Social Media Probs Again

i got a message on my Whatsapp number last night. 

Ternyata dari orang yang sama yang pernah menghubungi saya beberapa bulan lalu ketika saya sedang mempersiapkan pernikahan. Orang yang sempat saya bahas di tulisan sebelumnya ehe ehe. Memang saya belum pernah menuliskan soal pembicaraan kami beberapa bulan lalu. Begini,

I’ve ever met her husband on one of chatting online website a very long time ago, accidentally. 

WHAT? HOW COULD YOU?

Saya memang saat itu sudah cukup lama main di situs chatting itu. Awalnya hanya ingin mengobrol dengan orang-orang asing. Tujuan iseng dan melatih bahasa asing. Memang isinya banyak orang Indonesia juga. Tiba-tiba ada seseorang yang menegur saya, orang lokal. Umumnya memang peserta chat di sana bertukar kontak Line, Skype, atau Yahoo Mesengger, dll. Laki-laki ini meminta akun Skype saya. Ketika saya menerima permintaan pertemanan darinya, saya sadar saya mengenali laki-laki ini dari nama dan profile picture-nya. Because, like i said on my last writings, my friend (her wifey) often updating her Facebook status about her problems with him. THAT!

Singkat cerita, saya menjelaskan siapa saya. Kemudian ingin melaporkan “pertemuan” tidak sengaja kami di Skype kepada istrinya. Reaksinya? Ia meminta saya jangan melapor. Saya tahu, nih, kira-kira kenapa. Karena sejak lama saya mengamati status-status teman saya itu soal kelakuan sang suami. Then, i forgot this meeting, i even have uninstalled my Skype.

Tibalah bulan di mana teman saya mengirimkan pesan dan menanyakan soal perilaku suaminya ini. Saya memang pernah curhat tentang masalah ini kepada salah seorang sahabat yang kebetulan mengenal si istri. Suatu hari, ternyata sahabat saya ini menceritakan hal ini kepada sang istri dari laki-laki yang meng-add Skype saya itu (halah). Akhirnya, sih, saya menjelaskan kejadian sebenarnya. Ternyata, mereka kembali sedang bertengkar. Imbasnya itu yang merugikan saya.

IYALAH GIMANA NGGAK. SI ISTRI UPDATE STATUS FACEBOOK-NYA BAWA-BAWA NAMA SAYA. APA COBA WOY.

Meski akhirnya saya minta dia menghapus status tersebut. But, i’m not forget.

Nah, semalam dia menanyakan hal yang sama di Whatsapp. Gusti Nu Agung. Oke, saya coba berempati. Katanya, dia sempat bertemu satu orang lagi perempuan yang pernah di-chat sama si suami (entah di mana). Kemudian, si perempuan ini bilang kalau suami teman saya pernah curhat kalau dia sempat bertemu teman kuliah di istri di situs chat dan sempat ngajak jalan. Yha! Tentu saja si teman saya ini langsung mengarahkan tuduhan ke …

*duduk manis sambil mengacungkan telunjuk*

mabok

Teman saya bilang dia sudah bingung harus percaya kepada siapa. Then i answered, dengan huruf kapital semua, nggak, deng, bohong. Saya bilang saya nggak pernah jalan sama suaminya, juga nggak seberani itu jalan sama suami orang apalagi punya temen sendiri. Menahan sabar, saya coba basa-basi bertanya apakah kelakuan suaminya “kambuh”? Nggak dijawab juga, sih.

Apakah dia akan se-insecure ini selamanya? That question disturb me. Nggak enak juga jadi orang tuduhan terus. Chat cuma sekali, singkat. Bahkan saya nggak main Skype lagi. Dan kalau boleh berkata jahat, kalaupun ada rencana jalan sama “punya” orang, ya, nggak sama suami dia juga. I have some term and conditions list.

Mbaknya rajin juga, ya, bisa nemuin siapa aja yang pernah diajak ngobrol suaminya. Okay, maybe every woman will do the same if was in her position.

Mbaknya ternyata masih terlilit masalah yang sama. Buktinya masih menanyakan hal yang sama ke saya. Artinya, suaminya masih kumatan.

Sisi benarnya, Si Mbak memang tahu bahwa dalam kasus perselingkuhan, bukan hanya si perempuan yang disalahkan, dicap pelakor, dll. Buktinya dia keep updating about her husband’s attitude, over and over again. Hell yeah. Zzz.

Poor her.

Poor me.

… dan siapapun yang kena tuduh-tuduh Mbaknya. Sabar, ya, Mbak…

Saya penasaran kenapa dia nggak mencerna dulu aja cocok nggak kemasan saya jadi cewek nakal. Kan, kami pernah kuliah bareng.

Mungkin memang cocok kali menurutnya. Hhhh…

Kepada Mbaknya saya pengen bilang: Nambahin pikiran gue aja lu.

mansur

Iklan

Media Sosial dan Karakter Orang di Sana

pexels-photo-433617

*spoiler alert: tulisan lumayan panjang*

Mungkin saya adalah orang yang mudah terdistrak oleh postingan orang lain yang membuat saya tidak nyaman di media sosial. Pembaruan apa pun yang tidak pas dalam ukuran saya, membuat saya gerah. Beberapa orang mungkin cuek dan tetap menikmati linimasa mereka. Kata orang saya ‘baper’.

Untungnya, saya ingat prinsip my social media, my rule. Apalagi, banyak juga teman di media sosial juga pernah mengatakan kalau memang postingan seseorang terlihat tidak nyaman, ya, diabaikan saja. Diabaikan di sini bisa dengan di-unfriend, di-unfollow, di-block, apa saja. Rasa tidak enak karena mereka teman sendiri/teman lama tentu saja ada.

Baru-baru ini saya baru saja meng-unfollow salah satu teman lama di Facebook. Bukan untuk pertama kali, sebelumnya saya sudah meng-unfollow beberapa orang sejak ramainya kasus politik yang membuat panas situasi beberapa waktu lalu. Cemen, ya, cuma unfollow. Ya, itu, alasannya karena tidak enak. Beberapa bahkan merupakan teman dekat hingga sekarang.

Teman terakhir yang saya unfollow agar saya tidak perlu membaca pembaruan statusnya melulu adalah karena ia terlalu sering mengumbar masalah rumah tangganya dengan pasangannya. Yep! Saya tahu ini tidak asing. Rumah tangga tentu kompleks. Tidak manis-manis saja. Semua orang memiliki peluang untuk mengalami masalah serupa, meski siapa, sih, yang ingin?

Tapi . . . sungguh rasanya tidak nyaman. Apalagi, beliau kerap menyinggung dan me-mention langsung akun sang suami. Artikel-artikel terkait masalah rumah tangga, called that dimadu bla-bla-bla, dst, di-carbon copy ke suaminya. Hahahaha. Im sorry for laughing, bukan karena meremehkan, but . . . I think it was too . . . awkward. It was too confusing for me. Bukan cuma dia, sih, orang yang mengumbar masalah personal ke ranah sosial, bahkan yang bertengkar dengan pasangan. I know. Tapi, it just too bother my mind. Mungkin karena saya mengenalnya cukup dekat dulu. Saya tidak akan membahas bagaimana dia dulu, namun lebih ke bagaimana semoga kita dapat bersikap di media sosial.

Dia, saya, kita semua pasti pernah dengar jangan terlalu mengumbar masalah personal ke media sosial. Tapi, saya nggak tahu detail apa yang membuat dia cuek dan terbiasa melakukan hal tersebut. Ada salah satu alasan yang pernah teman saya beri tahu kenapa si perempuan ini begitu vokal soal masalah dengan suaminya di media sosial. Hambatan untuk berbicara secara langsung sehari-hari tentunya.

Andai saya teman dekatnya, mungkin saya bisa menegurnya soal ini lebih giat lagi. Saya pernah sekali menegurnya ketika berkomunikasi via Whatsapp, tapi jawaban yang dia berikan adalah dia dan suami bahkan keluarga suaminya sudah sama-sama tahu. Okey. So, just thinking again about this case. Mungkin akan ada yang mengatakan pada saya bahwa rumah tangga memang menyeramkan, dan bisa saja saya merasakan roller coaster itu nanti. Saat ini, memang saya sedang merasakan aman-aman saja karena pernikahan saya baru berumur hampir 2 bulan.

Saya ulang lagi, siapa juga, ya, yang mau hubungan dengan pasangannya, baik itu menikah atau pacaran, gonjang-ganjing? Kelakuakn teman saya ini antara membuat saya kesal, gemas, bahkan cemas. Kesal karena mengapa orang ini, sekali lagi, tidak bisa menjaga privasi untuk dia, pasangan, atau lebih jauh lagi keluarga dan teman dekatnya saja dalam bentuk omongan verbal sehari-hari. Bicarakan, bukan diposting. Jika tidak mempan lakukan mediasi, libatkan orang terdekat. Dalam tahap yang lebih parah lagi, datangi konsultan pernikahan atau . . . psikolog maybe? Baiklah, saya nggak tahu separah apa latar belakang masalahnya. Ini sekadar saran jika di lihat dari permukaan. But, what can I say more as an advice?

Sekesal-kesalnya saya adalah ketika saya berpikir “mendingan lau mengakhiri hidup diam-diam kalau udah nggak kuat, tapi setidaknya jangan tampilkan masalah lau di medsos. Liatin yang hepi-hepi aja, Sist”, sementara teman-teman saya yang lain suggest tentang perpisahan (cerai). Tenang, saya tahu bunuh diri itu bukan pilihan baik. Hanya lagi kesal memuncak aja. Karena, pembaruan seperti itu secara tidak sadar juga membuat orang lain risih, paling bagus merasa kasihan. Tapi, sebanyak apa yang akan peduli? Mungkin ada, tapi tidak banyak. They just scrolling their timeline again, find another interesting things for them.

Kenapa pembaruan orang ini membuat saya cemas? Karena saya juga orang yang sudah menikah! Saya sampai berpikir, benarkan rumah tangga itu separah ini? Atau hanya mbak ini saja yang membesar-besarkan? So, I decided to unfollow her account. Terpaksa. But, I don’t have to say a sorry. Saya mengenal orang-orang yang menyarankan pernikahan, tapi juga mengenal orang-orang yang belum menikah karena beberapa alasan. Bukan hanya sekadar karena jodohnya belum datang, ada juga yang memutuskan karier dulu, atau berprinsip. Kelakuan seseorang yang terus memposting soal keburukan rumah tangga saya khawatirkan akan membuat orang lain menjadi skeptis soal berumah tangga.

Di sini, saya merasa kasihan juga sama teman saya ini. Oleh karena itu, saya doakan semoga suatu hari beliau menemukan ujung permasalahan. Menemukan pemecahan yang tidak merugikan dia, sang suami, terutama anaknya yang masih kecil. Jikapun harus, semoga semuanya ikhlas dan kembali bangkit. Saya doakan juga semua pasangan bisa menjaga hubungan satu sama lain. Terkadang, dalam kehadiran orang ketiga, kita tidak bisa menyalahkan pelaku saja. Coba tilik sang korban. Coba tilik hubungan yang mereka jalin sebagai suami-istri, atau pasangan berpacaran juga. Ini juga menjadi catatan buat saya, kok. Saya juga mendoakan rumah tangga saya tetap kuat, meski tidak selalu mulus. Tetap saling menjaga kepercayaan, saling menghidupi, saling sayang dan mendukung, juga segala hal baik lainnya. Amin.

Dalam titik ini, saya jadi menyukai orang-orang yang ‘memamerkan’ kemesraan dengan pasangan, apalagi dengan cara yang menyenangkan buat saya, dibandingkan mereka yang mengumbar masalah melulu. Saya juga jadi lebih nyaman melihat teman-teman yang disibukkan dengan kegilaan terhadap idola (fangirl/fanboy) atau justru mempromosikan bisnisnya. Ingat, deh, jenis manusia seperti apa pun Anda, introver, ekstrover, ambiver, dll, mem-posting soal masalah personal bukan hanya membuat orang bosan dan risih, tapi pada tahap lanjut membuat mereka kesal dan cemas. Dan ingat, berapa banyak yang peduli? Go talk with people around you, find a help. Good luck with your life. Post something good, funny, and blissful about your life. Tentu yang lebih baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

pexels-photo-91950