Engap

Hah. Finaly, 36 weeks. Besok sudah 37 weeks malah. 37 weeks berarti sudah hilang satu lagi kecemasan, yaitu kelahiran sebelum waktunya hehe.  Memang cemas dan parnoan, ya. Apa banyak juga ibu hamil kayak gini? Kalau trimester awal khawatir akan janin yang masih lemah, trimester ketiga khawatir si bayi lahir terlalu cepat atau terlalu lama.

Katanya, kalau minggu ke-36 hitungannya masih pre-term atau masih terhitung premature walau sudah menjelang awal 9 bulan. Kalau sudah masuk (minimal) 37 weeks hingga 40 weeks itu usia yang pas untuk melahirkan, sedangkan lebih dari 40 weeks disebut post-mature, atau cenderung terlambat.

Apa saja yang dirasakan di trimester 3 jelang HPL ini? Susah tidur sudah pasti. Tidur lurus telentang bikin sesak nafas karena rahim menekan jalur nafas, tidur miring ke kiri atau kanan perut ngilu karena si janin masih mengikuti gravitasi. Apalagi, janin saya cenderung agak besar untuk ukuran tubuh saya yang minimalis. Morning sickness juga kembali lagi, meski tidak separah trimester pertama, siang dan malam saya kembali nafsu makan dan ngemil, juga minum minuman manis. Di minggu-minggu ini, saya doyan sekali minum minuman manis, seperti sirup, es teh, atau es cokelat. Padahal, zat gula bisa menambah BB si bayi hehehe..

Kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman membuat saya harus menunggu hingga kantuk datang dengan hebatnya. Biasanya saya duduk-duduk dulu sampai mata benar-benar berat, baru kemudian dibawa rebahan. Gangguan lainnya adalah rasa “engap” dan sakit pinggang. Stress? Tentu saja. Namanya juga jelang HPL. Apalagi anak pertama. Belum ada pengalaman.

Masuk di minggu 36 lalu, saya menjalani cek ukuran panggul sesuai saran Obgyn. Metodenya adalah dengan memasukkan jari ke jalan lahir selayaknya cek status pembukaan. Saya sudah ngilu seligus khawatir membayangkannya. Khawatir metodenya, juga hasilnya. Benar saja, panggul saya dinyatakan berukuran agak “pas-pasan”. Bayinya tidak boleh terlalu besar. Selain itu, kepala bayi belum masuk ke jalan lahir. Bisa jadi karena ukuran panggul yang kecil atau ketubannya yang masih terlampau banyak. Jadi, sang Obgyn memutuskan akan mengobservasi ukuran panggul saya tiap minggu hingga usia kehamilan 40 minggu.

Pada beberapa kehamilan, memang si janin sudah turun ke jalan lahir pada minggu 36 atau 37, tapi karena kasus ibu hamil tidak sama, ada juga yang baru masuk panggul pada minggu 38-40 atau lebih. Namun, obgyn saya sepertinya memiliki batas waktu tunggu untuk persalinan normal, yaitu 40 weeks saja. Selebih itu, dia khawatir akan kondisi ketuban dan bayi. Oke, berarti untuk 4 minggu berikutnya, saya masih akan diobservasi lewat vaginal check dan USG hehehe.

Ketika saya mencoba berobat ke bidan (yang Alhamdulillah ramah dan enak diajak ngobrol), memang si janin belum turun ke jalan lahir. Bidan meraba perut (sekaligus meremas perut bagian bawah) untuk mengetahui posisi badan, khususnya kepala bayi. Seperti saran yang juga saya dapatkan dari obgyn, orang sekitar, dan artikel-artikel, saya diminta melakukan beberapa ikhtiar, seperti sujud, gunakan birthing ball, dan gerakan lain yang katanya bisa membantu janin turun ke jalan lahir. Memang saya juga agak pemalas, sih, sejauh ini. Harusnya banyak pemberdayaan diri yang bisa dilakukan. Kadang saya mikir dengan jalan kaki pulang pergi ke kantor sudah cukup. Ditambah jadwal prenatal yoga yang bertepatan terus dengan jadwal kontrol kehamilan, sehingga saya tidak bisa ikut yoga.

Sekarang, saya antara pasrah untuk mengikuti observasi obgyn tiap minggu dan kontrol juga ke bidan dengan mengharap hasil apa saja. Kalau bisa normal, syukur Alhamdulillah, namun jika harus Caesar juga saya harus siap. Lemah, ya? Mungkin lebih ke menghindari stress saja, sih. Saya nggak mau memaksakan kelahiran normal jika dirasa membahayakan atau menimbulkan risiko bagi janin. Rasanya kedua proses akan sama-sama memberi saya tekanan kalau dipikirkan negatifnya, memang. Jadi, ada benarnya saya memasrahkan kepada janin untuk memilih jalannya, meski saya masih terus membujuk dia untuk masuk jalan lahir supaya ada harapan untuk proses normal itu.

Di sisi lain, saya juga enggan menunggu hingga melebihi usia 40 minggu. Alasan pertama, tubuh yang mini ini sudah engap sekali. Kedua, minggu ke-41 bertepatan dengan minggu Idul Fitri. Segan rasanya membayangkan melahirkan saat-saat itu, merepotkan pasangan, keluarga, sekaligus repot mencocokkan waktu dengan tenaga medisnya, meski lagi-lagi semuanya bisa diatur. Jadi, saya berharap sekali si janin sudah lahir pada minggu 38-40. Semoga, ya, Nak. Amin.

Iklan

When It Comes Not So Easy

32 weeks already.

Beberapa hari lalu saya dan suami baru saja mengajak si janin babymoon ke Jogja. Rencana yang sudah ada sejak sebulan sebelumnya. Rencana yang mungkin sebaiknya direalisasikan lebih awal, bukan di trimester ketiga. Alasannya? Karena di tahap ini badan justru lebih mudah capek dan si janin makin aktif, sehingga kerap bikin perut ibunya kencang dan seolah kontraksi. Untunglah semua berjalan lancar dan di Jogja justru saya cenderung lebih happy dan banyak makan. Cerita lebih lengkap mungkin akan saya tuliskan lain kali, ya. Ini cuma sebagai bridging hehe..

Trimester ketiga. Kurang dari dua bulan lagi Insya Allah anak ini akan lahir. Terasa cepat sekaligus lama. Jika diingat-ingat saat kehamilan 6 minggu di mana saya pertama kali dinyatakan positif hamil dan tidak sampai dua bulan lagi akan melahirkan tentu rasanya cepat. Jika diingat dan dirasa dari segala fluktuasi emosi dan perubahan kondisi fisik, masa ini lumayan terasa lama. Sudah tidak sabar sekaligus belum siap menyambut anak pertama ini.

Trimester awal kehamilan diwarnai dengan morning sickness dan moodswing, trimester kedua terasa semua lebih baik. Tidak heran jika banyak orang menyebut trimester kedua adalah kondisi terstabil dan ternyaman selama hamil. Di trimester ketiga, pengalaman lain muncul. Sulit tidur karena mencari posisi yang nyaman sudah pasti. Miring kiri, miring kanan nyeri karena si bayi mengikuti wadahnya berkembang dan gravitasi, sehingga perut saya hampir selalu berbentuk tidak rata, mencong sana mencong sini, dan itu membuat rahim mengencang dan agak nyeri. Belum lagi jika si bayi menekan perut bagian bawah dan kandung kemih. Kontraksi palsu mulai muncul membawa perasaan khawatir. Saya sering berkomunikasi dengan si bayi agar dia sabar menunggu hingga 6-8 minggu lagi saking khawatirnya dia lahir terlalu cepat.

Selain itu, morning sickness kembali saya rasakan meski tidak seintens trimester pertama. Sering kali, di pagi hari, saya mual hebat dan memuntahkan makanan atau sekadar cairan. Tubuh juga lebih cepat lelah dan nafas ngos-ngosan. Obgyn sempat bilang ini juga bisa disebabkan karena tubuh saya terlalu mungil, sedangkan berat janin tergolong besar. Gangguan lain mungkin seperti batuk-pilek dan kerongkongan yang selalu berdahak.

Memang hamil itu tidak mudah.

Pagi tadi, sebelum sama-sama berangkat ke kantor, saya sempat ngobrol dengan suami. Orang-orang yang sangat ingin hamil atau tiba-tiba saja hamil (seperti saya) apakah pernah terlintas di pikirannya bahwa hamil itu tidak akan mudah? Meski tiap ibu berbeda kasus, namun tetap saja membawa makhluk bernyawa dengan segala perubahan fisik dan emosi selama 9 bulan itu tidak bisa disepelekan. Mungkin memang kita harus merasakannya dulu baru paham. Contohnya saya, ketika kerap mengeluh saat hamil, saya kadang berusaha mengingat bahwa banyak dari wanita di luar sana berharap hamil seperti saya, jadi bersyukurlah. Mungkin ketika anak ini lahir memang semuanya akan terbayar. Perjuangan selama 9 bulan itu akan tergantikan oleh rasa yang tidak terperi. Buktinya, banyak pula wanita yang pernah mengalami kehamilan dengan masa-masa yang berat tidak kapok untuk hamil lagi.

Suami bilang: semua (keluhan) itu tidak berarti karena ada yang ditunggu (buah hati). Memang benar, sih. Tapi tetap saja, hamil bukan sekadar sebuah perjalanan akan memiliki anak. Tapi, perjuangan selama 9 bulan itu dan setelah ia lahir. Bukan hanya perjuangan oleh si calon ibu, tapi juga si calon bapak yang mendampingi. Terlebih kalau kita tinggal jauh dari keluarga. Seolah-seolah perjuangan hidup memang berawal dari sini. Bisa jadi, mereka yang menunda memiliki anak karena beragam alasan (karier, finansial, dll) akan semakin mantap menunda jika tahu rasanya pengalaman 9 bulan ini. Sebaliknya, mereka yang sudah niat penuh memiliki buah hati, pasti akan siap menjalani pengalaman ini. Seharusnya, sih, begitu.

Yah, memang saya harus merasakan melahirkan dan melihat dulu anak ini terlahir ke dunia agar rasa itu lebih lengkap. Semoga tidak ada trauma. Hehe.. Satu hal yang bisa saya simpulkan; hamil itu rasanya memang luar biasa. Nothing compares to it.

Tidak Pernah Ada Destinasi yang Cukup

Menikah dan memiliki anak mungkin menjadi tujuan banyak orang, sementara banyak juga yang memutuskan tidak menikah dan memiliki anak. Menikah memang bukan perkara gampang dan serba-manis. Kenyataan banyak juga yang gagal dalam menjalaninya tidak jarang membuat kini banyak pula yang skeptis akan pernikahan, meski tidak menutup fakta banyak pula yang baik-baiak saja dalam menjalaninya.

Menikah dan memiliki anak, sama seperti banyak “pencapaian” dalam hidup lainnya, bukanlah sebuah tujuan. Saya pernah membaca tulisan di blog milik Edward Suhadi yang sudah menikah selama lebih dari 10 tahun dan sekarang sedang menjalani program untuk memiliki anak bersama sang istri (baca di sini dan di sini.) Ia mengutip sebuah kalimat dari Casey Nestat, “In life, we never arrived”. Artinya, kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada sebuah destinasi. Pencapaian yang kita dapatkan hari ini adalah awal baru dari jalan yang terbuka setelahnya.

Contoh, ketika seseorang menikah, ia akan memulai hidup baru, namun perjuangan setelah itu masihlah panjang. Begitupun saat ia menjadi calon orang tua. Dimulai dari perjuangan menjaga kehamilan itu agar baik-baik saja, kemudian perjuangan melahirkan sang anak, membesarkannya, dan seterusnya. Kalian yang belum menikah pun pasti kerap ditanya “kapan menikah” dan sebelumnya mungkin pernah mengalami perjuangan mengerjakan skripsi, lulus UN SMA, dan seterusnya.

Hal itu pula yang membuat saya salut kepada orang-orang yang tengah berusaha memiliki anak sekuat tenaga. Di sisi lain, saya bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung secepat ini. Di sisi lain, saya juga khawatir. Apakah anak pertama saya sehat, terlahir sempurna, cerdas, dst. Terkadang timbul kekhawatiran sewaktu-waktu saya akan kehilangan janin saya. Ternyata, vonis hamil bukanlah puncak kebahagiaan, bukan puncak segalanya. Setelah itu, masih ada yang harus diperjuangkan.

Bukan hanya kisah Edward dan istri, saya juga sempat membaca tulisan Andra Alodita yang juga pernah menjadi pejuangan IVT (bayi tabung) di sini. Setelah membaca tulisan Andra, saya jadi berpikir, sudahkan saya bersyukur dengan cara menjaga calon anak saya sebaik mungkin? Apakah orang tua-orang tua di luar yang juga diberi momongan cepat juga sudah bersyukur sebaik mungkin? Benarkah sesuatu akan makin dihargai jika kita semakin lama menunggu? Di satu sisi saya setuju, namun saya juga tidak mau menjadi calon orang tua yang tidak menjaga anak saya sebaik mungkin sejak dini meski diberi anugerah secepat ini.

Tidak hanya mereka berdua, bahkan kakak saya pun baru saja menjalani program IVT setelah penantian sekian tahun. Mendengar perjuangannya untuk mengikuti program ini cukuplah membuat saya semakin berpikir, sekaligus ingin mengatakan padanya, “kelak ketika kita divonis positif hamil, itu bukanlah akhir dari segalanya. Masih panjang perjuangan yang harus dilalui.” Padahal, untuk sampai ke proses embrio transfer di IVT tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui sebelumnya, terlebih jika kesulitan seseorang dalam memiliki anak disebabkan karena kondisi kesehatan khusus. Kondisi tersebut harus disembuhkan terlebih dulu. Belum biaya yang diperlukan, juga tenaganya.

Terbukti, setelah hamilpun saya masih merasakan banyak gejolak. Perasaan dan pikiran yang mungkin tidak perlu. Tidak sekali saya jadi stres atau ingin menangis ketika membandingkan kondisi dengan ibu hamil lain: berat badan saya yang kurang atau perut yang lambat membuncit. Dokter sudah bilang bahwa kondisi bayi saya baik-baik saja. Namun, kalimat-kalimat seperti, “Kok, perutnya nggak kelihatan padahal udah hamil 6 bulan”, “Ayo, naikkan BB, dong, nanti bayinya kecil”, dst masih saja mengganggu. Artikel demi artikel saya baca, kunjungan ke obgyn-pun dilakukan hampir 2 minggu sekali, tapi rasa tidak percaya diri itu tetap saja muncul ketika orang lain membuat pernyataan tentang kondisi kehamilan saya (yang saya sendiri yang merasakannya). Berusaha berpikir positifpun tidak selalu mudah.

In life we never arrived. Bukan hanya soal pernikahan dan memiliki anak, namun juga dalam aspek lain. Tidak pernah ada destinasi yang benar-benar menjadi tujuan akhir. Kita akan terus berjalan, mencari sesuatu, mengalahkan kekhawatiran, menjaga apa yang ditakdirkan, kemudian kehilangan, gagal, lalu bangkit, atau menemukan penggantinya.

Pasti sulit untuk tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain yang kita pikir sudah mencapai sesuatu. Itu manusiawi. Berusaha lega atas tiap yang kita terima dan memaafkan diri sendiri memang membutuhkan ilmu tinggi yang saya pun kerap gagal dalam ujiannya. Hehehe…

Jadi, buat kalian yang sedang ditanya dengan gencar “kapan menikah” atau “kapan punya anak”, kuat-kuatlah karena setelah merasakan kedua “pencapaian” itu, masih ada perjuangan lain, juga pertanyaan yang mengusik lainnya. Mungkin seperti, “Kapan punya anak kedua” atau “Kapan punya rumah sendiri”.

Story: Dua Keturunan Ibu Lina

Terhitung sudah hampir 6 tahun Aldo dan Bayu tidak berkomunikasi. Sebuah anomali untuk hubungan kakak-adik. Kandung, tentu saja. Sesekali mereka hanya berkomunikasi ketika harus mengabarkan bahwa ibu mereka kambuh sakit gulanya. Itupun hanya kabar singkat, kemudian pertemuan canggung yang nyaris tidak ada basa-basi. Aldo tidak pernah berusaha memulai, begitupun Bayu.

Ibu Lina sudah tidak terhitung membujuk agar kedua anaknya berbaikan. Mengatakan bahwa sebagai kakak, Aldo harus coba mengalah, memaafkan Bayu. Ketika saran itu tidak didengar, ia meminta Bayu sebagai adik terlebih dulu mengunjungi kakak dan meminta maaf, meski Ibu Lina tahu kedua anaknya sama-sama keras hati. Buat apa mengalah, kata Aldo. Bukankah sejak awal Bayulah biang keladi pertikaian ini. Tidak perlu minta maaf, kata Bayu, keputusan yang diambil adalah hasil pemikirannya bersama sang istri, Astri. Keputusan yang dahulu memicu pertikaian. Lagipula, Astri sudah pernah memaksa Bayu meminta maaf. Karena cinta, Bayu memenuhi, meski Aldo tetap bungkam.

Tidak letih Astri dan Ibu Lina membujuk Bayu atau Aldo untuk kembali menjalin hubungan yang normal layaknya keluarga lain. Ketika hari raya, Aldo dan Bayu nyaris tidak pernah mau mendatangi rumah Ibu Lina jika tahu salah satu dari mereka sedang hadir. Beruntung keduanya tetap rutin menengok sang ibu, meski bergantian. Ibu Lina yang sudah tua dan sakit-sakitan malah tidak pernah mau diajak tinggal dengan salah satu dari mereka. Mungkin sebuah pemberontakan karena kesal kedua anak laki-lakinya tidak akur atau justru tidak mau merepotkan sama sekali. Sebelum ibu mati, tolong kalian berbaikan. Aldo dan Bayu hanya bergeming ketika suatu waktu Ibu Lina mengatakan itu.

Sungguh masalah perasaan dapat merusakan hubungan kompleks yang telah dibangun berdasarkan keturunan. Ibu Lina tidak pernah ingin menyalahkan Aldo, Bayu, bahkan si sumber pertikaian, Astri. Menantu yang sudah dinikahi anak bungsunya itu nyatanya memang mencintai Bayu sepenuh hati. Perempuan yang baik, ramah, penyayang, dan pintar mengurus suami serta anak-anaknya yang kini sudah berjumlah dua. Bisa jadi kriteria Astri itu yang dulu juga membuat Aldo mencintainya. Sebelum akhirnya hubungan dua tahun itu berakhir ketika Bayu mengenal Astri dan mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah.

Dulu, Ibu Lina sempat marah kepada Astri. Kenapa ia dengan mudah membuang Aldo dan berpaling ke Bayu. Namun, rasa marah itu tidak menggebu karena di dalam hatinya Ibu Lina tahu pada akhirnya Bayu yang akan menang. Hubungan Aldo-Astri sudah berkali-kali putus sambung. Berpuluh tahun membesarkan Aldo, Ibu Lina sifat Aldo tidak memenuhi keinginan Astri. Bukan karena Aldo tidak baik atau bajingan, namun akhirnya Ibu Lina mengakui bahwa Bayulah yang akan mendapatkan Astri. Aldo harusnya mencari wanita lain, yang meski sudah pernah dilakukannya, hubungan itu kerap tidak berujung di pernikahan, dan Aldo masih menyimpan dendam kepada Bayu. Mungkin memang belum saatnya Aldo berpasangan, pikir Ibu Lina.

Hari ini, sudah sepekan Ibu Lina terbaring di ranjang karena penyakitnya kambuh. Kedua anaknya bergantian membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit. Ajakan itu hanya dijawab dengan gelengan, bahkan meski kedua orang cucunya yang meminta. Di luar kamar sang mertua, Astri berbicara pelan kepada Bayu, memohonnya untuk mengajak Aldo berbaikan. Meminta Bayu mengalahkan ego demi sang ibu. Bayu bimbang, seperti biasa, namun kali ini perasaan itu lebih kuat. Membuatnya bingung harus memulai dari mana dengan Aldo. Apa harus menunggu Ibu pergi selamanya baru kalian mau berbaikan. Kalimat itu terngiang di telinga Bayu. Ia kembali mengingat permintaan ibunya. Ia mencari nama Aldo di daftar kontak ponselnya, mengetikkan pesan karena menelpon terlalu berat baginya.

Hari ini Aldo dan Bayu berdiri berdampingan pertama kali sejak 6 tahun. Astri bahkan berada di antara mereka. Bukan untuk memulai pertengkaran seperti dulu saat Bayu berkata akan menikahi Astri. Kedua anak Astri bersimpuh di atas tanah merah, menaburkan bunga dan menuangkan air dari dalam botol. Tidak ada tangis lagi. Kemarin malam mereka sudah meluapkan semuanya; tangis, penyesalan, rindu, dan maaf. Semua mengantarkan Ibu Lina menutup mata untuk selamanya, namun dengan senyuman yang akan diingat abadi.

 

 

Ulang Tahun Bukan seperti Tahun-Tahun Sebelumnya

Ketika kita memiliki orang tua atau kerabat berusia lanjut yang kerap lupa ulang tahunnya mungkin kita heran kenapa mereka bisa lupa hari penting itu. Selain karena pertambahan usia tentunya. Namun, tentu saja tidak semua manusia usia muda juga selalu ingat atau menganggap penting hari ulang tahun sendiri atau orang lain.

Seiring usia yang bertambah, saya tampaknya setuju jika ulang tahun bukanlah lagi hari yang sakral-sakral banget. Umur berkurang. Apalagi kalau bertambah usia tidak dibarengi pertambahan pencapaian, lebih tidak luar biasa lagi.

Dulu, saya, dan saya yakin banyak di antara kalian, yang selalu menanti hari ulang tahun sendiri: surprise dari orang terdekat, kado-kado, kue ulang tahun, bahkan menerka-nerka siapa yang akan mengucapkan pertama kali di jam 00.01. Kita mungkin menghitung jumlah ucapan yang masuk ke ponsel atau media sosial dan lain-lain. Iya, saya pernah melakukan beberapa momen itu hehe..

Tapi, sekarang kerasa kalau momen pertambahan umur lebih pas dirayakan dengan mengaminkan doa dari orang yang mengucapkan (dan ingat tentu saja) atau sekadar berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat atau teman, seperti makan-makan, sebagai ungkapan syukur sudah diberi umur sejauh ini. Tapi, saya, sih, tetap nggak nolak kalau ada yang kasih hadiah. Apalagi suami (bahkan sejak masih pacaran) suka nawarin hadiah yang akhirnya pas hari H malah lupa beliin. Akhirnya, saya yang menagih janji :p

Jadi, kalau usia 20-an atau late 20-an suka bilang “eh, ini tanggal sekian ya (hari ulang tahunnya)” ketika diucapkan selamat, sekarang saya nggak heran-heran amat, sih. Kalau tradisi minta traktir atau makan-makan, sih, akan selalu ada. Malah makin bertambah umur budget traktirnya akan lebih tinggi. Ya, kan?

24 Desember kemarin (masih belum berubah) saya berulang tahun kesekian. Sudah late 20-an. Suami sempat nanya, “Apa ulang tahun masih menjadi hari yang spesial buat kamu?”. Saya jawab ya saat itu. Karena dasarnya, suami justru lebih selow dalam menyambut dirgahayu-dirgahayu-an seperti itu, meski ulang tahunnya sendiri. Padahal usianya lebih muda dari saya. Memang sejak di keluarga, suami tidak pernah dibiasakan menganggap ‘wah’ ulang tahun, sedangkan saya, saat kecil (kalau tidak salah hingga usia 5 tahun) selalu merayakan hari ulang tahun, meski hanya di rumah dengan nasi tumpeng dan mengundang anak-anak tetangga.

Masih ingat dulu saya kerap mendapat banyak kado, salah satunya yang paling membekas dalah kaset soundtrack Kstaria Baja Hitam yang kala itu benar-benar hits. Ibu akan memakaikan dress superfeminin yang sayapun tidak nyaman memakainya karena bahannya bikin gerah dan gatal, kata saya, hahaha.. (dasar anaknya saja nggak bisa feminin). Saat dewasa, kuliah hingga bekerja, saya pun masih beberapa kali mendapatkan surprise kecil-kecilan dari teman-teman yang membawakan kue tart.

Mungkin itu sebabnya suami kerap lupa juga janjinya membelikan saya kado (alasan). Toh, sedewasa dan setua apa pun usia manusia, tidak salah merayakan hari jadi. Bukan masalah umur, kan? Hanya masalah kebiasaan dan kenyamanan. Ulang tahun kemarin saya akhirnya hanya mentraktir suami nonton bioskop dan makanannya, meski tidak ulang tahun pun hal itu biasa kami lakukan satu sama lain.

Jika mau dihitung-hitung, saya mendapat kado luar biasa di pertambahan umur tahun ini: keluarga baru, hidup baru, dan jabang bayi yang kini berusia 4 bulan di rahim saya. Kado yang belum pernah saya dapatkan seumur-umur jika hanya dibandingkan dengan barang-barang (bukan berarti saya tidak menyukai semua kado yang pernah saya terima. Terima kado, kok). Usia bertambah memang harus diimbangi dengan doa yang kian getol. Sekarang, apalagi, daftar doa saya juga bertambah. Ada suami, jabang bayi, keluarga besar, dan harapan akan keluarga kecil saya di masa depan. Semoga semua selalu sehat, baik, dan sesuai harapan. Amin.

So, (still) happy birthday to me. You are doing good so far and should be better always.

 

A Poet about Little One

Mengenalmu adalah sebuah suka cita sepenuhnya

Memang benar bahwa mencintai seseorang memberikan harapan dan keberanian

Mencintaimu nyatanya bukan sekadar dendang senang, namun juga luka-luka

Karena di saat itu aku mulai ingin menggenggammu sekuat mungkin

 

Kedatanganmu adalah suatu bahagia yang bahkan hatiku tidak dapat tampung

Menerka-nerka apakah kamu juga merasakan hal yang serupa

Kehilanganmu adalah suatu ketakutan yang bahkan jiwaku tidak dapat lalui

Padahal kita tidak pernah benar-benar memiliki siapa pun, bahkan diri kita sendiri

 

Namun, biarkan aku menentang keharusan demi keharusan

Mencintaimu dan memiliku seolah sudah menjadi daftar yang harus aku tunaikan

Meski kerap aku melukaimu, menyayangimu dengan penuh cela dan kekhilafan

Tapi, jangan pernah coba untuk pergi

 

Hadirlah untuk selamanya, meski abadi itu tidak pernah ada

Kelak kita akan saling mengasihi dan memberi pelajaran

Bahwa dunia itu luas, tidak ada batas bagi kita untuk berjalan dan merasa

Aku ingin mencintaimu dengan sempurna, meski kamu akan tertawa

 

Tulisan Pertama soal Kehamilan

Bismillah,

Just entered new phase after married: pregnancy.

Sekitar awal Oktober saya melakukan tes kehamilan. Saat itu, memang saya sudah terlambat datang bulan sekitar 7-8 hari. Biasanya, dari siklus 28 hari, saya jarang sekali terlambat datang bulan. Namun, berbekal informasi bahwa sebaiknya kehamilan dites setelah wanita telat datang bulan lebih lama daripada keterlambatan haid yang pernah dialami sebelumnya, saya tidak langsung tes kehamilan sudah terlambat 2 hari. Sebenarnya, sekaligus mempersiapkan diri. Saya sudah berbicara dengan suami sebelumnya; bagaimana jika positif dan bagaimana jika negatif.

Kami mencoba mempersiapkan mental. Apalagi, kami memang tidak pernah berencana menunda memiliki anak, namun tidak juga ingin stres jika tiap bulannya saya haid. Saat itu, jarak dua bulan sejak pernikahan. Haid terakhir saya adalah akhir Agustus. Akhirnya, saya membeli sebuah test pack (waktu itu masih dengan jenis yang berharga murah) sepulang bekerja. Sebenarnya test urine memang sebaiknya dilakukan pagi hari, saat bangun tidur, dan urine belum terkontaminasi makanan/minuman. Saya lupa saat itu pertama kali melakukan test malam atau pagi hari. Hasilnya positif.

Perasaan ketika perlahan muncul garis merah kedua; gemetaran. Saya menuju ke kamar tidur dan memanggil suami, “Go, gimana, nih?” | “Apaan” | “Hasilnya positif”. Kocak, ya? Tentu saja kami berdua bersyukur. Kami memutuskan untuk mengabsahkan test ini lewat keputusan obgyn. Namun, sebelum ke obgyn saya sempat mengecek ulang dengan test pack merek sama satu hari berikutnya, juga dengan test pack merek lain yang lebih bagus dua hari berikutnya. Hasilnya sama-sama positif.

Akhir minggu, kami memilih Mitra Keluarga Depok untuk bertemu obgyn pertama kali. Argo minta langsung ke Obgyn, bukan bidan. Mungkin karena anak pertama, jadi maunya detail. Padahal, bidan juga menyediakan fasilitas USG, meski tidak tiap hari karena harus menunggu dokter datang. Akhirnya, di RS saya di-USG untuk pertama kali. Kantung rahim saat itu sudah terbentuk (menebal) dan kehamilan sudah berusia 6 minggu dihitung dari HPHT (hari pertama haid terakhir).

Setelahnya, tidak ada sindrom-sindrom ibu hamil yang biasa saya dengar, lihat, baca, atau saksikan. Hingga seminggu kemudian, morning sickness dahsyat tiba hingga saya tidak bisa masuk kantor. Makanan pengganti nasi yang masuk hanyalah jagung rebus, juga teh jahe. Untunglah saya sudah curhat sebelumnya dengan teman yang saat hamil juga hanya mampu makan ubi rebus, jadi nggak panik-panik banget. Intinya, cari makanan pengganti nasi, atau apa pun yang bisa masuk ke mulut dan perut. Walau pada prakteknya, sih, boro-boro ada yang masuk.

Syukurlah, keadaan saya membaik. Argo pun bisa kembali bekerja (karena biasanya dia ikutan cuti saat saya sakit). Banyak cerita ibu-ibu hamil yang benar-benar sulit beraktivitas karena sindrom awal kehamilan, diopname karena kekurangan nutrisi/dehidrasi, dan sensitif pada ini-itu. Lama mereka mengalami ini berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing. Alhamdulillah, saya masih bisa bekerja, masih bisa makan dan minum walau tetap picky, dan masih bisa beraktivitas lain meski tidak boleh berlebihan. Mungkin jabang bayinya sadar kalau Ibu dan Bapaknya tinggal berdua merantau jadi repot kalau ada yang sakit. Hehe.

Salah satu yang cukup sulit dan membuat frutrasi adalah jika migrain saya kumat. Bertahun-tahun saya mengonsumsi obat yang cukup keras, bahkan sudah mencicipi obat dokter saraf. Saat hamil, di mana konsumsi obat, khususnya di trimester pertama harus dibatasi, ini menjadi dilema besar buat saya. Dokter hanya memperbolehkan konsumsi paracetamol tiap kepala saya sakit. Lah, biasanya paracetamol, sih, cuma geli-geli doang. Awal kehamilan migrain saya tidak pernah kambuh, walaupun pernah, hanya pada taraf mild yang akhirnya hilang sendiri.

Jelang bulan kedua menuju ketiga, entah kenapa migrainnya kembali sering kumat. Inilah di mana saya harus (terpaksa) menegak paracetamol dan muncul perasaan bersalah. Sama halnya ketika saya ngidam makan indomie padahal tahu komposisinya tidak baik bagi tubuh, apalagi saat hamil. Meski obgyn dan dokter umum yang pernah saya “curhati” mengatakan tidak apa-apa minum paracetamol, rasa galaunya tetap ada. Tapi, kalau tidak minum sakitnya luar biasa. Bahkan, saya pernah izin kerja dua hari karena sakitnya tak kunjung hilang. Suami jadi ikut stres. Jadilah saya sering minta maaf kepada janin dalam perut. Berdoa semoga dia tidak apa-apa.

Saya berusaha sedikit mencari celah untuk mengurangi kesempatan migrain untuk kambuh. Setelah bangun pagi, saya atau suami kerap berinisiatif untuk mengajak jalan pagi meski sebentar, juga menambahkan konsumsi sayur dan buah. Memang konsisten itu sulit, kok. Kalau stres, memang paling sulit ditekan. Manusia, kan, pasti cenderung berpikir yang tidak perlu, cemas, dll. Apalagi saya yang tengah mengandung anak pertama. Jangan ditanya deg-degan dan cemasnya.

Sekarang, usia kandungan saya adalah 13 minggu. Saya tengah merasakan masa di mana waktu berjalan sangat lama. Menghitung tiap hari, minggu, hingga menuju bulan. Kapan 9 bulannya, sih???? Tiap pagi bangun tidur, seakan meyakinkan diri kalau “gue sedang hamil, nih”. Apalagi, karena berat badan yang termasuk kurang ideal, perut saya tidak kunjung membesar hahaha. Memang kondisi ini berbeda-beda tiap wanita, ada banyak penyebabnya. Konon kehamilan pertama juga membuat perut ibu tidak terlalu buncit karena otot-otot perut yang masih kencang dan sederet faktor lain. Tapi, pertanyaan-pertanyaan yang muncul kayak, “Kok, perut lo belum keliatan?” dll kadang-kadang ganggu juga, sih.

Saya sibuk meyakinkan diri bahwa yang penting semuanya sehat, baik si bayi, saya, juga suami. Tidak lupa berdoa terus-menerus. Masih banyak yang harus saya pelajari sambil menunggu 9 atau 10 bulan itu datang, bahkan hingga seumur hidup selama saya menjadi orang tua kelak. Sejauh ini, masih terbatas mencari informasi dari situs-situs parenting dan bertanya sana-sini. Sisanya mungkin harus dilakukan secara praktik langsung. Doakan kami sehat semua selalu. Semangat!

Ibu Desi & Jam Biologis

pexels-photo

Pagi ini, gue sadar salah satu hal to be grateful for adalah ketika di tengah semua keruwetan pagi hari yang membuat emosi lo bisa saja naik kemudian marah-marah, namun tiba-tiba justru lo malah kepengen ketawa.

Hampir sebulan menikah, gue memang belum bisa membenahi jam tidur malem-bangun pagi gue. Alias sejak dulu memang terbiasa tidur agak malam dan bangun (sebut saja) tidak sesubuh yang dianjurkan. Karena pada dasarnya memang gue membutuhkan itu yang namanya gelung-gelungan di kasur lebih lama. Alhasil, apalagi ABCD yang harus dikerjakan sebagai Ibu Desi sejak meniqa, rekor kesiangan gue naik level. Yha, memang ogut belum berhasil mengatur jam biologis sebenarnya.

Kayak pagi ini, target gue adalah nggak masak, beli jadi aja, atau bikin roti bakar buat gue dan Argo karena ada setrikaan dan cucian se-Indonesia Raya. Alhamdulillah, Argo mau bagi kerjaan dengan mencuci dan gue yang nyetrika. Gue adalah tipe yang nggak bisa ngerjain setengah dulu, sisanya nanti, gemes aja gitu, kecuali lagi capek gilak. Setrika aja semua walau banyak. Karena satu dan lain hal, gue yang harus menjemur cucian yang dicuci Argo, kemudian piring semalem belum dicuci, sampah belum dibuang, pokoknya sebelum ngantor rumah harus bersih hhhh. Argo berinisiatif membereskan pakaian yang sudah gue setrika ke dalam lemari. Di sinilah drama dimulai.

Ketika gue selesai mandi dan berpakaian… ebusettt.. Kenapa itu golongan t-shirt ada di bagian kemeja, golongan kerudung di t-shirt, underwear di bagian cardigan, dan keberantakan lainnya. Padahal udah gue kelompokin sejak disetrikaan. Mau marahhhh tapi ketawa hahahahaha~~~

Keluar kamar, Argo nanya, “Kenapa kamu ketawa?” Gue peluk aja udah. Untung gue sayang. Kalau nggak gue kiloin nih tuker bawang merah.

Begitulah. Gue pikir pengantin baru nggak selalu manis-manis melulu. Nggak tau juga ya buat yang masa pacaran singkat atau nggak melalui masa pacaran 🙂

Hampir 3 minggu menikah aja gue dan Argo sudah beberapa kali melewati momen debat kecil hingga level ‘lumayan’ dalam bahasa kami, walau setelah dipikir-dipikir alasannya lucu dan remeh juga.  Kalau diceritain juga pasti orang lain ketawa. Mungkin karena kami sudah pacaran cukup lama. Baikannya, ya, nggak usah disuruh. Nggak minta maaf juga mungkin gapapa. Kasarnya, cepat atau lambat juga interaksi di ranjang lagi. Interaksinya menurut versi masing-masing terserah kalian. Pillowtalk atau lebih. Gue juga awalnya denial. Interaksi di ranjang pale lu. Mau ngomong aja kesel. Asli.

Gue pengen bisa ngubah mood ke arah lebih baik terus, sih. Terutama pagi hari. Mood cerah. Katanya mood pagi hari bakal berimbas ke mood seharian. Apa lagi sekarang bakal ada yang gue sambut di malam hari. Juga ada yang gue lepas di pagi hari. Makanya tadi di awal tulisan, gue bilang, “satu hal to be grateful for adalah ketika di tengah semua keruwetan pagi hari yang membuat emosi lo bisa saja naik kemudian marah-marah, namun tiba-tiba justru lo malah kepengen ketawa.”

Finally, The W-Day (Part 2)

Okey, lanjut ke cerita lain soal persiapan di pernikahan gue 15 Juli lalu. Kali ini mau bahas soal undangan dan souvenir, ah. Kali aja ada yang kepo atau butuh informasi. Okey, lets start. Yok!

  1. The invitation

Gue pernah menulis singkat tentang undangan pernikahan ini di akun Instagram beberapa waktu lalu (@desimandasari.af). Undangan adalah salah satu hal yang gue dan Argo urus sendiri (tanpa melibatkan bantuan Ibu Eka) dan dari jauh-jauh hari memang ingin dibuat unik. Oleh karena itu . . . prosenya justru membuat kami cukup excited! Sebenarnya, sudah sejak entah kapan kami (khususnya gue) browsing undangan unik, misalnya di Pinterest. Mulai dari bentuk balon yang harus ditiup dulu biar informasi isi undangan bisa dibaca sampai bentuk paspor yang unch-unch.

Ada yang berprinsip undangan nggak perlu yang repot atau mahal, bener. Ada juga yang berprinsip selama mau dan mampu hajar aja, itu juga bener. I mean, kalau lo orangnya suka yang unik, pasti tau tips and trick-nya untuk ngakalin supaya apa yang lo mau tetap terwujud, tapi tetep nggak overbudget. But, pada akhirnya kalau budget-nya tetep berlebih dibanding yang nggak unik, kalian udah prepare  gitu lho bageur. Gue dan Argo juga dulu harus muter nyari digital printing, kok, salah satunya sebagai salah satu langkah agar bugdet-nya nggak over-over amat (halah). Selain jumlah tamu kami yang nggak terlalu mbludak tentunya. He he he~

Then, kami menemukan konsep yang diinginkan dan mempercayakan eksekusi desain ilustrasi ke salah satu teman gue yang memang bisa menggambar, namanya Hilda (IG: @ynthld). Lewat diskusi kita tentukan deadline, ukuran, bentuk, hingga harga. Hilda bantu mencarikan jenis kertas yang cocok secara dia pengalaman di bidang penerbitan. Kita sepakat mencetak undangan di kertas matte paper ukuran A3 yang nanti dilipat jadi ukuran A6 (dilipat jadi 9 lipatan). Untuk amplop, gue dan Argo nyari sendiri ukuran costumize di IG tapi lupa nama akunnya. Lalu, pesan stampel bertuliskan “you’re invited” di agen pembuat stampel pinggir jalan, deh, buat amplopnya.

Nyetak undangan kayak gini seperti biasa makin banyak makin mure, sih, walau gue nyetak cuma 200 eks. Tips lainnya, ya, untuk kantor per divisi gue bagi nggak per orang, tapi buat ramai-ramai, misal satu divisi gue kasih 2-3 undangan untuk bareng-bareng. He he he… malah dibilang harusnya satu undangan aja biar lebih hemat bahahaha~ Jangan lupa minta buatin undangan versi softfile buat ngirim ke teman-teman via Whatsapp atau BBM.

Beginilah penampakan undangannya. Suka!

  1. The Souvenir

Apakah gue bisa membeli sesuatu yang bernilai guna dan anti-kebanyakan di pasar souvenir? Tapi, mengingat sekarang informasi bisa diperoleh dengan mudah lewat Internet, browsing dulu kembali menjadi jawaban dibanding harus jauh-jauh datang ke Jatinegara atau semacamnya. Yak, googling “souvenir unik”. Didapatlah mulai dari bijih kopi dengan takaran sekali seduh hingga batangan cokelat. Uwuwuwuw~

Lalu, dari hasil browsing, pilihan gue dan Argo terhenti antara tanaman hidup atau pouch. Dua jenis souvenir ini nyatanya sudah banyak digunakan/dipesan oleh pasangan pengantin dalam acara pernikahan akhir-akhir ini (ngomong opo tho). Sebenarnya, gue sreg banget sama tanaman hidup. Tapi, pertimbangan  Argo adalah tamu akan sulit membawa pulang tanaman tersebut. Bisa, sih, dipesankan dengan packaging yang lebih save, tapi harganya juga lumayan tinggi. Buat kalian yang tertarik, silakan Googling, cocok buat yang suka tema go green. Waktu itu nemu agen di daerah Lembang yang juga punya cabang di daerah Depok. Tanamannya juga beragam. Kemasannya macem-macem lagi.

Akhirnya, kami memutuskan pouch sebagai souvenir pernikahan kami. Kami sempat pendekatan dengan beberapa penyedia jasa pembuatan pouch dan totebag dengan membeli sample mereka. Akhirnya pilihan jatuh (cie) ke Invistation (Instagram: @Invistation) yang menyediakan jasa desain dan memperbolehkan kita memakan desain kita sendiri. Ukuran pouch pun terdiri dari beberapa jenis. Kita bisa pilih. Harga pouch disesuaikan dengan jumlah pesanan. Berikut tampilan pouch yang kami pesan, packaging sudah include kartu ucapan terima kasih, kertas cokelat bertuliskan nama pengantin & tanggal nikah, dan plastik pembungkus.

Saran gue sih, boleh pesan souvenir yang harganya terjangkau, tapi kalau bisa tetap bernilai guna walau mungkin (kasarnya) nggak long last-long last amat. Soalnya, gue pernah datang ke acara nikah dan dapat souvenir suatu alat perawatan tubuh yang akhirnya nggak bisa dipakai (karena tumpul huaaaa~). Pas beli dese juga pasti nggak tau sih barangnya ada yang bagus ada yang gagal, alias nggak ngecek satu per satu. Mending kalau begitu pesan hiasan sekalian, misal gantungan kunci. Hanya saran biar justru nggak kebuang budget-nya.

Akhir tahun ini, beberapa kenalan dan teman (baik dari gue maupun Argo) kebetulan juga sedang bersiap menghadapi pernikahan. Sebagai yang, Alhamdulillah, sudah melewati fase itu, gue doakan semoga semua prosesnya selalu lancar dan dimudahkan dalam hal apapun tentunya. Kuat dan solid, ya, sebagai pasangan, setelah menikah nanti juga. Pesan dan doa buat gue juga yang masih belajar dan beradaptasi dalam chapter baru ini *sambil ngiris bawang dan ngoles Nutella *ngapain bu aji?

Dalam hal persiapan, sih, . . . rasakan aja pokoknya bahahaha! *lempar palu Thor* Salam peace~

DSC_0184.JPG

Finally, The W-Day

Its been two weeks after the day. Huft. Welcome to the new chapter.

I know I am not good enough to do routine writing, including about my marriage Juli 15 ago. Here, I will write about that special day again.

Sebenarnya, mood gue lagi kurang baik hari ini karena kondisi kesehatan yang juga lagi nggak stabil. Rutinitas baru sebagai istri (cie) bekerja dan tamu bulanan gue sinyalir sebagai penyebabnya, selain bolosnya gue dari mengonsumsi obat-obat dokter secara rutin. Yea, gue masih terdaftar sebagai pasien dokter saraf karena kasus migraine membandel. Semoga dengan menulis bisa meringankan sakit ini. *ea

Pernikahan gue dan Argo Alhamdulillah sudah terlaksana dengan lancar. Terima kasih untuk semua doa, dukungan, bantuan, dan tentu kehadiran keluarga, saudara, teman-teman, dan pihak-pihak siapa pun itu. Akhirnya rasa stres dua bulan persiapan sampai di garis finish dan benar, “ternyata prosesnya berlalu cepat, begitu saja”.  Pernikahan kami dilangsungkan di daerah Cilegon, bukan Jakarta, mengingat kediaman keluarga gue sekarang adalah di sana, di sebuah tempat bernama Roomvill Sari Kuring Indah, tempat yang sama di mana kakak perempuan gue menikah tahun 2014 lalu. Tamu yang kami undang memang tidak banyak. Maaf untuk siapa pun yang merasa keberatan atas hal ini. Alasannya; 1) memang sebagai calon pengantin (saat itu), gue dan Argo sama-sama ingin suasana pernikahan yang cenderung sederhana dan tidak terlalu ‘hectic’, 2) lokasi pernikahan yang cukup jauh dari pusat aktivitas kami sehari-hari membuat kami berpikir ulang untuk mengundang banyak teman yang tersebar. Jadilah acara pernikahan ini dihadiri oleh keluarga, teman kerja, teman-teman dekat, dan undangan yang dikenal keluarga (dalam hal ini kakak gue).

Ok, lets talk about all the bigs until the ‘printils’ on the wedding. Semoga info yang gue bagi bisa menjadi cerita atau sekadar inspirasi buat yang sedang merencanakan pernikahan. Yha!

 

  1. The gown and suit

Untuk pernikahan ini , gue dan Argo pakai jasa Ibu Eka sebagai seorang Wedding Organizer (WO). Beliau menyediakan semua hal yang kami butuhkan, termasuk koneksi tentunya, kecuali hal-hal yang memang ingin kami urus sendiri. Namun, seperti yang sudah gue tulis di postingan sebelumnya, gue dan Argo tetap pengen ada baju yang kami sediakan sendiri (selain satu pasang pakaian yang kami sewa dari salon yang koneksinya kami kenal dari Bu Eka juga). Baju yang kami sewa dipakai untuk akad, sedangkan baju yang kami sediakan sendiri dipakai untuk resepsi.

Dress yang gue buat berdasarkan inspirasi desain yang gue peroleh dari Internet (googling tjuy!) dengan banyak modifikasi tentunya. Penjahit yang berjasa membuat dress tersebut adalah Mas Komar dan tim dari Kiara Butik yang berlokasi di Jalan Nusantara Depok (081317192558).  Mas Komar bisa membuat dress sesuai yang gue mau dengan saran dari dia dengan tepat waktu. Plus kerudung basic dan kerudung tile penghias kepala. Padahal gue baru pertama kali jahit di sini. Harga cukup terjangkau setelah gue bandingkan dengan beberapa butik lain. You can call him If you need a help! Gue sampaikan bahwa gue pengen dress yang bisa buat gue mingle dengan tamu, yang nggak ribet, dan gue pengen pakai keds (nanti gue mention di poin berikutnya). Taraaaa~ bahkan beberapa teman yang datang ke resepsi suka dengan dress hasil Mas Komar ini. Aha!

Soal set suit yang dikenakan Argo juga sudah gue sampaikan di tulisan sebelumnya (plus harga). Suit itu kami dapatkan di Wood Bintaro XChange, sudah termasuk dasi kupu-kupu dan kemeja basic di dalamnya. Sebelumnya kami sudah muter-muter ke beberapa store dan harga set jas memang uwoh-uwoh, beruntunglah ada Woods yang saat itu sedang mengadakan diskon lumayan banget. Kata Argo, lumayan jasnya nanti bisa dipakai untuk acara gala dinner. Berasa after party Oscar, ya. Terserah mas-nya ajalah.

  1. The shoes

Ada cerita pas gue mengenakan pakaian dan sepatu akad dari salon. Di akad, gue diminta mengenakan high heels dan pakaian berupa kebaya pink-hijau sebelum akhirnya gue dibebaskan berasik-asik di resepsi dengan gaun anti-ribet dan keds. Gue waktu itu pake selop dengan heels setinggi 9 cm (cukup menjadi neraka buat gue). Selesai akad, setiap ada sesi foto dengan teman dan anggota keluarga, gue kerap harus bangun dari posisi duduk ke berdiri dan melebarkan ekor baju. Berulang kali. Buat gue yang terbiasa gerak cepat, hal ini cukup menyulitkan hahaha.. seketika mood gue memburuk dan berharap segera bisa berganti pakaian dan sepatu! Ya Allah tolong hamba!

Finally, setengah 10 gue dan Argo ganti pakaian resepsi. Dan sedikit touch up. Di sini lega banget rasanya. Sepatu keds gue dari Converse All Star warna putih dengan nuansa gold. Talinya gue ganti dengan pita rambut warna putih biar lebih girly. Tadinya, gue dan Argo sempat nyari ke store Keds, Cottonink, hingga Payless, tapi nggak ada yang cocok, mulai dari harga hingga model. Pengennya sih yang bisa kepakai lagi untuk kegiatan sehari-hari.

Argo pakai Oxford shoes yang dia beli online di Instagram. Cuma gue lupa euy apa merek atau akunnya. Sejak akad dia sudah pakai sepatu ini, nggak pake sewa-sewaan. Sekalian buat koleksi sepatu kerja, nih, masnya.

  1. The crown and boutonniere

Gue mesen flower crown costumize sekaligus boutonniere (semacam bros bunga yang ditusukkan di lidah jas) untuk Argo di Farida Crown (IG: @faridacrown). Kita bisa request warna bunga sesuai tema pernikahan kita, lho. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan hingga pengiriman kurang lebih 7-8 hari dari lokasi pengiriman di Solo. Harganya pun variatif. Packagingnya juga rapih. Senengnya di sini karena flower crownnya bisa diset-up sesuai size kepala karena dilengkapi pita pengikat di bagian belakang. Sejak awal, gue memang sudah bilang ke Bu Eka ingin menggunakan flower crown sebagai pelengkap baju resepsi.

Soal boutonniere, Argo nggak pernah request, sih. Tadinya doi malah kepikiran sapu tangan atau bunga yang diselipin ke saku. Cuma setelah gue googling-googling dan menemukan penggunaan boutonniere pada acara-acara formal di jas-jas pria (halah), gue pesenin aja langsung.

Segini dulu tulisan soal perintilan nikah gue, poinnya lainnya masih ada, yaitu soal undangan dan souvenir atau lainnya mungkin yang belum teringat. Utamanya hal-hal yang nggak dipegang sama Bu Eka, sih, yang diurus langsung sama gue dan Argo he he he . . . Tapi akan gue tuliskan di postingan berikutnya, yes. Mau kerja dulu, Bos! See ya~

PS: I have not enough pics about the things ive mentioned above. Semuanya gue simpulkan lewat 1 foto resepsi dan 1 foto akad via hape aja ya. Foto-foto dari fotografernya sudah jadi tapi belum sampai ke tangan gue ha ha ha.. Nanti diupdate, deh, fotonya (kalau inget).