Life with Arsa #1

Good to be back here with another new chapter.

Bisa kembali memulai rutinitas menulis blog di antara kesibukan mengurus bayi dan bekerja. Wow. Iya, bayi kecil itu sudah hadir ke dunia pada 26 Mei 2018. Alhamdulillah. Saat saya menulis ini, usianya sudah masuk 3,5 bulan dan tentu saja cuti melahirkan saya sudah berakhir. Blog ini ditulis di meja kerja saya lagi.

26 Mei, 10 Ramadan. Sehari setelah cuti melahirkan saya ambil. Sejak dua hari sebelumnya, flek sudah bermunculan. Berbekal pengetahuan seadanya, saya tahu bahwa anak ini akan segera lahir. Jumat 25 Mei, saya masih bekerja hari terakhir sebelum cuti. Saat sahur, saya sempat bertukar pesan Whatsapp dengan obgyn saya, menanyakan apa yang harus saya perbuat dengan flek yang bermunculan. Kontraksi pun sudah terjadi, meski belum teratur. Katanya, sebaiknya saya menunggu kontraksi datang teratur, baru datang ke klinik. Jumat malam, kontraksi makin sering muncul, masih belum teratur dan singkat-singkat saja, meski sudah membuat saya sulit tidur. Sedikit-sedikit saya meremas lengan suami yang tertidur di sebelah saya. Akhirnya, setelah sahur, rasa sakit yang tidak karuan membuat suami mengajak saya ke bidan terdekat.

Di sana, saya dinyatakan sudah memasuki pembukaan kedua. Namun, kepala bayi masih belum turun. Tenaga kesehatan di sana menelpon rumah sakit mitra untuk meminta pendapat. Tara! Saya ditawari untuk sectio caesar pagi itu juga, jam 7. Padahal sorenya, saya ada jadwal bertemu Dr. Dini (obgyn). Tapi, apakah saya masih kuat menahan sakit kontraksi hingga sore hari? Apakah nanti Dr. Dini akan memberikan opsi lain atau berujung caesar juga? Di tengah menahan rasa sakit, saya dan suami sepakat menyambut anak kami pagi itu juga dengan perantara caesar.

Saya diantar oleh para bidan menggunakan taksi online ke rumah sakit rujukan. Suami mengiringi menggunakan motor. Di sana, setelah beberapa tes dan urusan administrasi, saya “disiapkan” untuk operasi. Hanya saya dan suami saat itu dan tanpa membawa perlengkapan melahirkan satupun yang sudah kami siapkan di rumah. Saya akhirnya menjalani operasi sekitar jam 8 pagi dengan seorang dokter yang pernah memeriksa saya pada awal-awal kehamilan. Pertemuan yang tidak sengaja karena kebetulan beliau yang bertugas operasi pagi itu. Tapi, beliau juga sudah lupa saya, sih, pasti hehe..

Bagaimana rasanya dioperasi? Wuih rasanya..

Tapi, sekarang saya kerja dulu, ya. Lagi banyak kerjaan, Cuy. Lanjut di tulisan berikutnya. Soal melahirkan, perjalanan merawat newborn, baby blues, menyusui, dan lain-lain. Huft, so little time so much to write ini namanya :p

Iklan

Engap

Hah. Finaly, 36 weeks. Besok sudah 37 weeks malah. 37 weeks berarti sudah hilang satu lagi kecemasan, yaitu kelahiran sebelum waktunya hehe.  Memang cemas dan parnoan, ya. Apa banyak juga ibu hamil kayak gini? Kalau trimester awal khawatir akan janin yang masih lemah, trimester ketiga khawatir si bayi lahir terlalu cepat atau terlalu lama.

Katanya, kalau minggu ke-36 hitungannya masih pre-term atau masih terhitung premature walau sudah menjelang awal 9 bulan. Kalau sudah masuk (minimal) 37 weeks hingga 40 weeks itu usia yang pas untuk melahirkan, sedangkan lebih dari 40 weeks disebut post-mature, atau cenderung terlambat.

Apa saja yang dirasakan di trimester 3 jelang HPL ini? Susah tidur sudah pasti. Tidur lurus telentang bikin sesak nafas karena rahim menekan jalur nafas, tidur miring ke kiri atau kanan perut ngilu karena si janin masih mengikuti gravitasi. Apalagi, janin saya cenderung agak besar untuk ukuran tubuh saya yang minimalis. Morning sickness juga kembali lagi, meski tidak separah trimester pertama, siang dan malam saya kembali nafsu makan dan ngemil, juga minum minuman manis. Di minggu-minggu ini, saya doyan sekali minum minuman manis, seperti sirup, es teh, atau es cokelat. Padahal, zat gula bisa menambah BB si bayi hehehe..

Kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman membuat saya harus menunggu hingga kantuk datang dengan hebatnya. Biasanya saya duduk-duduk dulu sampai mata benar-benar berat, baru kemudian dibawa rebahan. Gangguan lainnya adalah rasa “engap” dan sakit pinggang. Stress? Tentu saja. Namanya juga jelang HPL. Apalagi anak pertama. Belum ada pengalaman.

Masuk di minggu 36 lalu, saya menjalani cek ukuran panggul sesuai saran Obgyn. Metodenya adalah dengan memasukkan jari ke jalan lahir selayaknya cek status pembukaan. Saya sudah ngilu seligus khawatir membayangkannya. Khawatir metodenya, juga hasilnya. Benar saja, panggul saya dinyatakan berukuran agak “pas-pasan”. Bayinya tidak boleh terlalu besar. Selain itu, kepala bayi belum masuk ke jalan lahir. Bisa jadi karena ukuran panggul yang kecil atau ketubannya yang masih terlampau banyak. Jadi, sang Obgyn memutuskan akan mengobservasi ukuran panggul saya tiap minggu hingga usia kehamilan 40 minggu.

Pada beberapa kehamilan, memang si janin sudah turun ke jalan lahir pada minggu 36 atau 37, tapi karena kasus ibu hamil tidak sama, ada juga yang baru masuk panggul pada minggu 38-40 atau lebih. Namun, obgyn saya sepertinya memiliki batas waktu tunggu untuk persalinan normal, yaitu 40 weeks saja. Selebih itu, dia khawatir akan kondisi ketuban dan bayi. Oke, berarti untuk 4 minggu berikutnya, saya masih akan diobservasi lewat vaginal check dan USG hehehe.

Ketika saya mencoba berobat ke bidan (yang Alhamdulillah ramah dan enak diajak ngobrol), memang si janin belum turun ke jalan lahir. Bidan meraba perut (sekaligus meremas perut bagian bawah) untuk mengetahui posisi badan, khususnya kepala bayi. Seperti saran yang juga saya dapatkan dari obgyn, orang sekitar, dan artikel-artikel, saya diminta melakukan beberapa ikhtiar, seperti sujud, gunakan birthing ball, dan gerakan lain yang katanya bisa membantu janin turun ke jalan lahir. Memang saya juga agak pemalas, sih, sejauh ini. Harusnya banyak pemberdayaan diri yang bisa dilakukan. Kadang saya mikir dengan jalan kaki pulang pergi ke kantor sudah cukup. Ditambah jadwal prenatal yoga yang bertepatan terus dengan jadwal kontrol kehamilan, sehingga saya tidak bisa ikut yoga.

Sekarang, saya antara pasrah untuk mengikuti observasi obgyn tiap minggu dan kontrol juga ke bidan dengan mengharap hasil apa saja. Kalau bisa normal, syukur Alhamdulillah, namun jika harus Caesar juga saya harus siap. Lemah, ya? Mungkin lebih ke menghindari stress saja, sih. Saya nggak mau memaksakan kelahiran normal jika dirasa membahayakan atau menimbulkan risiko bagi janin. Rasanya kedua proses akan sama-sama memberi saya tekanan kalau dipikirkan negatifnya, memang. Jadi, ada benarnya saya memasrahkan kepada janin untuk memilih jalannya, meski saya masih terus membujuk dia untuk masuk jalan lahir supaya ada harapan untuk proses normal itu.

Di sisi lain, saya juga enggan menunggu hingga melebihi usia 40 minggu. Alasan pertama, tubuh yang mini ini sudah engap sekali. Kedua, minggu ke-41 bertepatan dengan minggu Idul Fitri. Segan rasanya membayangkan melahirkan saat-saat itu, merepotkan pasangan, keluarga, sekaligus repot mencocokkan waktu dengan tenaga medisnya, meski lagi-lagi semuanya bisa diatur. Jadi, saya berharap sekali si janin sudah lahir pada minggu 38-40. Semoga, ya, Nak. Amin.

When It Comes Not So Easy

32 weeks already.

Beberapa hari lalu saya dan suami baru saja mengajak si janin babymoon ke Jogja. Rencana yang sudah ada sejak sebulan sebelumnya. Rencana yang mungkin sebaiknya direalisasikan lebih awal, bukan di trimester ketiga. Alasannya? Karena di tahap ini badan justru lebih mudah capek dan si janin makin aktif, sehingga kerap bikin perut ibunya kencang dan seolah kontraksi. Untunglah semua berjalan lancar dan di Jogja justru saya cenderung lebih happy dan banyak makan. Cerita lebih lengkap mungkin akan saya tuliskan lain kali, ya. Ini cuma sebagai bridging hehe..

Trimester ketiga. Kurang dari dua bulan lagi Insya Allah anak ini akan lahir. Terasa cepat sekaligus lama. Jika diingat-ingat saat kehamilan 6 minggu di mana saya pertama kali dinyatakan positif hamil dan tidak sampai dua bulan lagi akan melahirkan tentu rasanya cepat. Jika diingat dan dirasa dari segala fluktuasi emosi dan perubahan kondisi fisik, masa ini lumayan terasa lama. Sudah tidak sabar sekaligus belum siap menyambut anak pertama ini.

Trimester awal kehamilan diwarnai dengan morning sickness dan moodswing, trimester kedua terasa semua lebih baik. Tidak heran jika banyak orang menyebut trimester kedua adalah kondisi terstabil dan ternyaman selama hamil. Di trimester ketiga, pengalaman lain muncul. Sulit tidur karena mencari posisi yang nyaman sudah pasti. Miring kiri, miring kanan nyeri karena si bayi mengikuti wadahnya berkembang dan gravitasi, sehingga perut saya hampir selalu berbentuk tidak rata, mencong sana mencong sini, dan itu membuat rahim mengencang dan agak nyeri. Belum lagi jika si bayi menekan perut bagian bawah dan kandung kemih. Kontraksi palsu mulai muncul membawa perasaan khawatir. Saya sering berkomunikasi dengan si bayi agar dia sabar menunggu hingga 6-8 minggu lagi saking khawatirnya dia lahir terlalu cepat.

Selain itu, morning sickness kembali saya rasakan meski tidak seintens trimester pertama. Sering kali, di pagi hari, saya mual hebat dan memuntahkan makanan atau sekadar cairan. Tubuh juga lebih cepat lelah dan nafas ngos-ngosan. Obgyn sempat bilang ini juga bisa disebabkan karena tubuh saya terlalu mungil, sedangkan berat janin tergolong besar. Gangguan lain mungkin seperti batuk-pilek dan kerongkongan yang selalu berdahak.

Memang hamil itu tidak mudah.

Pagi tadi, sebelum sama-sama berangkat ke kantor, saya sempat ngobrol dengan suami. Orang-orang yang sangat ingin hamil atau tiba-tiba saja hamil (seperti saya) apakah pernah terlintas di pikirannya bahwa hamil itu tidak akan mudah? Meski tiap ibu berbeda kasus, namun tetap saja membawa makhluk bernyawa dengan segala perubahan fisik dan emosi selama 9 bulan itu tidak bisa disepelekan. Mungkin memang kita harus merasakannya dulu baru paham. Contohnya saya, ketika kerap mengeluh saat hamil, saya kadang berusaha mengingat bahwa banyak dari wanita di luar sana berharap hamil seperti saya, jadi bersyukurlah. Mungkin ketika anak ini lahir memang semuanya akan terbayar. Perjuangan selama 9 bulan itu akan tergantikan oleh rasa yang tidak terperi. Buktinya, banyak pula wanita yang pernah mengalami kehamilan dengan masa-masa yang berat tidak kapok untuk hamil lagi.

Suami bilang: semua (keluhan) itu tidak berarti karena ada yang ditunggu (buah hati). Memang benar, sih. Tapi tetap saja, hamil bukan sekadar sebuah perjalanan akan memiliki anak. Tapi, perjuangan selama 9 bulan itu dan setelah ia lahir. Bukan hanya perjuangan oleh si calon ibu, tapi juga si calon bapak yang mendampingi. Terlebih kalau kita tinggal jauh dari keluarga. Seolah-seolah perjuangan hidup memang berawal dari sini. Bisa jadi, mereka yang menunda memiliki anak karena beragam alasan (karier, finansial, dll) akan semakin mantap menunda jika tahu rasanya pengalaman 9 bulan ini. Sebaliknya, mereka yang sudah niat penuh memiliki buah hati, pasti akan siap menjalani pengalaman ini. Seharusnya, sih, begitu.

Yah, memang saya harus merasakan melahirkan dan melihat dulu anak ini terlahir ke dunia agar rasa itu lebih lengkap. Semoga tidak ada trauma. Hehe.. Satu hal yang bisa saya simpulkan; hamil itu rasanya memang luar biasa. Nothing compares to it.

Fetus’s Day Out: Our Movie Time

Di usia kehamilan 6 bulan, sudah beberapa kali saya mengajak si janin nonton bioskop. Kalau tidak salah hitung sekitar 4 kali; Coco, Star Wars: The Last Jedi, Dilan 1990, dan terakhir Black Panther. Saya dan suami memang suka nonton bioskop. Sejauh ini, pengalaman nonton bioskop saat hamil baik-baik saja. Saya anggap saja sekalian mengenalkan si janin kepada suara. Tapi, makin ke sini sepertinya saya yang mulai nggak betah duduk lama-lama karena badan mudah pegal dan kram.

Masuk trimester kedua, morning sickness sudah jauh berkurang. Tapi, pengalaman lain mulai muncul. Mulai dari kulit perut dan dada yang gatal minta ampun, pinggul mudah pegal, kaki mudah kram, cepat ngos-ngosan, dan mulai susah menentukan posisi tidur hohoho… Apalagi, sehari-hari (weekday) saya memang duduk dari pagi sampai sore karena bekerja di depan komputer. Kalau kaki mulai terasa kesemutan/kram, paling nggak saya berdiri dan jalan-jalan ke toilet atau pantry buat ambil air putih atau teh hangat, setelah itu lanjut kerja. Kalau sakit di pangkal paha yang sempet bikin menyeringai nyeri untungnya nggak terus-terusan. Kata obgyn itu wajar karena rahim sedang melebar.

Lalu semalam, saat menonton Black Panther saya sempat keluar teater untuk sekadar jalan-jalan ke toilet dan duduk sekitar 10 menit di sofa lorong bioskop. Biasanya saya dan suami memang menonton di jam 8 malam ke atas karena kami sama-sama menunggu pulang kerja dan sempat pulang ke rumah dulu, lalu berangkat ke bioskop terdekat dari rumah. Tiket sudah dibeli suami lewat fasilitas online. Jadi, kami tinggal cetak dan sempat makan malam dulu.

Sambil nonton Black Panther, suami berkali-kali memijat kaki kanan saya yang memang lebih sering kesemutan. Posisi duduk saya entah sudah berapa kali berubah karena merasa benar-benar nggak nyaman. Suami bahkan sempat menawarkan pulang, padahal film baru berjalan sekitar setengah jam. Akhirnya, saya pilih keluar teater, kembali setelah sekian menit, dan tidak lama malah ketiduran karena ngantuk dan memang sedang tidak fit karena flu hahaha… Setelah itu, kaki mulai terasa nyaman, namun tidak lama terasa “gremet-gremet” lagi hingga saya harus cari posisi enak lagi yang diakhiri dengan bersila di atas kursi (my bad). Fiuh, akhirnya saya berhasil melewatkan nyaris 2,5 jam durasi film. Ditambah menunggu credit title selesai karena kami terbiasa menunggu post-credit scene untuk tiap film Marvel.

Pengalaman semalam memang tidak biasanya terjadi. Sekarang mungkin jadi berpikir ulang kalau mau menonton film setelah seharian duduk bekerja. Lebih baik sekalian tunggu akhir minggu (kecuali kebelet nonton hehehe tetep). Harus sering-sering bergerak biar nggak gampang kram kesemutan, meski sekarang mudah sekali ngos-ngosan. Semalam, saat film diputar si janin juga aktif banget. Entah dia memang sedang aktif atau keberisikan suara dari film, ya? Maafkan Ibu, Nak, sering ngajak kamu main, mulai dari ke bioskop, nonton konser, atau keluar kota. Sehat-sehat terus, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi *elus-elus perut*

Tidak Pernah Ada Destinasi yang Cukup

Menikah dan memiliki anak mungkin menjadi tujuan banyak orang, sementara banyak juga yang memutuskan tidak menikah dan memiliki anak. Menikah memang bukan perkara gampang dan serba-manis. Kenyataan banyak juga yang gagal dalam menjalaninya tidak jarang membuat kini banyak pula yang skeptis akan pernikahan, meski tidak menutup fakta banyak pula yang baik-baiak saja dalam menjalaninya.

Menikah dan memiliki anak, sama seperti banyak “pencapaian” dalam hidup lainnya, bukanlah sebuah tujuan. Saya pernah membaca tulisan di blog milik Edward Suhadi yang sudah menikah selama lebih dari 10 tahun dan sekarang sedang menjalani program untuk memiliki anak bersama sang istri (baca di sini dan di sini.) Ia mengutip sebuah kalimat dari Casey Nestat, “In life, we never arrived”. Artinya, kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada sebuah destinasi. Pencapaian yang kita dapatkan hari ini adalah awal baru dari jalan yang terbuka setelahnya.

Contoh, ketika seseorang menikah, ia akan memulai hidup baru, namun perjuangan setelah itu masihlah panjang. Begitupun saat ia menjadi calon orang tua. Dimulai dari perjuangan menjaga kehamilan itu agar baik-baik saja, kemudian perjuangan melahirkan sang anak, membesarkannya, dan seterusnya. Kalian yang belum menikah pun pasti kerap ditanya “kapan menikah” dan sebelumnya mungkin pernah mengalami perjuangan mengerjakan skripsi, lulus UN SMA, dan seterusnya.

Hal itu pula yang membuat saya salut kepada orang-orang yang tengah berusaha memiliki anak sekuat tenaga. Di sisi lain, saya bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung secepat ini. Di sisi lain, saya juga khawatir. Apakah anak pertama saya sehat, terlahir sempurna, cerdas, dst. Terkadang timbul kekhawatiran sewaktu-waktu saya akan kehilangan janin saya. Ternyata, vonis hamil bukanlah puncak kebahagiaan, bukan puncak segalanya. Setelah itu, masih ada yang harus diperjuangkan.

Bukan hanya kisah Edward dan istri, saya juga sempat membaca tulisan Andra Alodita yang juga pernah menjadi pejuangan IVT (bayi tabung) di sini. Setelah membaca tulisan Andra, saya jadi berpikir, sudahkan saya bersyukur dengan cara menjaga calon anak saya sebaik mungkin? Apakah orang tua-orang tua di luar yang juga diberi momongan cepat juga sudah bersyukur sebaik mungkin? Benarkah sesuatu akan makin dihargai jika kita semakin lama menunggu? Di satu sisi saya setuju, namun saya juga tidak mau menjadi calon orang tua yang tidak menjaga anak saya sebaik mungkin sejak dini meski diberi anugerah secepat ini.

Tidak hanya mereka berdua, bahkan kakak saya pun baru saja menjalani program IVT setelah penantian sekian tahun. Mendengar perjuangannya untuk mengikuti program ini cukuplah membuat saya semakin berpikir, sekaligus ingin mengatakan padanya, “kelak ketika kita divonis positif hamil, itu bukanlah akhir dari segalanya. Masih panjang perjuangan yang harus dilalui.” Padahal, untuk sampai ke proses embrio transfer di IVT tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui sebelumnya, terlebih jika kesulitan seseorang dalam memiliki anak disebabkan karena kondisi kesehatan khusus. Kondisi tersebut harus disembuhkan terlebih dulu. Belum biaya yang diperlukan, juga tenaganya.

Terbukti, setelah hamilpun saya masih merasakan banyak gejolak. Perasaan dan pikiran yang mungkin tidak perlu. Tidak sekali saya jadi stres atau ingin menangis ketika membandingkan kondisi dengan ibu hamil lain: berat badan saya yang kurang atau perut yang lambat membuncit. Dokter sudah bilang bahwa kondisi bayi saya baik-baik saja. Namun, kalimat-kalimat seperti, “Kok, perutnya nggak kelihatan padahal udah hamil 6 bulan”, “Ayo, naikkan BB, dong, nanti bayinya kecil”, dst masih saja mengganggu. Artikel demi artikel saya baca, kunjungan ke obgyn-pun dilakukan hampir 2 minggu sekali, tapi rasa tidak percaya diri itu tetap saja muncul ketika orang lain membuat pernyataan tentang kondisi kehamilan saya (yang saya sendiri yang merasakannya). Berusaha berpikir positifpun tidak selalu mudah.

In life we never arrived. Bukan hanya soal pernikahan dan memiliki anak, namun juga dalam aspek lain. Tidak pernah ada destinasi yang benar-benar menjadi tujuan akhir. Kita akan terus berjalan, mencari sesuatu, mengalahkan kekhawatiran, menjaga apa yang ditakdirkan, kemudian kehilangan, gagal, lalu bangkit, atau menemukan penggantinya.

Pasti sulit untuk tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain yang kita pikir sudah mencapai sesuatu. Itu manusiawi. Berusaha lega atas tiap yang kita terima dan memaafkan diri sendiri memang membutuhkan ilmu tinggi yang saya pun kerap gagal dalam ujiannya. Hehehe…

Jadi, buat kalian yang sedang ditanya dengan gencar “kapan menikah” atau “kapan punya anak”, kuat-kuatlah karena setelah merasakan kedua “pencapaian” itu, masih ada perjuangan lain, juga pertanyaan yang mengusik lainnya. Mungkin seperti, “Kapan punya anak kedua” atau “Kapan punya rumah sendiri”.

Kecemasan dalam Memberi Nutrisi bagi Anak dan Kehadiran Philips Avent

Sejak dinyatakan positif hamil beberapa bulan lalu, saya mengalami campur aduk perasaan. Salah satunya karena ini adalah kehamilan pertama. Rasa cemas, khawatir, senang, dan bingung menjadi santapan keseharian. Di satu sisi saya bersyukur dan bahagia karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk merasakan kehidupan di dalam rahim saya. Namun, kecemasan dan kekhawatiran selalu menghantui: Bagaimana rasanya menjadi orang tua nanti? Siapkah saya dan suami menjalani masa-masa baru itu? Bisakah kami jadi orang tua yang cukup bagi calon anak kami kelak?

Ya, meski saya percaya beberapa hal bisa dipelajari sambil berproses, namun di dunia yang informasi dan teknologinya semakin berkembang rasanya tidak bisa juga tinggal diam. Saya mulai melakukan beberapa hal seperti membaca berbagai artikel di Internet dan mengunjungi beberapa obgyn. Saat ini, kita tahu bahwa semakin banyak situs-situs terkait kehamilan dan parenting yang dapat memberikan informasi yang kita butuh. Saya menjadi anggota situs dan mengikuti akun demi akun terkait di media sosial, salah satunya adalah The Urban Mama. Di TUM saya kerap mampir ke beragam diskusi. Dari The Urban Mama juga saya akhirnya mengetahui kontes yang diadakan dengan berkolaborasi bersama Philips Avent.

Selama ini, saya kerap membaca cerita atau status yang dibagikan teman-teman yang telah memiliki momongan. Tidak sedikit dari mereka yang merupakan pejuang ASI. Ada yang melakukan exclusive pumping (eping) hingga pumping di tempat kerja demi tercukupinya nutrisi sang ananda. Beberapa dari mereka juga sudah memasuki tahap pemberian MPASI yang membuat mereka merasa excited untuk terus menciptakan kreasi makanan bagi anaknya dalam beragam metode.

Dari semua cerita, saya dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, ASI selalu menjadi nutrisi terbaik dan terpenting yang ingin diusahakan tiap ibu. Kedua, pemberian MPASI memang kerap membingungkan, namun dengan pengetahuan dan perangkat yang memadai, semua tekanan yang dialami ibu dapat diminimalisasi. Ketiga, support system sangatlah diperlukan. Bukan hanya dari suami dan keluarga, namun dari lingkungan sekitar. Semakin banyak saya membaca, rasanya justru semakin sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa. Kecemasan tetap ada, bahkan di usia kehamilan trimester kedua ini. Meski tidak ada lagi morning sickness yang berat, tiap terbangun di pagi hari saya kerap masih tidak percaya bahwa ada kehidupan lain yang tengah berdenyut di dalam diri saya. Beberapa kali, saya bahkan menangis karena khawatir apakah si jabang bayi sehat-sehat saja dan kelak terlahir sehat sempurna.

Hal lain yang masih bercokol kuat dalam hati adalah saya ingin dapat memberikan ASI hingga hak anak saya kelak terpenuhi. Meski setelah melahirkan kelak saya kemungkinan masih akan bekerja, kebutuhan ASI anak harus terpenuhi. Bukankah katanya kita harus menyusui dengan keras kepala. Oleh karena itu, saya kerap mencari informasi soal proses menyusui dan perangkat yang sebaiknya dimiliki demi kualitas serta kuantitas ASI yang baik. Alat pompa yang mendukung salah satunya. Dengan pengetahuan yang masih sangat minim akan dunia breastfeeding, saya tertarik kepada breastpump manual dari Philips Avent. Selain karena Philips adalah merek dagang yang sudah lama keluarga saya kenal sejak dulu, dengan moto Avent Sahabat Bunda, Philips Avent memiliki pangsa pasar spesial dengan keragaman jenis produk yang menunjang keperluan tiap ibu dalam memberi nutrisi bagi anaknya. Saya berharap breastpump manual Philips Avent dapat menunjang cita-cita saya dalam memberikan ASI eksklusif.

Bukan hanya kontes yang dilakukan secara kolaboratif dengan The Urban Mama, Philips Avent juga mengadakan promo dan kontes Apresiasi Cinta Bunda. Promo adalah berupa potongan harga langsung tiap pembelian produk Philips Avent, sedangkan kontes berhadiah utama produk senilai 100 juta rupiah dan hadiah mingguan yang sangat menarik. Informasi mengenai promo dan kontes dapat diakses di http://www.philips.co.id/ACB, lho. Saling dukung dalam menjadi orang tua yang bahagia, yuk. Apa pun metode atau pendekatan yang dilakukan tiap ibu, semoga kita bisa terus memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati.

23561559_1898739623487773_5452941876636449706_n

Story: Dua Keturunan Ibu Lina

Terhitung sudah hampir 6 tahun Aldo dan Bayu tidak berkomunikasi. Sebuah anomali untuk hubungan kakak-adik. Kandung, tentu saja. Sesekali mereka hanya berkomunikasi ketika harus mengabarkan bahwa ibu mereka kambuh sakit gulanya. Itupun hanya kabar singkat, kemudian pertemuan canggung yang nyaris tidak ada basa-basi. Aldo tidak pernah berusaha memulai, begitupun Bayu.

Ibu Lina sudah tidak terhitung membujuk agar kedua anaknya berbaikan. Mengatakan bahwa sebagai kakak, Aldo harus coba mengalah, memaafkan Bayu. Ketika saran itu tidak didengar, ia meminta Bayu sebagai adik terlebih dulu mengunjungi kakak dan meminta maaf, meski Ibu Lina tahu kedua anaknya sama-sama keras hati. Buat apa mengalah, kata Aldo. Bukankah sejak awal Bayulah biang keladi pertikaian ini. Tidak perlu minta maaf, kata Bayu, keputusan yang diambil adalah hasil pemikirannya bersama sang istri, Astri. Keputusan yang dahulu memicu pertikaian. Lagipula, Astri sudah pernah memaksa Bayu meminta maaf. Karena cinta, Bayu memenuhi, meski Aldo tetap bungkam.

Tidak letih Astri dan Ibu Lina membujuk Bayu atau Aldo untuk kembali menjalin hubungan yang normal layaknya keluarga lain. Ketika hari raya, Aldo dan Bayu nyaris tidak pernah mau mendatangi rumah Ibu Lina jika tahu salah satu dari mereka sedang hadir. Beruntung keduanya tetap rutin menengok sang ibu, meski bergantian. Ibu Lina yang sudah tua dan sakit-sakitan malah tidak pernah mau diajak tinggal dengan salah satu dari mereka. Mungkin sebuah pemberontakan karena kesal kedua anak laki-lakinya tidak akur atau justru tidak mau merepotkan sama sekali. Sebelum ibu mati, tolong kalian berbaikan. Aldo dan Bayu hanya bergeming ketika suatu waktu Ibu Lina mengatakan itu.

Sungguh masalah perasaan dapat merusakan hubungan kompleks yang telah dibangun berdasarkan keturunan. Ibu Lina tidak pernah ingin menyalahkan Aldo, Bayu, bahkan si sumber pertikaian, Astri. Menantu yang sudah dinikahi anak bungsunya itu nyatanya memang mencintai Bayu sepenuh hati. Perempuan yang baik, ramah, penyayang, dan pintar mengurus suami serta anak-anaknya yang kini sudah berjumlah dua. Bisa jadi kriteria Astri itu yang dulu juga membuat Aldo mencintainya. Sebelum akhirnya hubungan dua tahun itu berakhir ketika Bayu mengenal Astri dan mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah.

Dulu, Ibu Lina sempat marah kepada Astri. Kenapa ia dengan mudah membuang Aldo dan berpaling ke Bayu. Namun, rasa marah itu tidak menggebu karena di dalam hatinya Ibu Lina tahu pada akhirnya Bayu yang akan menang. Hubungan Aldo-Astri sudah berkali-kali putus sambung. Berpuluh tahun membesarkan Aldo, Ibu Lina sifat Aldo tidak memenuhi keinginan Astri. Bukan karena Aldo tidak baik atau bajingan, namun akhirnya Ibu Lina mengakui bahwa Bayulah yang akan mendapatkan Astri. Aldo harusnya mencari wanita lain, yang meski sudah pernah dilakukannya, hubungan itu kerap tidak berujung di pernikahan, dan Aldo masih menyimpan dendam kepada Bayu. Mungkin memang belum saatnya Aldo berpasangan, pikir Ibu Lina.

Hari ini, sudah sepekan Ibu Lina terbaring di ranjang karena penyakitnya kambuh. Kedua anaknya bergantian membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit. Ajakan itu hanya dijawab dengan gelengan, bahkan meski kedua orang cucunya yang meminta. Di luar kamar sang mertua, Astri berbicara pelan kepada Bayu, memohonnya untuk mengajak Aldo berbaikan. Meminta Bayu mengalahkan ego demi sang ibu. Bayu bimbang, seperti biasa, namun kali ini perasaan itu lebih kuat. Membuatnya bingung harus memulai dari mana dengan Aldo. Apa harus menunggu Ibu pergi selamanya baru kalian mau berbaikan. Kalimat itu terngiang di telinga Bayu. Ia kembali mengingat permintaan ibunya. Ia mencari nama Aldo di daftar kontak ponselnya, mengetikkan pesan karena menelpon terlalu berat baginya.

Hari ini Aldo dan Bayu berdiri berdampingan pertama kali sejak 6 tahun. Astri bahkan berada di antara mereka. Bukan untuk memulai pertengkaran seperti dulu saat Bayu berkata akan menikahi Astri. Kedua anak Astri bersimpuh di atas tanah merah, menaburkan bunga dan menuangkan air dari dalam botol. Tidak ada tangis lagi. Kemarin malam mereka sudah meluapkan semuanya; tangis, penyesalan, rindu, dan maaf. Semua mengantarkan Ibu Lina menutup mata untuk selamanya, namun dengan senyuman yang akan diingat abadi.

 

 

Ulang Tahun Bukan seperti Tahun-Tahun Sebelumnya

Ketika kita memiliki orang tua atau kerabat berusia lanjut yang kerap lupa ulang tahunnya mungkin kita heran kenapa mereka bisa lupa hari penting itu. Selain karena pertambahan usia tentunya. Namun, tentu saja tidak semua manusia usia muda juga selalu ingat atau menganggap penting hari ulang tahun sendiri atau orang lain.

Seiring usia yang bertambah, saya tampaknya setuju jika ulang tahun bukanlah lagi hari yang sakral-sakral banget. Umur berkurang. Apalagi kalau bertambah usia tidak dibarengi pertambahan pencapaian, lebih tidak luar biasa lagi.

Dulu, saya, dan saya yakin banyak di antara kalian, yang selalu menanti hari ulang tahun sendiri: surprise dari orang terdekat, kado-kado, kue ulang tahun, bahkan menerka-nerka siapa yang akan mengucapkan pertama kali di jam 00.01. Kita mungkin menghitung jumlah ucapan yang masuk ke ponsel atau media sosial dan lain-lain. Iya, saya pernah melakukan beberapa momen itu hehe..

Tapi, sekarang kerasa kalau momen pertambahan umur lebih pas dirayakan dengan mengaminkan doa dari orang yang mengucapkan (dan ingat tentu saja) atau sekadar berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat atau teman, seperti makan-makan, sebagai ungkapan syukur sudah diberi umur sejauh ini. Tapi, saya, sih, tetap nggak nolak kalau ada yang kasih hadiah. Apalagi suami (bahkan sejak masih pacaran) suka nawarin hadiah yang akhirnya pas hari H malah lupa beliin. Akhirnya, saya yang menagih janji :p

Jadi, kalau usia 20-an atau late 20-an suka bilang “eh, ini tanggal sekian ya (hari ulang tahunnya)” ketika diucapkan selamat, sekarang saya nggak heran-heran amat, sih. Kalau tradisi minta traktir atau makan-makan, sih, akan selalu ada. Malah makin bertambah umur budget traktirnya akan lebih tinggi. Ya, kan?

24 Desember kemarin (masih belum berubah) saya berulang tahun kesekian. Sudah late 20-an. Suami sempat nanya, “Apa ulang tahun masih menjadi hari yang spesial buat kamu?”. Saya jawab ya saat itu. Karena dasarnya, suami justru lebih selow dalam menyambut dirgahayu-dirgahayu-an seperti itu, meski ulang tahunnya sendiri. Padahal usianya lebih muda dari saya. Memang sejak di keluarga, suami tidak pernah dibiasakan menganggap ‘wah’ ulang tahun, sedangkan saya, saat kecil (kalau tidak salah hingga usia 5 tahun) selalu merayakan hari ulang tahun, meski hanya di rumah dengan nasi tumpeng dan mengundang anak-anak tetangga.

Masih ingat dulu saya kerap mendapat banyak kado, salah satunya yang paling membekas dalah kaset soundtrack Kstaria Baja Hitam yang kala itu benar-benar hits. Ibu akan memakaikan dress superfeminin yang sayapun tidak nyaman memakainya karena bahannya bikin gerah dan gatal, kata saya, hahaha.. (dasar anaknya saja nggak bisa feminin). Saat dewasa, kuliah hingga bekerja, saya pun masih beberapa kali mendapatkan surprise kecil-kecilan dari teman-teman yang membawakan kue tart.

Mungkin itu sebabnya suami kerap lupa juga janjinya membelikan saya kado (alasan). Toh, sedewasa dan setua apa pun usia manusia, tidak salah merayakan hari jadi. Bukan masalah umur, kan? Hanya masalah kebiasaan dan kenyamanan. Ulang tahun kemarin saya akhirnya hanya mentraktir suami nonton bioskop dan makanannya, meski tidak ulang tahun pun hal itu biasa kami lakukan satu sama lain.

Jika mau dihitung-hitung, saya mendapat kado luar biasa di pertambahan umur tahun ini: keluarga baru, hidup baru, dan jabang bayi yang kini berusia 4 bulan di rahim saya. Kado yang belum pernah saya dapatkan seumur-umur jika hanya dibandingkan dengan barang-barang (bukan berarti saya tidak menyukai semua kado yang pernah saya terima. Terima kado, kok). Usia bertambah memang harus diimbangi dengan doa yang kian getol. Sekarang, apalagi, daftar doa saya juga bertambah. Ada suami, jabang bayi, keluarga besar, dan harapan akan keluarga kecil saya di masa depan. Semoga semua selalu sehat, baik, dan sesuai harapan. Amin.

So, (still) happy birthday to me. You are doing good so far and should be better always.

 

Menyatukan Dua Keluarga Lebih Pusing daripada Main Candy Crush

Pernikahan memang menyatukan dua keluarga. Secara teori, hal itu gampang diingat dan diiyakan. Tapi, secara praktik untuk diterapkan? Belum tentu mudah. Apalagi kalau kamu adalah tipe yang segan basa-basi atau kumpul ramai-ramai. Saya terkadang berkumpul sama keluarga sendiri saja butuh mikir-mikir, apalagi sama keluarga suami yang notabene sebuah kelompok baru dalam hidup saya. Meski memang, secara hukum, mereka sudah jadi keluarga saya juga.

Bukannya saya tidak percaya kalau keluarga itu segalanya, harta yang paling berharga adalah keluarga, atau saat susah hanyalah keluarga yang selalu hadir. Bukan. Sejak dulu, mungkin di antara anggota keluarga yang lain, saya sepertinya jadi orang yang paling ‘malas’ larut dalam kegiatan haha hihi keluarga, kecuali kakak-kakak langsung. Bisa jadi karena saya juga orangnya ‘nggak enakan’. Kalau di rumah sendiri, bersama kakak-kakak sendiri, atau sama suami saja, saya punya otoritas untuk melakukan apa saja seenak jidat: tidur gelempangan di lantai, santai kayak di pantai berjam-jam, ngupil, serdawa, liat medsos sambil mentertawakan status orang, main game di ponsel sampai asyik, dll. Di rumah orang lain, saya tidak enak jika harus menganggap itu sebagai ‘rumah saya sendiri’. Seolah saya terpaksa bertata karma atau belaku manis hanya untuk mendapatkan respect dan ucapan “lain kali main ke sini lagi, ya”. No.

Mungkin itu hanya soal pembiasaan. Buktinya teman-teman saya yang sudah menikah dan tinggal dengan mertua akhirnya nyaman-nyaman saja dan merasa itu rumah sendiri. Kayaknya. Tapi, jenis orang seperti saya tampaknya harus memiliki waktu lebih lama untuk adaptasi ini. Hahaha …

Makanya, balik lagi saya bilang pada praktiknya menyatukan dua keluarga itu belum tentu mudah, meski tidak mustahil. Saya termasuk beruntung mendapat keluarga dari pihak suami yang ‘welcome’. Kasarnya, kami tidak memiliki masalah. Belum lagi mertua yang baik yang kerap menanyakan kabar via telepon/Whatsapp, bahkan lebih sering dari keluarga saya sendiri (yang memang tipikal cuek-cuek, tapi sayang). Saya sadar tidak semua orang memiliki kemewahan ini, bukan hanya melihat dari sinetron, tapi hal-hal nyata yang kerap saya dengar dan lihat langsung.  Sungguh salut kepada mereka yang bisa menjalani hidup pernikahan dengan masalah hubungan komunikasi dengan keluarga istri/suami. Meski pada akhirnya, sebaik apa pun keluarga barumu, orang tua barumu, tidak akan pernah bisa mengganti posisi keluarga dan orang tuamu langsung.

*Dibuat saat galau ketika harus memilih ikut suami kondangan bareng teman-teman kantor atau ditinggal bareng keluarga suami yang sedang kumpul.

 

A Poet about Little One

Mengenalmu adalah sebuah suka cita sepenuhnya

Memang benar bahwa mencintai seseorang memberikan harapan dan keberanian

Mencintaimu nyatanya bukan sekadar dendang senang, namun juga luka-luka

Karena di saat itu aku mulai ingin menggenggammu sekuat mungkin

 

Kedatanganmu adalah suatu bahagia yang bahkan hatiku tidak dapat tampung

Menerka-nerka apakah kamu juga merasakan hal yang serupa

Kehilanganmu adalah suatu ketakutan yang bahkan jiwaku tidak dapat lalui

Padahal kita tidak pernah benar-benar memiliki siapa pun, bahkan diri kita sendiri

 

Namun, biarkan aku menentang keharusan demi keharusan

Mencintaimu dan memiliku seolah sudah menjadi daftar yang harus aku tunaikan

Meski kerap aku melukaimu, menyayangimu dengan penuh cela dan kekhilafan

Tapi, jangan pernah coba untuk pergi

 

Hadirlah untuk selamanya, meski abadi itu tidak pernah ada

Kelak kita akan saling mengasihi dan memberi pelajaran

Bahwa dunia itu luas, tidak ada batas bagi kita untuk berjalan dan merasa

Aku ingin mencintaimu dengan sempurna, meski kamu akan tertawa