Life with Arsa #2

Capek nggak punya bayi? Iyalah! Punya bayi atau anak itu nggak indah-indah mulu kayak cerita orang, Cuy. Atau lihat wajah sumringah orang-orang yang tengah menanti kehadiran anak mereka yang kesekian. Pasti di balik itu mereka pernah dan paham bagaimana repotnya life with a baby.

Tapi… Bayangin, deh. Tuhan menitipkan kepada kamu dan pasangan, seorang makhluk kecil, perpaduan antara wujud kamu dan pasangan. Di sana mungkin memang Dia sudah meng-install kemampuan dalam diri kita bahwa kita mampu.

Saat saya sedang menatap Arsa, kemudian dia menatap saya kembali, aduduh.. rasanya. Masya Allah pokoknya. Atau ketika dia tertawa oleh lelucon yang saya anggap nggak lucu buat ukuran manusia seusia saya. Atau ketika saya menyusui dia, meski matanya yang bulat hanya menatap ke sembarang arah,  bahagianya tidak tertandingi. Malahan pernah waktu saya menyusui Arsa dan menatap ke matanya yang teduh, polos, dan jauh dari tatapan aneh-aneh ala orang berumur (iyalah masih bayi) saya berteriak dalam hati, “Ya ampun, (ini) terbaik!!!”

Begitu baiknya Sang Mahakuasa sudah menitipkan Arsa buat saya dan suami. Kayak, “Nih, ada hadiah buat lo dan suami. Anak yang lucu dan luar biasa”. Begitu baiknya Dia kasih kado berupa seorang anak di balik dosa-dosa dan khilaf para orang tua. Saat sedang mendekap Arsa, saya kerap berdoa agar bisa menjaga titipan-Nya ini sebaik mungkin, agar diberi kekuatan, diberi kemampuan, dan segala hal yang bisa membuat Arsa bahagia dan merasa kami adalah orang tua yang cukup buat dia.

Kadang, suka merasa bersalah kalau lagi capek dan Arsa lagi rewel, tidak sekali saya mengeluh atau berkata nada tinggi kepada dia. Saya lupa, dia belum mengerti apa-apa, bahkan untuk mengungkapkan kebutuhan atas sesuatu, dia hanya bisa menangis. Saya lupa bahwa Arsa sedang beradaptasi dengan dunia sejak berpindah dari alam rahim. Adaptasi yang tidak mudah karena dia masih makhluk lemah yang sangat bergantung pada orang dewasa di sekitarnya, khususnya Ibu dan Bapaknya. Adaptasi yang pasti kerap membuatnya tidak nyaman, kaget, marah, sedih, dan tidak berdaya. Tapi, di balik semua itu, Arsa sudah mengajarkan kepada kami, orang tuanya, dan orang di sekitarnya, banyak hal baru, mulai dari teknis pengasuhan dan tetek bengeknya hingga pengendalian ego. Ah, Arsa, guru kecil. Kamu bak malaikat. Kamu surga buat Ibu dan Bapak. Jika suatu hari kamu sedih dan merasa tidak berguna, semoga kamu bisa baca tulisan ini, bahwa kamu sudah membuat dunia kami berwarna. Kamu adalah dunia buat kami. Meski Ibu dan Bapak banyak kurangnya buat kamu (pasti), kamu tahu kami mencintai kamu, Nak.

20181015_125851

Iklan

Tentang MengASIhi

Sudah 4,5 bulan usia Arsa. Anak pertama kami. Hingga detik ini, puji syukur ke hadirat Allah bahwa saya masih bisa memberinya ASI (saja). Sejak awal, memang saya dan suami berniat memberikan ASI eksklusif bagi Arsa. Artinya, hingga usia 6 bulan nanti, Arsa hanya mengonsumsi ASI, tanpa campuran apa pun, baik air putih, madu, pisang, biscuit, atau susu formula. Tentu saja selama saya mampu. Insya Allah. Nanti, akan kami lanjutkan hingga usianya 2 tahun. Namun sementara ini, paling tidak 6 bulan dulu saja targetnya.

Perjuangan selama 4,5 bulan ini bisa dikatakan cukup berat. Mungkin karena sebelumnya kami tidak mencukupkan ilmu soal ASI atau laktasi. Namun di sisi lain, cukup mudah, jikalau melihat masih banyak teman-teman orang tua muda yang belum bisa memberi ASI pada anaknya, atau katakanlah belum teredukasi/belum mendapatkan akses informasi soal ASI.

Sebagai working mom, saya harus menyediakan waktu untuk pumping di kantor demi memuaskan dahaga dan lapar Arsa ketika saya tidak di rumah. Paling tidak, dua kali saya harus pumping di kantor karena siang hari saat istirahat saya bisa pulang untuk direct breastfeeding (DBF), kemudian jam 5 “teng” saya sudah bisa pulang untuk segera bertemu Arsa. Sebelumnya, saya mengejar target pumping 4 kali dalam sehari (2 kali di rumah). Namun, sejak Arsa mengalami nursing strike (bingung puting) yang membuat kami harus mengunjungi dokter laktasi, target itu diturunkan karena dokter menyarankan saya fokus pada DBF ketika di rumah.

Memang, sih, DBF itu bisa dikatakan lebih simple dibanding memberi susu formula dsb. Toh, kalau anak lapar/haus si ibu tinggal buka kancing baju lalu menyodorkan payudara. Terdengar simple, ya? Namun, para ibu yang sudah atau sedang melewati proses menyusui ini pasti akan tahu perjuangannya. Hehe.. Nursing strike hanyalah salah satu kendala. Tongue tie, lip tie, mastitis, putting lecet/luka, low milk supply/pas-pasan, dst. adalah kendala lainnya. Saya, Alhamdulillah, sudah dipercaya-Nya untuk merasakan beberapa kendala itu. Belum lagi hal-hal seperti bangun berkali-kali ketika tidur malam karena Arsa minta DBF; omongan sekitar yang berkomentar kenapa anak hanya minum ASI, jadi badannya mungil; judgement orang terdekat bahwa ASI kamu sedikit, bla-bla-bla. Kalau saya tidak punya support system, hancurlah sudah tekad saya memberi Arsa ASI eksklusif hehe.. Untunglah di sini saya dikelilingi orang-orang yang saya butuhkan sebagai support system itu. Pertama, tentu saja suami. Lalu, keluarga, teman-teman, dan kelompok pejuang ASI lain.

Terkadang, ketika saya pulang ke rumah di siang hari untuk menyusui Arsa, saya tertidur di sebelahnya. Saya harus kembali ke kantor. Dalam perjalanan, rasa kantuk yang masih tersisa membuat perjuangan ini kembali terasa berat. Berpikir: “Haduh, enak, ya, kalau bisa tidur siang aja sama anak” atau “Enak, ya, kalau tidak perlu mikirin ASI perah tiap hari” hingga keluhan terjauh adalah saya merindukan masa-masa belum punya anak. Judge me, but you will feel the way that I feel today when you stand on my feet.

Akhirnya, hanya mengingat bahwa sayalah yang ingin memulai perjuangan ini. Sayalah yang paling militan ingin memberi Arsa ASI eksklusif. Sayalah yang pernah mengancam suami “kalau sampai dia mendengarkan saran mertua untuk campur susu formula, maka saya akan minggat dari rumah”. Sayalah yang kerap membagi semangat mengASIhi di snapgram. Kalau sampai saya putus asa, kalah dari diri sendiri, dong. Mungkin hanya perlu menurunkan ekspektasi agar sewaktu-waktu perjuangan ASI 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun ini harus berhenti di tengah jalan karena alasan medis, saya tidak terlalu kecewa.

Saking bertekadnya saya memberi Arsa ASI hingga 2 tahun, ketika ada seorang teman yang ingin umroh, saya titip doa agar saya bisa mewujudkan ASI 2 tahun itu. Di balik banyaknya keinginan yang ingin saya wujudkan lewat doa orang ber-umroh, saya hanya mau menitipkan doa ini (dulu). Karena tidak sekali saya patah semangat, bosan, malas, atau pesimis hingga menangis. Ternyata, support system pertama itu bukan suami, bukan juga keluarga, tapi DIRI SENDIRI.

Kalau ditanya kenapa saya tidak percaya pada selain ASI? Pertanyaannya harus dibalik menjadi, “Kenapa kita tidak percaya pada (kebaikan) ASI dan bahwa ASI saja cukup”?

Story: Dua Keturunan Ibu Lina

Terhitung sudah hampir 6 tahun Aldo dan Bayu tidak berkomunikasi. Sebuah anomali untuk hubungan kakak-adik. Kandung, tentu saja. Sesekali mereka hanya berkomunikasi ketika harus mengabarkan bahwa ibu mereka kambuh sakit gulanya. Itupun hanya kabar singkat, kemudian pertemuan canggung yang nyaris tidak ada basa-basi. Aldo tidak pernah berusaha memulai, begitupun Bayu.

Ibu Lina sudah tidak terhitung membujuk agar kedua anaknya berbaikan. Mengatakan bahwa sebagai kakak, Aldo harus coba mengalah, memaafkan Bayu. Ketika saran itu tidak didengar, ia meminta Bayu sebagai adik terlebih dulu mengunjungi kakak dan meminta maaf, meski Ibu Lina tahu kedua anaknya sama-sama keras hati. Buat apa mengalah, kata Aldo. Bukankah sejak awal Bayulah biang keladi pertikaian ini. Tidak perlu minta maaf, kata Bayu, keputusan yang diambil adalah hasil pemikirannya bersama sang istri, Astri. Keputusan yang dahulu memicu pertikaian. Lagipula, Astri sudah pernah memaksa Bayu meminta maaf. Karena cinta, Bayu memenuhi, meski Aldo tetap bungkam.

Tidak letih Astri dan Ibu Lina membujuk Bayu atau Aldo untuk kembali menjalin hubungan yang normal layaknya keluarga lain. Ketika hari raya, Aldo dan Bayu nyaris tidak pernah mau mendatangi rumah Ibu Lina jika tahu salah satu dari mereka sedang hadir. Beruntung keduanya tetap rutin menengok sang ibu, meski bergantian. Ibu Lina yang sudah tua dan sakit-sakitan malah tidak pernah mau diajak tinggal dengan salah satu dari mereka. Mungkin sebuah pemberontakan karena kesal kedua anak laki-lakinya tidak akur atau justru tidak mau merepotkan sama sekali. Sebelum ibu mati, tolong kalian berbaikan. Aldo dan Bayu hanya bergeming ketika suatu waktu Ibu Lina mengatakan itu.

Sungguh masalah perasaan dapat merusakan hubungan kompleks yang telah dibangun berdasarkan keturunan. Ibu Lina tidak pernah ingin menyalahkan Aldo, Bayu, bahkan si sumber pertikaian, Astri. Menantu yang sudah dinikahi anak bungsunya itu nyatanya memang mencintai Bayu sepenuh hati. Perempuan yang baik, ramah, penyayang, dan pintar mengurus suami serta anak-anaknya yang kini sudah berjumlah dua. Bisa jadi kriteria Astri itu yang dulu juga membuat Aldo mencintainya. Sebelum akhirnya hubungan dua tahun itu berakhir ketika Bayu mengenal Astri dan mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah.

Dulu, Ibu Lina sempat marah kepada Astri. Kenapa ia dengan mudah membuang Aldo dan berpaling ke Bayu. Namun, rasa marah itu tidak menggebu karena di dalam hatinya Ibu Lina tahu pada akhirnya Bayu yang akan menang. Hubungan Aldo-Astri sudah berkali-kali putus sambung. Berpuluh tahun membesarkan Aldo, Ibu Lina sifat Aldo tidak memenuhi keinginan Astri. Bukan karena Aldo tidak baik atau bajingan, namun akhirnya Ibu Lina mengakui bahwa Bayulah yang akan mendapatkan Astri. Aldo harusnya mencari wanita lain, yang meski sudah pernah dilakukannya, hubungan itu kerap tidak berujung di pernikahan, dan Aldo masih menyimpan dendam kepada Bayu. Mungkin memang belum saatnya Aldo berpasangan, pikir Ibu Lina.

Hari ini, sudah sepekan Ibu Lina terbaring di ranjang karena penyakitnya kambuh. Kedua anaknya bergantian membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit. Ajakan itu hanya dijawab dengan gelengan, bahkan meski kedua orang cucunya yang meminta. Di luar kamar sang mertua, Astri berbicara pelan kepada Bayu, memohonnya untuk mengajak Aldo berbaikan. Meminta Bayu mengalahkan ego demi sang ibu. Bayu bimbang, seperti biasa, namun kali ini perasaan itu lebih kuat. Membuatnya bingung harus memulai dari mana dengan Aldo. Apa harus menunggu Ibu pergi selamanya baru kalian mau berbaikan. Kalimat itu terngiang di telinga Bayu. Ia kembali mengingat permintaan ibunya. Ia mencari nama Aldo di daftar kontak ponselnya, mengetikkan pesan karena menelpon terlalu berat baginya.

Hari ini Aldo dan Bayu berdiri berdampingan pertama kali sejak 6 tahun. Astri bahkan berada di antara mereka. Bukan untuk memulai pertengkaran seperti dulu saat Bayu berkata akan menikahi Astri. Kedua anak Astri bersimpuh di atas tanah merah, menaburkan bunga dan menuangkan air dari dalam botol. Tidak ada tangis lagi. Kemarin malam mereka sudah meluapkan semuanya; tangis, penyesalan, rindu, dan maaf. Semua mengantarkan Ibu Lina menutup mata untuk selamanya, namun dengan senyuman yang akan diingat abadi.

 

 

Menyatukan Dua Keluarga Lebih Pusing daripada Main Candy Crush

Pernikahan memang menyatukan dua keluarga. Secara teori, hal itu gampang diingat dan diiyakan. Tapi, secara praktik untuk diterapkan? Belum tentu mudah. Apalagi kalau kamu adalah tipe yang segan basa-basi atau kumpul ramai-ramai. Saya terkadang berkumpul sama keluarga sendiri saja butuh mikir-mikir, apalagi sama keluarga suami yang notabene sebuah kelompok baru dalam hidup saya. Meski memang, secara hukum, mereka sudah jadi keluarga saya juga.

Bukannya saya tidak percaya kalau keluarga itu segalanya, harta yang paling berharga adalah keluarga, atau saat susah hanyalah keluarga yang selalu hadir. Bukan. Sejak dulu, mungkin di antara anggota keluarga yang lain, saya sepertinya jadi orang yang paling ‘malas’ larut dalam kegiatan haha hihi keluarga, kecuali kakak-kakak langsung. Bisa jadi karena saya juga orangnya ‘nggak enakan’. Kalau di rumah sendiri, bersama kakak-kakak sendiri, atau sama suami saja, saya punya otoritas untuk melakukan apa saja seenak jidat: tidur gelempangan di lantai, santai kayak di pantai berjam-jam, ngupil, serdawa, liat medsos sambil mentertawakan status orang, main game di ponsel sampai asyik, dll. Di rumah orang lain, saya tidak enak jika harus menganggap itu sebagai ‘rumah saya sendiri’. Seolah saya terpaksa bertata karma atau belaku manis hanya untuk mendapatkan respect dan ucapan “lain kali main ke sini lagi, ya”. No.

Mungkin itu hanya soal pembiasaan. Buktinya teman-teman saya yang sudah menikah dan tinggal dengan mertua akhirnya nyaman-nyaman saja dan merasa itu rumah sendiri. Kayaknya. Tapi, jenis orang seperti saya tampaknya harus memiliki waktu lebih lama untuk adaptasi ini. Hahaha …

Makanya, balik lagi saya bilang pada praktiknya menyatukan dua keluarga itu belum tentu mudah, meski tidak mustahil. Saya termasuk beruntung mendapat keluarga dari pihak suami yang ‘welcome’. Kasarnya, kami tidak memiliki masalah. Belum lagi mertua yang baik yang kerap menanyakan kabar via telepon/Whatsapp, bahkan lebih sering dari keluarga saya sendiri (yang memang tipikal cuek-cuek, tapi sayang). Saya sadar tidak semua orang memiliki kemewahan ini, bukan hanya melihat dari sinetron, tapi hal-hal nyata yang kerap saya dengar dan lihat langsung.  Sungguh salut kepada mereka yang bisa menjalani hidup pernikahan dengan masalah hubungan komunikasi dengan keluarga istri/suami. Meski pada akhirnya, sebaik apa pun keluarga barumu, orang tua barumu, tidak akan pernah bisa mengganti posisi keluarga dan orang tuamu langsung.

*Dibuat saat galau ketika harus memilih ikut suami kondangan bareng teman-teman kantor atau ditinggal bareng keluarga suami yang sedang kumpul.