Tidak Pernah Ada Destinasi yang Cukup

Menikah dan memiliki anak mungkin menjadi tujuan banyak orang, sementara banyak juga yang memutuskan tidak menikah dan memiliki anak. Menikah memang bukan perkara gampang dan serba-manis. Kenyataan banyak juga yang gagal dalam menjalaninya tidak jarang membuat kini banyak pula yang skeptis akan pernikahan, meski tidak menutup fakta banyak pula yang baik-baiak saja dalam menjalaninya.

Menikah dan memiliki anak, sama seperti banyak “pencapaian” dalam hidup lainnya, bukanlah sebuah tujuan. Saya pernah membaca tulisan di blog milik Edward Suhadi yang sudah menikah selama lebih dari 10 tahun dan sekarang sedang menjalani program untuk memiliki anak bersama sang istri (baca di sini dan di sini.) Ia mengutip sebuah kalimat dari Casey Nestat, “In life, we never arrived”. Artinya, kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada sebuah destinasi. Pencapaian yang kita dapatkan hari ini adalah awal baru dari jalan yang terbuka setelahnya.

Contoh, ketika seseorang menikah, ia akan memulai hidup baru, namun perjuangan setelah itu masihlah panjang. Begitupun saat ia menjadi calon orang tua. Dimulai dari perjuangan menjaga kehamilan itu agar baik-baik saja, kemudian perjuangan melahirkan sang anak, membesarkannya, dan seterusnya. Kalian yang belum menikah pun pasti kerap ditanya “kapan menikah” dan sebelumnya mungkin pernah mengalami perjuangan mengerjakan skripsi, lulus UN SMA, dan seterusnya.

Hal itu pula yang membuat saya salut kepada orang-orang yang tengah berusaha memiliki anak sekuat tenaga. Di sisi lain, saya bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung secepat ini. Di sisi lain, saya juga khawatir. Apakah anak pertama saya sehat, terlahir sempurna, cerdas, dst. Terkadang timbul kekhawatiran sewaktu-waktu saya akan kehilangan janin saya. Ternyata, vonis hamil bukanlah puncak kebahagiaan, bukan puncak segalanya. Setelah itu, masih ada yang harus diperjuangkan.

Bukan hanya kisah Edward dan istri, saya juga sempat membaca tulisan Andra Alodita yang juga pernah menjadi pejuangan IVT (bayi tabung) di sini. Setelah membaca tulisan Andra, saya jadi berpikir, sudahkan saya bersyukur dengan cara menjaga calon anak saya sebaik mungkin? Apakah orang tua-orang tua di luar yang juga diberi momongan cepat juga sudah bersyukur sebaik mungkin? Benarkah sesuatu akan makin dihargai jika kita semakin lama menunggu? Di satu sisi saya setuju, namun saya juga tidak mau menjadi calon orang tua yang tidak menjaga anak saya sebaik mungkin sejak dini meski diberi anugerah secepat ini.

Tidak hanya mereka berdua, bahkan kakak saya pun baru saja menjalani program IVT setelah penantian sekian tahun. Mendengar perjuangannya untuk mengikuti program ini cukuplah membuat saya semakin berpikir, sekaligus ingin mengatakan padanya, “kelak ketika kita divonis positif hamil, itu bukanlah akhir dari segalanya. Masih panjang perjuangan yang harus dilalui.” Padahal, untuk sampai ke proses embrio transfer di IVT tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui sebelumnya, terlebih jika kesulitan seseorang dalam memiliki anak disebabkan karena kondisi kesehatan khusus. Kondisi tersebut harus disembuhkan terlebih dulu. Belum biaya yang diperlukan, juga tenaganya.

Terbukti, setelah hamilpun saya masih merasakan banyak gejolak. Perasaan dan pikiran yang mungkin tidak perlu. Tidak sekali saya jadi stres atau ingin menangis ketika membandingkan kondisi dengan ibu hamil lain: berat badan saya yang kurang atau perut yang lambat membuncit. Dokter sudah bilang bahwa kondisi bayi saya baik-baik saja. Namun, kalimat-kalimat seperti, “Kok, perutnya nggak kelihatan padahal udah hamil 6 bulan”, “Ayo, naikkan BB, dong, nanti bayinya kecil”, dst masih saja mengganggu. Artikel demi artikel saya baca, kunjungan ke obgyn-pun dilakukan hampir 2 minggu sekali, tapi rasa tidak percaya diri itu tetap saja muncul ketika orang lain membuat pernyataan tentang kondisi kehamilan saya (yang saya sendiri yang merasakannya). Berusaha berpikir positifpun tidak selalu mudah.

In life we never arrived. Bukan hanya soal pernikahan dan memiliki anak, namun juga dalam aspek lain. Tidak pernah ada destinasi yang benar-benar menjadi tujuan akhir. Kita akan terus berjalan, mencari sesuatu, mengalahkan kekhawatiran, menjaga apa yang ditakdirkan, kemudian kehilangan, gagal, lalu bangkit, atau menemukan penggantinya.

Pasti sulit untuk tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain yang kita pikir sudah mencapai sesuatu. Itu manusiawi. Berusaha lega atas tiap yang kita terima dan memaafkan diri sendiri memang membutuhkan ilmu tinggi yang saya pun kerap gagal dalam ujiannya. Hehehe…

Jadi, buat kalian yang sedang ditanya dengan gencar “kapan menikah” atau “kapan punya anak”, kuat-kuatlah karena setelah merasakan kedua “pencapaian” itu, masih ada perjuangan lain, juga pertanyaan yang mengusik lainnya. Mungkin seperti, “Kapan punya anak kedua” atau “Kapan punya rumah sendiri”.

Iklan

Tulisan Pertama soal Kehamilan

Bismillah,

Just entered new phase after married: pregnancy.

Sekitar awal Oktober saya melakukan tes kehamilan. Saat itu, memang saya sudah terlambat datang bulan sekitar 7-8 hari. Biasanya, dari siklus 28 hari, saya jarang sekali terlambat datang bulan. Namun, berbekal informasi bahwa sebaiknya kehamilan dites setelah wanita telat datang bulan lebih lama daripada keterlambatan haid yang pernah dialami sebelumnya, saya tidak langsung tes kehamilan sudah terlambat 2 hari. Sebenarnya, sekaligus mempersiapkan diri. Saya sudah berbicara dengan suami sebelumnya; bagaimana jika positif dan bagaimana jika negatif.

Kami mencoba mempersiapkan mental. Apalagi, kami memang tidak pernah berencana menunda memiliki anak, namun tidak juga ingin stres jika tiap bulannya saya haid. Saat itu, jarak dua bulan sejak pernikahan. Haid terakhir saya adalah akhir Agustus. Akhirnya, saya membeli sebuah test pack (waktu itu masih dengan jenis yang berharga murah) sepulang bekerja. Sebenarnya test urine memang sebaiknya dilakukan pagi hari, saat bangun tidur, dan urine belum terkontaminasi makanan/minuman. Saya lupa saat itu pertama kali melakukan test malam atau pagi hari. Hasilnya positif.

Perasaan ketika perlahan muncul garis merah kedua; gemetaran. Saya menuju ke kamar tidur dan memanggil suami, “Go, gimana, nih?” | “Apaan” | “Hasilnya positif”. Kocak, ya? Tentu saja kami berdua bersyukur. Kami memutuskan untuk mengabsahkan test ini lewat keputusan obgyn. Namun, sebelum ke obgyn saya sempat mengecek ulang dengan test pack merek sama satu hari berikutnya, juga dengan test pack merek lain yang lebih bagus dua hari berikutnya. Hasilnya sama-sama positif.

Akhir minggu, kami memilih Mitra Keluarga Depok untuk bertemu obgyn pertama kali. Argo minta langsung ke Obgyn, bukan bidan. Mungkin karena anak pertama, jadi maunya detail. Padahal, bidan juga menyediakan fasilitas USG, meski tidak tiap hari karena harus menunggu dokter datang. Akhirnya, di RS saya di-USG untuk pertama kali. Kantung rahim saat itu sudah terbentuk (menebal) dan kehamilan sudah berusia 6 minggu dihitung dari HPHT (hari pertama haid terakhir).

Setelahnya, tidak ada sindrom-sindrom ibu hamil yang biasa saya dengar, lihat, baca, atau saksikan. Hingga seminggu kemudian, morning sickness dahsyat tiba hingga saya tidak bisa masuk kantor. Makanan pengganti nasi yang masuk hanyalah jagung rebus, juga teh jahe. Untunglah saya sudah curhat sebelumnya dengan teman yang saat hamil juga hanya mampu makan ubi rebus, jadi nggak panik-panik banget. Intinya, cari makanan pengganti nasi, atau apa pun yang bisa masuk ke mulut dan perut. Walau pada prakteknya, sih, boro-boro ada yang masuk.

Syukurlah, keadaan saya membaik. Argo pun bisa kembali bekerja (karena biasanya dia ikutan cuti saat saya sakit). Banyak cerita ibu-ibu hamil yang benar-benar sulit beraktivitas karena sindrom awal kehamilan, diopname karena kekurangan nutrisi/dehidrasi, dan sensitif pada ini-itu. Lama mereka mengalami ini berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing. Alhamdulillah, saya masih bisa bekerja, masih bisa makan dan minum walau tetap picky, dan masih bisa beraktivitas lain meski tidak boleh berlebihan. Mungkin jabang bayinya sadar kalau Ibu dan Bapaknya tinggal berdua merantau jadi repot kalau ada yang sakit. Hehe.

Salah satu yang cukup sulit dan membuat frutrasi adalah jika migrain saya kumat. Bertahun-tahun saya mengonsumsi obat yang cukup keras, bahkan sudah mencicipi obat dokter saraf. Saat hamil, di mana konsumsi obat, khususnya di trimester pertama harus dibatasi, ini menjadi dilema besar buat saya. Dokter hanya memperbolehkan konsumsi paracetamol tiap kepala saya sakit. Lah, biasanya paracetamol, sih, cuma geli-geli doang. Awal kehamilan migrain saya tidak pernah kambuh, walaupun pernah, hanya pada taraf mild yang akhirnya hilang sendiri.

Jelang bulan kedua menuju ketiga, entah kenapa migrainnya kembali sering kumat. Inilah di mana saya harus (terpaksa) menegak paracetamol dan muncul perasaan bersalah. Sama halnya ketika saya ngidam makan indomie padahal tahu komposisinya tidak baik bagi tubuh, apalagi saat hamil. Meski obgyn dan dokter umum yang pernah saya “curhati” mengatakan tidak apa-apa minum paracetamol, rasa galaunya tetap ada. Tapi, kalau tidak minum sakitnya luar biasa. Bahkan, saya pernah izin kerja dua hari karena sakitnya tak kunjung hilang. Suami jadi ikut stres. Jadilah saya sering minta maaf kepada janin dalam perut. Berdoa semoga dia tidak apa-apa.

Saya berusaha sedikit mencari celah untuk mengurangi kesempatan migrain untuk kambuh. Setelah bangun pagi, saya atau suami kerap berinisiatif untuk mengajak jalan pagi meski sebentar, juga menambahkan konsumsi sayur dan buah. Memang konsisten itu sulit, kok. Kalau stres, memang paling sulit ditekan. Manusia, kan, pasti cenderung berpikir yang tidak perlu, cemas, dll. Apalagi saya yang tengah mengandung anak pertama. Jangan ditanya deg-degan dan cemasnya.

Sekarang, usia kandungan saya adalah 13 minggu. Saya tengah merasakan masa di mana waktu berjalan sangat lama. Menghitung tiap hari, minggu, hingga menuju bulan. Kapan 9 bulannya, sih???? Tiap pagi bangun tidur, seakan meyakinkan diri kalau “gue sedang hamil, nih”. Apalagi, karena berat badan yang termasuk kurang ideal, perut saya tidak kunjung membesar hahaha. Memang kondisi ini berbeda-beda tiap wanita, ada banyak penyebabnya. Konon kehamilan pertama juga membuat perut ibu tidak terlalu buncit karena otot-otot perut yang masih kencang dan sederet faktor lain. Tapi, pertanyaan-pertanyaan yang muncul kayak, “Kok, perut lo belum keliatan?” dll kadang-kadang ganggu juga, sih.

Saya sibuk meyakinkan diri bahwa yang penting semuanya sehat, baik si bayi, saya, juga suami. Tidak lupa berdoa terus-menerus. Masih banyak yang harus saya pelajari sambil menunggu 9 atau 10 bulan itu datang, bahkan hingga seumur hidup selama saya menjadi orang tua kelak. Sejauh ini, masih terbatas mencari informasi dari situs-situs parenting dan bertanya sana-sini. Sisanya mungkin harus dilakukan secara praktik langsung. Doakan kami sehat semua selalu. Semangat!