Jadi Breastfeeder? Lelah Aqutu!

Ternyata, menyusui itu bukan cuma perkara buka kancing daster lalu menyodorkan payudara, ya. Bahkan, sejak awal memutuskan menjadi seorang breastfeeder, gue nggak kebayang kalau menyusui itu seberat ini.

Kalau ada yang bilang, menyusui itu lebih enak daripada kasih dot; dalam hal nggak perlu cuci-keringin botol lalu sterilkan atau beli stok susu formula tiap bulan yang butuh bajet tinggi, tentu saja statement tersebut benar sekali.

Tapi, ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi ibu menyusui. Pertama tentu saja konsistensi. Sejauh ini gue sudah beberapa kali mengeluh capek, baik direct breastfeeding maupun pumping while working. Bosan juga. Ada kalanya rindu malam-malam di mana gue bisa tidur panjang dan nyenyak tanpa sering terbangun karena anak nangis minta nenen.

Ya, pemberi botol susu pun berisiko sering bangun, sih. Tapi, kan, sesekali bisa didelegasikan ke orang lain untuk buat susu hehe (diamuk ibu-ibu pemberi botol susu). Tanpa bermaksud menganggap tugas gue paling berat atau menyinggung pilihan lain seorang ibu, ya. Pasti tiap Ibu apa pun pilihan pemberian susunya ngalamin fase capek

Apalagi kalau ingat perjalanan untuk menggenapi “keharusan” memberi ASI ke Arsa masih panjang. Arsa baru mau berusia 9 bulan. ASI seharusnya diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Berarti setahun 3 bulanan lagi, ya, journey to the west mencari keberhasilan S-3 ASI itu tercapai. Tapi, setelah dulu menargetkan lulus ASIX (6 bulan) dan Alhamdulillah berhasil, gue “hanya” menargetkan paling tidak Arsa lulus S-2 ASI dulu (1 tahun). Nanti akan gue usahain lagi, lah, sampe Arsa 2 tahun. Insya Allah.

Kadang bosan juga, sih, pumping tiap jam sekian di kantor. Rutinitas yang sudah jadi keharusan. Meski, gue bisa sambil Youtube-an sambil pumping, or Twitter-an, Instagram-an, dll. Kantor menyediakan ruang untuk pumping, meski sesekali harus rebutan sesama ASI pumper lain, sama yang punya ruangan, dll. Sesekali, demi kekonsistenan ini, gue juga harus pumping di ruang meeting ketika ketemu penulis, pumping di mobil kantor dalam perjalanan pulang dari bertemu penulis, pumping di bioskop ketika pertama kali keluar hanya berdua suami, dan berusaha pumping anywhere lainnya karena stok ASIP Arsa yang memang “nyaris kejar tayang”.

Dulu, waktu mengejar ASIX, lebih hectic, ya, gue, tuh. Sampai ASI yang netes harus ditampung segala demi ASIP Arsa besok. Alhamdulillah, sejak Arsa mulai MPASI, stok mulai sedikit aman. Tapi tetap harus konsisten. Karena rezeki ASIP gue memang bukan yang berkulkas-kulkas itu. “Cuma” cukup untuk 2 harian, lah. But it’s ok. Gue selalu berusaha menerapkan prinsip “yang penting cukup, bukan banyak-banyak”. Meski tetap aja isi freezer ASIP yang berjibun, tuh, bikin envy, ya. Kayak; enak banget sesekali bisa skip jadwal pumping atau pergi tanpa anak tanpa mikirin ganti stok ASIP yang terbatas. Hey, mungkin ini yang ngebuat gue dikasih rezeki ASIP nyaris kejar tayang, ya. Karena Allah tahu gue akan lalai pumping kalau dikasih rezeki ASIP yang buanyak.

Berusaha mengingat-ingat aja hal kayak; nggak semua orang diberi anak, nggak semua orang diberi kesempatan ngasih ASI (karena alasan apa pun), nggak semua orang punya support system yang cukup untuk memberi ASI, dll. Iya, gue pun pernah mengalami yang namanya bentrok pendapat dengan orang terdekat atau lingkungan, bahkan hingga soal MPASI sekarang. Tapi sejauh ini, masih aman dan gue masih bisa menyusui juga masak MPASI. Meski namanya juga manusia, ya, ada aja sisi kurang bersyukurnya dan masih ngeluh. Kayak gue sekarang dan (pernah) sebelum-sebelumnya. Capek. Bosan. Pengen cepat berakhir (walau nanti setelah nggak menyusui mungkin gue malah kangen).  Kangen nggak kepikiran stok ASIP. Kangen nggak kebangun terus tengah malem sampai sering migrain atau masuk angin karena kancing baju yang nggak ketutup lagi akibat gue ketiduran pas nenenin Arsa. Eh, tapi btw, kayaknya sekarang pola tidur gue sudah menyesuaikan keadaan, sih. Misalnya, tetap sering kebangun meski Arsa nggak nangis minta nenen. Hahaha.. (Gue juga kangen jalan berdua suami. Hiks. Sekarang bisa aja jalan berdua. Tapi tetap harus mikiran ASIP alias pumping dan kepikiran Arsa).

Wah, padahal gue belum mengalami drama puting berdarah segala, nih. Kalau lecet, sih, udah sering. Sekarang, Arsa lagi doyan nenen sambil (dia) tengkurap. Lumayan bikin nyeri karena ketarik-tarik.

Kalau sudah gini waktunya keluar mantra; Gue wajar, kok, ngerasa capek. Gue boleh, kok, ngeluh. Jangan terlalu merasa bersalah. Semua akan berakhir. Semua ada masanya. Dan pada akhirnya, kalau gue udah bener-bener nggak kuat, silakan berhenti menyusui kapan pun gue mau.

…. Tapi nggak kepengen dan nggak tega…

Iklan

Tidak Pernah Ada Destinasi yang Cukup

Menikah dan memiliki anak mungkin menjadi tujuan banyak orang, sementara banyak juga yang memutuskan tidak menikah dan memiliki anak. Menikah memang bukan perkara gampang dan serba-manis. Kenyataan banyak juga yang gagal dalam menjalaninya tidak jarang membuat kini banyak pula yang skeptis akan pernikahan, meski tidak menutup fakta banyak pula yang baik-baiak saja dalam menjalaninya.

Menikah dan memiliki anak, sama seperti banyak “pencapaian” dalam hidup lainnya, bukanlah sebuah tujuan. Saya pernah membaca tulisan di blog milik Edward Suhadi yang sudah menikah selama lebih dari 10 tahun dan sekarang sedang menjalani program untuk memiliki anak bersama sang istri (baca di sini dan di sini.) Ia mengutip sebuah kalimat dari Casey Nestat, “In life, we never arrived”. Artinya, kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada sebuah destinasi. Pencapaian yang kita dapatkan hari ini adalah awal baru dari jalan yang terbuka setelahnya.

Contoh, ketika seseorang menikah, ia akan memulai hidup baru, namun perjuangan setelah itu masihlah panjang. Begitupun saat ia menjadi calon orang tua. Dimulai dari perjuangan menjaga kehamilan itu agar baik-baik saja, kemudian perjuangan melahirkan sang anak, membesarkannya, dan seterusnya. Kalian yang belum menikah pun pasti kerap ditanya “kapan menikah” dan sebelumnya mungkin pernah mengalami perjuangan mengerjakan skripsi, lulus UN SMA, dan seterusnya.

Hal itu pula yang membuat saya salut kepada orang-orang yang tengah berusaha memiliki anak sekuat tenaga. Di sisi lain, saya bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung secepat ini. Di sisi lain, saya juga khawatir. Apakah anak pertama saya sehat, terlahir sempurna, cerdas, dst. Terkadang timbul kekhawatiran sewaktu-waktu saya akan kehilangan janin saya. Ternyata, vonis hamil bukanlah puncak kebahagiaan, bukan puncak segalanya. Setelah itu, masih ada yang harus diperjuangkan.

Bukan hanya kisah Edward dan istri, saya juga sempat membaca tulisan Andra Alodita yang juga pernah menjadi pejuangan IVT (bayi tabung) di sini. Setelah membaca tulisan Andra, saya jadi berpikir, sudahkan saya bersyukur dengan cara menjaga calon anak saya sebaik mungkin? Apakah orang tua-orang tua di luar yang juga diberi momongan cepat juga sudah bersyukur sebaik mungkin? Benarkah sesuatu akan makin dihargai jika kita semakin lama menunggu? Di satu sisi saya setuju, namun saya juga tidak mau menjadi calon orang tua yang tidak menjaga anak saya sebaik mungkin sejak dini meski diberi anugerah secepat ini.

Tidak hanya mereka berdua, bahkan kakak saya pun baru saja menjalani program IVT setelah penantian sekian tahun. Mendengar perjuangannya untuk mengikuti program ini cukuplah membuat saya semakin berpikir, sekaligus ingin mengatakan padanya, “kelak ketika kita divonis positif hamil, itu bukanlah akhir dari segalanya. Masih panjang perjuangan yang harus dilalui.” Padahal, untuk sampai ke proses embrio transfer di IVT tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui sebelumnya, terlebih jika kesulitan seseorang dalam memiliki anak disebabkan karena kondisi kesehatan khusus. Kondisi tersebut harus disembuhkan terlebih dulu. Belum biaya yang diperlukan, juga tenaganya.

Terbukti, setelah hamilpun saya masih merasakan banyak gejolak. Perasaan dan pikiran yang mungkin tidak perlu. Tidak sekali saya jadi stres atau ingin menangis ketika membandingkan kondisi dengan ibu hamil lain: berat badan saya yang kurang atau perut yang lambat membuncit. Dokter sudah bilang bahwa kondisi bayi saya baik-baik saja. Namun, kalimat-kalimat seperti, “Kok, perutnya nggak kelihatan padahal udah hamil 6 bulan”, “Ayo, naikkan BB, dong, nanti bayinya kecil”, dst masih saja mengganggu. Artikel demi artikel saya baca, kunjungan ke obgyn-pun dilakukan hampir 2 minggu sekali, tapi rasa tidak percaya diri itu tetap saja muncul ketika orang lain membuat pernyataan tentang kondisi kehamilan saya (yang saya sendiri yang merasakannya). Berusaha berpikir positifpun tidak selalu mudah.

In life we never arrived. Bukan hanya soal pernikahan dan memiliki anak, namun juga dalam aspek lain. Tidak pernah ada destinasi yang benar-benar menjadi tujuan akhir. Kita akan terus berjalan, mencari sesuatu, mengalahkan kekhawatiran, menjaga apa yang ditakdirkan, kemudian kehilangan, gagal, lalu bangkit, atau menemukan penggantinya.

Pasti sulit untuk tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain yang kita pikir sudah mencapai sesuatu. Itu manusiawi. Berusaha lega atas tiap yang kita terima dan memaafkan diri sendiri memang membutuhkan ilmu tinggi yang saya pun kerap gagal dalam ujiannya. Hehehe…

Jadi, buat kalian yang sedang ditanya dengan gencar “kapan menikah” atau “kapan punya anak”, kuat-kuatlah karena setelah merasakan kedua “pencapaian” itu, masih ada perjuangan lain, juga pertanyaan yang mengusik lainnya. Mungkin seperti, “Kapan punya anak kedua” atau “Kapan punya rumah sendiri”.

Ulang Tahun Bukan seperti Tahun-Tahun Sebelumnya

Ketika kita memiliki orang tua atau kerabat berusia lanjut yang kerap lupa ulang tahunnya mungkin kita heran kenapa mereka bisa lupa hari penting itu. Selain karena pertambahan usia tentunya. Namun, tentu saja tidak semua manusia usia muda juga selalu ingat atau menganggap penting hari ulang tahun sendiri atau orang lain.

Seiring usia yang bertambah, saya tampaknya setuju jika ulang tahun bukanlah lagi hari yang sakral-sakral banget. Umur berkurang. Apalagi kalau bertambah usia tidak dibarengi pertambahan pencapaian, lebih tidak luar biasa lagi.

Dulu, saya, dan saya yakin banyak di antara kalian, yang selalu menanti hari ulang tahun sendiri: surprise dari orang terdekat, kado-kado, kue ulang tahun, bahkan menerka-nerka siapa yang akan mengucapkan pertama kali di jam 00.01. Kita mungkin menghitung jumlah ucapan yang masuk ke ponsel atau media sosial dan lain-lain. Iya, saya pernah melakukan beberapa momen itu hehe..

Tapi, sekarang kerasa kalau momen pertambahan umur lebih pas dirayakan dengan mengaminkan doa dari orang yang mengucapkan (dan ingat tentu saja) atau sekadar berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat atau teman, seperti makan-makan, sebagai ungkapan syukur sudah diberi umur sejauh ini. Tapi, saya, sih, tetap nggak nolak kalau ada yang kasih hadiah. Apalagi suami (bahkan sejak masih pacaran) suka nawarin hadiah yang akhirnya pas hari H malah lupa beliin. Akhirnya, saya yang menagih janji :p

Jadi, kalau usia 20-an atau late 20-an suka bilang “eh, ini tanggal sekian ya (hari ulang tahunnya)” ketika diucapkan selamat, sekarang saya nggak heran-heran amat, sih. Kalau tradisi minta traktir atau makan-makan, sih, akan selalu ada. Malah makin bertambah umur budget traktirnya akan lebih tinggi. Ya, kan?

24 Desember kemarin (masih belum berubah) saya berulang tahun kesekian. Sudah late 20-an. Suami sempat nanya, “Apa ulang tahun masih menjadi hari yang spesial buat kamu?”. Saya jawab ya saat itu. Karena dasarnya, suami justru lebih selow dalam menyambut dirgahayu-dirgahayu-an seperti itu, meski ulang tahunnya sendiri. Padahal usianya lebih muda dari saya. Memang sejak di keluarga, suami tidak pernah dibiasakan menganggap ‘wah’ ulang tahun, sedangkan saya, saat kecil (kalau tidak salah hingga usia 5 tahun) selalu merayakan hari ulang tahun, meski hanya di rumah dengan nasi tumpeng dan mengundang anak-anak tetangga.

Masih ingat dulu saya kerap mendapat banyak kado, salah satunya yang paling membekas dalah kaset soundtrack Kstaria Baja Hitam yang kala itu benar-benar hits. Ibu akan memakaikan dress superfeminin yang sayapun tidak nyaman memakainya karena bahannya bikin gerah dan gatal, kata saya, hahaha.. (dasar anaknya saja nggak bisa feminin). Saat dewasa, kuliah hingga bekerja, saya pun masih beberapa kali mendapatkan surprise kecil-kecilan dari teman-teman yang membawakan kue tart.

Mungkin itu sebabnya suami kerap lupa juga janjinya membelikan saya kado (alasan). Toh, sedewasa dan setua apa pun usia manusia, tidak salah merayakan hari jadi. Bukan masalah umur, kan? Hanya masalah kebiasaan dan kenyamanan. Ulang tahun kemarin saya akhirnya hanya mentraktir suami nonton bioskop dan makanannya, meski tidak ulang tahun pun hal itu biasa kami lakukan satu sama lain.

Jika mau dihitung-hitung, saya mendapat kado luar biasa di pertambahan umur tahun ini: keluarga baru, hidup baru, dan jabang bayi yang kini berusia 4 bulan di rahim saya. Kado yang belum pernah saya dapatkan seumur-umur jika hanya dibandingkan dengan barang-barang (bukan berarti saya tidak menyukai semua kado yang pernah saya terima. Terima kado, kok). Usia bertambah memang harus diimbangi dengan doa yang kian getol. Sekarang, apalagi, daftar doa saya juga bertambah. Ada suami, jabang bayi, keluarga besar, dan harapan akan keluarga kecil saya di masa depan. Semoga semua selalu sehat, baik, dan sesuai harapan. Amin.

So, (still) happy birthday to me. You are doing good so far and should be better always.

 

Someday We’ll Know

When i wrote this writing, i was listening to Someday We’ll Know. I ever wanted, someday, in my special day, this song be played because it has beautiful lyric.

Lalu, datanglah hari ini. Lagu itu masih tetap indah. Keinginan untuk memutar lagu ini di hari spesialpun masih ada. Tapi . . .

Saat kamu memegang kunci di mana semua orang mungkin berpikir kamulah yang akan memasuki pintu itu dengan semangat, tiba-tiba muncul pikiran apakah memang ini yang kamu sesungguhnya inginkan. Saat ini. Dengan seseorang yang kamu pilih.

Benarkan kamu ingin merasakan momen itu sekarang? Sekarang, saat kamu masih berada di titik nol dari memiliki apa-apa dan mencapai apa-apa. Katakanlah kamu memang ingin kamu dan dia berada di titik yang lebih aman. Kamu menginginkan dia. Sejak lama. Tapi, apakah benar-benar harus diwujudkan sekarang?

Namun, terkadang kamu juga merasakan bahwa kamu sangat inginkan tahap baru itu. Dengan dia, kamu merasa baik-baik saja.

 

 

Save Me from Myself

Bagaimana jika dalam hitungan hari hidupmu akan berubah banyak?

Bukan soal tidak bisa apa-apa lagi, tapi langkahmu mungkin saja akan memutar

Atau lebih berat karena ada beban, oh, maksudnya tanggung jawab baru

Tak lama lagi, waktu akan berjalan semakin cepat bagimu. Aku jamin.

Ada waktu untuk berubah pikiran. Konsekuensinya adalah akan ada yang dikorbankan.

Beranikah?

Jika tidak berubah pun, akan ada yang dikorbankan.

Berani?

Kamu kini butuh memeluk diri sendiri

Karena hanya dirimu yang mengerti dirimu

Dalam hitungan detik, tambahkan usahamu untuk meyakinkan diri

Bagaimanapun, ini adalah pilihan, maka jangan lemah dalam menanggung risiko