Jadi Breastfeeder? Lelah Aqutu!

Ternyata, menyusui itu bukan cuma perkara buka kancing daster lalu menyodorkan payudara, ya. Bahkan, sejak awal memutuskan menjadi seorang breastfeeder, gue nggak kebayang kalau menyusui itu seberat ini.

Kalau ada yang bilang, menyusui itu lebih enak daripada kasih dot; dalam hal nggak perlu cuci-keringin botol lalu sterilkan atau beli stok susu formula tiap bulan yang butuh bajet tinggi, tentu saja statement tersebut benar sekali.

Tapi, ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi ibu menyusui. Pertama tentu saja konsistensi. Sejauh ini gue sudah beberapa kali mengeluh capek, baik direct breastfeeding maupun pumping while working. Bosan juga. Ada kalanya rindu malam-malam di mana gue bisa tidur panjang dan nyenyak tanpa sering terbangun karena anak nangis minta nenen.

Ya, pemberi botol susu pun berisiko sering bangun, sih. Tapi, kan, sesekali bisa didelegasikan ke orang lain untuk buat susu hehe (diamuk ibu-ibu pemberi botol susu). Tanpa bermaksud menganggap tugas gue paling berat atau menyinggung pilihan lain seorang ibu, ya. Pasti tiap Ibu apa pun pilihan pemberian susunya ngalamin fase capek

Apalagi kalau ingat perjalanan untuk menggenapi “keharusan” memberi ASI ke Arsa masih panjang. Arsa baru mau berusia 9 bulan. ASI seharusnya diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Berarti setahun 3 bulanan lagi, ya, journey to the west mencari keberhasilan S-3 ASI itu tercapai. Tapi, setelah dulu menargetkan lulus ASIX (6 bulan) dan Alhamdulillah berhasil, gue “hanya” menargetkan paling tidak Arsa lulus S-2 ASI dulu (1 tahun). Nanti akan gue usahain lagi, lah, sampe Arsa 2 tahun. Insya Allah.

Kadang bosan juga, sih, pumping tiap jam sekian di kantor. Rutinitas yang sudah jadi keharusan. Meski, gue bisa sambil Youtube-an sambil pumping, or Twitter-an, Instagram-an, dll. Kantor menyediakan ruang untuk pumping, meski sesekali harus rebutan sesama ASI pumper lain, sama yang punya ruangan, dll. Sesekali, demi kekonsistenan ini, gue juga harus pumping di ruang meeting ketika ketemu penulis, pumping di mobil kantor dalam perjalanan pulang dari bertemu penulis, pumping di bioskop ketika pertama kali keluar hanya berdua suami, dan berusaha pumping anywhere lainnya karena stok ASIP Arsa yang memang “nyaris kejar tayang”.

Dulu, waktu mengejar ASIX, lebih hectic, ya, gue, tuh. Sampai ASI yang netes harus ditampung segala demi ASIP Arsa besok. Alhamdulillah, sejak Arsa mulai MPASI, stok mulai sedikit aman. Tapi tetap harus konsisten. Karena rezeki ASIP gue memang bukan yang berkulkas-kulkas itu. “Cuma” cukup untuk 2 harian, lah. But it’s ok. Gue selalu berusaha menerapkan prinsip “yang penting cukup, bukan banyak-banyak”. Meski tetap aja isi freezer ASIP yang berjibun, tuh, bikin envy, ya. Kayak; enak banget sesekali bisa skip jadwal pumping atau pergi tanpa anak tanpa mikirin ganti stok ASIP yang terbatas. Hey, mungkin ini yang ngebuat gue dikasih rezeki ASIP nyaris kejar tayang, ya. Karena Allah tahu gue akan lalai pumping kalau dikasih rezeki ASIP yang buanyak.

Berusaha mengingat-ingat aja hal kayak; nggak semua orang diberi anak, nggak semua orang diberi kesempatan ngasih ASI (karena alasan apa pun), nggak semua orang punya support system yang cukup untuk memberi ASI, dll. Iya, gue pun pernah mengalami yang namanya bentrok pendapat dengan orang terdekat atau lingkungan, bahkan hingga soal MPASI sekarang. Tapi sejauh ini, masih aman dan gue masih bisa menyusui juga masak MPASI. Meski namanya juga manusia, ya, ada aja sisi kurang bersyukurnya dan masih ngeluh. Kayak gue sekarang dan (pernah) sebelum-sebelumnya. Capek. Bosan. Pengen cepat berakhir (walau nanti setelah nggak menyusui mungkin gue malah kangen).  Kangen nggak kepikiran stok ASIP. Kangen nggak kebangun terus tengah malem sampai sering migrain atau masuk angin karena kancing baju yang nggak ketutup lagi akibat gue ketiduran pas nenenin Arsa. Eh, tapi btw, kayaknya sekarang pola tidur gue sudah menyesuaikan keadaan, sih. Misalnya, tetap sering kebangun meski Arsa nggak nangis minta nenen. Hahaha.. (Gue juga kangen jalan berdua suami. Hiks. Sekarang bisa aja jalan berdua. Tapi tetap harus mikiran ASIP alias pumping dan kepikiran Arsa).

Wah, padahal gue belum mengalami drama puting berdarah segala, nih. Kalau lecet, sih, udah sering. Sekarang, Arsa lagi doyan nenen sambil (dia) tengkurap. Lumayan bikin nyeri karena ketarik-tarik.

Kalau sudah gini waktunya keluar mantra; Gue wajar, kok, ngerasa capek. Gue boleh, kok, ngeluh. Jangan terlalu merasa bersalah. Semua akan berakhir. Semua ada masanya. Dan pada akhirnya, kalau gue udah bener-bener nggak kuat, silakan berhenti menyusui kapan pun gue mau.

…. Tapi nggak kepengen dan nggak tega…

Iklan

Staycation or Vacation; Anything with Arsa

Ini adalah cerita pengalaman pertama Arsa traveling, sekaligus pengalaman pertama kami traveling membawa Arsa. Dulu pernah, sih, tapi waktu Arsa masih janin 31 minggu. Memang sudah lama, sih, pengen jalan-jalan. Apalagi mengingat capeknya rutinitas jadi orang tua baru, yang bekerja, plus ngap-ngapan menggenapi ASI ekslusif beberapa bulan lalu. Tapi, selama ini masih kebanyakan mikir alias wacana doang.

Inget banget dulu pertama kali Arsa keluar rumah setelah dia berusia 40 hari itu adalah mengajak dia menginap di salah satu hotel yang masih di bilangan Jakarta. Sekalian merayakan anniversary pernikahan ortunya, ceritanya. Itupun sudah deg-degan banget bawa bayi sekecil itu. Ibaratnya di rumah aja repot. Ini pake dibawa ke hotel. Lama-lama, Bapak Ibunya sudah mulai terbiasa bawa Arsa main, hampir tiap weekend. Mulai pede untuk “direpotkan”, termasuk soal per-nenen-an yang tidak hanya melibatkan Ibu, tapi juga kesiapan Bapak untuk repot. Sampai Ibu direct breastfeeding di mana-mana. Sudah biasa. Dari foodcourt, instalasi sofa IKEA, sampat lantai ATM center sebuah mall.

Akhirnya, kami siap membawa Arsa yang saat ini berusia 8 bulan pergi agak jauh. Naik pesawat pula. Ke Bali. Perjalanan yang sebenarnya nggak begitu cukup persiapannya. Apalagi, Bapak yang lebih banyak melakukan persiapan di sini. Ibu lebih detail-oriented sebenernya, tapi agak buang body sekaligus sibuk sama urusan rumah-kerja, jadi Bapak ajalah yang atur. But, so far, Alhamdulillah semua lancar dan menyenangkan. Drama dan repot, mah, pasti ada. Bawa bayi gitu, loh.

Mulai dari makanan Arsa. Dia kan sudah mulai MPASI. Untunglah sekarang sudah ada produk-produk MPASI homemade & organik yang dijual di online shop. Jadi, kita tinggal hangatkan saja pakai air hangat atau microwave. Kalau makanan instan, kan, takutnya… si anak keenakan dengan pola makan pas liburan dan ogah lagi makan masakan emaknya. Tapi, PR-nya adalah kita harus siap menitipkan makanan ini di kulkas hotel karena bentuknya frozen dan hanya tahan di suhu ruangan maks. 24 jam. Untunglah, di kamar hotel yang kami pesan, meski hanya hotel kecil, terdapat kulkas dengan freezer (tentu saja dengan termos masak air panas untuk menghangatkan makanan). Tapi, gue juga tetap bawa makanan instan, kok. Just in case ada drama per-mamam-an. Bawa oat instan & biskuit bayi. Untuk buah, karena kasihan Arsa kalau nggak makan makanan fresh sama sekali, kami sempat beli pisang waktu mengunjungi Ubud. Oh, iya, jangan lupa bawa alat makan bertutup dan sendok-sendok.

Lalu, soal perlengkapan bayi. Arsa cuma bawa sedikit diaper untuk mengurangi beban bawaan. Kami sepakat sisanya beli aja di Bali. Eng.. ing.. eng. Di Bali nyari minimarket itu tidak segampang di Jakarta, loh. Kebetulan kami menginap di daerah Sanur. Malam pertama, kami menelpon resepsionis hotel dan menanyakan apa ada minimarket terdekat. You know what? Ditawarinnya malah koperasi. Hehehe.. Ada, sih, Circle K, tapi harus naik kendaraan dulu. Oke, popok Arsa masih cukup, kok, untuk semalam. Besoknya saja kita beli. Tapi, nggak semua daerah di Bali darurat minimarket, kok. Beberapa titik kota ada juga yang ramai dan banyak toko. Besoknya, kami mampir di Circle K dan ternyata nggak ada juga, dong, itu diaper hahaha.. Apa memang di Circle K nggak ada diaper, ya? Mampir juga ke Kimia Farma. Nggak jual diaper juga! Untungnya, di minimarket lain, lupa antara Indomaret atau Alfamart ketemu juga, tuh, popok. Sekalian beli biskuit lagi demi jaga-jaga asupan Arsa.

Oh, iya, soal pesawat. Namanya naik pesawat, kan, saluran pendengaran agak nggak nyaman, ya, karena pengaruh tekanan udara. Untungnya, waktu pergi ke Bali jam penerbangan tepat dengan jam tidur Arsa. Arsa tidur lebih dari separuh perjalanan (yang memakan waktu hampir 2 jam). Sisanya, ya, dia terbangun tapi nggak rewel. Paling cuma minta pindah-pindah posisi duduk. Pas pulang ke Jakartanya yang agak beda. Karena pesawat dari Bali jam 8 pagi dan itu jamnya Arsa bangun. Nyaris 2 jam perjalanan Arsa rewel. Ini salah, itu salah. Fix, dia nggak nyaman. Akhirnya bolak-balik nenen dan diputerin video musik favorit dia, meski tetep rewel. Hahaha.. Buat yang mau menempuh perjalanan dengan pesawat dan membawa bayi, sudah tahu, kan, ya, ada alat semacam headphone yang bisa melindungi telinga bayi gitu. Bisa beli atau sewa. Atau, kalau nggak sempet beli/sewa caranya, ya, si bayi dibuat terus menggerakkan rahangnya; lewat nenen atau ngempeng (buat ortu yang bolehin bayinya ngempeng/pacifier).

Btw, jadi bayi itu emang punya daya pikat, ya. Pramugari maskapai yang nanya usia Arsa waktu naik sampai ingat nama Arsa dan pasti jawil-jawil bocah ini pas mau turun pesawat. Kalau untuk usia 8 bulan nggak perlu pakai surat pengantar dari DSA lagi untuk terbang. Tapi, gue kurang tau usia berapa yang butuh surat tersebut.

Hari pertama sampai di Bali kan sudah sore dan kami nggak ke mana-mana. Malam blas tidur. Nggak ada, tuh, menikmati “kehidupan malam” Bali. Inget, bayi, Bro. Besoknya, kami berkunjung ke Ubud Monkey Forest. Kebetulan, gue punya seorang teman yang sudah tinggal dan bekerja di Bali selama 3 tahun. Sekalian aja ajak buat nunjukkin tempat wisata dan pinjem kamera SLR-nya hahaha (digetok orang yang terkait), meski doi juga nggak hapal-hapal amat Bali katanya. Harga tiket masuk UMF adalah 50K per orang. Lokasinya adem karena di dalam hutan, kan. Tapi hati-hati untuk interaksi sama monyetnya. Kami sempet foto-foto dan monyetnya hampir menggigit gue, gitu.

IMG_2964

Dari UMF kami ke Pasar Ubud dengan menaiki shuttle bus. Di sini nggak belanja apa-apa, sih. Cuma mampir jajan gelato dan makan siang. Sekalian beli pisang untuk Arsa dan dadakan disuapin pake mangkok & sendok “bekas” gelato. Kami harus kembali ke UMF karena mobil diparkir di sana, tapi Bapak maunya sambil jalan kaki dulu lihat-lihat jajaran toko. Nunggu bus di halte shuttle bus, kok, lama banget. Hampir sejam. Untung Arsa tidur di gendongan Bapak, jadi nggak rewel karena merasakan panasnya siang di Bali. Ternyata, busnya ada jam istirahat, dong. Jadi, kami nungguin bis & driver-nya istirahat siang hampir satu jam. Capek banget. Badan udah bau matahari. Shuttle bus akhirnya datang, kami ambil mobil di UMF dan pulang ke hotel. Macet pula wadoh. Sampai hotel sore, istirahat sebentar dan nyuapin & bersihin Arsa. Lalu, jelang magrib keluar lagi ke Kuta Beachwalk Mall.

IMG_2985

Di mall itu ngapain? Ya, makan malam aja. Arsa juga sudah bobo di perjalanan. Jadi, nongkrong aja di foodcourt sambil sebelah tangan gendong Arsa. Mall-nya seberang-seberangan sama pantai kuta. Mall-nya kece. Soalnya sebagian bangunannya outdoor non-AC gitu, eco-friendly based. Ramai tentu saja. Apalagi wilayah Kuta, kan. Malam gitu seru juga, sih, jalan-jalan sambil liat-liat keramaian orang. Tapi, tentu saja kami langsung pulang selepas makan. Ingat ada bayi, Bro.

Keseruan lain ada selama di sana. Memang kalau bawa bayi namanya staycation, bukan vacation. Orang tua juga harus menyesuaikan itinerary sama mood dan jadwal aktivitas bayi. Misal, baru bisa keluar hotel agak siang, ketika si anak sudah mandi, makan, bahkan sudah tidur. Juga harus kembali ke hotel untuk mengejar jam tidur malam bayi atau jam makan sorenya. Orang tua memang kadang suka lupa kalau ada bocah kecil yang mudah rewel dan fisiknya belum sekuat orang gede huehehe..

Waktu main ke Garuda Wisnu Kencana (GWK), yang memang nyaris tengah hari karena menunggu Arsa selesai semuanya, kami sudah bayar HTM yang lumayan pricey (80K per orang), tapi nggak sampai patung utama juga, tuh. Si bayi rewel karena cuaca terik. Mungkin badannya juga capek karena sehari sebelumnya memang sudah jalan-jalan ke Ubud sampai sore. Akhirnya, kami melipir ke sebuah coffeeshop (dalam kawasan GWK) dan berakhir di sana. Arsa makan cemilan biskuit, lalu nenen. Ortunya, ya, pesen kopi dan quiche (ketahuan, deh, coffeeshop-nya apa). Oh, iya, di GWK ini dari tempat parkir ada shuttle bus yang antar ke gerbang masuk karena jaraknya yang agak jauh. Di shuttle bus arah pulang, ada bayi bule cewek (tebakan gue sih dari Brazil) yang seumur sama Arsa dan keberisikan Arsa menarik atensi kedua orang tuanya. Tapi mana bisa ngobrol kecuali dua bayi ini dengan bahasa bayi, tentunya. Sayang si cewek kalem. Emangnya Arsa bawel! Hahaha…

IMG_3019

Dari GWK, kami memutuskan pergi ke pantai Dreamland yang letaknya cukup berdekatan dengan GWK. Dreamland ada di dalam komplek resort/perumahan, jadi kita akan masuk ke kawasan tersebut dan parkir, kemudian ada shuttle bus yang berangkat tiap 5 menit ke pintu masuk pantai. Masuknya nggak bayar, Cuma bayar parkir mobil aja. Cuaca di Bali memang masih cerah meski sudah masuk musim hujan. Ada waktu di mana hujan turun, tapi sebentar dan tiba-tiba berhenti, lalu terik lagi. Ini kali pertama Arsa bertemu pantai juga, btw. Di sana, kami memutuskan menyewa sepasang kursi santai dan payung seharga 150K. Kan, kasian, si bocah nggak bisa duduk-duduk (padahal ortunya yang gempor). Tiket sewa kursi ini juga membuat kita dapat minuman gratis di warung minuman terdekat, meski akhirnya nggak kami tukar. Jadi, nggak tahu minumannya apa. Jangan-jangan Bir Bintang hahaha.. Di pantai ini juga banyak ibu-ibu jasa tukang pijat yang getol nawarin diri, lho. Harga jasa pijatnya 50K.

Arsa takut gitu kena ombak hahaha.. Di pantai ini ombaknya memang cukup besar. Cocok buat yang mau surfing. Arsa akhirnya betah main di pasirnya. Lalu kita foto-foto, dan lihat jam sudah dekat waktu makan sore Arsa. Maka, sekitar jam 3.15 sore kami pulang. Cukup singkat. Tapi, karena kami pengen Arsa makan di hotel dengan baju yang sudah bersih, ya, sudahlah pulang saja. Memang nggak rencana bawa MPASI ke pantai. Cuma biskuitnya aja. Buat yang mau tau bagusnya pantai ini, silakan googling, ya. Bagus.

IMG_3047

Pulang ke hotel, kami bebersih dan menyuapi Arsa makan. Selepas Isya, kan, memang jam tidurnya Arsa, tadinya kami memutuskan nggak ke mana-mana lagi. Tapi, kami belum beli oleh-oleh dan kebetulan kabel charger hape Bapak rusak. Jadi aja, tuh, Arsa yang sudah bobok kami gotong pake selimut segala. Nyari toko oleh-oleh yang masih buka. Eh iya, di Bali ini, kok, banyak ngeliat Miniso, ya? Termasuk waktu ke Ubud, Bapak sempet tuh beli sandal jepit segala di Miniso. Nyari kabel charger pun ke Miniso, meski nggak dapet yang cocok.

Pulang berburu oleh-oleh (yang nggak banyak-banyak amat karena bawaan sudah banyak), kami pulang ke hotel dan lanjut packing. Karena esoknya kami harus check out pagi-pagi banget. Pesawatnya jam 8 pagi aja dong. Sebenernya, ada rencana mau reschedule pesawat, sih, tapi begitu cek harga tiketnya mahal-mahal banget. Ya sudah, jam set 6 pagi kami dijemput pemilik mobil yang kami sewa mobilnya 2 hari belakangan (lepas kunci). Bli ini, juga bekerja sebagai driver taxi online sehari-harinya. Gue dapat kontak beliau dari temen gue yang kerja di Bali itu. Sampai di airport cukup cepat karena jalanan lancar dan lewat tol. Oh, iya, yang ke Bali coba lewatin tol laut Bali-Mandara ini, deh. Bagus view-nya, apalagi kalau pas jam sunset/sunrise. Plus liat proyek reklamasi Benoa juga.

Nah, di pesawat pulang ini Arsa rewel. Karena gue sebut tadi sebelumnya. Jam pesawat bukan pas jam tidur dia. Jadi, buat yang bawa bayi bepergian dengan pesawat mungkin bisa disesuaikan dengan jam tidur bayinya. Kalau ribet, ya, siap aja bayinya dibawain mainan/video musik yang diunduh dan sering-sering nenen, ya. Di Bandara Soeta pun kami sempetin untuk nyari tempat makan biar bisa kasih Arsa sarapan. Maksudnya kami sekalian nyari kursi dan sarapan. Seduh oat instan aja dulu, deh, meski persediaan MPASI in jar Arsa masih ada sebotol. Selesai sarapan, Bapak pesan taxi online dan kami pun pulang ke rumah. Yeay, Alhamdulillah. See you on next trip. Insya Allah. (lain kali harus direncanakan lebih detail dan matang!)

 

P.S: Maafkan tote bag Ibu yang mengganggu. Kalau mau info soal biaya, japri via e-mail desimandasari24@gmail.com atau DM ke IG @desimandasari.af aja, ya. Semoga bisa bantu itung-itung.

MPASI vs Sembelit

Sembelit adalah hal yang wajar banget terjadi saat bayi mulai MPASI. Pencernaannya mulai adaptasi ke makanan padat. Sebelumnya, bayi hanya kenal cairan. Tekstur BAB-nya pun encer, sehingga mereka nggak butuh effort yang kuat untuk BAB. Bahkan, bayi full ASI punya tolerasi hingga 7 hari untuk ga BAB. Alias masih normal. Wajar. Karena ASI mudah dicerna usus, jadi nyaris nggak ada sisa yang kebuang via feses. Ini juga yang buat anak ASI lebih cepat lapar/haus hehe. Pada anak mix sufor atau full sufor tentu toleransinya beda (maaf lupa, euy, silakan cari di Google).

Nah, pas mereka mulai kenal makanan padat, otomatis saluran cerna kayak di-setting ulang. Kerja lebih berat. Bayi pun mulai butuh “ngeden” agar bisa BAB. Biasanya, nih, sampai berkeringat dan nyicil gitu keluarnya. Ya, namanya juga belajar. Makanya sembelit itu wajar. Tapi, tetep aja khawatirlah ibunya.

Salah satu kiat mengurangi risiko sembelit adalah memperhatikan kadar serat yang masuk ke MPASI. Ternyata, sistem cerna bayi itu berkebalikan dengan manusia dewasa. Jika kita butuh serat tinggi untuk pencernaan lancar, serat kelewat tinggi pada bayi justru membuat mereka sulit BAB. Karena sistem cerna yang bekerja lebih berat itu tadi. Tapi, kalau terlalu mikirin serat, bisa jadi variasi menu anak itu-itu aja. Ini pengalaman Ibu Arsa sampai saat ini. Masih agak was-was anak sembelit. Bahkan, tiap hari Ibu nanya ke yang asuh Arsa: Arsa udah pup belum? Teksturnya gimana?

Makanan berserat tinggi itu bukan cuma sayur & buah, lho. Karbohidrat dan protein nabati pun ada yang seratnya tinggi. Cuma protein hewani kayaknya yang aman. Makanya, Ibu sering cari aman: sering pakai beras putih aja & banyakin jumlah prohe-nya dibanding prona & sayur, meski kadang-kadang gatel liat koleksi bahan makanan di kulkas dan akhirnya campur-campur juga.

Tahu putih adalah prona yang rendah serat. Kalau dari sayuran, ada labu siam & sawi putih. Karbohidrat yang paling aman ya beras putih. Beras merah itu seratnya tinggi. Ibu-ibu kalau mau pakai ya nggak apa-apa, cuma usahakan jangan tiap hari dan tetap perhatikan bahan lainnya. Usahakan di-mix yang rendah serat dengan yang tinggi serat. Jangan tinggi serat semua.

Perbanyak juga cairan. Bisa dari ASI ataupun air putih. Jumlah maks konsumsi air putih per hari ini ada aturannya juga, lho. Silakan googling, yes. Kalau untuk anak full ASI rumusnya: 15 x BB anak (misal, BB anak 7 kg. Jadi konsumsi air putih maksimal per 24 jam adalah 15 x 7 = 105 ml). Kasih buah yang juga cenderung berair dibanding berserat. Misal, buah naga, apel, pir, semangka, melon, jeruk. Kalau anak nggak atau kurang suka buah-buah ini (Arsa agak susah nerima buah, btw) gak apa-apa di-mix 2-3 buah. Misal, pir & pepaya (yang tinggi serat) atau pir & naga (tinggi air keduanya), atau bisa juga dicampur biskuit buahnya.

Ibu biasanya nyatet menu harian MPASI Arsa. Jadi bisa evaluasi dia makan apa aja. Anaknya terkadang masih ngalamin jyga yang namanya susah BAB atau keluarnya dikittttt. Ga sesuai sama ngedennya yang heboh. Makanya kadang suka “uwah” sama menu-menu MPASI di IG yang suka dobel karbo atau dobel (bahkan triple) sayur dan semuanya tinggi serat. Aku iri. Tapi masih ngeri sembelit hahaha… Jadi masih berkutat sama bahan yang itu-itu saja sambil ngenalin ke Arsa bahan baru lain. Satu per satu. Pelan-pelan.

Semangat cari ilmu dan masak-masak, ibu-ibu!

Tentang Memberi yang Terbaik

Kita sering mendengar, tiap orang tua (khususnya ibu), pasti berikan yang terbaik untuk anaknya. Gue percaya, sekaligus nggak. Kayak “tiap orang tua pasti sayang anaknya”. Nyatanya, ada aja, kan, orang tua yang aniaya atau buang-buang anaknya. Ya, meski mereka juga punya motif atau alasan kuat. But, jadinya terbukti, ya, definisi “terbaik” dan “sayang” juga relatif. Mungkin bagi Ibu A memberi semua yang anaknya inginkan adalah sayang, tapi bagi Ibu B itu adalah bencana. Ternyata, menjadi orang tua itu, memang proses memberdayakan jiwa dan pikiran untuk lebih matang, sabar, kuat, dan ikhlas. Apa yang lo lakuin untuk anak lo itu memang harus atas dasar ikhlas. Mungkin saat itulah definisi “memberikan yang terbaik” baru benar-benar terwujud.

Gue bicara begini karena terkadang, atau (honestly) hampir selalu, selain gue merasa capek untuk melakukan rutinitas sebagai Ibu dalam “memberikan yang terbaik” versi gue, gue juga kerap merasa “sendiri dan diabaikan”. Bukan oleh anak atau suami. Tapi oleh sekitar. Gue boleh aja mati-matian struggle kasih ASI sampai usia anak (saat menulis ini) mencapai 7,5 bulan, nyiapin MPASI homemade (4 bintang) tiap pagi sebelum berangkat kerja, hingga cari kerja tambahan demi vaksin lengkap anak tiap bulan. Namun, saat gue liat orang lain dengan “santainya” melakukan hal yang tidak sama dengan gue dan menganggap itu lumrah, kok, mental gue jadi drop, ya.

I know. Every parents have their option. But, does it really their best option? Oh iya, suami pernah bilang, intinya begini: Ya kamu jangan menghiraukan orang-orang yang nggak satu semangat sama kamu. Misalnya soal ASI. Inget masih banyak orang tua yang masih punya semangat sama kayak kamu dan mungkin mereka butuh motivasi dari cerita kita.

My husband know my (and his) struggle of giving our son breastmilk in his first six month of life. I even ever written about it on blog and instgram. Tapi, sekali lagi, ya, gue harus menurunkan ekspektasi. Dari berharap “banyak orang yang peduli akan perjuangan kami lalu semangat menerapkan hal yang sama” ke “setidaknya kami sudah berbagi pengalaman. Hati kami tenang. Semoga ada yang terinspirasi”. Gue kerap mengingatkan diri sendiri, kalau gue masih hepi karena pujian atau sekadar likes di media sosial ketika telah berbagi soal parenting style yang gue terapin, berarti gue belum ikhlas berperan sebagai Ibu.

Karena eh karena, gue tuh bukan jenis orang yang bisa “maksain” pendapat ke orang lain. Meski gue pengen banget. Meski gue tau gue bener dan sudah berpatokan pada ilmu/sains teranyar de el el. Sifat ini yang bikin gue migren, bahkan baby blues di awal-awal jadi Ibu. Apalagi, ya, kalau perbedaan pola asuh itu lo temukan dari orang-orang terdekat lo. Misal, keluarga, temen, tetangga, kakak ipar, dst. Sampai gue pernah mikir, lebih damai deh idup lo kalau lo justru nggak tau apa-apa (bahkan bego), cuek, atau jadi orang yang nurut-nurut aja. Dijamin hidup Anda jadi lebih adem.

Jadi orang tua (khususnya Ibu) memang melatih psikis untuk lebih kuat, tapi di sisi lain gue jadi lebih “jujur” dalam mempertontonkan kelemahan dan kecengengan yang selama ini gue tutup-tutupi. So, sekali lagi gue harus berusaha ingat bahwa selama gue masih goyah karena gaya pengasuhan gue nggak diapresiasi, berarti gue belum melakukan yang terbaik untuk anak.

Kali ini Ibu Desi galau bukan karena ASI lagi. Tapi MPASI. Ini ditulis setelah gue menemukan orang-orang yang kasih anaknya makanan apa aja tanpa basic keilmuan. Juga setelah Ibu Desi dikomen kalau Arsa sekarang lagi masanya doyan makan. Suatu hari Arsa akan jadi anak “susah makan” jg. Jd mungkin maksudnya (yang gue tangkep): skrg gue rajin, tapi pasti suatu hari akan malas masak. Its like, hey people, i know. Arsa akan mengalami fase itu. But, can you just cheer me up, despite bring me down. Kita semua pernah gagal, tapi usaha setelah itu kan beda-beda. Bisa jadi gue tetap rajin, atau malas parah melebihi siapa pun. Kayak dulu waktu Arsa bingung puting, gue mau kok ke dokter laktasi. Korban bingung puting lainnya mau gak? Intinya, jangan ganggu suka cita saya, Pak, Bu :p *Ngegas*

Life with Arsa #2

Capek nggak punya bayi? Iyalah! Punya bayi atau anak itu nggak indah-indah mulu kayak cerita orang, Cuy. Atau lihat wajah sumringah orang-orang yang tengah menanti kehadiran anak mereka yang kesekian. Pasti di balik itu mereka pernah dan paham bagaimana repotnya life with a baby.

Tapi… Bayangin, deh. Tuhan menitipkan kepada kamu dan pasangan, seorang makhluk kecil, perpaduan antara wujud kamu dan pasangan. Di sana mungkin memang Dia sudah meng-install kemampuan dalam diri kita bahwa kita mampu.

Saat saya sedang menatap Arsa, kemudian dia menatap saya kembali, aduduh.. rasanya. Masya Allah pokoknya. Atau ketika dia tertawa oleh lelucon yang saya anggap nggak lucu buat ukuran manusia seusia saya. Atau ketika saya menyusui dia, meski matanya yang bulat hanya menatap ke sembarang arah,  bahagianya tidak tertandingi. Malahan pernah waktu saya menyusui Arsa dan menatap ke matanya yang teduh, polos, dan jauh dari tatapan aneh-aneh ala orang berumur (iyalah masih bayi) saya berteriak dalam hati, “Ya ampun, (ini) terbaik!!!”

Begitu baiknya Sang Mahakuasa sudah menitipkan Arsa buat saya dan suami. Kayak, “Nih, ada hadiah buat lo dan suami. Anak yang lucu dan luar biasa”. Begitu baiknya Dia kasih kado berupa seorang anak di balik dosa-dosa dan khilaf para orang tua. Saat sedang mendekap Arsa, saya kerap berdoa agar bisa menjaga titipan-Nya ini sebaik mungkin, agar diberi kekuatan, diberi kemampuan, dan segala hal yang bisa membuat Arsa bahagia dan merasa kami adalah orang tua yang cukup buat dia.

Kadang, suka merasa bersalah kalau lagi capek dan Arsa lagi rewel, tidak sekali saya mengeluh atau berkata nada tinggi kepada dia. Saya lupa, dia belum mengerti apa-apa, bahkan untuk mengungkapkan kebutuhan atas sesuatu, dia hanya bisa menangis. Saya lupa bahwa Arsa sedang beradaptasi dengan dunia sejak berpindah dari alam rahim. Adaptasi yang tidak mudah karena dia masih makhluk lemah yang sangat bergantung pada orang dewasa di sekitarnya, khususnya Ibu dan Bapaknya. Adaptasi yang pasti kerap membuatnya tidak nyaman, kaget, marah, sedih, dan tidak berdaya. Tapi, di balik semua itu, Arsa sudah mengajarkan kepada kami, orang tuanya, dan orang di sekitarnya, banyak hal baru, mulai dari teknis pengasuhan dan tetek bengeknya hingga pengendalian ego. Ah, Arsa, guru kecil. Kamu bak malaikat. Kamu surga buat Ibu dan Bapak. Jika suatu hari kamu sedih dan merasa tidak berguna, semoga kamu bisa baca tulisan ini, bahwa kamu sudah membuat dunia kami berwarna. Kamu adalah dunia buat kami. Meski Ibu dan Bapak banyak kurangnya buat kamu (pasti), kamu tahu kami mencintai kamu, Nak.

20181015_125851

Tentang MengASIhi

Sudah 4,5 bulan usia Arsa. Anak pertama kami. Hingga detik ini, puji syukur ke hadirat Allah bahwa saya masih bisa memberinya ASI (saja). Sejak awal, memang saya dan suami berniat memberikan ASI eksklusif bagi Arsa. Artinya, hingga usia 6 bulan nanti, Arsa hanya mengonsumsi ASI, tanpa campuran apa pun, baik air putih, madu, pisang, biscuit, atau susu formula. Tentu saja selama saya mampu. Insya Allah. Nanti, akan kami lanjutkan hingga usianya 2 tahun. Namun sementara ini, paling tidak 6 bulan dulu saja targetnya.

Perjuangan selama 4,5 bulan ini bisa dikatakan cukup berat. Mungkin karena sebelumnya kami tidak mencukupkan ilmu soal ASI atau laktasi. Namun di sisi lain, cukup mudah, jikalau melihat masih banyak teman-teman orang tua muda yang belum bisa memberi ASI pada anaknya, atau katakanlah belum teredukasi/belum mendapatkan akses informasi soal ASI.

Sebagai working mom, saya harus menyediakan waktu untuk pumping di kantor demi memuaskan dahaga dan lapar Arsa ketika saya tidak di rumah. Paling tidak, dua kali saya harus pumping di kantor karena siang hari saat istirahat saya bisa pulang untuk direct breastfeeding (DBF), kemudian jam 5 “teng” saya sudah bisa pulang untuk segera bertemu Arsa. Sebelumnya, saya mengejar target pumping 4 kali dalam sehari (2 kali di rumah). Namun, sejak Arsa mengalami nursing strike (bingung puting) yang membuat kami harus mengunjungi dokter laktasi, target itu diturunkan karena dokter menyarankan saya fokus pada DBF ketika di rumah.

Memang, sih, DBF itu bisa dikatakan lebih simple dibanding memberi susu formula dsb. Toh, kalau anak lapar/haus si ibu tinggal buka kancing baju lalu menyodorkan payudara. Terdengar simple, ya? Namun, para ibu yang sudah atau sedang melewati proses menyusui ini pasti akan tahu perjuangannya. Hehe.. Nursing strike hanyalah salah satu kendala. Tongue tie, lip tie, mastitis, putting lecet/luka, low milk supply/pas-pasan, dst. adalah kendala lainnya. Saya, Alhamdulillah, sudah dipercaya-Nya untuk merasakan beberapa kendala itu. Belum lagi hal-hal seperti bangun berkali-kali ketika tidur malam karena Arsa minta DBF; omongan sekitar yang berkomentar kenapa anak hanya minum ASI, jadi badannya mungil; judgement orang terdekat bahwa ASI kamu sedikit, bla-bla-bla. Kalau saya tidak punya support system, hancurlah sudah tekad saya memberi Arsa ASI eksklusif hehe.. Untunglah di sini saya dikelilingi orang-orang yang saya butuhkan sebagai support system itu. Pertama, tentu saja suami. Lalu, keluarga, teman-teman, dan kelompok pejuang ASI lain.

Terkadang, ketika saya pulang ke rumah di siang hari untuk menyusui Arsa, saya tertidur di sebelahnya. Saya harus kembali ke kantor. Dalam perjalanan, rasa kantuk yang masih tersisa membuat perjuangan ini kembali terasa berat. Berpikir: “Haduh, enak, ya, kalau bisa tidur siang aja sama anak” atau “Enak, ya, kalau tidak perlu mikirin ASI perah tiap hari” hingga keluhan terjauh adalah saya merindukan masa-masa belum punya anak. Judge me, but you will feel the way that I feel today when you stand on my feet.

Akhirnya, hanya mengingat bahwa sayalah yang ingin memulai perjuangan ini. Sayalah yang paling militan ingin memberi Arsa ASI eksklusif. Sayalah yang pernah mengancam suami “kalau sampai dia mendengarkan saran mertua untuk campur susu formula, maka saya akan minggat dari rumah”. Sayalah yang kerap membagi semangat mengASIhi di snapgram. Kalau sampai saya putus asa, kalah dari diri sendiri, dong. Mungkin hanya perlu menurunkan ekspektasi agar sewaktu-waktu perjuangan ASI 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun ini harus berhenti di tengah jalan karena alasan medis, saya tidak terlalu kecewa.

Saking bertekadnya saya memberi Arsa ASI hingga 2 tahun, ketika ada seorang teman yang ingin umroh, saya titip doa agar saya bisa mewujudkan ASI 2 tahun itu. Di balik banyaknya keinginan yang ingin saya wujudkan lewat doa orang ber-umroh, saya hanya mau menitipkan doa ini (dulu). Karena tidak sekali saya patah semangat, bosan, malas, atau pesimis hingga menangis. Ternyata, support system pertama itu bukan suami, bukan juga keluarga, tapi DIRI SENDIRI.

Kalau ditanya kenapa saya tidak percaya pada selain ASI? Pertanyaannya harus dibalik menjadi, “Kenapa kita tidak percaya pada (kebaikan) ASI dan bahwa ASI saja cukup”?

Life with Arsa #1

Good to be back here with another new chapter.

Bisa kembali memulai rutinitas menulis blog di antara kesibukan mengurus bayi dan bekerja. Wow. Iya, bayi kecil itu sudah hadir ke dunia pada 26 Mei 2018. Alhamdulillah. Saat saya menulis ini, usianya sudah masuk 3,5 bulan dan tentu saja cuti melahirkan saya sudah berakhir. Blog ini ditulis di meja kerja saya lagi.

26 Mei, 10 Ramadan. Sehari setelah cuti melahirkan saya ambil. Sejak dua hari sebelumnya, flek sudah bermunculan. Berbekal pengetahuan seadanya, saya tahu bahwa anak ini akan segera lahir. Jumat 25 Mei, saya masih bekerja hari terakhir sebelum cuti. Saat sahur, saya sempat bertukar pesan Whatsapp dengan obgyn saya, menanyakan apa yang harus saya perbuat dengan flek yang bermunculan. Kontraksi pun sudah terjadi, meski belum teratur. Katanya, sebaiknya saya menunggu kontraksi datang teratur, baru datang ke klinik. Jumat malam, kontraksi makin sering muncul, masih belum teratur dan singkat-singkat saja, meski sudah membuat saya sulit tidur. Sedikit-sedikit saya meremas lengan suami yang tertidur di sebelah saya. Akhirnya, setelah sahur, rasa sakit yang tidak karuan membuat suami mengajak saya ke bidan terdekat.

Di sana, saya dinyatakan sudah memasuki pembukaan kedua. Namun, kepala bayi masih belum turun. Tenaga kesehatan di sana menelpon rumah sakit mitra untuk meminta pendapat. Tara! Saya ditawari untuk sectio caesar pagi itu juga, jam 7. Padahal sorenya, saya ada jadwal bertemu Dr. Dini (obgyn). Tapi, apakah saya masih kuat menahan sakit kontraksi hingga sore hari? Apakah nanti Dr. Dini akan memberikan opsi lain atau berujung caesar juga? Di tengah menahan rasa sakit, saya dan suami sepakat menyambut anak kami pagi itu juga dengan perantara caesar.

Saya diantar oleh para bidan menggunakan taksi online ke rumah sakit rujukan. Suami mengiringi menggunakan motor. Di sana, setelah beberapa tes dan urusan administrasi, saya “disiapkan” untuk operasi. Hanya saya dan suami saat itu dan tanpa membawa perlengkapan melahirkan satupun yang sudah kami siapkan di rumah. Saya akhirnya menjalani operasi sekitar jam 8 pagi dengan seorang dokter yang pernah memeriksa saya pada awal-awal kehamilan. Pertemuan yang tidak sengaja karena kebetulan beliau yang bertugas operasi pagi itu. Tapi, beliau juga sudah lupa saya, sih, pasti hehe..

Bagaimana rasanya dioperasi? Wuih rasanya..

Tapi, sekarang saya kerja dulu, ya. Lagi banyak kerjaan, Cuy. Lanjut di tulisan berikutnya. Soal melahirkan, perjalanan merawat newborn, baby blues, menyusui, dan lain-lain. Huft, so little time so much to write ini namanya :p

Engap

Hah. Finaly, 36 weeks. Besok sudah 37 weeks malah. 37 weeks berarti sudah hilang satu lagi kecemasan, yaitu kelahiran sebelum waktunya hehe.  Memang cemas dan parnoan, ya. Apa banyak juga ibu hamil kayak gini? Kalau trimester awal khawatir akan janin yang masih lemah, trimester ketiga khawatir si bayi lahir terlalu cepat atau terlalu lama.

Katanya, kalau minggu ke-36 hitungannya masih pre-term atau masih terhitung premature walau sudah menjelang awal 9 bulan. Kalau sudah masuk (minimal) 37 weeks hingga 40 weeks itu usia yang pas untuk melahirkan, sedangkan lebih dari 40 weeks disebut post-mature, atau cenderung terlambat.

Apa saja yang dirasakan di trimester 3 jelang HPL ini? Susah tidur sudah pasti. Tidur lurus telentang bikin sesak nafas karena rahim menekan jalur nafas, tidur miring ke kiri atau kanan perut ngilu karena si janin masih mengikuti gravitasi. Apalagi, janin saya cenderung agak besar untuk ukuran tubuh saya yang minimalis. Morning sickness juga kembali lagi, meski tidak separah trimester pertama, siang dan malam saya kembali nafsu makan dan ngemil, juga minum minuman manis. Di minggu-minggu ini, saya doyan sekali minum minuman manis, seperti sirup, es teh, atau es cokelat. Padahal, zat gula bisa menambah BB si bayi hehehe..

Kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman membuat saya harus menunggu hingga kantuk datang dengan hebatnya. Biasanya saya duduk-duduk dulu sampai mata benar-benar berat, baru kemudian dibawa rebahan. Gangguan lainnya adalah rasa “engap” dan sakit pinggang. Stress? Tentu saja. Namanya juga jelang HPL. Apalagi anak pertama. Belum ada pengalaman.

Masuk di minggu 36 lalu, saya menjalani cek ukuran panggul sesuai saran Obgyn. Metodenya adalah dengan memasukkan jari ke jalan lahir selayaknya cek status pembukaan. Saya sudah ngilu seligus khawatir membayangkannya. Khawatir metodenya, juga hasilnya. Benar saja, panggul saya dinyatakan berukuran agak “pas-pasan”. Bayinya tidak boleh terlalu besar. Selain itu, kepala bayi belum masuk ke jalan lahir. Bisa jadi karena ukuran panggul yang kecil atau ketubannya yang masih terlampau banyak. Jadi, sang Obgyn memutuskan akan mengobservasi ukuran panggul saya tiap minggu hingga usia kehamilan 40 minggu.

Pada beberapa kehamilan, memang si janin sudah turun ke jalan lahir pada minggu 36 atau 37, tapi karena kasus ibu hamil tidak sama, ada juga yang baru masuk panggul pada minggu 38-40 atau lebih. Namun, obgyn saya sepertinya memiliki batas waktu tunggu untuk persalinan normal, yaitu 40 weeks saja. Selebih itu, dia khawatir akan kondisi ketuban dan bayi. Oke, berarti untuk 4 minggu berikutnya, saya masih akan diobservasi lewat vaginal check dan USG hehehe.

Ketika saya mencoba berobat ke bidan (yang Alhamdulillah ramah dan enak diajak ngobrol), memang si janin belum turun ke jalan lahir. Bidan meraba perut (sekaligus meremas perut bagian bawah) untuk mengetahui posisi badan, khususnya kepala bayi. Seperti saran yang juga saya dapatkan dari obgyn, orang sekitar, dan artikel-artikel, saya diminta melakukan beberapa ikhtiar, seperti sujud, gunakan birthing ball, dan gerakan lain yang katanya bisa membantu janin turun ke jalan lahir. Memang saya juga agak pemalas, sih, sejauh ini. Harusnya banyak pemberdayaan diri yang bisa dilakukan. Kadang saya mikir dengan jalan kaki pulang pergi ke kantor sudah cukup. Ditambah jadwal prenatal yoga yang bertepatan terus dengan jadwal kontrol kehamilan, sehingga saya tidak bisa ikut yoga.

Sekarang, saya antara pasrah untuk mengikuti observasi obgyn tiap minggu dan kontrol juga ke bidan dengan mengharap hasil apa saja. Kalau bisa normal, syukur Alhamdulillah, namun jika harus Caesar juga saya harus siap. Lemah, ya? Mungkin lebih ke menghindari stress saja, sih. Saya nggak mau memaksakan kelahiran normal jika dirasa membahayakan atau menimbulkan risiko bagi janin. Rasanya kedua proses akan sama-sama memberi saya tekanan kalau dipikirkan negatifnya, memang. Jadi, ada benarnya saya memasrahkan kepada janin untuk memilih jalannya, meski saya masih terus membujuk dia untuk masuk jalan lahir supaya ada harapan untuk proses normal itu.

Di sisi lain, saya juga enggan menunggu hingga melebihi usia 40 minggu. Alasan pertama, tubuh yang mini ini sudah engap sekali. Kedua, minggu ke-41 bertepatan dengan minggu Idul Fitri. Segan rasanya membayangkan melahirkan saat-saat itu, merepotkan pasangan, keluarga, sekaligus repot mencocokkan waktu dengan tenaga medisnya, meski lagi-lagi semuanya bisa diatur. Jadi, saya berharap sekali si janin sudah lahir pada minggu 38-40. Semoga, ya, Nak. Amin.

When It Comes Not So Easy

32 weeks already.

Beberapa hari lalu saya dan suami baru saja mengajak si janin babymoon ke Jogja. Rencana yang sudah ada sejak sebulan sebelumnya. Rencana yang mungkin sebaiknya direalisasikan lebih awal, bukan di trimester ketiga. Alasannya? Karena di tahap ini badan justru lebih mudah capek dan si janin makin aktif, sehingga kerap bikin perut ibunya kencang dan seolah kontraksi. Untunglah semua berjalan lancar dan di Jogja justru saya cenderung lebih happy dan banyak makan. Cerita lebih lengkap mungkin akan saya tuliskan lain kali, ya. Ini cuma sebagai bridging hehe..

Trimester ketiga. Kurang dari dua bulan lagi Insya Allah anak ini akan lahir. Terasa cepat sekaligus lama. Jika diingat-ingat saat kehamilan 6 minggu di mana saya pertama kali dinyatakan positif hamil dan tidak sampai dua bulan lagi akan melahirkan tentu rasanya cepat. Jika diingat dan dirasa dari segala fluktuasi emosi dan perubahan kondisi fisik, masa ini lumayan terasa lama. Sudah tidak sabar sekaligus belum siap menyambut anak pertama ini.

Trimester awal kehamilan diwarnai dengan morning sickness dan moodswing, trimester kedua terasa semua lebih baik. Tidak heran jika banyak orang menyebut trimester kedua adalah kondisi terstabil dan ternyaman selama hamil. Di trimester ketiga, pengalaman lain muncul. Sulit tidur karena mencari posisi yang nyaman sudah pasti. Miring kiri, miring kanan nyeri karena si bayi mengikuti wadahnya berkembang dan gravitasi, sehingga perut saya hampir selalu berbentuk tidak rata, mencong sana mencong sini, dan itu membuat rahim mengencang dan agak nyeri. Belum lagi jika si bayi menekan perut bagian bawah dan kandung kemih. Kontraksi palsu mulai muncul membawa perasaan khawatir. Saya sering berkomunikasi dengan si bayi agar dia sabar menunggu hingga 6-8 minggu lagi saking khawatirnya dia lahir terlalu cepat.

Selain itu, morning sickness kembali saya rasakan meski tidak seintens trimester pertama. Sering kali, di pagi hari, saya mual hebat dan memuntahkan makanan atau sekadar cairan. Tubuh juga lebih cepat lelah dan nafas ngos-ngosan. Obgyn sempat bilang ini juga bisa disebabkan karena tubuh saya terlalu mungil, sedangkan berat janin tergolong besar. Gangguan lain mungkin seperti batuk-pilek dan kerongkongan yang selalu berdahak.

Memang hamil itu tidak mudah.

Pagi tadi, sebelum sama-sama berangkat ke kantor, saya sempat ngobrol dengan suami. Orang-orang yang sangat ingin hamil atau tiba-tiba saja hamil (seperti saya) apakah pernah terlintas di pikirannya bahwa hamil itu tidak akan mudah? Meski tiap ibu berbeda kasus, namun tetap saja membawa makhluk bernyawa dengan segala perubahan fisik dan emosi selama 9 bulan itu tidak bisa disepelekan. Mungkin memang kita harus merasakannya dulu baru paham. Contohnya saya, ketika kerap mengeluh saat hamil, saya kadang berusaha mengingat bahwa banyak dari wanita di luar sana berharap hamil seperti saya, jadi bersyukurlah. Mungkin ketika anak ini lahir memang semuanya akan terbayar. Perjuangan selama 9 bulan itu akan tergantikan oleh rasa yang tidak terperi. Buktinya, banyak pula wanita yang pernah mengalami kehamilan dengan masa-masa yang berat tidak kapok untuk hamil lagi.

Suami bilang: semua (keluhan) itu tidak berarti karena ada yang ditunggu (buah hati). Memang benar, sih. Tapi tetap saja, hamil bukan sekadar sebuah perjalanan akan memiliki anak. Tapi, perjuangan selama 9 bulan itu dan setelah ia lahir. Bukan hanya perjuangan oleh si calon ibu, tapi juga si calon bapak yang mendampingi. Terlebih kalau kita tinggal jauh dari keluarga. Seolah-seolah perjuangan hidup memang berawal dari sini. Bisa jadi, mereka yang menunda memiliki anak karena beragam alasan (karier, finansial, dll) akan semakin mantap menunda jika tahu rasanya pengalaman 9 bulan ini. Sebaliknya, mereka yang sudah niat penuh memiliki buah hati, pasti akan siap menjalani pengalaman ini. Seharusnya, sih, begitu.

Yah, memang saya harus merasakan melahirkan dan melihat dulu anak ini terlahir ke dunia agar rasa itu lebih lengkap. Semoga tidak ada trauma. Hehe.. Satu hal yang bisa saya simpulkan; hamil itu rasanya memang luar biasa. Nothing compares to it.

Fetus’s Day Out: Our Movie Time

Di usia kehamilan 6 bulan, sudah beberapa kali saya mengajak si janin nonton bioskop. Kalau tidak salah hitung sekitar 4 kali; Coco, Star Wars: The Last Jedi, Dilan 1990, dan terakhir Black Panther. Saya dan suami memang suka nonton bioskop. Sejauh ini, pengalaman nonton bioskop saat hamil baik-baik saja. Saya anggap saja sekalian mengenalkan si janin kepada suara. Tapi, makin ke sini sepertinya saya yang mulai nggak betah duduk lama-lama karena badan mudah pegal dan kram.

Masuk trimester kedua, morning sickness sudah jauh berkurang. Tapi, pengalaman lain mulai muncul. Mulai dari kulit perut dan dada yang gatal minta ampun, pinggul mudah pegal, kaki mudah kram, cepat ngos-ngosan, dan mulai susah menentukan posisi tidur hohoho… Apalagi, sehari-hari (weekday) saya memang duduk dari pagi sampai sore karena bekerja di depan komputer. Kalau kaki mulai terasa kesemutan/kram, paling nggak saya berdiri dan jalan-jalan ke toilet atau pantry buat ambil air putih atau teh hangat, setelah itu lanjut kerja. Kalau sakit di pangkal paha yang sempet bikin menyeringai nyeri untungnya nggak terus-terusan. Kata obgyn itu wajar karena rahim sedang melebar.

Lalu semalam, saat menonton Black Panther saya sempat keluar teater untuk sekadar jalan-jalan ke toilet dan duduk sekitar 10 menit di sofa lorong bioskop. Biasanya saya dan suami memang menonton di jam 8 malam ke atas karena kami sama-sama menunggu pulang kerja dan sempat pulang ke rumah dulu, lalu berangkat ke bioskop terdekat dari rumah. Tiket sudah dibeli suami lewat fasilitas online. Jadi, kami tinggal cetak dan sempat makan malam dulu.

Sambil nonton Black Panther, suami berkali-kali memijat kaki kanan saya yang memang lebih sering kesemutan. Posisi duduk saya entah sudah berapa kali berubah karena merasa benar-benar nggak nyaman. Suami bahkan sempat menawarkan pulang, padahal film baru berjalan sekitar setengah jam. Akhirnya, saya pilih keluar teater, kembali setelah sekian menit, dan tidak lama malah ketiduran karena ngantuk dan memang sedang tidak fit karena flu hahaha… Setelah itu, kaki mulai terasa nyaman, namun tidak lama terasa “gremet-gremet” lagi hingga saya harus cari posisi enak lagi yang diakhiri dengan bersila di atas kursi (my bad). Fiuh, akhirnya saya berhasil melewatkan nyaris 2,5 jam durasi film. Ditambah menunggu credit title selesai karena kami terbiasa menunggu post-credit scene untuk tiap film Marvel.

Pengalaman semalam memang tidak biasanya terjadi. Sekarang mungkin jadi berpikir ulang kalau mau menonton film setelah seharian duduk bekerja. Lebih baik sekalian tunggu akhir minggu (kecuali kebelet nonton hehehe tetep). Harus sering-sering bergerak biar nggak gampang kram kesemutan, meski sekarang mudah sekali ngos-ngosan. Semalam, saat film diputar si janin juga aktif banget. Entah dia memang sedang aktif atau keberisikan suara dari film, ya? Maafkan Ibu, Nak, sering ngajak kamu main, mulai dari ke bioskop, nonton konser, atau keluar kota. Sehat-sehat terus, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi *elus-elus perut*