Finally, The W-Day (Part 2)

Okey, lanjut ke cerita lain soal persiapan di pernikahan gue 15 Juli lalu. Kali ini mau bahas soal undangan dan souvenir, ah. Kali aja ada yang kepo atau butuh informasi. Okey, lets start. Yok!

  1. The invitation

Gue pernah menulis singkat tentang undangan pernikahan ini di akun Instagram beberapa waktu lalu (@desimandasari.af). Undangan adalah salah satu hal yang gue dan Argo urus sendiri (tanpa melibatkan bantuan Ibu Eka) dan dari jauh-jauh hari memang ingin dibuat unik. Oleh karena itu . . . prosenya justru membuat kami cukup excited! Sebenarnya, sudah sejak entah kapan kami (khususnya gue) browsing undangan unik, misalnya di Pinterest. Mulai dari bentuk balon yang harus ditiup dulu biar informasi isi undangan bisa dibaca sampai bentuk paspor yang unch-unch.

Ada yang berprinsip undangan nggak perlu yang repot atau mahal, bener. Ada juga yang berprinsip selama mau dan mampu hajar aja, itu juga bener. I mean, kalau lo orangnya suka yang unik, pasti tau tips and trick-nya untuk ngakalin supaya apa yang lo mau tetap terwujud, tapi tetep nggak overbudget. But, pada akhirnya kalau budget-nya tetep berlebih dibanding yang nggak unik, kalian udah prepare  gitu lho bageur. Gue dan Argo juga dulu harus muter nyari digital printing, kok, salah satunya sebagai salah satu langkah agar bugdet-nya nggak over-over amat (halah). Selain jumlah tamu kami yang nggak terlalu mbludak tentunya. He he he~

Then, kami menemukan konsep yang diinginkan dan mempercayakan eksekusi desain ilustrasi ke salah satu teman gue yang memang bisa menggambar, namanya Hilda (IG: @ynthld). Lewat diskusi kita tentukan deadline, ukuran, bentuk, hingga harga. Hilda bantu mencarikan jenis kertas yang cocok secara dia pengalaman di bidang penerbitan. Kita sepakat mencetak undangan di kertas matte paper ukuran A3 yang nanti dilipat jadi ukuran A6 (dilipat jadi 9 lipatan). Untuk amplop, gue dan Argo nyari sendiri ukuran costumize di IG tapi lupa nama akunnya. Lalu, pesan stampel bertuliskan “you’re invited” di agen pembuat stampel pinggir jalan, deh, buat amplopnya.

Nyetak undangan kayak gini seperti biasa makin banyak makin mure, sih, walau gue nyetak cuma 200 eks. Tips lainnya, ya, untuk kantor per divisi gue bagi nggak per orang, tapi buat ramai-ramai, misal satu divisi gue kasih 2-3 undangan untuk bareng-bareng. He he he… malah dibilang harusnya satu undangan aja biar lebih hemat bahahaha~ Jangan lupa minta buatin undangan versi softfile buat ngirim ke teman-teman via Whatsapp atau BBM.

Beginilah penampakan undangannya. Suka!

  1. The Souvenir

Apakah gue bisa membeli sesuatu yang bernilai guna dan anti-kebanyakan di pasar souvenir? Tapi, mengingat sekarang informasi bisa diperoleh dengan mudah lewat Internet, browsing dulu kembali menjadi jawaban dibanding harus jauh-jauh datang ke Jatinegara atau semacamnya. Yak, googling “souvenir unik”. Didapatlah mulai dari bijih kopi dengan takaran sekali seduh hingga batangan cokelat. Uwuwuwuw~

Lalu, dari hasil browsing, pilihan gue dan Argo terhenti antara tanaman hidup atau pouch. Dua jenis souvenir ini nyatanya sudah banyak digunakan/dipesan oleh pasangan pengantin dalam acara pernikahan akhir-akhir ini (ngomong opo tho). Sebenarnya, gue sreg banget sama tanaman hidup. Tapi, pertimbangan  Argo adalah tamu akan sulit membawa pulang tanaman tersebut. Bisa, sih, dipesankan dengan packaging yang lebih save, tapi harganya juga lumayan tinggi. Buat kalian yang tertarik, silakan Googling, cocok buat yang suka tema go green. Waktu itu nemu agen di daerah Lembang yang juga punya cabang di daerah Depok. Tanamannya juga beragam. Kemasannya macem-macem lagi.

Akhirnya, kami memutuskan pouch sebagai souvenir pernikahan kami. Kami sempat pendekatan dengan beberapa penyedia jasa pembuatan pouch dan totebag dengan membeli sample mereka. Akhirnya pilihan jatuh (cie) ke Invistation (Instagram: @Invistation) yang menyediakan jasa desain dan memperbolehkan kita memakan desain kita sendiri. Ukuran pouch pun terdiri dari beberapa jenis. Kita bisa pilih. Harga pouch disesuaikan dengan jumlah pesanan. Berikut tampilan pouch yang kami pesan, packaging sudah include kartu ucapan terima kasih, kertas cokelat bertuliskan nama pengantin & tanggal nikah, dan plastik pembungkus.

Saran gue sih, boleh pesan souvenir yang harganya terjangkau, tapi kalau bisa tetap bernilai guna walau mungkin (kasarnya) nggak long last-long last amat. Soalnya, gue pernah datang ke acara nikah dan dapat souvenir suatu alat perawatan tubuh yang akhirnya nggak bisa dipakai (karena tumpul huaaaa~). Pas beli dese juga pasti nggak tau sih barangnya ada yang bagus ada yang gagal, alias nggak ngecek satu per satu. Mending kalau begitu pesan hiasan sekalian, misal gantungan kunci. Hanya saran biar justru nggak kebuang budget-nya.

Akhir tahun ini, beberapa kenalan dan teman (baik dari gue maupun Argo) kebetulan juga sedang bersiap menghadapi pernikahan. Sebagai yang, Alhamdulillah, sudah melewati fase itu, gue doakan semoga semua prosesnya selalu lancar dan dimudahkan dalam hal apapun tentunya. Kuat dan solid, ya, sebagai pasangan, setelah menikah nanti juga. Pesan dan doa buat gue juga yang masih belajar dan beradaptasi dalam chapter baru ini *sambil ngiris bawang dan ngoles Nutella *ngapain bu aji?

Dalam hal persiapan, sih, . . . rasakan aja pokoknya bahahaha! *lempar palu Thor* Salam peace~

DSC_0184.JPG

Iklan

Kunjungan Tidak Sengaja ke Toko Wood

Urusan pakaian, gue dan Argo pengennya nggak pakai sewa-menyewa alias beli atau bikin. Tentu saja harus ada pakaian untuk cowo dan cewe. Mulai dari cowonya dulu, deh. Karena kami ingin hanya menggunakan satu jenis pakaian untuk akad sekaligus resepsi; jas dan simple dress.

Berbekal pencarian di Internet, kami mendapat referensi sebuah penjahit di Pasar Baru yang menawarkan satu paket jas, celana, plus bonus dasi dan kemeja. Kebetulan harga yang ditawarkan masih cocok buat kami. Sebelumnya, kami sempat masuk ke beberapa toko di dalam mall, namun harga yang ditawarkan terlalu mahal (sempat menemukan jas dengan harga di atas 20jt muahahaha), atau kalaupun ada yang harganya cocok, Argo tetap harus memperkecil jasnya di penjahit. Makanya diputuskan untuk membuat.

Tanggal 25 Maret, kami mengunjungi salah seorang kerabat di Bintaro untuk membicarakan rencana lamaran. Sepulang dari sana, kami mampir ke mall Bintaro X Change untuk sekadar jalan-jalan. Tidak sengaja, kami melihat (dan akhirnya mampir) sebuah toko bernama Wood yang memang menjual pakaian pria. Begitu masuk, Argo langsung menemukan sebuah jas yang pas di badannya yang cenderung kurus. Sungguh kebetulan. Syukurnya, Wood juga membandrol harga yang masih terjangkau plus saat itu sedang ada sale untuk beberapa item.

Argo pun mencoba jas warna dark grey yang ia pilih, sekaligus celananya, kemaja basic warna ice blue, dan dasi kupu-kupu. Jas slim fit itu sebenarnya sangat pas di badan Argo, kecuali dia masih ingin membenahi beberapa sisi ke penjahit sekalian mengecilkan celana karena kebetulan ukuran celana yang ia pakai sedang kosong. Untuk ke-4 item yang tadi gue sebut, kami hanya perlu mengeluarkan uang 1,6 juta. Dasi kupu-kupu yang dimaksud bahkan hanya berharga Rp45.000 karena didiskon 70%. Oke, PR berikutnya adalah mencari gesper (karena gesper yang Argo punya abege banget hahaha), juga mungkin sepatu dan kaus kaki. Nanti, ya, kita cari duit lagi.

Akhirnya, satu hal lagi selesai. Setelah ini, giliran pakaian untuk cewenya dong. Di tulisan berikutnya, ya.

Long Way #2: So, This is My Ring

Penantian 10 hari, akhirnya harus menjadi 11 hari. Cincin yang harusnya jadi tanggal 28, terpaksa diambil tanggal 29 karena Kokoh Bukit Emas mengirim SMS bahwa kerangka cincin gue sudah jadi, namun tenaga yang memasang zircon nggak masuk pada hari itu. Jadi, tanggal 29 sore gue izin dari kantor untuk mengambil cincin pesanan. Baca tulisan sebelumnya terkait cincin di tautan ini.

Sampai di CGC, ternyata ada dua orang selain gue yang juga mau ngambil cincin hari itu. Semuanya belum diberi grafir (nama), jadi gue harus menunggu agak lama. Memang mau musim kawin, nih, jelang dan sesudah puasa-lebaran. Untungnya, baik si Cici maupun Kokoh selalu ramah ngajak ngobrol, bahkan sampai disediakan air mineral segala selama menunggu. Rata-rata toko di CGC tutup jam 5 sore. Itulah alasan mengapa gue harus izin keluar kantor dan menembus kemacetan ibukota jelang jam pulang kerja (halah).

Sampai di toko, kok, gue jadi mupeng sama model-model lain, ya. Hahaha . . . Apa pesan lain lagi, nih, buat akad? Meskipun tergolong toko kecil, Bukit Emas menyediakan model cincin yang lucu-lucu. Lagipula, kita bisa diskusi model, sih, menurut gue. Tadinya, gue mau ngambil ketika jam makan siang, tapi Si Kokoh via SMS bilang cincin perlu difinishin dulu, setelah diberi zircon. Ya, mungkin maksudnya finishing itu diberi grafir de el el.

“Nih, punya Desi, yang jarinya kecil banget.” Kata Si Cici begitu cincin gue kelar. Setelah gue coba, cincin tersebut kemudian dimasukin kota berbentuk hati, dan gue menyelesaikan pembayaran. Oh iya, jangan lupa surat cincinnya disimpan. Berhubung gue jarang banget beli perhiasan, mungkin kalau Si Koko nggak mengingatkan surat cincinnya kemarin ketinggalan hahaha… Padahal itu penting banget kalau cincinnya mau dijual lagi *digebuk Argo*

Begini penilaian yang mau gue kasih ke Bukit Emas: Lo bisa request mau jadi cincinnya berapa hari. Di saat  toko lain meminta 2-3 minggu di musim kawin begini, gue bisa request 10 hari, meski harus nambah juga 1 hari lagi. Selain itu, pelayanan dari Si Cici dan Koko asyik, mereka bisa kasih lo pendapat hingga ngajak bercanda. Jadi, kegiatan cari cincin nggak tegang-tegang amat. Soal harga mungkin nggak beda jauh lah, ya, sama toko lain. So, kalau gue suatu hari berminat beli perhiasan ke CGC, gue berkemungkinan akan ke Bukit Emas lagi. Kalian bisa menghubungi toko Bukit Emas di nomor ponsel: 0811144700. Selamat berburu cincin!

Begini penampakan cincin jari kecil yang gue & Argo pesan: 20170329_202622

Long Way #1: Ring, Ring, Ring

Dengan waktu yang dirasa cukup sempit, Sabtu 18 Maret kemarin, gue dan Argo mulai mencari cincin. Cincin ini akan digunakan saat lamaran sekaligus sebagai cincin kawin. Tempat yang kami datangi adalah Cikini Gold Center (CGC). Lumayan sulit untuk menemukan cincin yang cocok karena:

  1. Banyak toko di CGC tutup
  2. Ukuran jari gue yang kelewat kecil

Kami berkutat cukup lama mencoba cincin demi cincin di dua toko awal, yaitu Toko Kemenangan dan satu lagi gue lupa namanya. Jari gue ternyata berukuran 6. Iya 6! Kebanyak cincin cewek berukuran paling kecil 8 yang ready stock. Cincin bisa aja di-resize dengan menunggu satu jam, syaratnya tidak lebih dari dua nomor, misal dari 9 ke 7. Jika lebih dari itu, hiasan cincin bisa rusak.

Untung dua toko pertama itu punya pelayanan yang sangat ramah, jadi nggak keberatan ketika akhirnya kami nggak jadi beli. Sampai di titik ini, gue mulai stres. Tentu karena sebelumnya gue sudah membayangkan akan membawa pulang cincin saat itu juga. Akhirnya, setelah naik ke lantai atas lalu turun lagi, lalu muter-in ulang lantai dasar, kami diarahkan ke satu toko namanya Bukit Emas. Asiknya, di BE ini kita bisa request mau dibuatkan cincin berapa lama. Umumnya, pembuatan cincin memakan waktu 1-4 minggu tergantung load pesananan. Toko-toko sebelumnya meminta waktu 3-4 minggu, sedangkan kami butuh cincin itu sebelum tanggal 1 April. Ga sampe dua minggu.

Di Bukit Emas, Si Kokoh menyanggupi untuk membuat cincin dalam waktu 10 hari. Alhamdulillah. Setelah sreg sama satu model (dipengaruhi oleh faktor lelah juga, sih, jadi nggak pilih model yang neko-neko), kami akhirnya pesan cincin emas putih dengan hiasan batu Zicron di setengah kelilingnya. Totalnya sekitar 3,5 gram saat jadi nanti (sesuai ukuran jari manis tangan kanan gue). Per gram, BE mematok harga Rp400.000. Jika ingin ditambah berlian, waktu itu kami ditawarkan harga Rp100.000 per butirnya.

Untuk menghemat budget dan karena gue bukan tipe penggila jenis perhiasan, maka zicron tetap jadi pilihan. Biaya pembuatan adalah Rp450.000/cincin. Waktu itu, Si Kokoh meminta DP pembuatan 1 juta rupiah, sisanya dilunasi saat cincinnya selesai. Kami memang sepakat awalnya untuk nggak beli cincin buat Argo (emas memang nggak boleh, tapi bisa pakai paladium atau perak, kok) karena dia nggak nyaman pake perhiasan. Si Cici pemilik toko bilang, “Wah, itu modus biar nggak ketahuan sudah nikah, tuh!” Hahahaha sukurin! Oh iya, biaya 1 juta sekian itu sudah include grafik nama pasangan di dalam cincin.

Soal bentuk cincin yang sudah jadi, nanti Insya Allah akan gue post bareng tulisan ‘Long Way’ lainnya. Nggak sabar lihat bentuk cincin jadinya, semoga sesuai keinginan dan benar-benar cocok di jari gue. Bisa jadi, saat pengambilan cincin, gue jadi tertarik beli cincin untuk Argo :p

Oh, iya. Tadinya, kami ingin masuk ke toko emas Kenang karena toko ini direkomendasikan di Internet. Tapi, pengunjungnya lagi rame banget untuk ukuran toko sekecil itu. Saran gue, sih, coba cari-cari di toko lain. Worth it, kok. Kami juga berencana survei ke seputaran Blok M, tapi setelah berhasil menemukan Bukit Emas . . . ya nggak jadi. See you in the next post!