Bayu, bahkan si sumber pertikaian, Astri. Menantu yang sudah dinikahi anak bungsunya itu nyatanya memang mencintai Bayu sepenuh hati. Perempuan yang baik, ramah, penyayang, dan pintar mengurus suami serta anak-anaknya yang kini sudah berjumlah dua. Bisa jadi kriteria Astri itu yang dulu juga membuat Aldo mencintainya. Sebelum akhirnya hubungan dua tahun itu berakhir ketika Bayu mengenal Astri dan mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah.

Dulu, Ibu Lina sempat marah kepada Astri. Kenapa ia dengan mudah membuang Aldo dan berpaling ke Bayu. Namun, rasa marah itu tidak menggebu karena di dalam hatinya Ibu Lina tahu pada akhirnya Bayu yang akan menang. Hubungan Aldo-Astri sudah berkali-kali putus sambung. Berpuluh tahun membesarkan Aldo, Ibu Lina sifat Aldo tidak memenuhi keinginan Astri. Bukan karena Aldo tidak baik atau bajingan, namun akhirnya Ibu Lina mengakui bahwa Bayulah yang akan mendapatkan Astri. Aldo harusnya mencari wanita lain, yang meski sudah pernah dilakukannya, hubungan itu kerap tidak berujung di pernikahan, dan Aldo masih menyimpan dendam kepada Bayu. Mungkin memang belum saatnya Aldo berpasangan, pikir Ibu Lina.

Hari ini, sudah sepekan Ibu Lina terbaring di ranjang karena penyakitnya kambuh. Kedua anaknya bergantian membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit. Ajakan itu hanya dijawab dengan gelengan, bahkan meski kedua orang cucunya yang meminta. Di luar kamar sang mertua, Astri berbicara pelan kepada Bayu, memohonnya untuk mengajak Aldo berbaikan. Meminta Bayu mengalahkan ego demi sang ibu. Bayu bimbang, seperti biasa, namun kali ini perasaan itu lebih kuat. Membuatnya bingung harus memulai dari mana dengan Aldo. Apa harus menunggu Ibu pergi selamanya baru kalian mau berbaikan. Kalimat itu terngiang di telinga Bayu. Ia kembali mengingat permintaan ibunya. Ia mencari nama Aldo di daftar kontak ponselnya, mengetikkan pesan karena menelpon terlalu berat baginya.

Hari ini Aldo dan Bayu berdiri berdampingan pertama kali sejak 6 tahun. Astri bahkan berada di antara mereka. Bukan untuk memulai pertengkaran seperti dulu saat Bayu berkata akan menikahi Astri. Kedua anak Astri bersimpuh di atas tanah merah, menaburkan bunga dan menuangkan air dari dalam botol. Tidak ada tangis lagi. Kemarin malam mereka sudah meluapkan semuanya; tangis, penyesalan, rindu, dan maaf. Semua mengantarkan Ibu Lina menutup mata untuk selamanya, namun dengan senyuman yang akan diingat abadi.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s