Menyatukan Dua Keluarga Lebih Pusing daripada Main Candy Crush

Pernikahan memang menyatukan dua keluarga. Secara teori, hal itu gampang diingat dan diiyakan. Tapi, secara praktik untuk diterapkan? Belum tentu mudah. Apalagi kalau kamu adalah tipe yang segan basa-basi atau kumpul ramai-ramai. Saya terkadang berkumpul sama keluarga sendiri saja butuh mikir-mikir, apalagi sama keluarga suami yang notabene sebuah kelompok baru dalam hidup saya. Meski memang, secara hukum, mereka sudah jadi keluarga saya juga.

Bukannya saya tidak percaya kalau keluarga itu segalanya, harta yang paling berharga adalah keluarga, atau saat susah hanyalah keluarga yang selalu hadir. Bukan. Sejak dulu, mungkin di antara anggota keluarga yang lain, saya sepertinya jadi orang yang paling ‘malas’ larut dalam kegiatan haha hihi keluarga, kecuali kakak-kakak langsung. Bisa jadi karena saya juga orangnya ‘nggak enakan’. Kalau di rumah sendiri, bersama kakak-kakak sendiri, atau sama suami saja, saya punya otoritas untuk melakukan apa saja seenak jidat: tidur gelempangan di lantai, santai kayak di pantai berjam-jam, ngupil, serdawa, liat medsos sambil mentertawakan status orang, main game di ponsel sampai asyik, dll. Di rumah orang lain, saya tidak enak jika harus menganggap itu sebagai ‘rumah saya sendiri’. Seolah saya terpaksa bertata karma atau belaku manis hanya untuk mendapatkan respect dan ucapan “lain kali main ke sini lagi, ya”. No.

Mungkin itu hanya soal pembiasaan. Buktinya teman-teman saya yang sudah menikah dan tinggal dengan mertua akhirnya nyaman-nyaman saja dan merasa itu rumah sendiri. Kayaknya. Tapi, jenis orang seperti saya tampaknya harus memiliki waktu lebih lama untuk adaptasi ini. Hahaha …

Makanya, balik lagi saya bilang pada praktiknya menyatukan dua keluarga itu belum tentu mudah, meski tidak mustahil. Saya termasuk beruntung mendapat keluarga dari pihak suami yang ‘welcome’. Kasarnya, kami tidak memiliki masalah. Belum lagi mertua yang baik yang kerap menanyakan kabar via telepon/Whatsapp, bahkan lebih sering dari keluarga saya sendiri (yang memang tipikal cuek-cuek, tapi sayang). Saya sadar tidak semua orang memiliki kemewahan ini, bukan hanya melihat dari sinetron, tapi hal-hal nyata yang kerap saya dengar dan lihat langsung.  Sungguh salut kepada mereka yang bisa menjalani hidup pernikahan dengan masalah hubungan komunikasi dengan keluarga istri/suami. Meski pada akhirnya, sebaik apa pun keluarga barumu, orang tua barumu, tidak akan pernah bisa mengganti posisi keluarga dan orang tuamu langsung.

*Dibuat saat galau ketika harus memilih ikut suami kondangan bareng teman-teman kantor atau ditinggal bareng keluarga suami yang sedang kumpul.

 

Iklan

A Poet about Little One

Mengenalmu adalah sebuah suka cita sepenuhnya

Memang benar bahwa mencintai seseorang memberikan harapan dan keberanian

Mencintaimu nyatanya bukan sekadar dendang senang, namun juga luka-luka

Karena di saat itu aku mulai ingin menggenggammu sekuat mungkin

 

Kedatanganmu adalah suatu bahagia yang bahkan hatiku tidak dapat tampung

Menerka-nerka apakah kamu juga merasakan hal yang serupa

Kehilanganmu adalah suatu ketakutan yang bahkan jiwaku tidak dapat lalui

Padahal kita tidak pernah benar-benar memiliki siapa pun, bahkan diri kita sendiri

 

Namun, biarkan aku menentang keharusan demi keharusan

Mencintaimu dan memiliku seolah sudah menjadi daftar yang harus aku tunaikan

Meski kerap aku melukaimu, menyayangimu dengan penuh cela dan kekhilafan

Tapi, jangan pernah coba untuk pergi

 

Hadirlah untuk selamanya, meski abadi itu tidak pernah ada

Kelak kita akan saling mengasihi dan memberi pelajaran

Bahwa dunia itu luas, tidak ada batas bagi kita untuk berjalan dan merasa

Aku ingin mencintaimu dengan sempurna, meski kamu akan tertawa

 

Tulisan Pertama soal Kehamilan

Bismillah,

Just entered new phase after married: pregnancy.

Sekitar awal Oktober saya melakukan tes kehamilan. Saat itu, memang saya sudah terlambat datang bulan sekitar 7-8 hari. Biasanya, dari siklus 28 hari, saya jarang sekali terlambat datang bulan. Namun, berbekal informasi bahwa sebaiknya kehamilan dites setelah wanita telat datang bulan lebih lama daripada keterlambatan haid yang pernah dialami sebelumnya, saya tidak langsung tes kehamilan sudah terlambat 2 hari. Sebenarnya, sekaligus mempersiapkan diri. Saya sudah berbicara dengan suami sebelumnya; bagaimana jika positif dan bagaimana jika negatif.

Kami mencoba mempersiapkan mental. Apalagi, kami memang tidak pernah berencana menunda memiliki anak, namun tidak juga ingin stres jika tiap bulannya saya haid. Saat itu, jarak dua bulan sejak pernikahan. Haid terakhir saya adalah akhir Agustus. Akhirnya, saya membeli sebuah test pack (waktu itu masih dengan jenis yang berharga murah) sepulang bekerja. Sebenarnya test urine memang sebaiknya dilakukan pagi hari, saat bangun tidur, dan urine belum terkontaminasi makanan/minuman. Saya lupa saat itu pertama kali melakukan test malam atau pagi hari. Hasilnya positif.

Perasaan ketika perlahan muncul garis merah kedua; gemetaran. Saya menuju ke kamar tidur dan memanggil suami, “Go, gimana, nih?” | “Apaan” | “Hasilnya positif”. Kocak, ya? Tentu saja kami berdua bersyukur. Kami memutuskan untuk mengabsahkan test ini lewat keputusan obgyn. Namun, sebelum ke obgyn saya sempat mengecek ulang dengan test pack merek sama satu hari berikutnya, juga dengan test pack merek lain yang lebih bagus dua hari berikutnya. Hasilnya sama-sama positif.

Akhir minggu, kami memilih Mitra Keluarga Depok untuk bertemu obgyn pertama kali. Argo minta langsung ke Obgyn, bukan bidan. Mungkin karena anak pertama, jadi maunya detail. Padahal, bidan juga menyediakan fasilitas USG, meski tidak tiap hari karena harus menunggu dokter datang. Akhirnya, di RS saya di-USG untuk pertama kali. Kantung rahim saat itu sudah terbentuk (menebal) dan kehamilan sudah berusia 6 minggu dihitung dari HPHT (hari pertama haid terakhir).

Setelahnya, tidak ada sindrom-sindrom ibu hamil yang biasa saya dengar, lihat, baca, atau saksikan. Hingga seminggu kemudian, morning sickness dahsyat tiba hingga saya tidak bisa masuk kantor. Makanan pengganti nasi yang masuk hanyalah jagung rebus, juga teh jahe. Untunglah saya sudah curhat sebelumnya dengan teman yang saat hamil juga hanya mampu makan ubi rebus, jadi nggak panik-panik banget. Intinya, cari makanan pengganti nasi, atau apa pun yang bisa masuk ke mulut dan perut. Walau pada prakteknya, sih, boro-boro ada yang masuk.

Syukurlah, keadaan saya membaik. Argo pun bisa kembali bekerja (karena biasanya dia ikutan cuti saat saya sakit). Banyak cerita ibu-ibu hamil yang benar-benar sulit beraktivitas karena sindrom awal kehamilan, diopname karena kekurangan nutrisi/dehidrasi, dan sensitif pada ini-itu. Lama mereka mengalami ini berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing. Alhamdulillah, saya masih bisa bekerja, masih bisa makan dan minum walau tetap picky, dan masih bisa beraktivitas lain meski tidak boleh berlebihan. Mungkin jabang bayinya sadar kalau Ibu dan Bapaknya tinggal berdua merantau jadi repot kalau ada yang sakit. Hehe.

Salah satu yang cukup sulit dan membuat frutrasi adalah jika migrain saya kumat. Bertahun-tahun saya mengonsumsi obat yang cukup keras, bahkan sudah mencicipi obat dokter saraf. Saat hamil, di mana konsumsi obat, khususnya di trimester pertama harus dibatasi, ini menjadi dilema besar buat saya. Dokter hanya memperbolehkan konsumsi paracetamol tiap kepala saya sakit. Lah, biasanya paracetamol, sih, cuma geli-geli doang. Awal kehamilan migrain saya tidak pernah kambuh, walaupun pernah, hanya pada taraf mild yang akhirnya hilang sendiri.

Jelang bulan kedua menuju ketiga, entah kenapa migrainnya kembali sering kumat. Inilah di mana saya harus (terpaksa) menegak paracetamol dan muncul perasaan bersalah. Sama halnya ketika saya ngidam makan indomie padahal tahu komposisinya tidak baik bagi tubuh, apalagi saat hamil. Meski obgyn dan dokter umum yang pernah saya “curhati” mengatakan tidak apa-apa minum paracetamol, rasa galaunya tetap ada. Tapi, kalau tidak minum sakitnya luar biasa. Bahkan, saya pernah izin kerja dua hari karena sakitnya tak kunjung hilang. Suami jadi ikut stres. Jadilah saya sering minta maaf kepada janin dalam perut. Berdoa semoga dia tidak apa-apa.

Saya berusaha sedikit mencari celah untuk mengurangi kesempatan migrain untuk kambuh. Setelah bangun pagi, saya atau suami kerap berinisiatif untuk mengajak jalan pagi meski sebentar, juga menambahkan konsumsi sayur dan buah. Memang konsisten itu sulit, kok. Kalau stres, memang paling sulit ditekan. Manusia, kan, pasti cenderung berpikir yang tidak perlu, cemas, dll. Apalagi saya yang tengah mengandung anak pertama. Jangan ditanya deg-degan dan cemasnya.

Sekarang, usia kandungan saya adalah 13 minggu. Saya tengah merasakan masa di mana waktu berjalan sangat lama. Menghitung tiap hari, minggu, hingga menuju bulan. Kapan 9 bulannya, sih???? Tiap pagi bangun tidur, seakan meyakinkan diri kalau “gue sedang hamil, nih”. Apalagi, karena berat badan yang termasuk kurang ideal, perut saya tidak kunjung membesar hahaha. Memang kondisi ini berbeda-beda tiap wanita, ada banyak penyebabnya. Konon kehamilan pertama juga membuat perut ibu tidak terlalu buncit karena otot-otot perut yang masih kencang dan sederet faktor lain. Tapi, pertanyaan-pertanyaan yang muncul kayak, “Kok, perut lo belum keliatan?” dll kadang-kadang ganggu juga, sih.

Saya sibuk meyakinkan diri bahwa yang penting semuanya sehat, baik si bayi, saya, juga suami. Tidak lupa berdoa terus-menerus. Masih banyak yang harus saya pelajari sambil menunggu 9 atau 10 bulan itu datang, bahkan hingga seumur hidup selama saya menjadi orang tua kelak. Sejauh ini, masih terbatas mencari informasi dari situs-situs parenting dan bertanya sana-sini. Sisanya mungkin harus dilakukan secara praktik langsung. Doakan kami sehat semua selalu. Semangat!

Social Media Probs Again

i got a message on my Whatsapp number last night. 

Ternyata dari orang yang sama yang pernah menghubungi saya beberapa bulan lalu ketika saya sedang mempersiapkan pernikahan. Orang yang sempat saya bahas di tulisan sebelumnya ehe ehe. Memang saya belum pernah menuliskan soal pembicaraan kami beberapa bulan lalu. Begini,

I’ve ever met her husband on one of chatting online website a very long time ago, accidentally. 

WHAT? HOW COULD YOU?

Saya memang saat itu sudah cukup lama main di situs chatting itu. Awalnya hanya ingin mengobrol dengan orang-orang asing. Tujuan iseng dan melatih bahasa asing. Memang isinya banyak orang Indonesia juga. Tiba-tiba ada seseorang yang menegur saya, orang lokal. Umumnya memang peserta chat di sana bertukar kontak Line, Skype, atau Yahoo Mesengger, dll. Laki-laki ini meminta akun Skype saya. Ketika saya menerima permintaan pertemanan darinya, saya sadar saya mengenali laki-laki ini dari nama dan profile picture-nya. Because, like i said on my last writings, my friend (her wifey) often updating her Facebook status about her problems with him. THAT!

Singkat cerita, saya menjelaskan siapa saya. Kemudian ingin melaporkan “pertemuan” tidak sengaja kami di Skype kepada istrinya. Reaksinya? Ia meminta saya jangan melapor. Saya tahu, nih, kira-kira kenapa. Karena sejak lama saya mengamati status-status teman saya itu soal kelakuan sang suami. Then, i forgot this meeting, i even have uninstalled my Skype.

Tibalah bulan di mana teman saya mengirimkan pesan dan menanyakan soal perilaku suaminya ini. Saya memang pernah curhat tentang masalah ini kepada salah seorang sahabat yang kebetulan mengenal si istri. Suatu hari, ternyata sahabat saya ini menceritakan hal ini kepada sang istri dari laki-laki yang meng-add Skype saya itu (halah). Akhirnya, sih, saya menjelaskan kejadian sebenarnya. Ternyata, mereka kembali sedang bertengkar. Imbasnya itu yang merugikan saya.

IYALAH GIMANA NGGAK. SI ISTRI UPDATE STATUS FACEBOOK-NYA BAWA-BAWA NAMA SAYA. APA COBA WOY.

Meski akhirnya saya minta dia menghapus status tersebut. But, i’m not forget.

Nah, semalam dia menanyakan hal yang sama di Whatsapp. Gusti Nu Agung. Oke, saya coba berempati. Katanya, dia sempat bertemu satu orang lagi perempuan yang pernah di-chat sama si suami (entah di mana). Kemudian, si perempuan ini bilang kalau suami teman saya pernah curhat kalau dia sempat bertemu teman kuliah di istri di situs chat dan sempat ngajak jalan. Yha! Tentu saja si teman saya ini langsung mengarahkan tuduhan ke …

*duduk manis sambil mengacungkan telunjuk*

mabok

Teman saya bilang dia sudah bingung harus percaya kepada siapa. Then i answered, dengan huruf kapital semua, nggak, deng, bohong. Saya bilang saya nggak pernah jalan sama suaminya, juga nggak seberani itu jalan sama suami orang apalagi punya temen sendiri. Menahan sabar, saya coba basa-basi bertanya apakah kelakuan suaminya “kambuh”? Nggak dijawab juga, sih.

Apakah dia akan se-insecure ini selamanya? That question disturb me. Nggak enak juga jadi orang tuduhan terus. Chat cuma sekali, singkat. Bahkan saya nggak main Skype lagi. Dan kalau boleh berkata jahat, kalaupun ada rencana jalan sama “punya” orang, ya, nggak sama suami dia juga. I have some term and conditions list.

Mbaknya rajin juga, ya, bisa nemuin siapa aja yang pernah diajak ngobrol suaminya. Okay, maybe every woman will do the same if was in her position.

Mbaknya ternyata masih terlilit masalah yang sama. Buktinya masih menanyakan hal yang sama ke saya. Artinya, suaminya masih kumatan.

Sisi benarnya, Si Mbak memang tahu bahwa dalam kasus perselingkuhan, bukan hanya si perempuan yang disalahkan, dicap pelakor, dll. Buktinya dia keep updating about her husband’s attitude, over and over again. Hell yeah. Zzz.

Poor her.

Poor me.

… dan siapapun yang kena tuduh-tuduh Mbaknya. Sabar, ya, Mbak…

Saya penasaran kenapa dia nggak mencerna dulu aja cocok nggak kemasan saya jadi cewek nakal. Kan, kami pernah kuliah bareng.

Mungkin memang cocok kali menurutnya. Hhhh…

Kepada Mbaknya saya pengen bilang: Nambahin pikiran gue aja lu.

mansur

Media Sosial dan Karakter Orang di Sana

pexels-photo-433617

*spoiler alert: tulisan lumayan panjang*

Mungkin saya adalah orang yang mudah terdistrak oleh postingan orang lain yang membuat saya tidak nyaman di media sosial. Pembaruan apa pun yang tidak pas dalam ukuran saya, membuat saya gerah. Beberapa orang mungkin cuek dan tetap menikmati linimasa mereka. Kata orang saya ‘baper’.

Untungnya, saya ingat prinsip my social media, my rule. Apalagi, banyak juga teman di media sosial juga pernah mengatakan kalau memang postingan seseorang terlihat tidak nyaman, ya, diabaikan saja. Diabaikan di sini bisa dengan di-unfriend, di-unfollow, di-block, apa saja. Rasa tidak enak karena mereka teman sendiri/teman lama tentu saja ada.

Baru-baru ini saya baru saja meng-unfollow salah satu teman lama di Facebook. Bukan untuk pertama kali, sebelumnya saya sudah meng-unfollow beberapa orang sejak ramainya kasus politik yang membuat panas situasi beberapa waktu lalu. Cemen, ya, cuma unfollow. Ya, itu, alasannya karena tidak enak. Beberapa bahkan merupakan teman dekat hingga sekarang.

Teman terakhir yang saya unfollow agar saya tidak perlu membaca pembaruan statusnya melulu adalah karena ia terlalu sering mengumbar masalah rumah tangganya dengan pasangannya. Yep! Saya tahu ini tidak asing. Rumah tangga tentu kompleks. Tidak manis-manis saja. Semua orang memiliki peluang untuk mengalami masalah serupa, meski siapa, sih, yang ingin?

Tapi . . . sungguh rasanya tidak nyaman. Apalagi, beliau kerap menyinggung dan me-mention langsung akun sang suami. Artikel-artikel terkait masalah rumah tangga, called that dimadu bla-bla-bla, dst, di-carbon copy ke suaminya. Hahahaha. Im sorry for laughing, bukan karena meremehkan, but . . . I think it was too . . . awkward. It was too confusing for me. Bukan cuma dia, sih, orang yang mengumbar masalah personal ke ranah sosial, bahkan yang bertengkar dengan pasangan. I know. Tapi, it just too bother my mind. Mungkin karena saya mengenalnya cukup dekat dulu. Saya tidak akan membahas bagaimana dia dulu, namun lebih ke bagaimana semoga kita dapat bersikap di media sosial.

Dia, saya, kita semua pasti pernah dengar jangan terlalu mengumbar masalah personal ke media sosial. Tapi, saya nggak tahu detail apa yang membuat dia cuek dan terbiasa melakukan hal tersebut. Ada salah satu alasan yang pernah teman saya beri tahu kenapa si perempuan ini begitu vokal soal masalah dengan suaminya di media sosial. Hambatan untuk berbicara secara langsung sehari-hari tentunya.

Andai saya teman dekatnya, mungkin saya bisa menegurnya soal ini lebih giat lagi. Saya pernah sekali menegurnya ketika berkomunikasi via Whatsapp, tapi jawaban yang dia berikan adalah dia dan suami bahkan keluarga suaminya sudah sama-sama tahu. Okey. So, just thinking again about this case. Mungkin akan ada yang mengatakan pada saya bahwa rumah tangga memang menyeramkan, dan bisa saja saya merasakan roller coaster itu nanti. Saat ini, memang saya sedang merasakan aman-aman saja karena pernikahan saya baru berumur hampir 2 bulan.

Saya ulang lagi, siapa juga, ya, yang mau hubungan dengan pasangannya, baik itu menikah atau pacaran, gonjang-ganjing? Kelakuakn teman saya ini antara membuat saya kesal, gemas, bahkan cemas. Kesal karena mengapa orang ini, sekali lagi, tidak bisa menjaga privasi untuk dia, pasangan, atau lebih jauh lagi keluarga dan teman dekatnya saja dalam bentuk omongan verbal sehari-hari. Bicarakan, bukan diposting. Jika tidak mempan lakukan mediasi, libatkan orang terdekat. Dalam tahap yang lebih parah lagi, datangi konsultan pernikahan atau . . . psikolog maybe? Baiklah, saya nggak tahu separah apa latar belakang masalahnya. Ini sekadar saran jika di lihat dari permukaan. But, what can I say more as an advice?

Sekesal-kesalnya saya adalah ketika saya berpikir “mendingan lau mengakhiri hidup diam-diam kalau udah nggak kuat, tapi setidaknya jangan tampilkan masalah lau di medsos. Liatin yang hepi-hepi aja, Sist”, sementara teman-teman saya yang lain suggest tentang perpisahan (cerai). Tenang, saya tahu bunuh diri itu bukan pilihan baik. Hanya lagi kesal memuncak aja. Karena, pembaruan seperti itu secara tidak sadar juga membuat orang lain risih, paling bagus merasa kasihan. Tapi, sebanyak apa yang akan peduli? Mungkin ada, tapi tidak banyak. They just scrolling their timeline again, find another interesting things for them.

Kenapa pembaruan orang ini membuat saya cemas? Karena saya juga orang yang sudah menikah! Saya sampai berpikir, benarkan rumah tangga itu separah ini? Atau hanya mbak ini saja yang membesar-besarkan? So, I decided to unfollow her account. Terpaksa. But, I don’t have to say a sorry. Saya mengenal orang-orang yang menyarankan pernikahan, tapi juga mengenal orang-orang yang belum menikah karena beberapa alasan. Bukan hanya sekadar karena jodohnya belum datang, ada juga yang memutuskan karier dulu, atau berprinsip. Kelakuan seseorang yang terus memposting soal keburukan rumah tangga saya khawatirkan akan membuat orang lain menjadi skeptis soal berumah tangga.

Di sini, saya merasa kasihan juga sama teman saya ini. Oleh karena itu, saya doakan semoga suatu hari beliau menemukan ujung permasalahan. Menemukan pemecahan yang tidak merugikan dia, sang suami, terutama anaknya yang masih kecil. Jikapun harus, semoga semuanya ikhlas dan kembali bangkit. Saya doakan juga semua pasangan bisa menjaga hubungan satu sama lain. Terkadang, dalam kehadiran orang ketiga, kita tidak bisa menyalahkan pelaku saja. Coba tilik sang korban. Coba tilik hubungan yang mereka jalin sebagai suami-istri, atau pasangan berpacaran juga. Ini juga menjadi catatan buat saya, kok. Saya juga mendoakan rumah tangga saya tetap kuat, meski tidak selalu mulus. Tetap saling menjaga kepercayaan, saling menghidupi, saling sayang dan mendukung, juga segala hal baik lainnya. Amin.

Dalam titik ini, saya jadi menyukai orang-orang yang ‘memamerkan’ kemesraan dengan pasangan, apalagi dengan cara yang menyenangkan buat saya, dibandingkan mereka yang mengumbar masalah melulu. Saya juga jadi lebih nyaman melihat teman-teman yang disibukkan dengan kegilaan terhadap idola (fangirl/fanboy) atau justru mempromosikan bisnisnya. Ingat, deh, jenis manusia seperti apa pun Anda, introver, ekstrover, ambiver, dll, mem-posting soal masalah personal bukan hanya membuat orang bosan dan risih, tapi pada tahap lanjut membuat mereka kesal dan cemas. Dan ingat, berapa banyak yang peduli? Go talk with people around you, find a help. Good luck with your life. Post something good, funny, and blissful about your life. Tentu yang lebih baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

pexels-photo-91950

Ibu Desi & Jam Biologis

pexels-photo

Pagi ini, gue sadar salah satu hal to be grateful for adalah ketika di tengah semua keruwetan pagi hari yang membuat emosi lo bisa saja naik kemudian marah-marah, namun tiba-tiba justru lo malah kepengen ketawa.

Hampir sebulan menikah, gue memang belum bisa membenahi jam tidur malem-bangun pagi gue. Alias sejak dulu memang terbiasa tidur agak malam dan bangun (sebut saja) tidak sesubuh yang dianjurkan. Karena pada dasarnya memang gue membutuhkan itu yang namanya gelung-gelungan di kasur lebih lama. Alhasil, apalagi ABCD yang harus dikerjakan sebagai Ibu Desi sejak meniqa, rekor kesiangan gue naik level. Yha, memang ogut belum berhasil mengatur jam biologis sebenarnya.

Kayak pagi ini, target gue adalah nggak masak, beli jadi aja, atau bikin roti bakar buat gue dan Argo karena ada setrikaan dan cucian se-Indonesia Raya. Alhamdulillah, Argo mau bagi kerjaan dengan mencuci dan gue yang nyetrika. Gue adalah tipe yang nggak bisa ngerjain setengah dulu, sisanya nanti, gemes aja gitu, kecuali lagi capek gilak. Setrika aja semua walau banyak. Karena satu dan lain hal, gue yang harus menjemur cucian yang dicuci Argo, kemudian piring semalem belum dicuci, sampah belum dibuang, pokoknya sebelum ngantor rumah harus bersih hhhh. Argo berinisiatif membereskan pakaian yang sudah gue setrika ke dalam lemari. Di sinilah drama dimulai.

Ketika gue selesai mandi dan berpakaian… ebusettt.. Kenapa itu golongan t-shirt ada di bagian kemeja, golongan kerudung di t-shirt, underwear di bagian cardigan, dan keberantakan lainnya. Padahal udah gue kelompokin sejak disetrikaan. Mau marahhhh tapi ketawa hahahahaha~~~

Keluar kamar, Argo nanya, “Kenapa kamu ketawa?” Gue peluk aja udah. Untung gue sayang. Kalau nggak gue kiloin nih tuker bawang merah.

Begitulah. Gue pikir pengantin baru nggak selalu manis-manis melulu. Nggak tau juga ya buat yang masa pacaran singkat atau nggak melalui masa pacaran 🙂

Hampir 3 minggu menikah aja gue dan Argo sudah beberapa kali melewati momen debat kecil hingga level ‘lumayan’ dalam bahasa kami, walau setelah dipikir-dipikir alasannya lucu dan remeh juga.  Kalau diceritain juga pasti orang lain ketawa. Mungkin karena kami sudah pacaran cukup lama. Baikannya, ya, nggak usah disuruh. Nggak minta maaf juga mungkin gapapa. Kasarnya, cepat atau lambat juga interaksi di ranjang lagi. Interaksinya menurut versi masing-masing terserah kalian. Pillowtalk atau lebih. Gue juga awalnya denial. Interaksi di ranjang pale lu. Mau ngomong aja kesel. Asli.

Gue pengen bisa ngubah mood ke arah lebih baik terus, sih. Terutama pagi hari. Mood cerah. Katanya mood pagi hari bakal berimbas ke mood seharian. Apa lagi sekarang bakal ada yang gue sambut di malam hari. Juga ada yang gue lepas di pagi hari. Makanya tadi di awal tulisan, gue bilang, “satu hal to be grateful for adalah ketika di tengah semua keruwetan pagi hari yang membuat emosi lo bisa saja naik kemudian marah-marah, namun tiba-tiba justru lo malah kepengen ketawa.”

Finally, The W-Day (Part 2)

Okey, lanjut ke cerita lain soal persiapan di pernikahan gue 15 Juli lalu. Kali ini mau bahas soal undangan dan souvenir, ah. Kali aja ada yang kepo atau butuh informasi. Okey, lets start. Yok!

  1. The invitation

Gue pernah menulis singkat tentang undangan pernikahan ini di akun Instagram beberapa waktu lalu (@desimandasari.af). Undangan adalah salah satu hal yang gue dan Argo urus sendiri (tanpa melibatkan bantuan Ibu Eka) dan dari jauh-jauh hari memang ingin dibuat unik. Oleh karena itu . . . prosenya justru membuat kami cukup excited! Sebenarnya, sudah sejak entah kapan kami (khususnya gue) browsing undangan unik, misalnya di Pinterest. Mulai dari bentuk balon yang harus ditiup dulu biar informasi isi undangan bisa dibaca sampai bentuk paspor yang unch-unch.

Ada yang berprinsip undangan nggak perlu yang repot atau mahal, bener. Ada juga yang berprinsip selama mau dan mampu hajar aja, itu juga bener. I mean, kalau lo orangnya suka yang unik, pasti tau tips and trick-nya untuk ngakalin supaya apa yang lo mau tetap terwujud, tapi tetep nggak overbudget. But, pada akhirnya kalau budget-nya tetep berlebih dibanding yang nggak unik, kalian udah prepare  gitu lho bageur. Gue dan Argo juga dulu harus muter nyari digital printing, kok, salah satunya sebagai salah satu langkah agar bugdet-nya nggak over-over amat (halah). Selain jumlah tamu kami yang nggak terlalu mbludak tentunya. He he he~

Then, kami menemukan konsep yang diinginkan dan mempercayakan eksekusi desain ilustrasi ke salah satu teman gue yang memang bisa menggambar, namanya Hilda (IG: @ynthld). Lewat diskusi kita tentukan deadline, ukuran, bentuk, hingga harga. Hilda bantu mencarikan jenis kertas yang cocok secara dia pengalaman di bidang penerbitan. Kita sepakat mencetak undangan di kertas matte paper ukuran A3 yang nanti dilipat jadi ukuran A6 (dilipat jadi 9 lipatan). Untuk amplop, gue dan Argo nyari sendiri ukuran costumize di IG tapi lupa nama akunnya. Lalu, pesan stampel bertuliskan “you’re invited” di agen pembuat stampel pinggir jalan, deh, buat amplopnya.

Nyetak undangan kayak gini seperti biasa makin banyak makin mure, sih, walau gue nyetak cuma 200 eks. Tips lainnya, ya, untuk kantor per divisi gue bagi nggak per orang, tapi buat ramai-ramai, misal satu divisi gue kasih 2-3 undangan untuk bareng-bareng. He he he… malah dibilang harusnya satu undangan aja biar lebih hemat bahahaha~ Jangan lupa minta buatin undangan versi softfile buat ngirim ke teman-teman via Whatsapp atau BBM.

Beginilah penampakan undangannya. Suka!

  1. The Souvenir

Apakah gue bisa membeli sesuatu yang bernilai guna dan anti-kebanyakan di pasar souvenir? Tapi, mengingat sekarang informasi bisa diperoleh dengan mudah lewat Internet, browsing dulu kembali menjadi jawaban dibanding harus jauh-jauh datang ke Jatinegara atau semacamnya. Yak, googling “souvenir unik”. Didapatlah mulai dari bijih kopi dengan takaran sekali seduh hingga batangan cokelat. Uwuwuwuw~

Lalu, dari hasil browsing, pilihan gue dan Argo terhenti antara tanaman hidup atau pouch. Dua jenis souvenir ini nyatanya sudah banyak digunakan/dipesan oleh pasangan pengantin dalam acara pernikahan akhir-akhir ini (ngomong opo tho). Sebenarnya, gue sreg banget sama tanaman hidup. Tapi, pertimbangan  Argo adalah tamu akan sulit membawa pulang tanaman tersebut. Bisa, sih, dipesankan dengan packaging yang lebih save, tapi harganya juga lumayan tinggi. Buat kalian yang tertarik, silakan Googling, cocok buat yang suka tema go green. Waktu itu nemu agen di daerah Lembang yang juga punya cabang di daerah Depok. Tanamannya juga beragam. Kemasannya macem-macem lagi.

Akhirnya, kami memutuskan pouch sebagai souvenir pernikahan kami. Kami sempat pendekatan dengan beberapa penyedia jasa pembuatan pouch dan totebag dengan membeli sample mereka. Akhirnya pilihan jatuh (cie) ke Invistation (Instagram: @Invistation) yang menyediakan jasa desain dan memperbolehkan kita memakan desain kita sendiri. Ukuran pouch pun terdiri dari beberapa jenis. Kita bisa pilih. Harga pouch disesuaikan dengan jumlah pesanan. Berikut tampilan pouch yang kami pesan, packaging sudah include kartu ucapan terima kasih, kertas cokelat bertuliskan nama pengantin & tanggal nikah, dan plastik pembungkus.

Saran gue sih, boleh pesan souvenir yang harganya terjangkau, tapi kalau bisa tetap bernilai guna walau mungkin (kasarnya) nggak long last-long last amat. Soalnya, gue pernah datang ke acara nikah dan dapat souvenir suatu alat perawatan tubuh yang akhirnya nggak bisa dipakai (karena tumpul huaaaa~). Pas beli dese juga pasti nggak tau sih barangnya ada yang bagus ada yang gagal, alias nggak ngecek satu per satu. Mending kalau begitu pesan hiasan sekalian, misal gantungan kunci. Hanya saran biar justru nggak kebuang budget-nya.

Akhir tahun ini, beberapa kenalan dan teman (baik dari gue maupun Argo) kebetulan juga sedang bersiap menghadapi pernikahan. Sebagai yang, Alhamdulillah, sudah melewati fase itu, gue doakan semoga semua prosesnya selalu lancar dan dimudahkan dalam hal apapun tentunya. Kuat dan solid, ya, sebagai pasangan, setelah menikah nanti juga. Pesan dan doa buat gue juga yang masih belajar dan beradaptasi dalam chapter baru ini *sambil ngiris bawang dan ngoles Nutella *ngapain bu aji?

Dalam hal persiapan, sih, . . . rasakan aja pokoknya bahahaha! *lempar palu Thor* Salam peace~

DSC_0184.JPG

Finally, The W-Day

Its been two weeks after the day. Huft. Welcome to the new chapter.

I know I am not good enough to do routine writing, including about my marriage Juli 15 ago. Here, I will write about that special day again.

Sebenarnya, mood gue lagi kurang baik hari ini karena kondisi kesehatan yang juga lagi nggak stabil. Rutinitas baru sebagai istri (cie) bekerja dan tamu bulanan gue sinyalir sebagai penyebabnya, selain bolosnya gue dari mengonsumsi obat-obat dokter secara rutin. Yea, gue masih terdaftar sebagai pasien dokter saraf karena kasus migraine membandel. Semoga dengan menulis bisa meringankan sakit ini. *ea

Pernikahan gue dan Argo Alhamdulillah sudah terlaksana dengan lancar. Terima kasih untuk semua doa, dukungan, bantuan, dan tentu kehadiran keluarga, saudara, teman-teman, dan pihak-pihak siapa pun itu. Akhirnya rasa stres dua bulan persiapan sampai di garis finish dan benar, “ternyata prosesnya berlalu cepat, begitu saja”.  Pernikahan kami dilangsungkan di daerah Cilegon, bukan Jakarta, mengingat kediaman keluarga gue sekarang adalah di sana, di sebuah tempat bernama Roomvill Sari Kuring Indah, tempat yang sama di mana kakak perempuan gue menikah tahun 2014 lalu. Tamu yang kami undang memang tidak banyak. Maaf untuk siapa pun yang merasa keberatan atas hal ini. Alasannya; 1) memang sebagai calon pengantin (saat itu), gue dan Argo sama-sama ingin suasana pernikahan yang cenderung sederhana dan tidak terlalu ‘hectic’, 2) lokasi pernikahan yang cukup jauh dari pusat aktivitas kami sehari-hari membuat kami berpikir ulang untuk mengundang banyak teman yang tersebar. Jadilah acara pernikahan ini dihadiri oleh keluarga, teman kerja, teman-teman dekat, dan undangan yang dikenal keluarga (dalam hal ini kakak gue).

Ok, lets talk about all the bigs until the ‘printils’ on the wedding. Semoga info yang gue bagi bisa menjadi cerita atau sekadar inspirasi buat yang sedang merencanakan pernikahan. Yha!

 

  1. The gown and suit

Untuk pernikahan ini , gue dan Argo pakai jasa Ibu Eka sebagai seorang Wedding Organizer (WO). Beliau menyediakan semua hal yang kami butuhkan, termasuk koneksi tentunya, kecuali hal-hal yang memang ingin kami urus sendiri. Namun, seperti yang sudah gue tulis di postingan sebelumnya, gue dan Argo tetap pengen ada baju yang kami sediakan sendiri (selain satu pasang pakaian yang kami sewa dari salon yang koneksinya kami kenal dari Bu Eka juga). Baju yang kami sewa dipakai untuk akad, sedangkan baju yang kami sediakan sendiri dipakai untuk resepsi.

Dress yang gue buat berdasarkan inspirasi desain yang gue peroleh dari Internet (googling tjuy!) dengan banyak modifikasi tentunya. Penjahit yang berjasa membuat dress tersebut adalah Mas Komar dan tim dari Kiara Butik yang berlokasi di Jalan Nusantara Depok (081317192558).  Mas Komar bisa membuat dress sesuai yang gue mau dengan saran dari dia dengan tepat waktu. Plus kerudung basic dan kerudung tile penghias kepala. Padahal gue baru pertama kali jahit di sini. Harga cukup terjangkau setelah gue bandingkan dengan beberapa butik lain. You can call him If you need a help! Gue sampaikan bahwa gue pengen dress yang bisa buat gue mingle dengan tamu, yang nggak ribet, dan gue pengen pakai keds (nanti gue mention di poin berikutnya). Taraaaa~ bahkan beberapa teman yang datang ke resepsi suka dengan dress hasil Mas Komar ini. Aha!

Soal set suit yang dikenakan Argo juga sudah gue sampaikan di tulisan sebelumnya (plus harga). Suit itu kami dapatkan di Wood Bintaro XChange, sudah termasuk dasi kupu-kupu dan kemeja basic di dalamnya. Sebelumnya kami sudah muter-muter ke beberapa store dan harga set jas memang uwoh-uwoh, beruntunglah ada Woods yang saat itu sedang mengadakan diskon lumayan banget. Kata Argo, lumayan jasnya nanti bisa dipakai untuk acara gala dinner. Berasa after party Oscar, ya. Terserah mas-nya ajalah.

  1. The shoes

Ada cerita pas gue mengenakan pakaian dan sepatu akad dari salon. Di akad, gue diminta mengenakan high heels dan pakaian berupa kebaya pink-hijau sebelum akhirnya gue dibebaskan berasik-asik di resepsi dengan gaun anti-ribet dan keds. Gue waktu itu pake selop dengan heels setinggi 9 cm (cukup menjadi neraka buat gue). Selesai akad, setiap ada sesi foto dengan teman dan anggota keluarga, gue kerap harus bangun dari posisi duduk ke berdiri dan melebarkan ekor baju. Berulang kali. Buat gue yang terbiasa gerak cepat, hal ini cukup menyulitkan hahaha.. seketika mood gue memburuk dan berharap segera bisa berganti pakaian dan sepatu! Ya Allah tolong hamba!

Finally, setengah 10 gue dan Argo ganti pakaian resepsi. Dan sedikit touch up. Di sini lega banget rasanya. Sepatu keds gue dari Converse All Star warna putih dengan nuansa gold. Talinya gue ganti dengan pita rambut warna putih biar lebih girly. Tadinya, gue dan Argo sempat nyari ke store Keds, Cottonink, hingga Payless, tapi nggak ada yang cocok, mulai dari harga hingga model. Pengennya sih yang bisa kepakai lagi untuk kegiatan sehari-hari.

Argo pakai Oxford shoes yang dia beli online di Instagram. Cuma gue lupa euy apa merek atau akunnya. Sejak akad dia sudah pakai sepatu ini, nggak pake sewa-sewaan. Sekalian buat koleksi sepatu kerja, nih, masnya.

  1. The crown and boutonniere

Gue mesen flower crown costumize sekaligus boutonniere (semacam bros bunga yang ditusukkan di lidah jas) untuk Argo di Farida Crown (IG: @faridacrown). Kita bisa request warna bunga sesuai tema pernikahan kita, lho. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan hingga pengiriman kurang lebih 7-8 hari dari lokasi pengiriman di Solo. Harganya pun variatif. Packagingnya juga rapih. Senengnya di sini karena flower crownnya bisa diset-up sesuai size kepala karena dilengkapi pita pengikat di bagian belakang. Sejak awal, gue memang sudah bilang ke Bu Eka ingin menggunakan flower crown sebagai pelengkap baju resepsi.

Soal boutonniere, Argo nggak pernah request, sih. Tadinya doi malah kepikiran sapu tangan atau bunga yang diselipin ke saku. Cuma setelah gue googling-googling dan menemukan penggunaan boutonniere pada acara-acara formal di jas-jas pria (halah), gue pesenin aja langsung.

Segini dulu tulisan soal perintilan nikah gue, poinnya lainnya masih ada, yaitu soal undangan dan souvenir atau lainnya mungkin yang belum teringat. Utamanya hal-hal yang nggak dipegang sama Bu Eka, sih, yang diurus langsung sama gue dan Argo he he he . . . Tapi akan gue tuliskan di postingan berikutnya, yes. Mau kerja dulu, Bos! See ya~

PS: I have not enough pics about the things ive mentioned above. Semuanya gue simpulkan lewat 1 foto resepsi dan 1 foto akad via hape aja ya. Foto-foto dari fotografernya sudah jadi tapi belum sampai ke tangan gue ha ha ha.. Nanti diupdate, deh, fotonya (kalau inget).

 

Kunjungan Tidak Sengaja ke Toko Wood

Urusan pakaian, gue dan Argo pengennya nggak pakai sewa-menyewa alias beli atau bikin. Tentu saja harus ada pakaian untuk cowo dan cewe. Mulai dari cowonya dulu, deh. Karena kami ingin hanya menggunakan satu jenis pakaian untuk akad sekaligus resepsi; jas dan simple dress.

Berbekal pencarian di Internet, kami mendapat referensi sebuah penjahit di Pasar Baru yang menawarkan satu paket jas, celana, plus bonus dasi dan kemeja. Kebetulan harga yang ditawarkan masih cocok buat kami. Sebelumnya, kami sempat masuk ke beberapa toko di dalam mall, namun harga yang ditawarkan terlalu mahal (sempat menemukan jas dengan harga di atas 20jt muahahaha), atau kalaupun ada yang harganya cocok, Argo tetap harus memperkecil jasnya di penjahit. Makanya diputuskan untuk membuat.

Tanggal 25 Maret, kami mengunjungi salah seorang kerabat di Bintaro untuk membicarakan rencana lamaran. Sepulang dari sana, kami mampir ke mall Bintaro X Change untuk sekadar jalan-jalan. Tidak sengaja, kami melihat (dan akhirnya mampir) sebuah toko bernama Wood yang memang menjual pakaian pria. Begitu masuk, Argo langsung menemukan sebuah jas yang pas di badannya yang cenderung kurus. Sungguh kebetulan. Syukurnya, Wood juga membandrol harga yang masih terjangkau plus saat itu sedang ada sale untuk beberapa item.

Argo pun mencoba jas warna dark grey yang ia pilih, sekaligus celananya, kemaja basic warna ice blue, dan dasi kupu-kupu. Jas slim fit itu sebenarnya sangat pas di badan Argo, kecuali dia masih ingin membenahi beberapa sisi ke penjahit sekalian mengecilkan celana karena kebetulan ukuran celana yang ia pakai sedang kosong. Untuk ke-4 item yang tadi gue sebut, kami hanya perlu mengeluarkan uang 1,6 juta. Dasi kupu-kupu yang dimaksud bahkan hanya berharga Rp45.000 karena didiskon 70%. Oke, PR berikutnya adalah mencari gesper (karena gesper yang Argo punya abege banget hahaha), juga mungkin sepatu dan kaus kaki. Nanti, ya, kita cari duit lagi.

Akhirnya, satu hal lagi selesai. Setelah ini, giliran pakaian untuk cewenya dong. Di tulisan berikutnya, ya.

Long Way #2: So, This is My Ring

Penantian 10 hari, akhirnya harus menjadi 11 hari. Cincin yang harusnya jadi tanggal 28, terpaksa diambil tanggal 29 karena Kokoh Bukit Emas mengirim SMS bahwa kerangka cincin gue sudah jadi, namun tenaga yang memasang zircon nggak masuk pada hari itu. Jadi, tanggal 29 sore gue izin dari kantor untuk mengambil cincin pesanan. Baca tulisan sebelumnya terkait cincin di tautan ini.

Sampai di CGC, ternyata ada dua orang selain gue yang juga mau ngambil cincin hari itu. Semuanya belum diberi grafir (nama), jadi gue harus menunggu agak lama. Memang mau musim kawin, nih, jelang dan sesudah puasa-lebaran. Untungnya, baik si Cici maupun Kokoh selalu ramah ngajak ngobrol, bahkan sampai disediakan air mineral segala selama menunggu. Rata-rata toko di CGC tutup jam 5 sore. Itulah alasan mengapa gue harus izin keluar kantor dan menembus kemacetan ibukota jelang jam pulang kerja (halah).

Sampai di toko, kok, gue jadi mupeng sama model-model lain, ya. Hahaha . . . Apa pesan lain lagi, nih, buat akad? Meskipun tergolong toko kecil, Bukit Emas menyediakan model cincin yang lucu-lucu. Lagipula, kita bisa diskusi model, sih, menurut gue. Tadinya, gue mau ngambil ketika jam makan siang, tapi Si Kokoh via SMS bilang cincin perlu difinishin dulu, setelah diberi zircon. Ya, mungkin maksudnya finishing itu diberi grafir de el el.

“Nih, punya Desi, yang jarinya kecil banget.” Kata Si Cici begitu cincin gue kelar. Setelah gue coba, cincin tersebut kemudian dimasukin kota berbentuk hati, dan gue menyelesaikan pembayaran. Oh iya, jangan lupa surat cincinnya disimpan. Berhubung gue jarang banget beli perhiasan, mungkin kalau Si Koko nggak mengingatkan surat cincinnya kemarin ketinggalan hahaha… Padahal itu penting banget kalau cincinnya mau dijual lagi *digebuk Argo*

Begini penilaian yang mau gue kasih ke Bukit Emas: Lo bisa request mau jadi cincinnya berapa hari. Di saat  toko lain meminta 2-3 minggu di musim kawin begini, gue bisa request 10 hari, meski harus nambah juga 1 hari lagi. Selain itu, pelayanan dari Si Cici dan Koko asyik, mereka bisa kasih lo pendapat hingga ngajak bercanda. Jadi, kegiatan cari cincin nggak tegang-tegang amat. Soal harga mungkin nggak beda jauh lah, ya, sama toko lain. So, kalau gue suatu hari berminat beli perhiasan ke CGC, gue berkemungkinan akan ke Bukit Emas lagi. Kalian bisa menghubungi toko Bukit Emas di nomor ponsel: 0811144700. Selamat berburu cincin!

Begini penampakan cincin jari kecil yang gue & Argo pesan: 20170329_202622