Engap

Hah. Finaly, 36 weeks. Besok sudah 37 weeks malah. 37 weeks berarti sudah hilang satu lagi kecemasan, yaitu kelahiran sebelum waktunya hehe.  Memang cemas dan parnoan, ya. Apa banyak juga ibu hamil kayak gini? Kalau trimester awal khawatir akan janin yang masih lemah, trimester ketiga khawatir si bayi lahir terlalu cepat atau terlalu lama.

Katanya, kalau minggu ke-36 hitungannya masih pre-term atau masih terhitung premature walau sudah menjelang awal 9 bulan. Kalau sudah masuk (minimal) 37 weeks hingga 40 weeks itu usia yang pas untuk melahirkan, sedangkan lebih dari 40 weeks disebut post-mature, atau cenderung terlambat.

Apa saja yang dirasakan di trimester 3 jelang HPL ini? Susah tidur sudah pasti. Tidur lurus telentang bikin sesak nafas karena rahim menekan jalur nafas, tidur miring ke kiri atau kanan perut ngilu karena si janin masih mengikuti gravitasi. Apalagi, janin saya cenderung agak besar untuk ukuran tubuh saya yang minimalis. Morning sickness juga kembali lagi, meski tidak separah trimester pertama, siang dan malam saya kembali nafsu makan dan ngemil, juga minum minuman manis. Di minggu-minggu ini, saya doyan sekali minum minuman manis, seperti sirup, es teh, atau es cokelat. Padahal, zat gula bisa menambah BB si bayi hehehe..

Kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman membuat saya harus menunggu hingga kantuk datang dengan hebatnya. Biasanya saya duduk-duduk dulu sampai mata benar-benar berat, baru kemudian dibawa rebahan. Gangguan lainnya adalah rasa “engap” dan sakit pinggang. Stress? Tentu saja. Namanya juga jelang HPL. Apalagi anak pertama. Belum ada pengalaman.

Masuk di minggu 36 lalu, saya menjalani cek ukuran panggul sesuai saran Obgyn. Metodenya adalah dengan memasukkan jari ke jalan lahir selayaknya cek status pembukaan. Saya sudah ngilu seligus khawatir membayangkannya. Khawatir metodenya, juga hasilnya. Benar saja, panggul saya dinyatakan berukuran agak “pas-pasan”. Bayinya tidak boleh terlalu besar. Selain itu, kepala bayi belum masuk ke jalan lahir. Bisa jadi karena ukuran panggul yang kecil atau ketubannya yang masih terlampau banyak. Jadi, sang Obgyn memutuskan akan mengobservasi ukuran panggul saya tiap minggu hingga usia kehamilan 40 minggu.

Pada beberapa kehamilan, memang si janin sudah turun ke jalan lahir pada minggu 36 atau 37, tapi karena kasus ibu hamil tidak sama, ada juga yang baru masuk panggul pada minggu 38-40 atau lebih. Namun, obgyn saya sepertinya memiliki batas waktu tunggu untuk persalinan normal, yaitu 40 weeks saja. Selebih itu, dia khawatir akan kondisi ketuban dan bayi. Oke, berarti untuk 4 minggu berikutnya, saya masih akan diobservasi lewat vaginal check dan USG hehehe.

Ketika saya mencoba berobat ke bidan (yang Alhamdulillah ramah dan enak diajak ngobrol), memang si janin belum turun ke jalan lahir. Bidan meraba perut (sekaligus meremas perut bagian bawah) untuk mengetahui posisi badan, khususnya kepala bayi. Seperti saran yang juga saya dapatkan dari obgyn, orang sekitar, dan artikel-artikel, saya diminta melakukan beberapa ikhtiar, seperti sujud, gunakan birthing ball, dan gerakan lain yang katanya bisa membantu janin turun ke jalan lahir. Memang saya juga agak pemalas, sih, sejauh ini. Harusnya banyak pemberdayaan diri yang bisa dilakukan. Kadang saya mikir dengan jalan kaki pulang pergi ke kantor sudah cukup. Ditambah jadwal prenatal yoga yang bertepatan terus dengan jadwal kontrol kehamilan, sehingga saya tidak bisa ikut yoga.

Sekarang, saya antara pasrah untuk mengikuti observasi obgyn tiap minggu dan kontrol juga ke bidan dengan mengharap hasil apa saja. Kalau bisa normal, syukur Alhamdulillah, namun jika harus Caesar juga saya harus siap. Lemah, ya? Mungkin lebih ke menghindari stress saja, sih. Saya nggak mau memaksakan kelahiran normal jika dirasa membahayakan atau menimbulkan risiko bagi janin. Rasanya kedua proses akan sama-sama memberi saya tekanan kalau dipikirkan negatifnya, memang. Jadi, ada benarnya saya memasrahkan kepada janin untuk memilih jalannya, meski saya masih terus membujuk dia untuk masuk jalan lahir supaya ada harapan untuk proses normal itu.

Di sisi lain, saya juga enggan menunggu hingga melebihi usia 40 minggu. Alasan pertama, tubuh yang mini ini sudah engap sekali. Kedua, minggu ke-41 bertepatan dengan minggu Idul Fitri. Segan rasanya membayangkan melahirkan saat-saat itu, merepotkan pasangan, keluarga, sekaligus repot mencocokkan waktu dengan tenaga medisnya, meski lagi-lagi semuanya bisa diatur. Jadi, saya berharap sekali si janin sudah lahir pada minggu 38-40. Semoga, ya, Nak. Amin.

Iklan

When It Comes Not So Easy

32 weeks already.

Beberapa hari lalu saya dan suami baru saja mengajak si janin babymoon ke Jogja. Rencana yang sudah ada sejak sebulan sebelumnya. Rencana yang mungkin sebaiknya direalisasikan lebih awal, bukan di trimester ketiga. Alasannya? Karena di tahap ini badan justru lebih mudah capek dan si janin makin aktif, sehingga kerap bikin perut ibunya kencang dan seolah kontraksi. Untunglah semua berjalan lancar dan di Jogja justru saya cenderung lebih happy dan banyak makan. Cerita lebih lengkap mungkin akan saya tuliskan lain kali, ya. Ini cuma sebagai bridging hehe..

Trimester ketiga. Kurang dari dua bulan lagi Insya Allah anak ini akan lahir. Terasa cepat sekaligus lama. Jika diingat-ingat saat kehamilan 6 minggu di mana saya pertama kali dinyatakan positif hamil dan tidak sampai dua bulan lagi akan melahirkan tentu rasanya cepat. Jika diingat dan dirasa dari segala fluktuasi emosi dan perubahan kondisi fisik, masa ini lumayan terasa lama. Sudah tidak sabar sekaligus belum siap menyambut anak pertama ini.

Trimester awal kehamilan diwarnai dengan morning sickness dan moodswing, trimester kedua terasa semua lebih baik. Tidak heran jika banyak orang menyebut trimester kedua adalah kondisi terstabil dan ternyaman selama hamil. Di trimester ketiga, pengalaman lain muncul. Sulit tidur karena mencari posisi yang nyaman sudah pasti. Miring kiri, miring kanan nyeri karena si bayi mengikuti wadahnya berkembang dan gravitasi, sehingga perut saya hampir selalu berbentuk tidak rata, mencong sana mencong sini, dan itu membuat rahim mengencang dan agak nyeri. Belum lagi jika si bayi menekan perut bagian bawah dan kandung kemih. Kontraksi palsu mulai muncul membawa perasaan khawatir. Saya sering berkomunikasi dengan si bayi agar dia sabar menunggu hingga 6-8 minggu lagi saking khawatirnya dia lahir terlalu cepat.

Selain itu, morning sickness kembali saya rasakan meski tidak seintens trimester pertama. Sering kali, di pagi hari, saya mual hebat dan memuntahkan makanan atau sekadar cairan. Tubuh juga lebih cepat lelah dan nafas ngos-ngosan. Obgyn sempat bilang ini juga bisa disebabkan karena tubuh saya terlalu mungil, sedangkan berat janin tergolong besar. Gangguan lain mungkin seperti batuk-pilek dan kerongkongan yang selalu berdahak.

Memang hamil itu tidak mudah.

Pagi tadi, sebelum sama-sama berangkat ke kantor, saya sempat ngobrol dengan suami. Orang-orang yang sangat ingin hamil atau tiba-tiba saja hamil (seperti saya) apakah pernah terlintas di pikirannya bahwa hamil itu tidak akan mudah? Meski tiap ibu berbeda kasus, namun tetap saja membawa makhluk bernyawa dengan segala perubahan fisik dan emosi selama 9 bulan itu tidak bisa disepelekan. Mungkin memang kita harus merasakannya dulu baru paham. Contohnya saya, ketika kerap mengeluh saat hamil, saya kadang berusaha mengingat bahwa banyak dari wanita di luar sana berharap hamil seperti saya, jadi bersyukurlah. Mungkin ketika anak ini lahir memang semuanya akan terbayar. Perjuangan selama 9 bulan itu akan tergantikan oleh rasa yang tidak terperi. Buktinya, banyak pula wanita yang pernah mengalami kehamilan dengan masa-masa yang berat tidak kapok untuk hamil lagi.

Suami bilang: semua (keluhan) itu tidak berarti karena ada yang ditunggu (buah hati). Memang benar, sih. Tapi tetap saja, hamil bukan sekadar sebuah perjalanan akan memiliki anak. Tapi, perjuangan selama 9 bulan itu dan setelah ia lahir. Bukan hanya perjuangan oleh si calon ibu, tapi juga si calon bapak yang mendampingi. Terlebih kalau kita tinggal jauh dari keluarga. Seolah-seolah perjuangan hidup memang berawal dari sini. Bisa jadi, mereka yang menunda memiliki anak karena beragam alasan (karier, finansial, dll) akan semakin mantap menunda jika tahu rasanya pengalaman 9 bulan ini. Sebaliknya, mereka yang sudah niat penuh memiliki buah hati, pasti akan siap menjalani pengalaman ini. Seharusnya, sih, begitu.

Yah, memang saya harus merasakan melahirkan dan melihat dulu anak ini terlahir ke dunia agar rasa itu lebih lengkap. Semoga tidak ada trauma. Hehe.. Satu hal yang bisa saya simpulkan; hamil itu rasanya memang luar biasa. Nothing compares to it.

Fetus’s Day Out: Our Movie Time

Di usia kehamilan 6 bulan, sudah beberapa kali saya mengajak si janin nonton bioskop. Kalau tidak salah hitung sekitar 4 kali; Coco, Star Wars: The Last Jedi, Dilan 1990, dan terakhir Black Panther. Saya dan suami memang suka nonton bioskop. Sejauh ini, pengalaman nonton bioskop saat hamil baik-baik saja. Saya anggap saja sekalian mengenalkan si janin kepada suara. Tapi, makin ke sini sepertinya saya yang mulai nggak betah duduk lama-lama karena badan mudah pegal dan kram.

Masuk trimester kedua, morning sickness sudah jauh berkurang. Tapi, pengalaman lain mulai muncul. Mulai dari kulit perut dan dada yang gatal minta ampun, pinggul mudah pegal, kaki mudah kram, cepat ngos-ngosan, dan mulai susah menentukan posisi tidur hohoho… Apalagi, sehari-hari (weekday) saya memang duduk dari pagi sampai sore karena bekerja di depan komputer. Kalau kaki mulai terasa kesemutan/kram, paling nggak saya berdiri dan jalan-jalan ke toilet atau pantry buat ambil air putih atau teh hangat, setelah itu lanjut kerja. Kalau sakit di pangkal paha yang sempet bikin menyeringai nyeri untungnya nggak terus-terusan. Kata obgyn itu wajar karena rahim sedang melebar.

Lalu semalam, saat menonton Black Panther saya sempat keluar teater untuk sekadar jalan-jalan ke toilet dan duduk sekitar 10 menit di sofa lorong bioskop. Biasanya saya dan suami memang menonton di jam 8 malam ke atas karena kami sama-sama menunggu pulang kerja dan sempat pulang ke rumah dulu, lalu berangkat ke bioskop terdekat dari rumah. Tiket sudah dibeli suami lewat fasilitas online. Jadi, kami tinggal cetak dan sempat makan malam dulu.

Sambil nonton Black Panther, suami berkali-kali memijat kaki kanan saya yang memang lebih sering kesemutan. Posisi duduk saya entah sudah berapa kali berubah karena merasa benar-benar nggak nyaman. Suami bahkan sempat menawarkan pulang, padahal film baru berjalan sekitar setengah jam. Akhirnya, saya pilih keluar teater, kembali setelah sekian menit, dan tidak lama malah ketiduran karena ngantuk dan memang sedang tidak fit karena flu hahaha… Setelah itu, kaki mulai terasa nyaman, namun tidak lama terasa “gremet-gremet” lagi hingga saya harus cari posisi enak lagi yang diakhiri dengan bersila di atas kursi (my bad). Fiuh, akhirnya saya berhasil melewatkan nyaris 2,5 jam durasi film. Ditambah menunggu credit title selesai karena kami terbiasa menunggu post-credit scene untuk tiap film Marvel.

Pengalaman semalam memang tidak biasanya terjadi. Sekarang mungkin jadi berpikir ulang kalau mau menonton film setelah seharian duduk bekerja. Lebih baik sekalian tunggu akhir minggu (kecuali kebelet nonton hehehe tetep). Harus sering-sering bergerak biar nggak gampang kram kesemutan, meski sekarang mudah sekali ngos-ngosan. Semalam, saat film diputar si janin juga aktif banget. Entah dia memang sedang aktif atau keberisikan suara dari film, ya? Maafkan Ibu, Nak, sering ngajak kamu main, mulai dari ke bioskop, nonton konser, atau keluar kota. Sehat-sehat terus, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi *elus-elus perut*